
Liora tersenyum senang saat melihat Vier dan Vira berlari ke arahnya. Gadis itu merentangkan kedua tangannya menangkap keponakan-keponakannya itu.
"Bibi El, Bibi El baru bangun? Tadi Viel dan Vila ingin pelgi ke lumah paman Max sama Bibi El, tapi kata mama, Bibi El belum bangun kelelahan."
"Hmm iya, maafin Bibi ya, nanti deh lain kali kita ke rumah paman sama-sama ya?" Ucap Liora membantu Vira duduk di sebelahnya, sementara Vier bisa melakukannya sendiri.
"Sama beli es klim," ujar Vira yang memang sangat menyukai minuman manis yang satu itu.
"Oke tapi jangan bilang-bilang sama papa," bisik Liora takut kakaknya itu mendengar.
"Oke," jawab keduanya.
"Baby aku harus ke apartemen dulu untuk mengambil beberapa barang-barangku yang tertinggal," ucap Ronald yang baru datang dari dalam.
"Kamu mau ikut atau tidak?" Tawarnya berjongkok di depan Vira, dan mencium pipi chubby gadis kecil itu yang terlihat menggemaskan.
"Hmmm baiklah aku ikut, tapi aku ke atas dulu ganti pakaian."
"Vila juga ikut Bibi," ujar gadis kecil itu.
"Paman tidak mengajak Vira, paman hanya mengajak bibi."
"Aha ah ah, pokoknya Vila ikut, Viel juga mau ikut kan?" Tanya Vira pada adik kembarnya.
Tiba-tiba mereka menoleh saat mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat.
"Sayang, kalian tidak usah ikut Bibi El, nanti kalian mau ikut mama sama papa tidak?"
Jasmine wanita itu datang, mencegah keinginan putra dan putrinya yang mungkin saja nanti akan ikut dengan adik iparnya. Jasmine harus mencegahnya, tidak mau jika nanti kedua putrinya malah mengganggu sepasang pengantin baru itu.
"Memangnya mama sama papa mau kemana?" Tanya Vira yang sepertinya tertarik dengan ajakan mamanya.
Jasmine memberi isyarat pada Liora dan Ronald untuk segera pergi, menyerahkan urusan Vira dan Vier padanya.
Liora yang mengerti kode dari Jasmine buru-buru menarik tangan Ronald.
__ADS_1
"Kamu tidak jadi ganti pakaian baby?"
"Hmm tidak usah deh, nanti keburu Vira dan Vier sadar kita pergi, nanti mereka malah minta ikut lagi."
"Baiklah ayo!" Ronald menggandeng tangan istrinya menuju ke mobil mereka keduanya pun masuk dan Ronald segera mengendarai mobilnya meninggalkan pelataran mansion William.
"Kamu ingin kemana lagi?" Tanya Ronald yang membuat Liora langsung menoleh ke arahnya.
"Hmm kemana ya? Hmm aku tidak terbiasa pergi-pergi. Atau kamu saja yang menentukan," Liora menyerahkan keputusan pada suaminya.
"Baiklah, kita kesana dulu baru setelah itu kita ke apartemen untuk mengambil barangku," ucap Ronald dan Liora pun mengangguk setuju.
Pria itu kemudian fokus mengendarai mobilnya, hingga tak lama kini Ronald memarkirkan mobilnya di basement pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
"Ayo turun!" Ucap Ronald yang tiba-tiba saja sudah turun dan kini sedang membukakan pintu untuk istrinya.
"Kamu mau ajak aku berbelanja?" Tampak gadis itu melangkah turun dari mobilnya.
"Hmm kamu, beli apapun yang kamu inginkan."
Liora mengajak Ronald berjalan kesana kemari, melihat-lihat dan memilih yang dia inginkan. Liora semakin erat merangkul suaminya saat beberapa wanita saling berbisik mengagumi suaminya itu. Liora berjalan cepat dan mengajaknya masuk ke sebuah toko yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.
"Aku mau pulang saja," kata Liora melepaskan rangkulannya begitu mereka sudah masuk ke dalam toko tadi.
"Kenapa?" Ronald mengernyit dahi bingung, karena tiba-tiba istrinya minta pulang padahal tadi gadis itu tampak sangat senang dan antusias.
