Please Love Me

Please Love Me
Part 77


__ADS_3

Alan menunggu jawaban putrinya dengan jantung yang berdebar, dia takut putrinya itu tidak menyetujui apa yang dia inginkan, apalagi melihat ekspresi Lily yang rasanya sulit di tebak.


Alan menunduk, dalam hati rasanya dia memang tidak pantas meminta hal itu, sementara dirinya selama ini tidak merawat dan membesarkannya.


Tak lama Lily pun tersenyum, sedikit berjinjit untuk meraih wajah sang Ayah dan membantunya untuk mengangkat kepala dan menatapnya.


"Tentu saja boleh, aku justru senang Ayah, aku bisa punya panggilan kesayangan dari Ayah, ya walaupun itu memang diambil dari namaku sendiri," bahkan senyuman Lily kini tampak melebar, menunjukkan bahwa dia memang bahagia.


"Tapi aku minta maaf karena aku tidak mengingat semuanya, mungkin itu karena kecelakan yang terjadi di saat umurku 5 tahun, bahkan akupun sama sekali tidak mengingat hal itu, jadi aku harap Ayah maklum ya," kata Lily yang kini menggenggam tangan Alan.


Alan menatap Lily tidak percaya pada apa yang baru saja putrinya itu katakan. Bahkan Jason juga ikut terkejut mendengar kejadian yang dulu menimpa istrinya.


"Lily apa maksudmu? Kamu pernah kecelakaan?" Tanya Jason menghampiri istrinya.


"Sekarang kamu duduk dan jelaskan pada kami tentang kecelakaan itu," Jason menuntun sang istri untuk duduk dan Alan membiarkan itu, dirinya juga penasaran akan fakta yang baru dia ketahui.


***


"Sayang kenapa masih disini? Ini sudah malam, tidak baik untuk kesehatanmu, ayo masuk!" Ucap seorang wanita pada putrinya.


"Aku masih ingin disini Bu, Ibu kalau mau masuk, masuk dulu saja," kata Liora memegang tangan Dea yang ada di bahunya.


"Dea berputar yang tadi berada di belakang Liora hingga berada di samping putrinya itu, kemudian duduk di bangku kosong sebelahnya.

__ADS_1


"Apa kamu masih marah sama Mami dan Papi? Dea bertanya dengan pandangan lurus.


Liora menoleh dan menatap Ibunya, sekaligus sahabat dari Maminya.


"Liora tidak marah Bu, hanya saja Liora kecewa karena Mami dan Papi memutuskan hal seperti itu tanpa bertanya pada Liora dahulu," Liora membenarkan perkataan Ibunya.


"Bolehkah Ibu bertanya?" Dea meminta izin dulu pada putrinya untuk menanyakan hal pribadi.


Liora memberi jawaban hanya dengan mengangguk.


"Saat Papi dan Mami mengatakan tentang perjodohanmu dengan Jason, apa kamu senang?" Tanya Dea yang kini memandangi wajah cantik Liora.


"Iya, Liora senang, sangat-sangat senang," mungkin itu kata yang tepat atas pertanyaan yang Dea lontarkan.


"Jika kamu senang saat mendengar hal itu, kenapa kamu masih marah sama Papi dan Mami?" Dea mencoba memberikan pengertian pada gadis itu.


"Bu.. aku mohon jangan bahas masalah ini lagi," Liora kemudian kembali fokus pada kegiatannya tadi, duduk diam sambil melihat ke langit malam yang tampak indah.


"Ibu, tahu kamu marah, kecewa, tapi sebenarnya bukan sama Papi dan Mami yang tidak mengatakan hal itu padamu dudu, tapi karena kamu kecewa pada jawaban Jason yang menolakmu, benar bukan?" Dea mengatakan dengan benar apa yang dia sempat duga.


Liora kembali diam, dia juga tidak bisa mengelak pada perkataan ibunya tadi, karena hal itu memang benar adanya.


"Sayang jangan terlalu lama marah, apalagi pada orang tua, karena itu tidak baik, Kamu tahu Mami Papi sayang sama kamu makanya melakukan hal itu, mereka bilang kamu selalu tersenyum jika membicarakan ataupun sedang bersama Jason, dan mereka tahu bahwa putri satu-satunya menyukai Jason, dan Mami sama Papi hanya ingin kamu bahagia, tapi karena mementingkan kebahagiaan kamu, Mami sama Papi justru lupa tentang hal sepele itu, mereka lupa menanyakan pendapatmu, juga pendapat Jason," Dea menggenggam tangan putrinya yang kini tengah bersedih, menenangkannya dan berusaha menyalurkan kekuatan lewat genggaman tangannya.

