Please Love Me

Please Love Me
Part 101


__ADS_3

Ronald menatap cermin yang kini telah retak di depannya. 


Tanpa memperdulikan lukanya, Ronald keluar dari kamar mandi dengan darah yang menetes di lantai setiap langkahnya.


Ronald terkejut begitu keluar, mendapati Ayahnya kembali dan sekarang duduk di atas ranjangnya.


"Apa yang kau lakukan di dalam? Apa sebegitu hancurnya hatimu saat tahu wanita itu ternyata hanya mempermainkanmu?" Mike memandangi luka pada kepalan tangan Putranya tak lupa dengan senyum mengejeknya.


Ronald memutar bola matanya malas, mendengar kata-kata yang Ayahnya ucapkan dengan sengaja menyindirnya.


"Lebih baik Ayah keluar daripada disini hanya untuk terus mengejekku," Ronald berjalan ke arah meja samping tempat tidur, dan membuka lemari kecil yang ada di bagian depan meja itu.


Setelah terbuka diambilnya kotak p3k untuk mengobati lukanya, lebih baik dia mengobati lukanya sekarang, ketimbang akan kembali mendapat pidato dari Ayahnya karena membiarkan lukanya.


Trap


Trap


Langkah kaki terdengar mendekat, hingga tiba-tiba, seseorang merebut kotak P3k dari tangannya.


"Duduk disana biar Ayah yang mengobati," perintah Mike menunjuk sofa yang ada di kamar tersebut.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri," jawab Ronald yang memang tidak ingin diganggu Ayahnya apalagi dengan kata-kata yang terus menyindirnya.


Tidak peduli dengan keberadaan Ronald, Mike lebih dulu melangkah menuju sofa dan langsung duduk disana.


Ronald akhirnya hanya bisa pasrah mendekat ke sofa, saat melihat Ayahnya yang sedang membuka kotak tadi.


"Duduk!" Terdengar Mike kembali menyuruh putranya duduk begitu melihat Ronald sudah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Dengan gontai Ronald menuruti perintah Ayahnya.


***


"Kenapa Kak Al masih disini? Memangnya Kak Al tidak ada kerjaan lain?" Tanya Dahlia yang merasa risih dengan keberadaan Al yang sedari tadi bermain ponsel entah apa yang dimainkannya di sofa yang ada di ruang rawat Dahlia.


"Apa kau tidak melihat jika sekarang aku sedang melakukan suatu pekerjaan," jawab Al tanpa mengalihkan perhatian pada layar ponselnya.


Dahlia hanya mendengus, dirinya benar-benar kehabisan kata-kata untuk mengusir Kakak seniornya itu.


"Jangan berisik, kau membuat konsentrasiku buyar saja," ketus Al karena game di ponselnya harus berakhir karena harus menjawab pertanyaan Dahlia yang membuat fokusnya teralihkan.


"Hmm Kak, bukannya kamu bilang jika Lily akan kemari? Kenapa sudah satu jam lebih Lily belum juga sampai, padahal jarak rumah kalian ke rumah sakit tidaklah jauh," tanya Dahlia setelah cukup lama dalam keheningan.


"Mungkin mereka sedang produksi dulu," jawab Al cuek.


Al menghentikan permainannya, di tatapnya gadis yang kini sudah mulai cerewet lagi, padahal satu jam yang lalu gadis itu masih berkata dengan suara yang lemah, Al saja sampai heran dibuatnya, karena gadis itu cepat berubah hanya dalam waktu satu jam.


"Aku jelaskan juga percuma, kamu tidak akan tahu," Al kembali melanjutkan memainkan game di ponselnya.


"Dasar pria kaku," gerutu Dahlia, kemudian mengambil apel yang ada di atas meja, mungkin bawaan pria yang menyebalkan itu.


Saat Dahlia akan menggigit apel, justru apel itu melayang, Dahlia melihat Al merebut apel yang akan dimakannya, sungguh Dahlia sangat kesal dengan pria yang saat ini memegang apel miliknya dan bahkan matanya melotot memandang ke arahnya.


"Kembalikan punyaku!" Dahlia menengadahkan telapak tangannya meminta kembali apel yang ada di tangan Al.


Bukannya memberikan Al justru pergi dengan membawa apel itu ke dalam kamar mandi.


