
Usia kehamilan Lily kini memasuki usia 36 minggu, menurut perkiraan dalam minggu ini dirinya akan melahirkan dan hal itu membuat Jason sedih, karena di saat seperti itu, dirinya justru ditugaskan ke luar kota.
"Hmm kenapa belum bersiap, nanti kamu bisa ketinggalan pesawat loh," kata Lily begitu memasuki kamarnya dan melihat suaminya justru bermalas-malasan di atas ranjang. Padahal koper sudah siap untuk dirinya bawa.
"Apa aku mengundurkan diri saja ya sayang, Tuan Stevano sungguh tidak pengertian banget, nanti kalau aku berangkat kamunya melahirkan bagaimana? Siapa yang menemani kamu?"
"Kamu harus profesional dong sayang, lagian bukan cuma kamu kan, kata kamu Tuan Stevano juga sedang perjalanan bisnis ke luar kota, makanya kamu di tugaskan karena dia tidak bisa pergi sekaligus, karena dijadwalkan pada tanggal yang sama." Lily duduk di sisi ranjang.
"Iya sih, tapi…"
"Ada ayah dan Kak Al, jadi kamu tidak perlu khawatir," ucap Lily meyakinkan suaminya.
"Ayo kamu harus berangkat sekarang!"
"Baiklah," pasrah Jason, dirinya juga tidak bisa lepas tanggung jawab dari pekerjaannya.
Keduanya kini keluar kamar, Lily mengantarkan suaminya sampai depan.
"Kamu hati-hati di rumah, jaga diri baik-baik, jika ada apa-apa langsung kabari aku, nomorku akan selalu aktif menunggu kabar darimu," kata Jason yang kini mendekap tubuh istrinya. Jason mengurai pelukan, lalu berjongkok, menyetarakan tingginya dengan perut besar sang istri
"Kamu juga sayang, jagain ibu, kalau bisa ayah ingin kamu keluarnya nunggu ayah. Ayah ingin menyaksikan kamu datang ke dunia ini sayang," ucap Jason pelan.
"Kamu juga hati-hati disana," kata Lily.
Jason tersenyum dan memgangguk lalu mengecup perut Lily lama, kembali berdiri dan menciumi seluruh wajah istrinya yang mungkin akan tidak bisa dilihatnya secara langsung selama beberapa hari ke depan.
Jason kemudian melihat putri pertamanya yang kini ada di gendongan sang kakak ipar, yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Lily.
"Ayah kerja dulu ya sayang, ayah tidak pulang, karena pergi ke tempat yang jauh, Kak Cinta jagain ibu dan adik."
"Ayah jangan lama-lama, telus jangan lupa beliin Cinta makanan yang banyak," ucapnya melebarkan tangan sampai mengenai wajah Al.
"Opps!" Cinta dengan segera menutup mulutnya yang terbuka.
__ADS_1
"Maaf Paman, Cinta tidak sengaja."
"Nakal ya kamu," kata Al yang kini menciumi seluruh wajah Cinta, ekspresi Cinta saat itu benar-benar menggemaskan.
"Siap, nanti ayah bawa makanan yang banyak, dan awas saja nanti jika tidak dihabiskan," kata Jason yang kini mengelus rambut putrinya yang tebal. Jason kemudian mengecup kening dan kedua pipi Cinta bergantian.
"Al, titip jagain istri dan anak-anakku, dan sampaikan pada ayah dan ibu aku berangkat dulu.
"Al mengangguk, "Kamu tenang saja, tanpa kamu meminta, aku pun akan menjaga orang-orang yang juga aku sayang.
Jason tersenyum, menepuk bahu Al lalu masuk ke dalam mobil, setelah mencium kening Lily tadi.
Lily melambaikan tangan, mengantarkan kepergian suaminya.
"Ayo masuk!"
Lily menoleh dan mengangguk mendengar ajakan kakaknya. Wanita itu melangkah perlahan masuk ke dalam rumah.
Ketiganya menuju ke ruang keluarga, dan baru saja Lily duduk, ponselnya berbunyi, Lily segera menjawab saat melihat pada layar bahwa ternyata Dahlia lah yang kini menghubunginya.
Lily mengangguk, menjawab pertanyaan kakaknya yang berucap tanpa suara.
Al berbicara pada Lily, untuk memberikan ponselnya, karena pria itu ingin berbicara sebentar dengan Dahlia.
"Kak, Kak Al mau ngomong," kata Lily meminta izin dulu, takut jika nantinya dia malah salah.
Lily kemudian memberikan ponselnya pada Al, membiarkan kakaknya itu berbicara, hingga Lily menoleh saat kakaknya tiba-tiba mengatakan hal yang membuatnya benar-benar terkejut, dan setelah itu, Lily mendengar helaan nafas berat laki-laki itu keluarkan, sebelum akhirnya mengembalikan ponsel Lily.
