
Lily terus meminta sopir mengikuti mobil suaminya hingga akhirnya dia mengingat kemana tujuan mereka saat ini. Terutama saat melewati pepohonan yang tinggi di sepanjang jalan di sisi kiri dan kanannya. Kini dalam pikiran Lily bertanya-tanya untuk apa suaminya pergi ke sana, apalagi membawa Ian dan Cinta bersamanya, dan tidak mengizinkan dirinya untuk ikut.
Mobil Jason terlihat memasuki gerbang, dan saat mobil Lily hendak melewati gerbang tersebut, beberapa orang berseragam berdiri menghalangi. Bahkan dua diantara mereka menghampiri sisi mobil kemudi juga sisi tempat Lily duduk memintanya keluar.
"Bagaimana nona?"
Lily menatap orang-orang itu bergantian, kemudian menatap sang sopir yang duduk gelisah.
"Kita turun saja pak," ucap Lily sedikit ragu, karena dirinya juga sedikit takut melihat wajah-wajah tanpa ekspresi itu.
Tangan Lily gemetar saat akan membuka pintu, begitupun dengan sang sopir, jantungnya berdetak lebih cepat saat Lily keluar dan pria yang tadi mengetuk kaca mobil langsung menutup pintu cukup keras membuat Lily sontak terkejut bahkan memegangi dadanya.
"Apa tujuan Anda kemari?" Tanyanya to the point.
"Sa...saya mengikuti…"
"Cepat tangkap! Rupanya mereka penguntit." Perintahnya kemudian.
"Bu...bukan…" Lily berbicara terbata-bata, menatap sang sopir yang sepertinya memiliki ketakutan yang sama.
"Cepat tangkap, tunggu apalagi!" Perintahnya lagi dan dua dari beberapa orang tadi menangkap Lily dan sopir, menahan kedua tangan mereka di belakang tubuh masing-masing, seperti seorang tahanan.
"Lepaskan! Kalian berani sama saya!" Lily menarik nafas beberapa kali setelah mengumpulkan keberanian.
"Bawa mereka!" Perintah orang itu yang Lily yakin sebagai ketuanya. Entahlah ketua atau pemimpin menyebutnya Lily sendiri tidak tahu.
"Lepaskan atau saya akan teriak!"
"Bawa sekarang!"
"Baik Tuan."
__ADS_1
Mereka kemudian membawa Lily dan sopir masuk ke dalam. Salah satu membawa mobil yang tadi di bawah Lily dan satu yang lainnya berlari menjauh, mungkin melaporkan hal ini kepada pemilik rumah.
Lily dan sopir hanya saling pandang dengan wajah pias, Lily tidak menduga jika niatnya mengikuti suaminya justru membuat dirinya diperlakukan seperti ini. Lily hanya bisa bekerja sama, dia sama sekali tidak melakukan perlawanan ataupun memberontak, karena Lily jelas masih ingat jika saat ini dirinya tengah mengandung dan tidak ingin terjadi sesuatu dengan jagoan yang bahkan belum melihat dunia. Dan Lily sedikit menyesal karena berpakaian longgar hingga tidak begitu kentara jika dirinya tengah hamil, mungkin jika mereka tahu, mereka akan melepaskannya dan membawanya untuk menemui Jason yang entah ada dimana.
"Lepaskan! saya bisa jalan sendiri, dan kalian tidak perlu khawatir bahwa saya akan kabur."
Kata-kata hanyalah kata-kata, karena orang-orang itu sama sekali tidak menggubris ucapan Lily. Perkataan Lily tadi hanya dianggap angin lalu oleh mereka.
Lily menghembuskan nafas kasar, dulu suaminya begitu kaku, tapi Lily masih bisa menghadapinya, tidak seperti sekarang ini, rasanya Lily ingin menangis sekencang-kencangnya, mungkin ini hukuman karena dirinya terlalu kepo dengan urusan suami dan melupakan pesan pria itu, hingga Lily berakhir seperti ini.
"Lepaskan saya! Kalian menyakiti tangan saya, apa begini cara kalian memperlakukan wanita, dan kau yang kulihat kamu masih sangat muda, apa begini sikap kamu pada orang yang lebih tua."
