
Lily terlihat duduk di atas tempat tidurnya, dia tampak gelisah sedari tadi.
"Hubungi, tidak, hubungi, tidak, hubungi," begitulah dia terus bergumam sambil menghitung kancing baju tidurnya.
Kemudian Lily mengambil ponselnya, mengetikkan sesuatu disana, kemudian menghapusnya lagi, begitu seterusnya selama lima menit hingga hal itu terhenti ketika tiba-tiba ponselnya berdering dan tertulis nama pria dingin di layar ponselnya.
Dengan cepat Lily menggeser tombol hijau dan meletakkan ponsel itu di telinganya.
"Halo," jawab Lily begitu panggilan terhubung.
"Halo, belum tidur kan?" Tanya Jason setelahnya.
"Iya belum, emm.. apa kamu sudah sampai?" Tanya Lily ragu.
"Sudah, baru selesai mandi," jawab Jason yang memang baru selesai mandi.
Tak lama panggilan terhubung menjadi panggilan video.
"Ahhh! Apa yang kau lakukan? Kenapa melakukan panggilan dengan penampilan seperti itu?" Wajah Lily memerah melihat Jason yang duduk di pinggir kasur masih dengan handuk di pinggangnya.
"Jason tersenyum, kenapa? Apa kamu tergoda?" Tanya Jason sengaja menggoda Lily.
"Tidak," kata Lily menutup mata dengan telapak tangannya.
"Hahaha," Jason tertawa merasa lucu dengan tingkah Lily.
"Kenapa kamu tertawa tidak ada yang lucu," kesal Lily karena pria itu justru tertawa.
Lily mengintip di sela jari-jarinya, terpesona melihat Jason yang tertawa lepas sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil, dia pandangi pria itu yang tampak tampan dengan rambutnya yang acak-acakan tanpa berkedip.
"Kenapa menatapku seperti itu, lihatlah sampai air liurmu itu menetes! aku tahu aku tampan, tapi kamu jangan menatapku seperti kamu akan menerkamku," kata Jason percaya diri membuat Lily kesal.
"Tidak mungkin air liurku menetes hanya karena melihatmu," kata Lily sangat yakin, tapi apa yang dikatakan berbeda dengan apa yang dia lakukan, buktinya dia kini sedang menyentuh sudut bibirnya takut apa yang dikatakan Jason itu benar, jika iya dirinya pasti akan sangat malu.
"Hahaha," melihat Lily yang menyentuh sudut bibirnya, seakan sedang mengecek kebenaran atas apa yang dikatakannya membuat Jason kembali tertawa, apalagi mengingat jawaban gadis itu yang sangat yakin jika perkataannya hanya untuk membohonginya saja.
__ADS_1
"Lihatlah tadi kau sangat yakin tapi kau mengeceknya juga," ucap Jason di sela tawanya.
"Berhenti tertawa, atau aku akan mematikan panggilan ini," ancam Lily agar membuat Jason tidak menertawakannya lagi, tapi bukankah jika Lily ingin mengakhiri panggilan karena kesal Jason menertawakannya, ya tinggal akhiri saja, tidak ada yang melarangnya.
Tapi sekali lagi, Lily rasanya tidak rela jika panggilan itu berakhir dan dia tadi hanya pura-pura mengancam.
"Tapi bagaimana jika Jason malah menyetujuiku mematikan panggilan? Rasanya aku tidak rela mengakhiri panggilan ini, aku masih ingin mendengar suaranya, aku masih ingin terus mengobrol dengannya " Lily tidak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri dengan mengancam Jason seperti itu.
Tapi untungnya Jason menghentikan tawanya, "Baiklah aku akan berhenti tertawa jadi jangan matikan panggilan ini, aku masih ingin mengobrol denganmu."
Entah Lily harus bersyukur atau tidak mendengar jawaban Jason, tapi jujur Lily sangat senang mendengar perkataan pria itu. Bahkan Lily tanpa sadar terus tersenyum dan menatap Jason. Bahkan tidak mendengar saat Jason mengatakan jika dia akan memakai baju lebih dulu.
"Kamu mau kemana? Kenapa malah aku ditinggalin dan malah disuruh menatap langit-langit kamarmu?" Lily bertanya saat di layarnya sudah tidak ada lagi wajah Jason yang ada langit-langit kamar pria itu.
Tak lama wajah Jason kembali terlihat di layar "Apa kau ingin melihatku memakai pakaian?" Bukannya menjawab Jason justru bertanya sambil mengedipkan sebelah matanya, ketika masih mendengar pertanyaan yang Lily lontarkan baru saja.
