Please Love Me

Please Love Me
Part 34


__ADS_3

"Orang ini, dia sejak tadi siang ada disini, dan aku bertanya dia penguntit atau bukan, tapi dia marah-marah dan bilang aku menuduhnya," kata petugas keamanan itu menjelaskan.


Jason tidak terima dikatai-katai pria yang berumur sekitar 40 tahunan itu, langsung keluar dari mobil. "Anda tadi bertanya nya bukan seperti itu, nada suara Anda tadi seperti menuduhku," Jason menjelaskan apa yang tadi dia katakan juga kepada petugas itu.


"Maaf Pak, dia temanku, dia disini sedang menungguku," kata Lily yang melihat Jason sudah seperti terpojok dan merasa tidak nyaman kepada petugas itu.


"Oh ini teman Nona?" Tanya petugas memastikan.


"Iya Pak," jawab Lily meyakinkan.


"Baiklah, saya permisi dulu Nona," pamit petugas itu meninggalkan Jason dan Lily.


Setelah petugas keamanan itu pergi, Lily juga segera berlalu meninggalkan Jason. Tapi Jason menahan pergelangan tangan Lily.


"Lepaskan!" Lily menepis tangan Jason.


"Akh!" Jason meringis kesakitan saat yang ditepis Lily adalah tangannya yang terluka.


Lily menatap punggung tangan Jason yang masih kelihatan jelas ada darah, walaupun sudah mengering.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Lily khawatir dan menarik tangan Jason agar bisa melihat lukanya.


"Sakit sekali rasanya," adu Jason sambil menatap wajah gadis di depannya yang tengah serius melihat luka di tangannya, dan hal itu membuat sudut bibirnya naik ke atas.


"Kenapa bisa sampai seperti ini? Ini pasti sangat sakit," Lily sampai ngilu melihat luka Jason.


"Iya kamu benar, ini memang sangat sakit," jawab Jason masih dengan senyum di bibirnya.


"Tidak apa tanganku sakit seperti ini, asalkan aku bisa dekat denganmu, menatap wajahmu, dan bisa merasakan perhatian darimu," kata Jason dalam hati sambil terus memandangi Lily yang kini meniup lukanya.


"Ini harus segera diobati, nanti kalau terlalu lama dibiarkan, pasti akan infeksi," ujar Lily, dan dia menatap ke sekeliling.


"Ayo kita obati!" Lily menarik Jason ke dalam mobil dengan tangan satunya yang masih menggendong kucing.

__ADS_1


Jason hanya menurut, dia pasrah saja pada apa yang akan dilakukan Lily, yang terpenting sekarang dia bisa dekat dan menghabiskan waktu dengan gadis itu.


Lily meletakkan kucing itu di pangkuan Jason. Membuat Jason terkejut pada awalnya, tapi kemudian Jason mengelus bulu lembut kucing yang berwarna putih itu.


"Dimana?" Tanya Lily pada Jason dan kemudian mengangkat kepalanya memberanikan diri untuk melihat ke arah pria yang saat ini sedang bersamanya, dan bahkan mata pria itu kini juga tengah menatapnya, hingga pandangan keduanya pun bertemu, hanya beberapa detik saja, karena Lily langsung mengalihkan pandangannya.


Terbesit rasa kecewa di hati Jason saat Lily enggan untuk menatap dirinya kembali.


"Dimana apanya?" Tanya Jason karena memang dirinya tidak mengerti apa yang dimaksud Lily.


"Apa kamu tidak mendengar jika aku tadi mengatakan akan mengobati lukamu, tentu saja aku menanyakan dimana kotak p3k," jawab Lily ketus.


"Aku tidak pernah membawa peralatan itu dimobil," jawab Jason.


Lily tampak berpikir, "Ya sudah ayo jalan, kamu harus membelinya," perintah Lily. "Aku yakin kamu bisa mengendarai mobil itu sendiri, jika tidak mana mungkin kamu bisa sampai kesini" ucap Lily enteng. Kemudian dirinya menyandarkan tubuhnya, melipat kedua tangan di depan dadanya lalu memejamkan matanya. Dan Jason hanya diam saja setelah Lily mengatakan itu.


"Kenapa tidak juga jalan?" Tanya Lily yang merasakan mobilnya tidak juga berjalan.


"Kamu lihatlah! Bagaimana aku bisa menjalankan mobilnya?" Kesal Jason menyuruh Lily melihat apa yang sedang terjadi dengannya.


"Ayo mouse sama Ibu," kata Lily kemudian mengambil kucing itu dari pangkuan Jason.


Jason mengernyitkan dahi bingung, setelah mendengar apa yang tadi Lily baru saja katakan.


"Mouse?" tanya Jason untuk memastikan jika dirinya memang tidak salah mendengar.


"Iya, nama kucing ini," kata Lily sambil memainkan kaki kucing layaknya seorang bayi yang bertepuk tangan.


