
Lily bangun dan mengikuti Dahlia yang sedang mengantarkan sang ibu ke kamarnya.
"Sayang mau kemana?" Tanya Jason menahan tangan Lily yang malah akan pergi meninggalkannya.
"Sebentar, ada yang ingin aku tanyakan pada Kak Lia, kamu tunggu disini ya," ucap Lily yang kemudian mengecup pipinya sebelum dirinya melangkah pergi.
Lily tidak masuk, dia hanya menunggu di depan pintu kamar ibunya, membiarkan kakaknya mengurus Vega terlebih dahulu.
Hingga saat melihat Dahlia bangkit, Lily buru-buru bersembunyi di balik dinding.
"Kak!"
Dahlia memegang dadanya yang begitu terkejut karena adiknya.
"Lily! Kau tahu, jantungku rasanya hampir saja lepas," kesal Dahlia bahkan dirinya bisa merasakan jantungnya yang begitu berdetak kencang karena begitu terkejutnya.
"Hehe maaf," Lily hanya menunjukkan deretan giginya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa?" Tanya Dahlia sambil melongok ke dalam takut ibunya terbangun, iya tak membutuhkan waktu lama untuk Vega tidur mungkin karena wanita itu memang merasa sudah sangat lelah.
Dahlia berjalan meninggalkan Lily menuju ke dapur, tapi tampaknya Lily tidak menyerah begitu saja, untuk mencari jawaban dari rasa penasarannya.
"Kak kau belum menjawab pertanyaanku," tanya Lily mengikuti kemanapun Dahlia melangkah.
Dahlia mengambil segelas air putih kemudian menoleh melihat Lily yang kini berdiri tidak jauh darinya bahkan saat ini, adiknya itu sedang menatapnya intens.
"Pertanyaan yang mana?" Kata Dahlia meneguk air yang diambilnya, berpura-pura lupa apa maksud dari pertanyaan yang Lily katakan tadi.
"Kak!"
"Hmm,"
"Apa Kakak sungguh-sungguh sudah memiliki kekasih?"
Dahlia kemudian melangkah dan duduk di kursi ruang makan. Lily tersenyum dan tak lama dirinya juga ikut duduk di sampingnya.
"Jadi bagaimana Kak?"
__ADS_1
Dahlia menghela nafas dan memandang Lily.
Rupanya adiknya itu tidak akan pergi jika dia belum menjawab pertanyaannya.
"Dasar keras kepala," bukannya marah, Lily justru tersenyum membuat dirinya bergidik ngeri melihat senyuman Lily saat ini.
"Ayo Kak cepat katakan!"
"Iya."
Satu kata jawaban dari Dahlia membuat Lily terdiam tapi banyak sekali pertanyaannya di dalam pikirannya.
Bagaimana bisa? Sama siapa? Kapan bertemu? Kenapa bisa secepat itu? Terus yang paling penting, bagaimana dengan kakaknya Al?
Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya membuat Lily terusik, tapi dia tidak berani untuk menanyakannya secara langsung pada Dahlia, walaupun sebenarnya dia juga masih penasaran dengan jawaban Dahlia, karena kakaknya itu tidak memberikan jawaban yang Lily inginkan.
"Kak,"
"Hmm, kenapa?"
"Apa Kak Lia pernah bertemu Kak Al?"
"Maksud kamu?"
"Hah? Oh itu… hmm tidak apa-apa," jawab Lily gugup, mengingat cerita Al waktu itu yang mengatakan bahwa Al melihat Dahlia hanya dari kejauhan.
"Oh ya bagaimana waktu itu pernikahan ayah kamu dan dokter Dea. Hmm benar-benar tidak menyangka ya, apa seperti itu ya yang namanya jodoh, mereka saling mencintai, berpisah dan akhirnya dipertemukan lagi dan sampai menikah," gumam Dahlia dengan pandangan lurus ke depan dan hal itu tidak luput dari perhatian Lily.
Hingga suara kedatangan Jason mengagetkan keduanya yang tengah sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Sayang kamu disini rupanya," ucap Jason yang akhirnya menemukan istrinya setelah tadi mencari-cari, di kamar Vega dan kamar Lily sendiri.
"Oh, hmm iya kenapa?"
