
"Loh, Nak Jack! Kok Liora bisa bersama kamu?" Tanya Tiffa begitu melihat Jack yang keluar dari mobilnya.
Jack mengernyitkan dahinya, pasalnya dia memang tidak tahu dengan siapa sebenarnya Liora pergi.
"Iya Nyonya, oh ya Nyonya saya minta ijin untuk membawa Liora masuk ke dalam, hmm Liora tertidur, sepertinya dia kelelahan," ucap Jack yang kasihan melihat Liora tidur dengan posisi yang kurang nyaman.
"Ya sudah masuk saja, tolong bawa Liora ke kamarnya ya," jawab Tiffa memberikan jalan agar pria itu bisa masuk.
Jack pun mengangkat Liora dan membawa gadis itu ke dalam kamarnya, dengan perlahan Jack membaringkan tubuh Liora di atas ranjang. Dan melepas sepatu Liora kemudian menyelimuti gadis itu sampai sebatas dada.
Jack terkejut saat tiba-tiba, Tiffa ada di belakangnya.
"Maaf Nak Jack, kenapa Liora bisa sama kamu?" Tanya Tiffa lagi karena belum mendapatkan jawaban dari pria itu.
"Kita bicarakan di luar saja Nyonya, takutnya tidur Nona terganggu," kata Jack menatap Liora, Tiffa pun ikut memandang ke arah pandang Jack kemudian dia mengangguk, "Baiklah, kita bicarakan di luar," ucapnya.
"Tadi Nona menghubungiku Nyonya, Nona memintaku untuk menjemputnya, tapi Nyonya, Nona ada di tempat yang tampak asing, maksudku Nona tidak punya teman atau apapun di sekitar lokasi, saya menjemputnya," lapor Jack kepada Tiffa, Jack tidak bisa membohongi wanita itu, lagian jika ini menyangkut keselamatan Liora, orang tuanya harus tahu, Jack tidak ingin hal yang lalu terjadi lagi.
"Maksudmu? Mmm begini, Maksud Bibi, Liora tadi pergi bersama kekasihnya tetapi kok bisa Liora ada di tempat asing? Terus dimana Ronald sampai Liora harus menghubungimu?" Kata Tiffa merasa heran.
"Tunggu Nyonya, Nona pergi bersama kekasihnya? Siapa kekasih Nona? Setahu saya…"
Tiffa menunggu ucapan Jack yang terputus.
"Setahu kamu kenapa Jack?"
"Hmm tidak ada Nyonya, oh ya Nyonya, kalau boleh saya tahu, siapa kekasih Nona yang Anda maksud?"
"Namanya Ronald, hmm Bibi belum tahu pasti tentang Ronald, Liora belum memperkenalkan dirinya secara resmi, kebetulan waktu itu, Nak Ronald menjemput kami di bandara, dan disitu pula Liora memperkenalkan Nak Ronald kepada kami," jelas Tiffa.
__ADS_1
"Ronald?"
"Iya,"
"Oh ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Jack dan Tiffa pun mengangguk mengiyakan.
Sementara itu di tempat lain, seorang pria berjalan mondar-mandir di apartemennya.
"Apa aku harus ke rumahnya? Kamu tahu rumah, nama kenapa kamu tidak tahu nomor ponselnya," ucap Ronald terus saja menyalahkan dirinya karena lupa meminta nomor ponsel Liora.
"Bagaimana kalau ternyata dia belum pulang, apa yang harus aku katakan pada orang tuanya,"
"Kenapa kau jadi seperti ini Ronald? Sejak kapan kamu peduli dengan hal seperti itu?" Tambahnya lagi.
"Tunggu, bukankah tadi dia menyebut dirinya sebagai keluarga Anderson? Suami Flo juga dari keluarga Anderson, apa mungkin mereka masih ada hubungannya?" Gumam Ronald yang masih terus memikirkan tentang Liora.
Ronald menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang empuk miliknya, mencoba memejamkan matanya, tetapi tidak bisa. Ronald yang terus saja kepikiran Liora, akhirnya bangun lagi dan memutuskan untuk pergi ke kediaman gadis itu, guna memastikan bahwa Liora baik-baik saja.
