
"Sayang!" Seorang wanita mendekat dan langsung memeluk Ronald yang baru saja sampai di Apartemennya.
"Kenapa kamu tidak kasih tahu saja sih, passwordnya biar aku bisa langsung masuk, pegal tahu menunggumu bermenit-menit, bagaimana kalau ada wartawan yang melihat, pasti besok akan ada berita seorang model cantik berdiri di depan pintu Apartemen kekasihnya karena lupa pasword, kan itu tidak lucu," ucap wanita itu manja.
"Sudah-sudah, bukankah sekarang aku sudah pulang dan ada dipelukanmu, kalau untuk memberi akses masuk, aku tidak bisa, bukankah kamu tahu jelas kenapa, aku sudah katakan bukan dari awal jika tidak hanya kau saja kekasihku, dan kau juga pernah bilang tidak akan mempermasalahkan itu semua. Bagaimana jika aku kasih tahu kamu, dan mereka semua ingin tahu juga, dan jika mereka tahu dan mereka datang di tengah kegiatan kita, aku tidak ingin hal itu terjadi, jadi kumohon mengertilah untuk yang satu ini," Ronald berbicara selembut mungkin pada wanita itu.
Ronald segera melepaskan pelukannya, "Dan jika kamu keberatan dan tidak suka, maka kamu bisa pergi, dan kita cukup sampai disini saja," tegas Ronald.
Semua yang Ronald katakan tadi hanya alasan dirinya saja, Ronald memang suka mengajak para wanita-wanita yang merupakan kekasihnya ke tempat tinggalnya, tapi Ronald tidak pernah memberitahukan sesuatu yang memang menjadi privasinya, termasuk password untuk masuk ke dalam apartemennya.
"Baiklah, aku minta maaf, tapi kamu jangan marah lagi ya, tadi aku hanya kesal saja, makanya aku berbicara seperti itu, aku tidak akan meminta hal itu lagi, tapi sebagai gantinya aku ingin kamu belikan aku tas keluaran terbaru, aku sangat menginginkannya," wanita itu merangkul tangan Ronald dengan manjanya.
"Tunggu! Sayang apa yang terjadi denganmu? Kenapa wajah tampanmu jadi seperti ini?" Tanya wanita itu lagi sambil mengelus dengan lembut wajah Ronald begitu menyadari keadaan kekasihnya.
"Aku tidak apa-apa, seperti biasanya kau terlihat sangat cantik," puji Ronald pada kekasihnya.
"Aku berpenampilan cantik seperti ini karena akan bertemu denganmu," kata sang wanita yang kini sudah kembali bergelayut manja di lengan Ronald.
Dalam hati Ronald merasa muak, ya seperti inilah kehidupannya, Ronald akan mendapatkan kepuasannya tapi Ronald harus membayar mahal untuk itu semua.
"Apapun itu aku akan memberikannya untukmu baby, sekarang saatnya kita bersenang-senang," tanpa banyak kata Ronald langsung mencium wanita itu, menggiringnya ke dalam kamar.
***
Tok
Tok
Tring
Tring
Suara gedoran pintu dan dering ponsel terus berbunyi bersahutan.
__ADS_1
"Sayang siapa itu?" Tanya si wanita.
"Aku juga tidak tahu," jawab Ronald lalu mengambil ponsel dari saku celananya.
"Ronald, ayah tahu kamu ada di dalam, buka pintunya sekarang, atau Ayah akan menyuruh petugas untuk membuka paksa pintu ini?" Teriak pria paruh baya begitu sambungan terhubung dengan putra satu-satunya.
Pria yang bernama Ronald menjauhkan ponsel dari telinganya saat seseorang di seberang telepon berteriak.
"Oh ayolah Yah, aku baru saja kembali dan kau sudah datang ke apartemenku," jawab Ronald dengan santainya.
"Cepat buka sekarang Ronald!"
"Aku.."
Tut
Tut
Panggilan tiba-tiba diputuskan secara sepihak oleh orang di seberang telepon membuat Ronald mendengus kesal.
"Ayah, kamu lebih baik sembunyi dulu, aku harus menemui Ayah," kata Ronald lalu langsung berlalu meninggalkan kekasihnya.
"Tapi Ronald aku juga ingin bertemu Ayahmu," kata wanita itu.
"Tidak untuk sekarang Grace, Ayah pasti akan mengomel panjang kali lebar kali tinggi, dan telingaku akan panas mendengarnya karena pasti itu akan menghabiskan waktu tiga hari tiga malam," jawab Ronald kemudian mendekat ke arah wanitanya dan mengecup bibirnya sekilas, kita akan bersenang-senang nanti malam, jadi menurutlah," kata Ronald kemudian benar-benar meninggalkan wanita yang berstatus sebagai kekasihnya itu yang diketahui bernama Grace.