"Kamu tidak salah menamai kucing itu dengan nama itu? Kamu tahu apa artinya mouse?" Tanya Jason barangkali Lily tidak tahu.


"Hei apa kau bermaksud mengejekku? Apa kau pikir aku begitu b*d*h hingga tidak tahu apa artinya mouse?" Ucap Lily kesal dengan apa yang baru saja Jason katakan, yang seolah-olah dia mengejeknya.


"Maksudku bukan seperti itu, aku hanya…"

__ADS_1


"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi, tidak penting," kata Lily memeluk kucing itu dan kemudian mencoba memejamkan matanya, untuk menghindar dari obrolan bersama Jason, Lily takut hatinya akan goyah dan akan lebih sulit untuk melupakan Jason.


Bukannya menuruti perintah Lily untuk membeli peralatan p3k, Jason justru mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya. Apalagi yang melihat Lily tertidur, rasanya dia tidak tega membangunkan Lily, saat dirinya sudah berada di depan tempat Lily biasa membeli keperluannya. Karena tempat itu sangat dekat dengan posisi mereka tadi.


Hingga Jason memutuskan untuk membawa kembali Lily ke rumahnya, yang jaraknya lumayan jauh, hingga gadis itu bisa puas tidur di mobilnya.


Setelah 20 menit menempuh perjalanan, mobil yang dikendarai Jason kini telah sampai di halaman rumahnya.


Jason turun dan kemudian membuka pintu samping kemudi dan mengangkat tubuh Lily ke dalam rumahnya.


Jason menaiki satu persatu anak tangga, membawa Lily masuk ke dalam kamarnya. Direbahkannya tubuh Lily di atas ranjangnya, perlahan Jason mengangkat kepala Lily, menaruh bantal dibawah kepala  gadis itu.


"Tidurmu nyenyak sekali," ucap Jason kemudian merapikan poni Lily. Ditatapnya wajah Lily begitu lama, dan kemudian Jason mendekatkan wajahnya ke wajah Lily.


Cup


Jason mengecup bibir Lily, tapi hal itu tidak mengusik tidur Lily sama sekali. Kemudian Jason duduk di lantai dan menyandarkan kepalanya  di atas ranjang, tak lama dirinya pun ikut terlelap.


Lily mengerjapkan matanya kemudian meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Lily bangun dan langsung duduk saat menyadari dirinya sekarang ada dimana.


"Matilah aku! Kenapa aku bisa kembali ke kamar ini lagi," gumamnya dan dirinya hendak turun dari ranjang, tapi gerakannya terhenti ketika melihat Jason tertidur dengan posisi duduk dengan kepala di atas ranjang.


Lily mendekat, memperhatikan wajah Jason yang masih tampak memejamkan matanya, disentuhnya dengan lembut seluruh wajah pria yang disukainya itu.


"Jika seperti ini kamu jauh akan lebih terlihat tampan," gumam Lily menarik sudut bibir Jason ke atas. "Tapi sayangnya kamu jarang memperlihatkan senyum itu, tapi itu juga lebih baik, jadi tidak ada orang yang tahu bahwa kami lebih tampan di saat tersenyum, dan hanya aku yang bisa melihatnya," tambahnya lagi.


Tapi tiba-tiba, Lily menarik tangannya dari wajah Jason. Lily tertawa hambar, "Tapi mungkin itu hanya saat ini saja, kamu jangan terlalu berharap banyak, dan berpikir jika hanya kamu yang bisa melihat senyumannya dan kau harus sadar diri Lily, jika dirinya sama sekali tidak pernah bisa menyukaimu, dia sudah memilih seseorang dan tentunya, dia bukan kamu. Jadi berhenti mulai saat ini, jangan bikin hatimu kembali goyah dan merasakan kembali sakit hanya karena pertemuan singkat ini," gumam Lily sambil menunduk.


Kemudian Lily pun hendak turun dari ranjang tapi, sebuah tangan menahannya, "Aku menyukaimu," katanya.


Lily spontan tersenyum dan menoleh, tapi yang dilihatnya tampak Jason masih memejamkan matanya, seketika senyum Lily kembali pudar.


"Mungkin dia bermimpi sedang bersamanya," ucap Lily kecewa dan dirinya mencoba menarik tangannya yang masih dipegang Jason, yang Lily pikirkan adalah segera keluar dari kamar ini. Lily menarik tangannya hendak melangkah, tapi lagi-lagi pria itu kembali menarik pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Apa aku terlambat, jika aku bilang saat ini aku sudah mencintaimu gadis aneh?"


Lily langsung menoleh dan tampak pria itu sudah membuka lebar kedua matanya, dan pandangan mereka pun bertemu, untuk beberapa detik Lily terdiam karena rasa terkejutnya, dia masih mencerna apa yang baru saja di dengarnya.


__ADS_2