
"Maaf Tuan, Nona El pergi ke rumah sakit bersama Nyonya besar," ucap pengawal yang baru saja datang.
"Ke rumah sakit? El sakit?" Tanya Ronald cemas.
"Bukan Tuan, bukan Nona yang sakit, tapi Nyonya Muda, maksud saya isteri Tuan Muda Stevano, yang tak lain adalah Kakak Ipar Nona El mau melahirkan, dan setelah mendapat kabar, tadi Nona dan Nyonya buru-buru ke rumah sakit," jelas pengawal itu lagi.
"Di rumah sakit mana?"
"Maaf Tuan saya tidak tahu, lebih baik untuk lebih jelasnya, Anda bisa hubungi Nona El sendiri."
"Baiklah saya mengerti," setelah mengatakan itu, Ronald pun kembali masuk ke mobilnya dan segera pergi.
*
*
"Kenapa disini sendiri?" Tanya Jason yang tiba-tiba duduk di samping istrinya.
"Tidak apa-apa, hanya penasaran saja, apa yang sedang ayah rencanakan ya?" Ucap Lily masih saja penasaran karena percakapan tadi dengan ayahnya.
Jason mengernyitkan dahi bingung, tidak mengerti apa yang sebenarnya istrinya itu katakan.
"Rencana? Memangnya rencana apa?" Tanya Jason akhirnya.
"Ya aku tidak tahu, makanya aku sedang memikirkannya," ucap Lily yang juga tidak mengerti maksud pertanyaan suaminya.
"Maksud aku rencana Ayah yang kamu maksud itu tentang apa?"
"Oh itu, hmm katanya Ayah punya rencana untuk melamar Ibu Dea, apa kamu tidak tahu, hmm kalau tidak tahu bagaimana jika kamu mencari tahu, aku benar-benar penasaran tahu, mungkin malam ini aku tidak bisa tidur nyenyak karena begitu penasarannya," ucap Lily melipat tangannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
Jason merangkul sang istri dan membiarkannya bersandar di dadanya.
"Kenapa kamu tidak tanyakan saja sama ayah langsung?" Tanya Jason sambil mengelus lembut rambut sang istri.
"Nah itu masalahnya, saat aku tanya, ayah malah main rahasia-rahasian, ayah bilang, ada deh, sudah kamu tinggal terima beres, masa gitu jawabannya kan aku jadi kesal sekaligus penasaran," adu Lily kepada suaminya.
"Ya sudah, berarti kamu tinggal tunggu saja, nanti ayah juga pasti memberitahu jika saatnya tiba."
__ADS_1
Lily menegakkan duduknya dan menatap kesal suaminya. "Kan aku tadi bilang kalau aku penasaran, tapi kamu malah ikut-ikutan ayah menyuruh untuk menunggu, sudahlah aku mau ke kamar saja, malas deh cerita sama kamu jadinya," Lily segera bangun dan dengan perlahan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
"Kenapa jadi aku yang salah lagi," gumam Jason menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa?" Tanya Alan yang baru saja keluar dari kamarnya saat mendengar suara ribut-ribut.
"Ini semua gara-gara Ayah," kata Jason menatap kesal ayah mertuanya.
"Kenapa gara-gara Ayah? Ayah baru datang dan tidak tahu apa-apa, kamu malah menyalahkan Ayah," kata Alan yang ikut duduk dan menyalakan televisi.
"Ya jelas salah Ayah, lagian bikin putri kesayangan Ayah itu penasaran, dan aku bilang tunggu sampai ayah memberitahu, dia malah kesal sama aku," gerutu Jason.
"Hahaha," tawa Alan pun pecah mendengar curhatan menantunya.
"Jadi Ale masih penasaran?"
"Iya dan itu semua gara-gara Ayah. Sudah ah aku mau ke kamar, mau bujukin dia, kalau benar-benar ngambek bisa gawat, bisa-bisa tidak di izinin buat nengok anakku," kata Jason yang langsung mendapat lemparan bantal sofa dari mertuanya itu.
"Tidak perlu diperjelas seperti itu juga," kata Alan menangkap bantal yang kembali di lempar Jason.
"Kenapa? Bilang saja iri, makanya cepat-cepat dong, direbut orang baru tahu rasa," Jason buru-buru berlari saat melihat ayah mertuanya itu akan kembali melayangkan bantal yang tadi di lemparnya.