"Kenapa Kak Al berkata seperti itu pada Kak Lia? Sekarang Kak Lia marah kan sama kakak?"
"Kakak hanya peduli padanya Ale, kakak tidak ingin Dahlia terlalu dekat dengannya."
"Dengan membicarakan keburukan kekasihnya yang bahkan kakak tidak mempunyai bukti?"
__ADS_1
"Ya kakak tahu tidak memiliki bukti, tapi kakak melihatnya sendiri."
"Tapi bagaimana jika yang kakak lihat salah? Tunggu bagaimana jika Kak Lia tahu, jika kakak ternyata selama ini tinggal tidak jauh darinya? Kenapa Kak Al mengatakan hal seperti itu tanpa kakak pikirkan lebih dulu."
"Kakak hanya khawatir sama dia Ale, kakak tidak memikirkan sampai sejauh itu."
Kini bergantian Lily yang menghela nafas berat. Padahal Al selama ini menyembunyikan fakta, bahwa pria itu tinggal bahkan menempuh pendidikan di tempat yang sama demi menjaga gadis itu, tapi kini justru sepertinya akan terbongkar, karena kecerobohan dirinya sendiri.
Lily kini duduk menghadap ke arah kakaknya. "Bagaimana jika Kak Lia menanyakan soal itu, apa kakak akan mengatakan yang sebenarnya? Atau kakak akan tetap memilih berpura-pura bo*doh saja? Dan tentang apa yang kakak lihat, apa itu benar? Hmm maksud Ale, Kakak tidak salah melihat kan?"
Al menggeleng lemah, dalam pikirannya, dia mencari solusi atas pertanyaan adiknya yang sebelumnya.
Lily lagi-lagi menghela nafasnya, dia juga merasa bingung melihat kedua kakaknya yang masih saling cinta, tapi keduanya lebih memilih saling diam dan berpura-pura, memendam perasaan mereka karena lebih mengutamakan egonya. Ya, Lily tahu bahwa Al masih mencintai Dahlia, saat wanita itu memergoki Al yang selalu diam-diam menjaga Dahlia dari jauh, di tengah kesibukannya.
"Kakak akan menyelesaikan masalah itu sendiri, kakak hanya minta sama kamu untuk diam dan berpura-pura saja tidak tahu jika memang Dahlia bertanya padamu," ucap Al setelah cukup lama diam.
"Tapi Kak…"
"Ale!"
"Baiklah," pasrah Lily akhirnya. Lily menatap Al yang kini menyugar rambut ke belakang dan menyandarkan tubuhnya di sofa, bisa Lily lihat dengan jelas jika banyak kekhawatiran yang sepertinya sedang sang kakak pikirkan.
"Cinta, ayo ikut ibu!" Lily mengajak putrinya yang fokus menonton film kesukaannya, dia ingin membiarkan Al untuk sendiri dulu, biarkan kakaknya itu menenangkan pikirannya.
"Kita lanjut di kamar ibu," ucap Lily cepat sebelum putrinya sempat berbicara, yang Lily yakin, jika sang putri akan melayangkan protes padanya.
Cinta pun turun dari kursi di bantu Lily, kemudian Lily menggandeng putrinya berjalan memasuki kamarnya, meninggalkan Al yang kini terdiam, mendongakan kepala sambil memejamkan kedua matanya.
Saat sampai kamar, Cinta langsung stand by di depan televisi, tidak sabar melanjutkan film kartun yang ditontonnya tadi.
"Ayo ibu, cepat nyalakan tv nya!" Pinta putri Lily yang benar-benar tidak ingin ketinggalan film kesukaannya.
"Sebentar sayang," Lily berjalan meraih remote dan menekan tombol power, dan tv pun seketika langsung nyala. Lily mengganti channel yang ditonton Cinta tadi, membuat Cinta langsung fokus, begitu di layar sudah muncul film kartun tadi.
__ADS_1
Lily menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya, wanita itu melangkah mendekat dan duduk di samping putrinya, tangannya mengambil ponsel yang tadi dia taruh di sofa. Lily mencoba menghubungi Dahlia yang kini justru menolak panggilan darinya. Kakak perempuannya itu, sama sekali tidak menjawab sekalipun panggilan darinya yang sudah beberapa kali dia lakukan, mungkin Dahlia mengira jika yang menghubunginya Al bukan dirinya, hingga membuat gadis itu merasa enggan untuk menjawab panggilan dari Lily. Lily kemudian memutuskan mengirimkan pesan saja, mengatakan jika dia yang menghubunginya, Lily hanya berharap setelah Dahlia membaca pesannya, gadis itu mau menjawab panggilan darinya.