*
*
*
"Kenapa Kak?" Tanya Lily yang melihat kakaknya berjalan dengan gontai masuk dan duduk di sampingnya.
Al menggeleng kemudian berbaring di paha adiknya.
"Kemana suami kamu?" Tanya Al karena melihat Lily menonton televisi hanya sendiri.
__ADS_1
"Mm tadi aku menginginkan sesuatu, dan dia sedang membelikannya untukku," jawab Lily.
"Kakak kenapa? Ada masalah?" Tanya Lily yang yakin jika ada sesuatu yang terjadi pada kakak kandung satu-satunya itu.
"Kakakmu sudah bilang jika dia akan tetap pergi?" Tanya Al menatap ke wajah adiknya.
"Iya, Kak Lia bilang apapun yang terjadi dia akan tetap pada rencananya, apa Kak Lia menolak Kak Al?" Lily menunduk menatap kakaknya yang kini juga menatapnya.
Al menggeleng, "Tidak menolak sebenarnya, kita memutuskan untuk menjalaninya seperti air mengalir saja, tapi Ale, kau tahu, jujur dalam hati Kakak, Kakak takut kehilangannya, bagaimana jika kita menjalani hubungan ini dalam jarak jauh, hatinya akan goyah dan terpikat dengan pria lain, terus bagaimana dengan Kakak jika sampai hal itu terjadi?" Kata Al sendu.
"Terus bagaimana dengan Kak Al?"
Al mengernyitkan dahi tidak mengerti maksud ucapan adiknya.
"Bagaimana jika hal itu bukan terjadi pada Kak Lia, tapi terjadi pada Kak Al sendiri? Bagaimana kalau hati Kak Al yang ternyata goyah di saat menjalani jarak jauh dengan Kak Lia? Bagaimana jika Kakak lah yang ternyata terpikat dengan gadis lain?"
Al terdiam menatap lekat adiknya.
"Hati tidak ada yang tahu apa yang akan dirasakan kedepannya, jadi daripada mengkhawatirkan orang lain, lebih baik Kak Al jaga hati Kak Al baik-baik, jika Kak Al bisa menjaga hati Kak Al, apa yang Kak Al khawatirkan tidak akan terjadi. Aku yakin Kak Lia juga akan menjaga perasaannya, semua tergantung pada kalian sendiri bagaimana caranya menjaga komunikasi di tengah hubungan yang kalian jalani. Intinya kalian harus saling setia dan percaya saja."
"Tapi Kakak takut Ale, ini semua salah Kakak, jika saja Kakak dulu mencintainya dan tidak menolaknya, mungkinkah Kakakmu akan tetap bertahan disini?"
"Kak, Kak Lia pergi bukan karena itu, Kakak tahu tujuan Kak Lia pergi sebenarnya untuk meraih mimpinya? Dia ingin menjadi pantas bersanding dengan Kakak. Kakak tahu jelas bagaimana kehidupan kami, berbeda dengan kehidupan Kakak, dulu waktu aku memutuskan untuk memberi kesempatan pada Kakak, jujur saja aku pernah merasa kurang percaya diri, aku merasa aku tidak layak menjadi bagian dari keluarga ini, tapi lucunya ternyata aku memang bagian dari keluarga ini, seperti itulah Kak takdir, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita kedepannya."
"Tapi Ale, Kakak sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, kamu tahu bagaimana Ayah, Kakak juga yakin jika Ayah tidak akan melarang hubungan kami kedepannya."
"Beda Kak, aku tahu Ayah dan Kak Al tidak pernah mempermasalahkan hal seperti itu, tapi berbeda dengan Kak Lia, Kak Lia ingin berdiri di kakinya sendiri sebelum dia akhirnya merasa pantas bersama Kakak. Jadi Kak tolong mengerti keinginan Kak Lia ini.
"Tapi Ale bagaimana jika suatu saat hati Dahlia berubah? Apa yang harus Kakak lakukan? Seperti yang kamu bilang tadi, bahwa hati kita tidak pernah tahu apa yang dirasakan kedepannya, bagaimana jika kedepannya ternyata hatinya memilih orang lain dibanding dengan Kakak? Bagaimana Ale?"
__ADS_1