"Pokoknya aku mau pulang sekarang."
"Baiklah tapi kita kesana dulu ya, sebentar saja," bujuk Ronald pada sang istri.
Liora menatap Ronald kemudian hanya bisa mengangguk pasrah, dia harus menahan sebentar lagi.
Ronald mengajak Liora keluar ke sebuah toko sepatu. Sekali-kali melirik istrinya yang sudah tampak tidak bersemangat lagi. Tapi yang membuat Ronald heran istrinya sangat erat memegang lengannya sudah seperti lem saja yang begitu lengket.
Seorang wanita cantik menghampiri mereka, "Ada yang bisa saya bantu Tuan, Nyonya?" Tanyanya.
__ADS_1
Dan dapat Liora lihat jika wanita itu sedang curi-curi pandang terhadap Ronald. Buru-buru Liora melepaskan tangannya dari tangan Ronald kemudian berdiri di depan Ronald, menutupi tubuh suaminya agar wanita tadi tidak terus menatap suaminya seperti singa yang sedang kelaparan.
"Yang butuh bantuan saya, bukan suami saya," ujar Liora menekankan kata suami berharap wanita itu tidak kegenitan.
Ronald yang baru mengerti kenapa istrinya berbuat seperti itu hanya terkekeh pelan, Liora terasa menggemaskan saat sedang cemburu seperti itu.
"Baby jangan seperti itu," bisik Ronald di telinga istrinya, sambil tersenyum tipis.
"Mbak, tolong keluarkan koleksi terbaru toko ini!" Pinta Ronald pada wanita itu.
"Baik Tuan," ucap wanita itu tapi tidak segera beranjak dari tempatnya. Liora yang melihat itu geram, dan mengepalkan kedua tangannya erat.
"Tidak, kita tidak jadi beli," kata Liora kemudian menarik tangan Ronald.
Ronald yang sedari tadi terus menahan tawa kini sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Kenapa tertawa seperti itu, tidak lucu tahu," Liora melepaskan tangan Ronald menghentakkan kaki dan meninggalkan suaminya itu, yang kini sedang mencoba untuk berhenti tertawa, lalu mengejar Liora mensejajarkan langkah dengan gadisnya itu.
"Baby, jangan marah dong," kata Ronald yang berusaha meraih tangan Liora tapi Liora segera menghindar.
"Hei, kok kamu jadi marah, aku tertawa karena kamu terlihat lucu."
Liora berhenti melangkah, berbalik dan menatap pria itu sambil bersedekap dada.
Ronald menggunakan kesempatan itu, untuk mendekat. Dia menatap ke sekeliling kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Liora membuat Liora diam membeku, bahkan gadis itu terlihat menahan nafas saat jarak wajahnya dan wajah Ronald hanya tinggal beberapa senti saja.
"Tidak mungkin Ronald akan menciumku disini kan?" Bisiknya dalam hati, tapi Liora merasa lega tapi sedikit kecewa saat ternyata Ronald berbisik padanya dengan penuh percaya diri.
"Kamu yakin tidak mau bawa aku kabur sekarang, lihatlah para wanita disini sedang menatapku."
Liora melotot horor, dia kemudian mundur dan menatap ke sekeliling, dengan cepat gadis itu menautkan tangannya di tangan Ronald dan segera membawa suaminya itu pergi dari sana. Dia tidak rela suaminya menjadi pusat perhatian beberapa wanita disana.
"Jangan tersenyum!" Ucap Liora tegas saat tanpa sengaja pandangannya ke arah Ronald yang kini terlihat senyum-senyum sendiri.
Ronald dengan segera menutup mulutnya dengan telapak tangan menuruti perintah sang istri tercinta. Liora memutuskan untuk mengajak Ronald ke basement, mengajak suaminya itu untuk kembali ke apartemen dan Ronald hanya bisa pasrah mengikuti Liora masuk ke dalam mobil dan segera melajukannya, niatnya untuk membuat istrinya senang harus gagal karena rasa cemburu gadis itu. Tapi di sisi lain, Ronald merasa senang karena tahu jika Liora begitu mencintainya dilihat dari gadis itu yang cemburu saat melihat wanita lain mengaguminya.
__ADS_1