
"Tunggu!" Kata Al yang langsung menghampiri Dahlia.
Dahlia dengan terpaksa menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Dahlia menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, tiba-tiba tubuhnya menegang saat pria itu memegang tangannya.
Hingga Al, meminta dirinya menggenggam sesuatu.
"Titip berikan ini untuk Ale," kata Al memberikan tas Lily kepada Dahlia. Ternyata yang tadi Dahlia pegang adalah tali tas Lily.
Dahlia butuh waktu untuk mencerna apa yang pria itu ucapkan.
"Oh, iya nanti akan aku berikan," kata Dahlia memaksakan senyumannya.
"Terima kasih," kata Al yang kemudian langsung pergi meninggalkan gadis itu dalam kebisuan.
"Mungkin ini yang terbaik," kata Dahlia berucap dalam hatinya.
"Oh ya, bisa kita bertemu nanti malam?" Ada yang ingin aku bicarakan," kata Al yang tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah Dahlia.
Blank, untuk sesaat pikiran Dahlia ngeblank saat Al berbalik badan dan menatapnya. Hingga Dahlia dengan segera mengangguk tanpa berpikir dua kali.
"Oke, nanti akan aku kirim alamatnya," kata Al, dan kini pria itu, benar-benar pergi.
"Kenapa kau langsung mengangguk begitu saja? Kau bahkan tidak bisa menyembunyikan perasaanmu saat Kak Al mengajak bertemu, apa Kak Al berpikir aku gadis yang begitu mengharapkannya ya, hingga saat diajak langsung iya, iya saja tanpa berpikir, sudahlah, toh semua sudah terlanjur terjadi, akh! Tapi aku kan jadi malu," kata Dahlia menutup wajahnya bahkan sampai menghentak-hentakkan kakinya.
Dahlia yang tersadar tersenyum canggung, ketika tahu jika banyak orang lewat yang memperhatikannya. Dahlia sedikit menundukkan badannya meminta maaf, dia kemudian memutuskan untuk kembali masuk ke dalam ruang rawat ibunya, selain karena malu, dia juga ingin segera memberikan apa yang pria itu tadi berikan untuk adiknya.
"Loh, Kak Lia kembali lagi? Apa ada yang ketinggalan?"
"Hmm tidak ada."
Kemudian arah pandang Lily tertuju ke tasnya yang tengah dibawa kakaknya.
"Loh itu, tasku, kok bisa sama kakak? Aku tadi melupakannya di mobil, berarti Kak Al habis dari sini?" Tanya Lily memastikan.
"Oh ini, iya kakakmu tadi yang mengantarkannya," jawab Dahlia memberikan tas adiknya.
"Terus Kak Al nya mana?" Lily terus menatap pintu, barangkali kakaknya datang, tapi nyatanya dia tidak melihat kakaknya masuk.
"Oh Kak Al tadi langsung pergi," kata Dahlia yang kemudian duduk di sofa dan mengambil ponselnya saat mendengar ada nada pesan masuk. Kini Dahlia terlihat sudah tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Tidak jadi pergi?" Tanya Lily heran melihat kakaknya yang justru duduk lagi.
"Siapa yang mau pergi?" Dahlia kini justru bertanya kepada adiknya.
Lily dan Vega saling pandang. "Bukankah Kak Lia tadi bilang mau keluar sebentar?"
__ADS_1
Dahlia menepuk keningnya, "Oh ya, Kakak lupa," katanya segera bangkit dari duduknya.
"Titip Ibu ya, Kakak pergi dulu. Kamu mau apa, eh bukan kamu, tapi keponakan aunty mau apa?"
"Hmm aku tidak mau apa-apa, kalau bisa bawa suamiku aja kesini deh, aku rindu."
"Yeh kalau itu jangan bilang sama kakak, bilang saja sama suami kamu, sana deh telepon dia, uda ah Kakak pergi dulu," kata Dahlia kepada adiknya.
"Bu, Lia pergi dulu ya," giliran gadis itu berpamitan kepada ibunya, Dahlia mencium pipi Vega dan berlalu.
"Kenapa kakakmu?" Tanya Vega begitu melihat Dahlia yang sudah pergi.
Lily hanya mengedikan bahunya, tapi itu tidak membuat Vega mengalihkan tatapan kepada sang putri.
Lily yang ditatap ibunya hanya bisa memberikan cengiran nya.
