
"Dahlia akan datang tidak ya?" Kata Al terus menatap ponselnya yang layarnya sudah mati.
Al terus saja berjalan mondar-mandir, sambil memikirkan cara lain jika sampai kali ini Dahlia tidak datang.
Tapi tak lama, bel apartemennya berbunyi. Al melihat pada layar siapa yang datang, dan pria itu langsung tersenyum lebar begitu melihat jika Dahlia lah yang datang.
Al dengan cepat berlari menuju kamar mandi, mengambil air panas dari shower dengan ember. Dan mencelupkan handuk kecil ke dalamnya.
Seluruh wajahnya Al basuh dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air panas. Setelah dirasa wajahnya sudah panas dan memerah, Al mengembalikan ke tempat semula dan berlari membukakan pintu untuk Dahlia.
"Kak Al!" Kata Dahlia begitu pintu terbuka.
Al dengan tubuh lemasnya, jatuh di pelukan Dahlia.
"Kak!" Kak Al? Kakak baik-baik saja?" Tanya Dahlia karena Al diam tidak berkutik sama sekali.
Al hanya menggeleng lemah.
"Lebih baik Kak Al istirahat saja! Ayo aku bantu ke kamar!" Kata Dahlia kemudian memapah tubuh Al dengan susah payah menuju kamar pria itu.
Dahlia membantu Al berbaring, dan kemudian mengecek suhu tubuh Al dengan menempelkan punggung tangannya di kening pria itu.
"Panas banget," Kak Al punya obat demam?" Tanya Dahlia dan diangguki oleh Al.
"Di meja itu!" Kata Al menunjuk meja di bawah televisi.
Dengan cepat Dahlia berlari untuk mengambil obat, Dahlia membaca tulisan yang ada di beberapa botol obat yang disana. Dan Dahlia mengambil botol obat dengan paracetamol dan kembali menghampiri Al.
"Ini Kak Al makan dulu!" Pinta Dahlia menyerahkan bubur yang tadi dibelinya.
Al menggeleng, bagaimana Al bisa makan jika perutnya masih kenyang, karena sebelum pulang Al sempat makan lebih dulu karena paksaan Lily.
"Bagaimana Kak Al bisa minum obat, jika Kak Al tidak mau makan?" Tanya Dahlia.
"Aku tidak lapar," jawabnya lemah.
"Tapi Kak Al harus makan, jika tidak lapar ya paksa," ucap Dahlia.
"Ayo sekarang Kak Al makan! Biar aku yang suapi!" Perintah Dahlia menyodorkan sesendok bubur di depan mulut Al.
Al dengan terpaksa menerima suapan Dahlia. Tiba-tiba Al berdiri dan segera berlari ke kamar mandi. Di dalam sana Al memuntahkan semua isi perutnya, bukan karena sakit melainkan karena kekenyangan.
__ADS_1
Dahlia mengurut tengkuk Al, Al yang sudah mengeluarkan isi perutnya, tubuh menjadi lemas hingga dirinya memutuskan untuk duduk dulu di atas closet.
"Kak Al baik-baik saja?" Tanya Dahlia khawatir.
"Jika Kak Al masih sakit, lebih baik ayo kita ke dokter saja, atau perlu telepon ayah Kak Al?" Panik Dahlia yang melihat tubuh lemas Al.
"Tidak perlu, aku hanya ingin istirahat saja," kata Al dan Dahlia kembali membantu Al merebahkan diri di atas ranjang.
"Aku buatkan minuman hangat dulu ya," pamit Dahlia.
Sekali lagi Al mengangguk lemah.
"Jangan lama-lama," kata Al dan Dahlia mengiyakan sebelum pergi.
"Kurasa ini yang dinamakan senjata makan Tuan," gumam Al yang merasakan tidak enak di perutnya.
Al melihat botol obat yang tadi Dahlia ambil, dan dengan segera mengambil dan mengeluarkan semua isinya menukarnya dengan vitamin, kemudian mengembalikannya ke tempat semula agar Dahlia tidak curiga, jika ini semua hanya akal-akalan Al yang ingin bertemu dengan gadis itu.
