
Lily menggeliat saat merasa sinar matahari menerpa wajahnya. Matanya tampak mengerjap, menyesuaikan cahaya yang begitu menyilaukan.
Lily sepertinya tidur sangat lelap tadi malam, begitu matanya terbuka dengan sempurna, Lily melotot saat melihat apa yang ada di depan wajahnya. Begitu matanya terbuka, wajah Lily disuguhkan dengan da*da bidang seseorang yang Lily yakini adalah milik seorang pria.
"Apa yang aku lakukan semalam?" Ucap Lily dalam hati, mencoba mengingat kejadian semalam, terakhir yang Lily ingat adalah Al yang menyuruhnya untuk tidur.
"Aku yakin ini bukan tubuh Kak Al," Lily mencoba melepaskan diri dari pelukan pria itu, dan mendongak agar tahu siapa pria yang saat ini memeluknya erat. Bagaimana tanggapan suaminya mengenai hal ini.
"Sudah bangun?" Ucap seseorang dengan suara serak sehabis bangun tidur.
Lily terkejut dan langsung mendongak begitu saja, tapi…
"Akh!" Teriak Jason tiba-tiba..
"Maaf, sakit banget ya," ujar Lily yang merasa bersalah karena dagu suaminya yang terbentur dengan kepala Lily saat tadi Lily mendongak.
"Aku tahu kamu pasti terkejut, tapi tidak gini juga sayang, sampai menyiksa suamimu sendiri," ucap Jason yang membiarkan istrinya mengelus lembut dagunya.
"Masih sakit?" Tanya Lily yang masih merasa cemas.
"Nyonya Muda jika Tuan Stevano kesakitan akan mencium yang sakit, dan kata Tuan Stevano itu sangat mujarab dan langsung sembuh, coba kamu cium, mungkin saja, apa yang Tuan Stevano katakan benar," kata Jason memberitahu Istrinya agar melakukan hal yang sama seperti apa yang Tuan dan Nyonyanya selalu lakukan, dan Jason hanya melihat keduanya kesal, karena Jason rasanya sudah seperti obat nyamuk jika keduanya sedang bersama.
"Apa iya?" Tanya Lily kurang yakin.
"Aku juga tidak tahu, makanya kita coba," jawab Jason menatap istrinya yang masih mendongak.
Lily menuruti perkataan Suaminya, di dekatkan wajahnya pada wajah Jason, dan cup
Lily langsung menutup bibirnya saat sadar yang dicium dagu Suaminya melainkan bibir Jason, karena Jason menunduk saat tadi Lily akan menciumnya, hingga berujung bibirnya bertemu dengan bibir istrinya.
Lily menurunkan tangannya, dan Jason bisa melihat bibir istrinya yang mengerucut.
__ADS_1
Jason terkekeh melihat tingkah istrinya, kemudian mencubit hidung Lily gemas.
Jason mengecup lagi bibir istrinya singkat, kemudian kembali memeluk Lily dengan erat.
"Tidur lagi saja, kamu pasti lelah karena perjalanan," ucap Jason yang kembali memejamkan matanya.
"Memangnya kamu tidak bekerja?" Lily menyusuri wajah Suaminya, yang terlihat tampan menurut Lily.
"Hmmm, pekerjaanku sudah selesai semua dari semalam dan ingin menghabiskan waktu bersama istri tercinta," jawab Jason semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan tidur dulu, aku masih ingin mengobrol, mm lebih tepatnya, ada banyak pertanyaan yang harus kamu jawab," kata Lily mencoba melepaskan pelukan suaminya yang ternyata sangat erat.
"Hmm, kenapa?" Tanya Jason yang kini sudah membuka matanya kembali, dan menatap istrinya dalam, sementara tangannya masih melingkar di pinggang sang istri.
"Kenapa aku bisa disini?" Tanya Lily yang memang sangat penasaran sedari tadi dirinya bangun. Pasalnya semalam Kakaknya yang mengajaknya pergi, dan begitu bangun, pemandangan pertama yang dirinya lihat justru Suaminya.
Bahkan sedari tadi Lily bertanya-tanya dalam hatinya, dimana kakaknya sekarang.
Lily cemberut dan memilih memutar tubuhnya hingga kini posisi dirinya membelakangi Jason.
