Please Love Me

Please Love Me
Part 118


__ADS_3

"Rindu," kata Lily berulang kali, dia sedang menonton drama yang disukainya, tapi fokusnya tidak pada layar di depannya melainkan pada ponsel yang tergeletak di samping dirinya duduk.


Kemarin Jason menghubunginya, waktu baru sampai, jam makan siang bahkan sebelum tidur. Tapi berbeda dengan hari ini, dari pagi sampai sekarang menjelang sore, tidak ada satupun pesan atau panggilan masuk dari sang suami tercinta.


Lily menghela nafas panjang, berulang kali Lily mengecek ponselnya tetap saja tidak ada pemberitahuan apapun, ponselnya tampak sepi.


Lily mengambil bantal sofa yang ada di belakangnya, menaruh di pinggiran sofa, lalu dirinya berbaring di sana sambil menekan-nekan tombol remote asal. Terus mengganti chanel televisi tanpa ada niat lagi untuk menontonnya. Bahkan ponsel yang sedari tadi terus berada di dekatnya kini sudah tersingkirkan, ponsel itu di geletakkan  begitu saja di atas meja, karena terlalu kesal.


Tapi tak lama, Lily tak tahan untuk tidak kembali menatap ponselnya yang cukup jauh dari jangkauannya, dirinya terus berharap suaminya akan memberikan kabar, walaupun hanya berupa pesan.


Ting


Terdengar suara pesan masuk, Lily buru-buru bangun dan mengambil ponselnya, pandangannya kecewa saat tahu bukan suaminya yang mengirimkan pesan, dengan malas, Lily membaca pesan yang ternyata dari Al Kakaknya.


Al bilang akan pulang dan meminta Lily bersiap, karena hari ini jadwal kepulangan Dahlia dari rumah sakit, sebenarnya kemarin, berhubung kemarin semua orang sibuk, Al meminta dokter Dahlia untuk membiarkan Dahlia dirawat satu hari lagi, dan dokter hanya mengangguk patuh pada anak pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.


"Baiklah," jawaban singkat yang Lily tulis dalam pesan, kemudian dia kirimkan pada Al. 


Lily kembali meletakkan ponselnya. Rasanya malas sekali untuk beranjak, sebenarnya dia hanya ingin berdiam diri di rumah sambil menunggu suaminya menghubungi. Tapi Lily tepis keinginannya itu, bagaimanapun dia harus tetap hadir di rumah sakit untuk menjemput kakak yang disayanginya.


Lily akhirnya mengumpulkan niat untuk bangun dari duduknya, setelah berhasil mengusir rasa malasnya. Lily bangun dan mengambil ponselnya, kemudian kini dengan langkah gontai, Lily berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk segera bersiap, seperti apa yang sudah diperintahkan Kakaknya dalam pesan yang tadi dikirimnya.


Sesampainya di kamar, pemandangan pertama yang ditemukan adalah foto yang cukup besar tergantung di dinding kamarnya, foto pernikahannya dengan Jason, di sana Jason tampak memandangi Lily dengan senyum yang terukir di bibirnya sementara Lily memandang lurus ke depan. Melihat itu, entah kenapa rasa rindu yang Lily rasakan di hatinya terasa semakin membuncah.


"Baru saja sehari ini ditinggal rasanya sudah seperti berbulan-bulan, aku tahu kamu sibuk, tapi seharusnya kamu tetap kasih kabar ke aku, kamu jahat banget sih, kamu tahu aku kangen banget sama kamu dan juga kamu jadi bikin aku khawatir, semoga kamu baik-baik saja disana," kata Lily sambik terus memandangi foto itu.

__ADS_1


"Rindu memang berat," kata Lily menghela nafas panjang kemudian dirinya masuk ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Untungnya tadi Lily sudah mandi, jadi dirinya tidak perlu terlalu lama memakan waktu sampai nanti Al datang menjemputnya.


Setelah Lily selesai bersiap, Lily mengambil tasnya. Pandangannya teralihkan saat mendengar dering pada ponselnya. Lily menggeser ikon warna hijau dan menempelkan ponsel di telinganya, Al bilang jika lima menit lagi Al akan sampai, dan meminta Lily agar menunggunya di depan saja, karena nanti mereka akan langsung pergi tanpa Al berganti baju terlebih dahulu.


