Please Love Me

Please Love Me
Bab 298


__ADS_3

Lily bingung karena Cinta terus merengek ingin menyusul ayahnya, sudah berbagai cara dia membujuk putrinya, mungkin jika suaminya tidak bilang ada rapat, Lily pasti akan mengantarkannya.


"Ayo Ibu, kita pelgi ke tempat ayah!" 


Dahlia masih berusaha menenangkan Cinta yang terus memberontak minta diturunkan.


"Lily maaf," Dahlia merasa tidak enak karena merasa semua itu salahnya, dia tidak tahu, jika Cinta akan terus menangis saat tidak melihat ayahnya pergi. 


"Tidak perlu minta maaf kak, Cinta memang selalu seperti ini, ayo Cinta sayang sama ibu."


"Kenapa?" suara seseorang yang begitu Lily kenal membuat Lily, Dahlia serta Cinta langsung menoleh.


"Paman Al…hiks...hiks...paman!" Cinta mengulurkan tangan pada pamannya yang baru saja datang.


Al meninggalkan kopernya begitu saja, lalu mengambil alih Cinta dari gendongan Dahlia.


"Kenapa hmm?" Al menyeka air mata yang membasahi pipi gadis kecil itu.


"Mau nyusul ayah, hiks...hiks…"


Al menatap Lily, bertanya lewat tatapannya. Kemudian kembali menatap Cinta.


"Ayah berangkat kerja, hmm bagaimana sebagai gantinya Cinta ikut paman jalan-jalan?"


"Beli es klim?"


"Hmm."


"Cinta mau."


"Tadi aja ibu yang tawarin mau beliin es krim Cinta tidak mau, giliran sama paman, langsung," Lily mendekat dan merapikan rambut putrinya yang sebagian basah karena air matanya tadi.


"Kalau sama ibu beli es klim nya tidak boleh banyak-banyak, benarkan?" Al berbisik di telinga Cinta dan gadis kecil itu mengangguk saja.


Lily kemudian menatap Dahlia yang hanya diam semenjak kedatangan Al. 


"Kak!"


Al menoleh dan melihat Lily yang kini berjalan dan menyentuh lengan Dahlia.


"Kak Lia kenapa?"


Dahlia tersentak kaget mendapat sentuhan di lengannya tiba-tiba.


"Hah? Kenapa?"


"Kak Lia kenapa malah melamun?"


"Hmm tidak kok, Kakak tidak melamun, Kakak hanya teringat Devan yang kakak tinggalkan terlalu lama."


"Kak Devan juga ikut kakak?" 


Devan adalah kekasih Dahlia, yang waktu itu sudah pernah Dahlia kenalkan pada Lily dan Jason.


"Iya."


"Jadi Kakak bersama Kak Devan di rumah?"


"Hmm iya," jawab Dahlia pelan, gadis itu menunduk melihat tatapan Al padanya. Dan entah kenapa Dahlia melihat Al menatapnya begitu tajam.


"Kakak masuk dulu!" Ucap Al tiba-tiba membawa Cinta meninggalkan Lily dan Dahlia.

__ADS_1


"Pak, tolong bawa koperku masuk!"


Lily masih saja mendengar ucapan Al yang memberi perintah pada salah satu penjaga untuk membawa koper yang ditinggalkan tadi.


"Kak Lia!" Lily menaik turunkan telapak tangannya di depan wajah Dahlia, dia bukan tidak menyadari jika Dahlia terus saja menatap ke arah Al sedari tadi hingga Al hilang dari pandangannya.


"Oh ya Ly, sepertinya kakak harus pulang dulu, kakak juga akan membeli sesuatu, di rumah tidak ada apapun kan."


"Kak!" Lily menahan tangan Dahlia menghentikan langkah gadis itu.


"Kenapa?"


"Bagaimana kalau kakak tinggal disini? Kan di rumah ada Kak Devan, biarkan saja Kak Devan saja yang ada disana."


Dahlia tersenyum dan menggenggam tangan adiknya.


"Kakak tahu kamu khawatir, tapi kamu tenang saja, yang ada dipikiran kamu sekarang, tidak akan pernah terjadi. Ya sudah kakak pulang dulu ya, sampaikan salam kakak untuk semuanya." Dahlia melepaskan genggamannya kemudian berbalik dan melangkah pergi.


"Kak, nanti malam datang dan ajaklah Kak Devan untuk makan malam bersama disini!" Kata Lily.


Dahlia menoleh dan mengangguk, mengiyakan keinginan adiknya.


Lily tersenyum, sampai saat Dahlia kembali berjalan, senyuman di bibirnya luntur seketika.


"Maafkan aku Kak Al, aku melakukan ini agar Kak Al tahu dan tidak terlalu berharap lagi, karena harapan yang tidak akan terwujud hanya akan membuat hati kita terluka begitu dalam," ucap Lily dalam hati, lalu berjalan masuk untuk menyusul kakak dan putrinya.