Setelah itu Ronald pun berjalan dengan gontai menuju ke pintu yang sedari tadi digedor-gedor.
"Apa sih Yah, kenapa Ayah langsung datang saja dan tidak mengabariku sama sekali," gerutu Ronald begitu pintu terbuka.
Sementara Ayahnya langsung menerobos masuk begitu saja sambil matanya menatao sekeliling.
"Kamu tidak membawa wanita kemari lagi kan? Sampai kapan kamu akan menghentikan kebiasaan burukmu itu? Kau lahir dari wanita dan jangan kamu menyakiti wanita Ronald!" Bentak sang Ayah.
__ADS_1
"Maksud Ayah wanita yang menelantarkan kita di saat kita tidak punya apa-apa, wanita yang justru berhubungan dengan laki-laki lain di saat Ayah sedang sibuk bekerja? Sudahlah Yah, Ronald tidak ingin membahas itu lagi. Sekarang apa tujuan Ayah kemari?" Tanya Ronald to the point.
"Ronald tidak semua wanita seperti itu, lihat sepupumu, Bibi mu dia wanita yang baik," lirih sang Ayah yang sudah tidak tahu lagi harus menjelaskan kepada putranya, yang suka berganti-ganti wanita.
"Itu karena Paman beruntung mendapat Bibi, ayolah Yah tidak perlu membahas hal itu lagi karena ujung-ujungnya kita akan bertengkar jika mengungkit hal itu," Ronald berjalan menuju ke sofa hendak duduk dan melewati Ayahnya.
"Asalkan Ayah tahu aku tidak menyakiti wanita-wanita itu karena mereka sendiri yang datang kepadaku dan tentunya mengharapkan uangku," bisik Ronald dna kemudian duduk di sofa sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Pusing Ayah jika berbicara denganmu, sepertinya Ayah harus mengirimmu ke planet lain yang tidak ada penghuninya, dan mungkin dengan hal itu kamu akan berubah," kata sang Ayah kemudian pergi dari apartemen milik putranya itu dengan perasaan kesal.
Ronald tersenyum saat ayahnya mengatakan itu, tapi senyumnya langsung pudar dan berganti dengan wajah datarnya, saat sang Ayah berlalu pergi meninggalkannya.
"Aku akan berubah jika aku memang menemukan seseorang yang tidak seperti wanita itu, yang tega meninggalkan anak dan suaminya disaat sedang terpuruk," ucap Ronald dalam hati. "Tapi sepertinya mungkin sudah jarang ada seseorang seperti itu, kebanyakan mereka hanya mengukur semuanya dari harta," tambahnya dan kemudian langsung berdiri dan menemui kekasihnya.
.
.
Sementara di tempat lain, terlihat sepasang Suami istri, pria muda, dan wanita paruh baya tengah gelisah memandangi sebuah pintu, menunggu harap-harap cemas kabar dari dalam ruangan itu.
"Dokter bagaimana keadaannya? Kenapa dari kemarin putriku belum sadarkan diri?" Seorang wanita paruh baya itu berlari menghampiri seorang dokter yang baru keluar dari ruangan itu.
"Kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan, untuk memastikan keadaan pasien," jawab sang dokter.
"Lakukan yang terbaik buat Kakak saya dok," kata Lily yang kini sudah berada di belakang Ibunya.
"Ya kami akan melakukan yang terbaik, untuk melakukan pemeriksaan lanjutan Anda bisa mengikuti suster," kata Dokter itu menunjuk salah satu perawat sebelum akhirnya dokter itu meninggalkan keluarga pasien.
"Bu, Ibu tenang ya, aku yakin Kak Lia tidak apa-apa," kata Lily memeluk Ibunya, tapi langsung di tepis wanita itu.
"Bagaimana aku bisa tenang melihat putri yang aku sayangi terbaring tidak berdaya di dalam? Mudah sekali kau mengucapkan kalimat itu? Kau tidak pernah merasakan kehilangan orang yang kau sayang, dan sudah aku peringatkan terakhir kali sebelum aku mengusirmu, jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu lagi, kau bukan anakku! Kau hanya parasit yang hadir di tengah-tengah keluargaku!" Teriak wanita itu.
Sakit, sakit sekali rasanya, untuk sekian kalinya Lily tidak mendapat pengakuan Ibunya, tubuhnya bergetar tangisnya pun akhirnya pecah, Jason langsung mendekat dan membawa sang istri ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Sementara itu dua pria lainnya yang mendengar itu mengepalkan kedua tangannya saat mendengar gadis kecil yang mereka sayangi mendapatkan penghinaan seperti itu. Hatinya seperti teriris seakan merasakan sakit yang dirasakan gadis yang disayanginya itu.