Lily segera memasukkan ponsel ke dalam tasnya, dan dengan terburu-buru, dia keluar dari kamarnya, bahkan Lily berlari kecil saat menuruni tangga dan berjalan cepat untuk keluar dari rumah, begitu dirinya sudah sampai di depan saat itu juga bertepatan mobil Al datang.


"Masuk!" Al membuka kaca jendela dan menyuruh Lily masuk, dan Lily hanya bisa menurut.


"Kenapa cemberut gitu?" Tanya Al yang melihat adiknya masuk ke dalam mobil dengan wajah yang ditekuk.


"Senyum dong, kusut banget kelihatannya, gak enak dipandang, protes Al yang melihat tidak ada senyum di wajah adiknya seperti biasa.


"Lebih baik Kak Al diem deh, sedang bete nih aku, jangan bikin aku tambah bad mood," protes Lily yang kemudian memasang headset di telinga kanan dan  kirinya, malas untuk mendengarkan suara-suara yang membuat moodnya semakin buruk.


Al menarik salah satu headset di telinga Lily, membuat Lily mendelik tajam ke arah Kakaknya.


"Baru aja di tinggal dua hari sudah uring-uringan begitu, apalagi kalau di tinggal sebulan," ledek Al yang kemudian mulai menjalankan mobilnya.


"Kak Al belum pernah merasakan sih, jadi cuma ngomong doang mah gampang," Lily kembali memasangkan headset yang tadi terlepas dengan paksa akibat ulah Al.


Al hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, karena sudah dari tadi pagi dia melihat adiknya seperti itu.


Hingga akhirnya keheningan menemani perjalanan mereka berdua.


Tak lama mobil Al kini telah sampai di tempat tujuan, Al turun dari mobil lalu berlari kecil ke arah samping membukakan pintu untuk adiknya yang sedang galau, sepertinya untuk saat ini Al tidak akan mengganggu adiknya karena sedang jika sedang galau seperti itu, meledek ataupun menggoda Lily, sudah seperti membangunkan macan yang sedang tidur.

__ADS_1


"Makasih," kata Lily pada Kakaknya setelah pintu mobil terbuka, Lily kemudian turun dan berjalan lebih dulu meninggalkan Al.


"Kamu sudah datang? Sama siapa?" Tanya Vega bangun dari duduknya dan menghampiri Lily. 


"Sama Kak Al, Kak Lia mana Bu?" Tanya Lily saat tidak melihat Kakaknya disana.


"Di toilet, sedang berganti pakaian," jawab Vega menuntun Lily agar duduk lebih dulu, sembari menunggu Dahlia.


"Kenapa? Sepertinya kamu sedang sedih?" Vega yang menyadari raut wajah Lily langsung bertanya.


"Tidak apa-apa Bu, memangnya kelihatan banget ya? Padahal aku mencoba agar terlihat baik-baik saja," jawab Lily menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Agar terlihat baik-baik saja, tapi wajahnya di tekuk gitu, kusut kaya baju belum disetrika," timpal Al yang baru saja datang kemudian mencium punggung tangan Vega dan ikut duduk di samping Lily, tapi sebelumnya Al mengacak poni adiknya itu, membuat Lily memberengut kesal.


"Kak Al kebiasaan deh, berantakan jadinya, Kak Lia, lihat nih Kak Al jahatin aku," adu Lily pada Dahlia yang baru keluar dari kamar mandi, gadis itu tampak menggunakan tongkatnya.


"Kamu aja lebay, cuma rambut aja kan bisa dirapikan lagi," sahut Dahlia sambil berjalan pelan ke arah orang-orang yang disayanginya.


"Oh, jadi gitu sekarang belain Kak Al, gak mau belain aku lagi, tuh Bu, Kak Lia gak mau belain adiknya malah belain orang lain," Kini Lily menatap Vega, dan mengadu padanya.


"Lia gak boleh seperti itu, belain nih adikmu, kasihan kan dia, kelihatannya juga lagi galau karena ditinggal suami ke luar kota, nanti nangis lagi," kata Vega membuat Lily semakin cemberut, sementara Dahlia dan Al kini tertawa melihat bibir Lily yang sudah maju beberapa senti.


"Ibu.." rengek Lily manja.


Vega yang melihat itu langsung menarik Lily ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Maaf sayang, lagian sedari tadi Ibu perhatiin kamu manyun terus dari awal datang."


Dahlia dan Al saling pandang, kemudian keduanya tersenyum melihat pemandangan itu.


__ADS_2