Jason tidak bisa menahan tawa, melihat istrinya yang justru ngambek saat tidak mendapatkan jawaban darinya. Jason memeluk Lily dari belakang, Lily tersenyum senang tapi sebisa mungkin Lily tidak boleh menunjukkannya, dia harus mendapatkan jawaban dulu atas pertanyaannya tadi.
Lily berusaha menyingkirkan tangan Jason, bukannya marah, Jason justru kembali tertawa. Tentu saja Jason tidak menyerah begitu saja. Dia kembali lingkarkan tangannya lagi, menyingkap sedikit baju istrinya naik ke atas, hingga tangannya menyentuh perut sang istri tanpa penghalang apapun.
Tubuh Lily menegang, apalagi saat tangan nakal suaminya sudah merambat kemana-mana, rasanya Lily seperti mendapat sengatan listrik.
"Jason!"
"Hmm iya sayang," jawab Jason tanpa menghentikan tangan nakalnya.
"Bahkan kini Lily bisa merasakan hembusan nafas Jason di belakang lehernya, apalagi saat Jason memberikan kecupan disana, hingga membuat tubuh Lily meremang seketika.
__ADS_1
Tanpa banyak kata lagi, Jason langsung membalik tubuh Lily hingga telentang, dan Jason langsung naik ke atasnya, langsung mencium bibir istrinya yang begitu dia rindukan dua hari ini. Ciuman yang lembut kini berubah menjadi lum*t*an. Bahkan dalam sekejap saja baju yang kini mereka kenakan sudah ditanggalkan begitu saja dan berserakan di lantai kamar.
Mereka melanjutkan kegiatan mereka di pagi ini, menyalurkan rasa rindu yang mereka tahan selama dua hari ini karena pekerjaan yang tidak bisa Jason tinggalkan begitu saja.
***
Al mengambil ponselnya yang terus berdering sedari tadi, jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, berarti dia hanya tidur selama 2 jam saja, karena dirinya baru tertidur pukul 5.
Al menepuk keningnya pelan, melihat nama si penelepon. Dirinya benar-benar lupa memberitahu Ayahnya jika dia pergi bersama Adiknya. Ayahnya pasti sangat khawatir karena ada banyak sekali panggilan masuk tidak terjawab dari semenjak dirinya sampai ke hotel.
"Ya halo Ayah," jawab Al setelah menggeser ikon berwarna hijau.
"Ale pergi bersama Al, mm maksud Al, Al mengantarkan Ale ke tempat Suaminya," jawab Al saat Ayahnya menanyakan keberadaan adiknya.
"Iya Ayah Al minta maaf, tidak mengabari Ayah, Al waktu di mobil ketiduran, dan begitu sampai setelah menghubungi Jason, ponsel Al mati, jadi Al lupa," beritahu Alan jujur mengenai alasannya.
"Iya baik Ayah," setelah itu Al melihat layar ponselnya setelah Ayahnya memutuskan panggilan dari sana.
"Lebih baik tidur lagi, hoam," Al tampak menguap.
Al menjatuhkan dirinya di atas ranjang yang empuk, Al tidak menyangka Adik Iparnya akan memesan kamar hotel semewah ini. Ketika Al akan kembali memejamkan matanya, terdengar bel berbunyi, dengan malas Al turun dari tempat tidurnya.
"Maaf Tuan ini sarapan Anda, kami disuruh mengantarkannya ke kamar," ucap petugas hotel yang melihat kebingungan Al.
Al membuka pintu lebar-lebar agar kedua petugas hotel itu melakukan tugasnya.
"Silahkan dinikmati Tuan, kami permisi dulu," ucap mereka setelah menyusun banyak makanan di atas meja.
Perut Al tiba-tiba saja merasa lapar, setelah diingat-ingat, dari kemarin siang Al memang tidak makan apapun.
Berhubung rasa kantuknya juga sudah hilang, Al memutuskan untuk sarapan saja, Al menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menggosok gigi terlebih dulu. Setelah itu Al berjalan ke sofa dimana di mejanya sudah tersedia banyak makanan. Tapi Al kembali lagi mengambil ponselnya, dilihat ponselnya saat ada pesan yang baru saja masuk, Al membacanya dengan serius, dan tanpa sadar ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
__ADS_1