"Aku tidak menyangka, dia bisa bersikap seperti itu, aku kira dia seperti robot yang hanya bisa patuh pada Tuannya, bahkan dulu ekspresi wajahnya yang begitu datar, kini sudah banyak senyum, ini pasti karena putriku, putriku memang yang terbaik, bisa merubah pria datar itu menjadi seperti sekarang" kata Alan yang terus saja membanggakan putrinya.
"Ah jadi kangen sama Dee," ucapnya kemudian dan mengambil ponselnya menghubungi Deandra.
Sementara itu, Jason yang masuk ke kamarnya tidak melihat keberadaan sang istri, hingga dia mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Jason kemudian duduk dan mengecek beberapa email yang masuk, sambil menunggu istrinya selesai mandi.
Lily yang baru keluar dari kamar mandi terkejut melihat suaminya sudah ada di kamar, bahkan Jason kini tertidur dalam posisi duduk sambil masih memegang ponselnya.
Lily dengan perlahan menghampiri suaminya, menatap wajah tenang Jason yang terlelap.
"Lelah banget ya," gumam Lily dan pelan-pelan mengambil ponsel suaminya dan menaruhnya di atas meja.
Jason sama sekali tidak berkutik saat Lily melakukan itu.
"Biarkan sajalah, kasihan nanti malah kebangun, tapi pasti pegal deh badannya, sudahlah lagian dia pasti lelah," kata Lily pelan, dan kemudian memilih turun memasak untuk makan malam, tidak tahu kenapa dia ingin memasak sesuatu.
__ADS_1
"Sepi," kata Lily begitu turun dan tidak mendapati seorang pun.
Lily mengedikkan bahunya dan langsung menuju ke dapur dan mengeluarkan beberapa bahan masakan yang dibutuhkan.
"Ale apa yang sedang kau lakukan Nak? Sudah sini biar Ayah saja yang memasak," Alan segera merebut pisau yang Lily pegang, tentunya dengan hati-hati tidak ingin putri kesayangannya terluka.
"Tapi Ale ingin memasak Yah," ucap Lily dengan wajah memelas.
"Tidak, ayo kamu duduk saja!" Alan kemudian menggiring putrinya agar menjauh dari dapur, membawanya ke ruang makan dan menarik kursi untuknya.
"Lebih baik Ale duduk saja, serahkan semuanya sama Ayah," ucap Alan yang meminta Lily untuk duduk di kursi tadi.
"Memangnya Ayah bisa memasak? Ale tidak pernah melihat Ayah memasak," ucap Lily meragukan perkataan ayahnya.
"Tentu saja Ayah bisa," kata Alan yang mulai beraksi dengan peralatan memasaknya.
"Ale ini mau dipotong seperti apa?" Tanya Alan yang bingung sambil menunjuk sayuran akan dipotongnya.
"Hmm kira-kira segini," Lily memberi contoh mengukur dengan jarinya.
"Segini?" Alan menunjukkan jarinya kepada sang putri memastikan ukuran sayur yang akan dipotongnya.
Lily hanya mengangguk, dan Alan pun memotong sayuran itu satu-satu tentunya dengan diukur dengan potongan pertama.
"Ayah sini biar Ale saja!" Lily hendak bangun dari duduknya.
"Stop Ale, kamu duduk saja, biar Ayah yang melakukannya."
"Tapi Ayah pasti akan lama," kesal Lily yang tidak sabar melihat apa yang Alan lakukan sekarang.
"Tidak akan lama, karena yang jelas tidak akan menghabiskan waktu dua hari," ucap Alan dan itu berhasil membuat Lily mendengus kesal.
"Ya sudah Ayah selesaikan saja! Ale mau nonton televisi."
"Hmm iya lebih baik kamu menonton saja," jawab Alan.
Lily pun bangun dan menuju ke ruang keluarga, dan dirinya tersenyum senang melihat orang yang saat ini berdiri menatapnya dengan senyuman.
__ADS_1
"Ayo kita ke belakang, Ayah sedang memasak tapi sangat lama," adu Lily kemudian menggandengnya, mengajak ke dapur untuk membantu ayahnya memasak agar cepat selesai.