"Kak Al?" Lily terkejut saat melihat ternyatanya kakaknya ada di balik jendela.


"Dahlia pulang?"


"Iya, baru saja."


"Kenapa kamu tidak melarangnya?"


"Apa Kak Al masih…"


"Tidak, lupakan saja."


Setelah itu Lily hanya bisa menatap punggung kakaknya yang pergi menjauh.


"Aku mengundang Kak Lia dan kekasihnya untuk makan malam bersama nanti malam," teriak Lily memberitahu.


Al hanya melambaikan tangan ke atas tanpa menoleh.


"Aku tahu kak, apa yang kakak rasakan sekarang, karena aku juga sudah pernah merasakannya." 


Lily kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya, berniat untuk mandi, selagi Cinta ada yang menjaganya. 


*


*


Lily buru-buru berjalan keluar saat mendengar suara mobil berhenti di halaman rumahnya, dia sudah sangat hafal mobil siapa itu. Tangannya cekatan membuka pintu, dan dirinya tersenyum melihat pria tampan yang kini turun dari mobil.


Lily turun perlahan, menghampiri Jason yang langsung mengangkat tubuh istrinya itu.


"Kenapa buru-buru jalannya hmm?"


Lily mengeratkan pelukannya di leher Jason, menyembunyikan wajahnya.


"Kangen,"

__ADS_1


Jason tersenyum, membawa istrinya masuk.


"Kamu tau tadi pagi Cinta nangis katanya pengen nyusulin kamu."


"Benarkah? Terus kenapa tidak nyusul?"


Lily menatap Jason dengan bibir yang mengerucut.


"Bukankah kamu bilang akan ada pertemuan? Bagaimana jika nanti justru mengganggumu?"


Jason menurunkan Lily di atas sofa. Lalu duduk di lantai tepatnya di depan sang istri.


"Sebenarnya aku juga kangen sih, terus Cinta bagaimana? Pasti tidak berhenti menangis."


"Hmmm, untung saja ada Kak Al, dibujuk dia pergi jalan-jalan sama beli es krim."


Jason tersenyum, dia selalu suka saat istrinya menceritakan kesehariannya bersama sang putri, bagi Jason itu sangat berarti untuknya karena dia merasa tidak pernah kehilangan momen penting dua orang yang disayanginya.


Jason kemudian menekuk lututnya dan memeluk perut besar Lily.


"Terus bagaimana putri ayah yang satu ini?" Jason mengecup perut Lily.


"Eh sayang, dia bergerak, sepertinya putri kita sudah menjawabnya.


"Hmm."


"Oh ya tadi kamu bilang Al, dia pulang?" Jason mengurai pelukan kemudian bangun dan duduk di samping istrinya.


"Iya Kak Al pulang tadi pagi, dan tadi pergi lagi sama Cinta tidak tahu mau kemana lagi. Oh ya, kamu sudah makan belum? Aku tadi masak."


"Jangan capek-capek sayang, biar bibi saja yang memasak, ingat ada anak kita disini."


"Hmm iya, aku juga tadi dibantu bibi sama ibu. Lagian aku ingin memasak sekalian untuk Kak Lia nanti, Kak Lia akan datang kemari."


"Dahlia juga pulang?"


"Hmm."


"Mereka sudah bertemu?"


Lily jelas tahu siapa mereka yang suaminya maksud, Lily mengangguk menjawab pertanyaan Jason itu.


"Lalu bagaimana?"


Lily mengedikan kedua bahunya. Dia pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kedua kakaknya itu.


"Oh ya kamu mau makan apa mandi dulu?" Tanya Lily yang kini sudah bangun dari duduknya.


"Aku mau mandi dulu."


"Ya sudah ayo!" Lily menarik tangan suaminya mengajaknya ke kamar, membiarkan suaminya untuk mandi terlebih dulu, sementara dirinya menyiapkan baju ganti untuknya.


Sepasang suami istri itu akhirnya keluar saat Dea memanggilnya karena Dahlia dan kekasihnya sudah datang. Jason dan Lily langsung menuju ke ruang makan, karena kata Dea, dia sudah mengajak Dahlia untuk langsung kesana.


"Akhirnya kakak datang," Lily memeluk kakaknya dan mengajaknya untuk duduk, begitupun dengan Jason yang juga mempersilahkan Devan untuk duduk.


"Ayah dan Kak Al mana Bu?"


"Mereka sedang bermain sama Cinta tadi, hmm ibu sudah memanggilnya sebentar lagi, juga pasti kemari."


Dan benar saja, terdengar tawa keduanya semakin mendekat dan tak lama keduanya muncul.

__ADS_1


"Bukankah dia…?" Al menghentikan langkahnya, terpaku melihat seseorang yang duduk menghadap ke arahnya.


__ADS_2