
Ronald kini turun dari mobilnya, pria itu berlari kecil dan membukakan pintu untuk kekasihnya. Kini mereka sudah sampai di rumah William, setelah tadi sehabis makan siang, Ronald mengantarkan Liora ke butik sekalian keduanya melakukan fitting baju pengantin.
"Kalian sudah pulang?" Kata Tiffa yang berada di ruang tamu saat dirinya melihat Ronald dan Liora masuk.
"Hmm iya Mi, tadi selesai fitting kami memutuskan untuk pulang saja, lagian kata Ronald nanggung juga jika harus ke kantor," jawab Liora yang kini mencium punggung tangan maminya diikuti Ronald.
Tiffa mengangguk mengerti, "Oh ya bagaimana persiapannya?"
"Hmm sudah berapa baby?" Tanya Ronald pada kekasihnya.
"Ya kurang lebih 50 persen Mi," jawab Liora yang kini bangkit dan berpamitan untuk ke kamarnya.
Tiffa meraih tangan Ronald dan menggenggamnya, "Mami titip El ya, hmm El sering keras kepala seperti papinya, kamu banyak-banyak bersabar aja ya. Hmm sebenarnya Mami belum rela melepas El, baru kemarin kami berkumpul dan kini sekarang El sudah akan menikah."
"Iya Mi, Mami tenang saja, memang kadang waktu kecil tidak terasa, dan baru terasa saat sudah besar dan akan hidup terpisah dengan keluarganya," Ronald membalas genggaman calon ibu mertuanya itu.
"Kami sempat kehilangan El waktu masih kecil, dan kami baru berkumpul kembali baru beberapa tahun saja," kata Tiffa dengan pandangan menerawang jauh mengingat tentang putrinya itu.
"Maksud Mami?"
"El belum memberitahu kamu?"
Ronald menggeleng, Liora memang belum bercerita tentang kehidupan masa lalunya. Sebenarnya Ronald juga tidak memaksa gadisnya itu, hingga dia benar-benar siap untuk menceritakan semuanya. Tapi mendengar perkataan Tiffa barusan membuat Ronald menjadi penasaran.
"Baiklah jika seperti itu, Mami juga tidak akan menceritakannya, biar El sendiri yang memberitahu kamu, oh ya kamu jangan berburuk sangka dulu, kenapa El tidak menceritakan padamu, mungkin El hanya mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya."
"Iya Mi, Ronald mengerti kok."
__ADS_1
"Ehem! Ada apa ini?" Tanya Liora yang melihat situasi antara Mami dan calon suaminya.
Gadis itu kini duduk di samping Ronald, hingga kini Ronald duduk di antara dua wanita itu.
"Kenapa?" Bisik Liora pada Ronald dan Ronald hanya tersenyum sambil menggeleng.
"Mami tinggal dulu, kalian mengobrol saja," pamit Tiffa yang diangguki oleh keduanya.
"Apa yang tadi kamu bicarakan sama Mami?" Tanya Liora lagi begitu melihat maminya yang kini sudah menjauh, tampaknya Liora masih begitu penasaran dengan apa yang keduanya bicarakan.
"Tidak apa-apa."
"Ronald!" Liora menatap Ronald tajam karena pria itu masih tidak mau bicara.
"Mami hanya bilang katanya kalian pernah berpisah sebelumnya dan baru berkumpul beberapa tahun ini," kata Ronald yang kini bisa melihat ekspresi wajah Liora yang berubah.
"Duduklah!" Pinta Liora pada Ronald begitu mereka kini sampai di kamarnya.
Ronald hanya bisa menuruti perintah Liora, pria itu kini duduk di sofa. Liora pun ikut duduk di samping pria itu, dia kemudian menceritakan semuanya dari kecelakaan sewaktu dirinya kecil, hingga dia kembali menemukan keluarganya tanpa terlewat sedikitpun. Ronald langsung memeluk Liora setelah gadis itu selesai bercerita.
"Aku tidak tahu jika kamu pernah mengalami masa sulit itu, aku…aku tidak tahu harus berkata apa, tapi sungguh kamu hebat baby karena bisa melewati semua itu, bahkan saat aku pertama kali bertemu denganmu, kamu tidak terlihat seperti gadis yang mengalami kejadian seperti itu, kamu pandai menutupi luka yang pernah kau alami," Ronald kemudian melepas pelukan dan menatap Liora.