__ADS_1


"Boleh bersedih, tapi tidak boleh berlarut-larut. Coba kamu pikir jika kemarin Jason tidak menolak keinginan orang tuamu, terus dia terpaksa menikah denganmu, apa kamu bahagia? Bukan memikirkannya tapi pikirkan diri kamu sendiri, bagaimana jika setelah menikah Jason semakin menjauh darimu karena cinta yang dia miliki bukan untukmu? Boleh juga berjuang pada cinta yang kita miliki, tapi jika terus-terus mendapat penolakan apa itu tidak menyakiti kita? Tentunya itu akan lebih sakit. Jika seperti itu bukankah lebih baik kita menyerah? Menyerah bukan berarti kita kalah, tapi kita lebih mengikhlaskan hati, untuk dia? Tidak bukan untuk dia, tapi untuk diri kita sendiri, lebih baik kita terluka sekarang daripada nanti, saat luka kita semakin dalam, itu justru sulit untuk diobati, mencintai tentu saja itu hak kita, tapi  kita juga tidak boleh terlalu memaksakan kehendak, jatuhnya sakit. Jika sudah tidak kuat, ya berhenti saja, biarkan dia berjalan menjauh, dan ingat tidak selamanya kamu akan sendiri setelah kepergiannya, karena dibelakangmu tentunya akan ada orang lagi yang berjalan mendekat dan menemanimu, dan itu semua nanti tergantung padamu, kamu pergi sendiri meninggalkan orang itu, atau kamu memilih berjalan bersama supaya kamu tidak kesepian, dan kamu bisa lihat dia orang yang seperti apa, dia akan tetap bersamamu, atau dia berhenti dan memilih bersama orang yang ada di belakangnya lagi."


Liora langsung berhambur ke pelukan Ibu yang telah membesarkannya itu. Liora tahu apa yang Ibu maksud.


 "Lebih baik melepaskan orang yang sudah berniat ingin menjauh, daripada kita harus lelah terus mengejarnya karena belum tentu kita bisa menjangkaunya. Dan tunggu seseorang yang mungkin akan hadir di hidup kita walaupun pada akhirnya kita sendiri yang akan memutuskan akan menerima orang itu atau tidak."


Dea menepuk punggung putrinya pelan untuk menenangkannya, apalagi saat merasakan tubuh Putrinya itu bergetar, tanda jika saat ini dia sedang menangis.


Sementara di tempat lain, di dalam sebuah mobil, seorang gadis terus saja melirik pada pria di sampingnya yang tampak kacau, padahal biasanya pria itu akan berpenampilan sangat rapi dimanapun dan kapanpun. Dia saat ini tengah fokus mengemudikan mobilnya. 


"Semakin dilihat dari dekat, dia semakin tampan," ucap Dahlia dalam hati sambil terus memandangi Al yang kini sedang dalam perjalanan mengantarnya.


"Kak apa kau baik-baik saja," pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari gadis itu.


"Menurutmu," kata Al dengan suara datar dan dingin membuat Dahlia harus susah payah menelan salivanya.


"Kak jika memang Kakak tidak baik-baik saja, jangan pura-pura baik saja, tunjukkan saja jangan ditutupi, bukan terlihat lemah, tapi seorang pria juga tetap manusia yang mungkin bisa lelah kapan saja dan boleh kok diungkapkan, tidak dilarang," Dahlia memberanikan diri mencoba menghibur Al, ya walaupun bisa dikatakan jika ucapan gadis itu justru lebih mirip nasihat.


Al segera menepikan mobilnya.


Dahlia langsung ketakutan saat itu juga, bagaimana jika dia diturunkan di tengah jalan begini, baru memikirkan saja membuat Dahlia bergidik ngeri apalagi ini sudah malam dan bahkan jalanan sangat sepi.


Tanpa Dahlia duga, Al justru memeluknya erat, membuat tubuh Dahlia terasa membeku.

__ADS_1


"Biarkan seperti ini!"


"Biarkan seperti ini sebentar saja!" 


__ADS_2