Dahlia yang kesal akhirnya lebih memilih merebahkan tubuhnya, dan menutupinya dengan selimut.

__ADS_1


"Ini!" Suara Al kembali mengganggu indera pendengarannya. Dahlia enggan hanya untuk sekedar menoleh ke belakang, agar bisa melihat pria yang baru saja berkata.


"Kamu yakin tidak jadi makan apel ini?" Tanya Al lagi sambil memperlihatkan apel yang tadi dia rebut dari Dahlia.


Dahlia langsung bangun begitu saja,


"Akh, ringisnya merasa kesakitan saat tangan yang tertancap jarum infus menyenggol selimutnya.


"Kenapa? Kamu sih tidak pelan-pelan bangunnya, lihatkan apa akibatnya?" Ucap Al kesal, karena kecerobohan gadis yang saat ini meringis kesakitan, kemudian membantu Dahlia membenarkan posisi duduknya.


"Ini makan! Tadi aku cuci dulu, jangan jadikan kebiasaan langsung lahap saja, kamu tidak tahu kan itu kotor atau tidak, mungkin saja kotor dan banyak kuman dan bakteri, jadi harus dicuci dulu sebelum dimakan.


Dahlia hanya terperangah mendengar perkataan Al, Dahlia kira Al merebut apel dari tangannya di antara dua hal, pertama karena dia akan memakannya, kedua karena dirinya tidak boleh memakannya, dan ternyata alasannya, benar-benar tidak Dahlia duga.


"Kamu masih sakit dan jangan sampai sakitmu tidak sembuh-sembuh, apalagi alasannya karena makan-makanan yang belum dicuci, tidak etis sekali," tambah Al lagi.


Dahlia hanya diam, tapi tidak bisa dipungkiri ada perasaan hangat yang menyusup ke dalam hatinya, saat pria yang disukainya diam-diam ini menunjukkan perhatiannya, hingga tanpa sadar, sudut bibirnya melengkung ke atas, apalagi saat pria itu kembali mengomel, menasihatinya ini dan itu, Dahlia terus mendengarkan tanpa merasa risih, karena baginya Al yang seperti ini, jarang sekali dia lihat, yang biasa dia lihat hanya Al yang berbicara seperlunya, dan jika pun berbicara dengannya pasti yang dikeluarkan padanya hanya kata-kata ketus.


Begitu asyik dengan dunia mereka berdua, sampai-sampai Al dan Dahlia tidak menyadari jika ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya, Vega memandangi putrinya yang kini tersenyum sambil menatap laki-laki di hadapannya dengan mata berbinar. Sudah lama, Vega tidak melihat senyum lebar putrinya itu, Vega bahagia melihat Putrinya bahagia, dan Vega berharap kebahagiaan itu tidak seperti pelangi, yang hanya datang sekejap memperlihatkan keindahannya. Vega ingin putrinya terus merasakan kebahagiaan selamanya.


Tidak ingin mengganggu Putrinya, Vega pun kembali menutup pintu, Vega menuju kursi tunggu yang ada di depan ruangan itu dan duduk di sana. Vega meneteskan air matanya, tapi setelah itu ada senyuman yang terukir di sudut bibirnya. Vega langsung menghapus air mata itu, kemudian bangun dari duduknya, berjalan meninggalkan kamar rawat putrinya, membiarkan putrinya menciptakan kebahagian dengan waktu yang cukup lama, membiarkan sang putri menghabiskan lebih banyak waktu dengan pria yang disukainya. Vega akan kemanapun bahkan dengan tujuan tak jelas pun, Vega akan tetap melangkah, yang terpenting dirinya tidak akan mengganggu Putrinya untuk saat ini.


Sementara itu di depan rumah sakit, Lily buru-buru turun dari mobil, dia ingin cepat-cepat menemui Kakaknya, memastikan kondisinya.


"Sayang tunggu!" Jason berjalan tergesa-gesa menyusul istrinya yang lebih dulu melangkah.


Langkahnya yang tegap dan panjang, membuat Jason dengan cepat mengimbangi jalan sang istri.


Tapi langkah keduanya tiba-tiba terhenti, saat mendengar teriakan seorang wanita yang memanggil Lily, suara yang membuat jantung Lily yang berdebar dengan kencang.

__ADS_1


__ADS_2