"Kenapa? Kamu meninggalkan aku terlalu lama, dan kamu tanyakan kenapa? Padahal kamu tadi bilang hanya sebentar," kata Jason yang memberengut kesal.
Dahlia sampai menahan tawanya baru kali ini dia melihat Jason yang seperti itu, padahal kebanyakan yang Dahlia lihat pria yang menjadi adik iparnya itu, selalu berwajah datar.
__ADS_1
"Sudahlah kalian lanjutkan berduaan, Kakak mau ke kamar mau istirahat," ucap Dahlia yang kemudian meninggalkan pasangan suami istri itu.
Sesampainya di kamar Dahlia, terdiam duduk di atas ranjangnya, Al, nama yang coba dia lupakan dengan menyibukkan diri, kini kembali teringat, Dahlia sudah mengira hal ini akan terjadi, dia kira dia sudah siap mendengar nama itu lagi, tapi ternyata dia belum siap. Kekasih? Ya Dahlia memang sudah memiliki, tapi hanya sekedar kekasih saja, karena Dahlia sama sekali tidak mencintainya, dia seorang pria yang baik dan begitu perhatian pada dirinya, berharap jika bersamanya Dahlia bisa melupakan Al, jahat memang, tapi Dahlia juga tidak punya pilihan lain, dia sudah pernah menolak tapi pria itu terus mendekatinya. Pria itu bahkan bilang Dahlia bisa memanfaatkannya bahkan menjadikan dia pelampiasannya saja tidak apa-apa yang terpenting dia bisa bersama dengan Dahlia.
"Tidak, tidak aku tidak boleh seperti ini, aku harus melupakan Kak Al, iya harus," ucapnya kemudian merebahkan dirinya ingin istirahat, karena dia begitu lelah dalam perjalanan tadi.
*
*
"Ini!" Jack menyodorkan minuman untuk Liora, Jack mengajak Liora untuk keluar hari ini. Dia melihat Liora yang terus saja bersedih bahkan tidak bersemangat menjalani hari-harinya, hingga memutuskan untuk mengajak gadis itu jalan-jalan.
"Terima kasih," kata Liora tersenyum.
Jack kemudian duduk di samping gadis itu.
"Sampai kapan kali ini?"
"Hah?" Liora menatap Jack tak mengerti.
"Sampai kapan kau akan meninggalkan rumah lagi kali ini?"
"Entahlah," Liora mengedikan bahunya acuh, dia membuka botol minuman tapi kesulitan, Jack yang melihat itu merebut botol dari tangan Liora dan membantu membukanya, kemudian kembali menyerahkan botol itu pada Liora.
"Belajarlah dewasa, bukan jika ada setiap masalah kamu selalu ambil keputusan untuk lari dari masalahmu, kamu harus belajar menghadapinya Liora."
"Sudahlah Jack, aku tidak ingin membahas hal itu lagi, sekarang kita mau kemana dulu?" Liora bangun dari duduknya bersiap untuk ke tujuan selanjutnya, Liora menoleh ke arah Jack yang hanya diam saja, dan kemudian melangkahkan kakinya pergi terlebih dulu.
Jack hanya menghela nafas, tahu jika Liora selalu mengalihkan pembicaraan jika berbicara soal kepergian dirinya dari rumah, karena jika memutuskan maka gadis itu akan melakukan dengan seluruh hatinya, Liora begitu keras kepala, hingga Jack sulit untuk mengingatkan gadis itu atas apa yang dilakukannya.
Liora yang tadi sudah berjalan menjauh kini berbalik, dan melihat Jack hanya diam saja, sama sekali tidak mengikutinya.
Liora kemudian berjalan menghampiri Jack dan menarik tangan pria itu. "Ayo Jack!" Kata Liora mengajak pria itu untuk kembali berjalan menuju ke tempat tujuan mereka selanjutnya.
Jack hanya pasrah mengikuti kemanapun gadis itu pergi. Jack bahkan terus menatap tangan Liora yang menarik tangannya, dan tanpa sadar pria itu tersenyum saat melihat Liora yang kini sudah kembali tersenyum.
Liora kemudian melepas tangan Jack dan kini berjalan santai beriringan.
__ADS_1
"Makasih Jack, makasih sudah selalu ada untukku dan makasih karena kamu tidak memberitahu keluargaku, tentang keberadaan diriku saat ini," kata Liora tulus.