Dan hanya wajah-wajah datar yang masih Lily lihat hingga saat ini, mendengus kesal, Lily kembali melanjutkan langkahnya.
Lily melihat sekitar, dan semua yang ada disana tidak ada yang banyak berubah. Pandangan Lily tertuju pada tempat dimana dirinya bertemu dengan suaminya pertama kali. Tanpa sadar Lily tersenyum, mengingat betapa konyolnya dirinya waktu itu.
"Apa yang Anda rencanakan?"
"Apa maksudmu aku tidak mengerti," Lily memundurkan wajahnya, dan pria itu pun kini menegakkan tubuhnya kembali yang tadi menunduk saat melihat ekspresi Lily yang justru senyum-senyum sendiri yang membuat pria itu yakin jika Lily memiliki maksud terselubung.
"Sudahlah, bawa dia, kita akan tanya di ruang interogasi!" Perintahnya pada anak buah.
"Bisa lepaskan tidak! Aku bisa jalan sendiri dan pegang kata-kataku, jika aku tidak akan kabur."
Lily sangat kesal karena pria itu hanya diam saja, bahkan kini Lily tidak berbicara formal lagi, entah sejak kapan Lily tidak menyadari.
"Dasar muka datar!" Gerutu Lily yang tentunya masih bisa didengar pria tadi.
"Percepat langkahnya, kalau perlu seret mereka," ucap pria itu yang kini melewati Lily dan berjalan lebih dulu.
"Please jangan seret aku, aku sedang hamil!" Teriak Lily saat kini dua orang memegangi tangan kanan dan kirinya hendak menyeretnya.
__ADS_1
Pria yang tadi melangkah lebih dulu, spontan menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap Lily dari atas sampai bawah kemudian memberikan isyarat agar kedua orang tadi melepaskan tangan Lily.
"Akh sakit!" Ringis Lily melihat pergelangan tangannya yang memerah.
"Lihat saja nanti, aku pastikan kalian semua akan dihukum, antarkan aku bertemu dengan suamiku sekarang!" Titahnya kemudian.
Para pria berseragam itu hanya saling pandang, tak terkecuali dengan sang ketua. Mereka jelas tahu siapa Nyonya mereka, karena memang beberapa kali Nyonya datang ke rumah itu, kadang berdua dan terkadang bersama dengan anak-anak yang mereka juga kenal.
"Kenapa diam saja? Cepat antarkan aku ke tempat suamiku, dia harus tahu bahwa kalian tadi mencoba menyakitiku," ujar Lily berkacak pinggang seakan menantang para pria itu yang masih menampakkan wajah bingung.
"Nona hentikan!" Ujar sang sopir yang sedari tadi diam saja dan menyimak pembicaraan mereka, dirinya masih ingin pulang dengan selamat, jadi bungkam adalah pilihan yang tepat menurutnya dan apa yang nona nya lakukan, sang sopir jadi ketar-ketir, takut nona nya kenapa-napa, dan dialah orang yang harus bertanggung jawab jika hal itu benar-benar terjadi.
"Bapak diam saja, aku harus memberitahu mereka semua untuk bersiap menerima hukuman atas apa yang dilakukannya."
"Nona!" Wajah sopir begitu pias, tidak bisa berkata-kata lagi, atas perkataan Lilt yang menurutnya hanya akan semakin memancing amarah orang-orang yang kini menangkapnya.
"Sudah cukup nona! Lebih baik cepat seret dia saja!" Kata pria berseragam yang tadi memegang tangan Lily, sungguh pria yang tidak ingin berbasa-basi.
"Dia sedang hamil, apa kau tidak mendengarnya!" Sang ketua menatap tajam pria yang tadi berbicara.
"Tapi Tuan bisa saja…"
"Cepat jalan, jika kau tidak mau orang-orangku menyeretmu dan berakhir menyakiti kau dan anakmu!" Ujar sang ketua pada Lily yang bagai kerbau dicocok hidungnya, langsung menurut.
"Itu mereka Tuan!"
Baru akan melangkah, Lily mendengar teriakan dari arah belakangnya.
Lily menoleh dan seketika wajahnya langsung berbinar saat melihat suaminya berjalan mendekat beriringan dengan Stevano, suami sahabatnya.
__ADS_1