"Hehe, aku tidak tahu Bu, mungkin Kak Lia sedang bahagia makanya sampai pikun gitu.
"Bahagia?" Vega menautkan alisnya.
"Hmm iya, Ibu tidak dengar tadi siapa yang datang? Pastilah karena Kak Al yang bikin Kak Lia sampai salah tingkah seperti itu."
"Al? Al kakakmu?"
"Iya, memang Al siapa lagi yang selama ini dekat sama Kak Lia?"
"Entahlah Bu, aku tidak tahu, kita berdoa saja ya yang terbaik buat Kak Lia."
"Bu, malah melamun?"
"Hmmm iya, Ibu pasti doain yang terbaik buat anak-anak Ibu," Vega tersenyum menatap putrinya.
"Sekarang, Ibu makan dulu, aku suapin ya, biar Ibu cepat sehat," kata Lily mengambil makanan rumah sakit yang tadi sudah disiapkan oleh perawat.
Vega pun mengangguk, dan membuka mulutnya ketika Lily sudah menyuapkan makanan.
"Mmm sudah, Ibu sudah kenyang," kata Vega kini menolak makanan itu lagi.
"Ibu kan baru makan beberapa suap saja, ayo habiskan dulu ya Bu, kalau tidak sedikit lagi aja ya," Lily terus membujuk ibunya.
Dan Vega pun dengan terpaksa kembali menerima suapan anaknya.
*
*
__ADS_1
*
"Kamu beneran tidak apa-apa tetap disini?" Tanya Dahlia untuk yang kesekian kalinya kepada sang adik.
"Iya tidak apa-apa, sudah Kakak pergi kencan saja sana," kata Lily menyuruh kakaknya segera pergi.
"Baiklah, tolong ya jaga Ibu, kakak pergi dulu, hmm bagaimana penampilan Kakak?"
"Cantik, sudah sana, nanti Kak Al nunggunya kelamaan," kata Lily mendorong pelan kakaknya agar segera keluar dari ruang rawat ibunya, karena ocehan Dahlia bisa saja membangunkan ibunya yang sudah tidur.
"Iya, iya, ya sudah kakak pergi dulu."
"Iya hati-hati, bilang sama Kak Al nanti aku mau pulang bareng," kata Lily.
"Hmm iya, doain Kakak ya, semoga dapat hasil yang baik."
"Aamiin," ya sudah sana pergi."
Dahlia mengelus perut Lily, "Doain aunty juga ya sayang," katanya kemudian mengecup pipi Lily dan segera pergi.
Lily menghela nafasnya setelah melihat kakaknya pergi, "Semoga kakak pulang nanti membawa berita baik, Kak Al jangan kecewakan Kak Lia lagi, atau Kak Al mungkin akan kehilangan Kak Lia," gumam Lily kemudian kembali masuk ke dalam ruang rawat ibunya. Lily menghampiri dan duduk di kursi di dekat brankar, menggenggam tangan Vega, kemudian mengecupnya.
"Selamat malam Ibu," kata Lily lalu bangun dan mencium pipi Vega kemudian beranjak dan merebahkan dirinya di sofa.
*
*
Lily menggeliat dan meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, Lily kemudian menatap sekeliling. Dan Lily begitu terkejut, saat mendapati dirinya sudah berada di dalam kamarnya.
"Kenapa aku bisa disini?" Gumamnya yang langsung bangun dari duduknya.
Lily akan turun dari ranjang, tapi niatnya urung saat melihat pintu kamarnya terbuka.
"Sayang?" Teriak Lily girang melihat siapa orang yang membuka pintu kamarnya.
"Jangan turun, disitu saja! Biar aku yang kesana" perintah Jason yang melihat istrinya akan kembali turun.
Lily pun mengangguk, kemudian merentangkan kedua tangannya. Jason yang membawa nampan berisi segelas su*su segera meletakkannya di atas meja nakas dan kemudian berhambur ke pelukan istrinya.
"Aku sangat merindukan suamiku," kata Lily dengan senyuman lebar yang terukir di bibirnya.
"Aku lebih merindukanmu sayang," balas Jason.
"Tidak, rasa rinduku lebih besar," Lily tidak terima saat suaminya bilang jika lebih merindukannya padahal jelas-jelas, Lily yang sangat-sangat rindu.
__ADS_1
"Baiklah, terserah kamu saja," kata Jason mengalah, tapi Lily justru langsung melepas pelukannya dan menatap suaminya.