"Hah apa maksudmu?" Dasar pria mesum!" kata Lily yang baru mendengar pertanyaan Jason.
"Sembarangan saja jika bicara, kamu yang mesum bukan aku, kan aku tadi sudah bilang mau memakai baju dulu tapi kamu malah ingin terus melihatku bahkan tidak ingin ditinggalkan," jawab Jason menggoda Lily.
"Tapi jika kamu ingin melihatnya juga tidak apa-apa, dengan senang hati akan aku tunjukkan," Jason semakin menggoda Lily membuat gadis itu langsung meletakkan ponselnya di atas ranjang.
"Cepat pakai bajumu, ku beri waktu lima menit," kata Lily mendekat ke arah ponsel tanpa mengambilnya.
"Baiklah, hahaha" terdengar tawa Jason yang kemudian tawa itu semakin jauh di pendengaran Lily, Lily yakin jika saat ini Jason sedang mengambil pakaian dan memakainya di kamar mandi.
Tak lama Jason pun keluar dari kamar mandi, dan duduk di atas ranjang kembali mengarahkan wajahnya pada layar ponselnya.
"Halo," ucap Jason saat tidak melihat gadis yang dicintainya di layar.
"Hmm, iya halo, apa sudah selesai?" Tanya Lily yang belum menunjukkan wajahnya.
"Sudah, kenapa wajah cantikmu kamu sembunyikan hmm? Ayolah aku ingin melihatnya lagi!" Jason terus menatap layar ponsel menunggu wajah Lily muncul.
"Sejak kapan pria dingin sepertimu pandai menggombal?" Wajah Lily kini muncul memenuhi layar.
__ADS_1
"Sejak gadis aneh menyelinap masuk ke hati pria dingin," jawab Jason mantap.
Tok
Tok
Terdengar suara pintu kamar Lily diketuk.
"Jason sudah dulu ya, ada yang mengetuk pintu," setelah mengatakan itu Lily langsung mengakhiri panggilan begitu saja bahkan sebelum Jason mengiyakan.
Lily berjalan cepat untuk membukakan pintu.
Ceklek
Begitu pintu terbuka, Lily begitu terkejut karena Alan lah yang ternyata mengetuk pintu kamarnya. Harusnya Lily tidak perlu seterkejut itu karena ini rumah Alan, dan pasti kapanpun Alan bisa saja menuju tempat yang ingin didatangi, tapi tetap saja Lily merasa takut dan cemas apalagi kamar ini seharusnya milik adik Kak Al, bahkan Lily tidak tahu apa Alan sudah benar-benar tahu dan menyetujui sejak awal jika dia akan menempati kamar itu seperti yang Kak Al katakan kemarin atau tidak. Lily bahkan tidak bisa membaca raut wajah Alan, karena Alan tampak menatapnya datar.
"Ayah," kata Lily pelan.
"Boleh Ayah masuk? Tanya Alan meminta izin pada Lily.
Lily membuka lebar pintunya, "Iya Ayah silahkan masuk!" Lily pun kemudian mempersilahkan Lily untuk masuk.
Lily meremas ujung kaos yang dikenakannya, sambil menatap Alan takut-takut.
Alan pun kemudian masuk dan duduk di atas ranjang, tampak Alan mengedarkan pandangannya menatap kamar yang dibuatkan khusus untuk putrinya.
Sungguh Alan menyesal karena menyetujui permintaan mantan istrinya untuk membawa putrinya, harusnya Alan tidak menyetujuinya dan memperjuangkan hak asuh putrinya juga.
Alan tahu jika dirinya sibuk, tapi dia bisa mempercayakan orang untuk menjaga putra dan putrinya. Alan bahkan tidak tahu dimana putrinya, mantan istrinya benar-benar sudah seperti hilang ditelan bumi, tidak memberikan kabar sama sekali, setidaknya dia harus mengabari tentang putri mereka. Alan menyesal karena terus berpikir, bagaimana nasib putrinya di bawah penjagaan Ibunya yang bahkan jarang dirumah, selalu pergi tanpa memberitahu kemana, tapi dia selalu beralasan jika Alan lah yang kurang memperhatikannya, terlalu sibuk menyelamatkan orang lain tapi tidak pernah memberikan sedikit saja waktu untuk keluarga. Hingga istrinya sering pergi-pergi karena merasa kesepian.
"Ayah!"
"Ayah!"
Lily terus memanggil-manggil Alan yang kini justru melamun, padahal Lily yakin jika Alan pasti ingin berbicara hal penting padanya.
__ADS_1
"Ayah!" Panggil Lily untuk ketiga kalinya dan barulah Alan tersadar dari lamunannya.