"Tapi berjanjilah padaku, kelak jika kau merasa sesuatu, kamu harus ceritakan padaku ya, karena kedepannya kamu tidak sendiri, aku akan menjadi bagian dari hidupmu juga, jika kamu terluka aku akan ikut terluka, dan jika kamu bahagia maka aku juga akan bahagia. Jadi jangan pernah menjadi gadis yang tegar jika bersamaku, karena aku siap jadi sandaranmu kapanpun kau membutuhkannya."
"Hmm," jawab Liora singkat sambil tersenyum.
Ronald bergeser, kemudian meminta Liora untuk berbaring berbantalkan pahanya. Kemudian pria itu mengelus rambut Liora dengan lembut, sambil terus memandangi wajah gadisnya yang kini mulai memejamkan mata, terbuai dengan sentuhan Ronald di kepalanya.
__ADS_1
*
*
Lily begitu senang karena sahabatnya Jasmine kini datang ke rumah dengan anak-anaknya. Tadinya Lily sudah berencana akan mengunjungi Jasmine bersama suaminya besok pagi, tapi malam ini sahabatnya itu justru datang lebih dulu.
Mereka kini sedang mengawasi anak-anak mereka yang sedang bermain di atas karpet, sementara Stevano sedang berbicara dengan Jason di ruang kerja. Sedang Ayah dan Ibu Lily baru sekitar lima belas menit yang lalu berpamitan untuk keluar, ayahnya bilang jika mereka akan kencan. Lily hanya tersenyum mendengar ucapan ayahnya, dia bahagia, karena saat ini ayahnya benar-benar menemukan kebahagiaannya.
"Kak Al sama sekali tidak ada kabar?" Tanya Jasmine pada Lily menyadarkan lamunan Lily.
Lily menatap Jasmine dan menggeleng.
"Entahlah Mine, Kak Al sulit sekali dihubungi, bahkan sama Ayah juga seperti itu, mungkin Ayah juga merasa sedih, tapi Ayah tidak pernah mengatakan secara langsung. Terakhir Kak Al menghubungi saat Cinta lahir, dia hanya bilang tidak perlu khawatir dengan keadaannya, karena Kak Al selalu baik-baik saja, Kak Al bilang dia susah mencari waktu untuk menghubungi kami, ya karena kesibukan dan juga perbedaan waktu," jawab Lily sedih mengingat kakaknya itu.
Jasmine mengangguk mengerti, "Kamu jangan sedih, aku yakin Kak Al memang sangat sibuk, kamu tahu sendiri jika Kak Al itu orang yang ambisius, jika menginginkan sesuatu dia akan berusaha keras untuk mendapatkannya, tentunya dengan hasil yang memuaskan. Bukankah Kak Al disana juga sedang berusaha mendapatkan Kak Lia?"
Lily mengangguk, "Tapi entahlah, terakhir Kak Lia kembali juga dia sudah mengenalkan kekasihnya pada Ibu, mungkinkah ada kesempatan untuk Kak Al bisa mendapatkannya? Bagaimana jika tidak?"
Jasmine menghela nafas, kemudian pandangannya tertuju lurus ke depan.
"Kita sering dengar kan bahwa jodoh tidak akan kemana, banyak yang menjalin hubungan cukup lama, karena memang tidak berjodoh ya mereka akan berpisah, dan bahkan orang yang tidak saling mengenal pun jika memang jodoh, pasti mereka akan bersatu.
"Ya dan kamu contohnya," jawab Lily kemudian.
"Nah tuh tahu," keduanya kini tertawa.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan mereka, sambil sesekali mengawasi keempat anak yang sekarang sedang sibuk bermain. Hingga tiba-tiba Lily segera bangun dan berlari meninggalkan Jasmine yang kini mengernyitkan dahi bingung.
__ADS_1
Jason dan Stevano yang baru saja hendak bergabung pun ikut heran, keduanya saling pandang, hingga Jason memutuskan untuk segera menyusul istrinya.