*
*
"Loh ini kan jalan menuju ke rumah Mami dan Papi," kata Liora begitu melihat jalanan yang sedang mereka lalui sekarang.
"Siapa bilang, aku mau pulang ke rumah mami dan papi? Lagian kau, kenapa tidak bertanya lebih dulu?" Kesal Liora tiba-tiba entah karena apa.
"Terus jika tidak ke rumah Tuan dan Nyonya, kamu mau kemana Nona?"
"Ke rumah Ibu, kita lebih baik ke rumah Ibu sekarang," jawab Liora memerintah Jack untuk ke rumah ibunya.
"Tapi Nona, kita belum meminta ijin kepada orang tua Nona, bukannya baru kemarin-kemarin kamu pulang ke rumah orang tuamu, kenapa sekarang tiba-tiba kamu ingin kembali ke rumah Nyonya Dea.
Liora menoleh dan menatap Jack tajam, "Apa kau tidak bisa hanya menuruti perintahku, kau tidak berhak ikut campur pada apa yang sudah menjadi keputusanku, kau hanya perlu mengantarku saja tanpa banyak bicara," marah Liora karena menganggap Jack terlalu ikut campur dengan hidupnya.
"Baiklah kita akan menuju ke rumah Nyonya Dea sekarang, dan maaf jika menurutmu aku terlalu ikut campur," ucap Jack dan tanpa banyak kata lagi, dengan segera Jack menancap gas,mengendarai mobilnya ke rumah Dea.
Liora melirik Jack yang kini fokus dengan kemudinya dengan wajah yang serius. Bahkan pria itu, kini hanya diam saja, tidak banyak bicara seperti sebelumnya membuat Liora jadi bertanya-tanya. Sebenarnya Liora tidak suka dengan situasi seperti ini, hingga akhirnya membuat Liora kembali mengeluarkan suaranya karena tidak tahan mereka hanya diam-diaman saja.
"Jack!"
"Jack!"
__ADS_1
Yang dipanggil hanya diam saja, merasa enggan hanya sekedar untuk menjawabnya.
"Jack apa kau tuli!" Kata Liora yang kesal karena panggilannya tidak ditanggapi oleh Jack sama sekali.
"Jack!" Teriak Liora merasa geram karena Jack tidak mempedulikannya.
"Nona bisakah kau diam? Kau tahu suaramu sangat mengganggu konsentrasiku saat menyetir seperti ini?" Ucap Jack dengan suara datarnya.
Liora pun langsung terdiam mendengar nada suara Jack yang berbeda dari biasanya.
Liora terus saja menatap Jack, dan dengan memberanikan diri, Liora bertanya.
"Jack apa kamu marah?" Tanya Liora hati-hati, takut Jack akan semakin marah padanya.
"Jadi benar kamu marah," kata Liora menjawab sendiri tadi perkataannya.
"Kamu marah karena ucapanku tadi? Jika iya aku minta maaf" kata Liora dan Jack yang mendengar permintaan maaf Liora menoleh dan menatap gadis itu.
.
.
"Sayang, sayang bangun!" Jason menggoyang-goyangkan tubuh istrinya agar bangun.
Lily menggeliat dan mengucek kelopak matanya dan perlahan mengerjap menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu tidur.
"Hmm kenapa?" Tanya Lily yang mencoba duduk.
"Ayo kita keluar!" Ajak Jason yang langsung turun dan menuju ke walk in closet meninggalkan Lily yang tampak kebingungan.
Tak lama Jason kembali mengambil dua jaket, untuk dirinya dan sang istri.
"Kita mau kemana?" Tanya Lily begitu kesadarannya terkumpul, rasanya Lily baru saja tidur tapi suaminya justru membangunkannya di jam…, Lily melihat jam di dinding dan waktu menunjukkan pukul 2 pagi.
"Pergi cari makan," ujar Jason sambil menyerahkan jaket satunya untuk Lily.
"Cari makan?"
"Iya, aku lapar," jawab Jason.
"Oh, ya sudah ayo!" Lily turun dan memakai jaket yang tadi suaminya berikan.
__ADS_1
Keduanya kemudian keluar bersama, dan dengan melajukan mobilnya perlahan, Jason berkeliling mencari penjual makanan yang buka.