
Hari yang dinantikannya tiba, akhirnya Dahlia akan kembali, ya walaupun gadis itu bilang kembali hanya untuk liburan tapi hal itu tetap saja membuat Lily begitu senang bahkan dengan antusias menyambut kedatangannya.
Saat ini Lily bersama Jason suaminya tengah menunggu Dahlia dan Vega di rumah mereka. Kenapa tidak di bandara saja? Jawabannya karena Vega yang melarangnya, dia tidak mau Lily kelelahan menunggunya. Dan Lily pun mau dengan syarat kakak dan ibunya mau dijemput supir pribadi keluarganya.
Tiga hari yang lalu ayah dan Ibu Dea baru saja pulang dari bulan madu mereka dan sekarang kakak dan Ibunya juga pulang hal itu benar-benar membuat senyuman terukir menghiasi wajah Lily sedari tadi.
"Andai saja Kak Al juga pulang, pasti akan semakin ramai," ucap Lily bergelayut manja di lengan suaminya.
"Suatu saat Kak Al pasti pulang dan kita semua bisa berkumpul lagi," jawab Jason mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali, sambil menghirup aroma shampo wanitanya yang terasa begitu wangi, padahal mereka memakai shampo yang sama, tapi Jason justru merasa berbeda.
"Iya kau benar," kata Lily kemudian mengusap perutnya.
"Sebentar lagi nenek dan tantemu akan pulang sayang," ucapnya dan Jason tersenyum meletakkan tangannya di atas tangan Lily dan sama-sama mengusap perut buncit istrinya.
Lily segera bangkit dan menarik tangan suaminya keluar saat mendengar deru mesin mobil yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Dan dia tersenyum saat melihat siapa yang kini turun dari mobil itu.
Lily hendak melangkah dan menghampiri Ibu dan Kakaknya tapi Jason justru menahannya. Lily menoleh dan mengernyitkan dahi.
"Kenapa?" Tanya Lily mendongak menatap suaminya.
"Tunggu saja sayang, nanti mereka juga akan kesini," kata Jason dan Lily hanya menurut.
"Ibu!" Lily merentangkan kedua tangan menyambut kedatangan ibu yang sudah membesarkannya.
Vega tersenyum dan langsung memeluk putrinya, cukup lama dia tidak melihat putrinya dan sekarang malah semakin berisi.
Lily melepaskan pelukan sang ibu dan kini bergantian memeluk kakaknya.
"Aku merindukan kalian," ucapnya.
Vega tersenyum melihat kedua putrinya yang kini sudah tumbuh dewasa.
"Oh ya ayo kita masuk! Aku sudah siapin makan siang untuk Kakak dan Ibu," Lily kemudian merangkul kedua wanita yang disayanginya itu mengajaknya masuk. Sementara itu Jason berjalan di belakang ketiga wanita itu.
"Kamu yang masak? Harusnya tidak perlu, Ibu takut kamu nanti malah kelelahan," kata Vega menatap tidak enak pada Lily.
"Tidak Bu, Ibu tenang saja, karena ini semua bukan aku yang masak melainkan menantu Ibu," kata Lily menunjuk Jason yang sedang membantu membawa barang milik ibu dan kakaknya.
__ADS_1
"Benarkah?" Vega tersenyum menatap Jason yang sedikit menundukan kepalanya.
"Hmm pasti ini enak," kata Vega menatap makanan-makanan itu.
"Sangat enak Bu, jadi Ibu dan Kak Lia harus coba."
Vega dan Lia pun menarik kursi kayu dan duduk di sana, mereka kini menikmati makanan yang sudah Jason siapkan.
"Hmm ini benar-benar enak," komentar Dahlia yang dari tadi tidak banyak bicara.
Vega mengangguk setuju pada apa yang putrinya katakan setelah mencoba masakan Jason.
"Terima kasih Nak Jason atas makanannya dan juga terima karena sudah menjaga dan menyayangi Lily kami," ucap Vega tulus.
Jason hanya mengangguk dan kini menoleh saat istrinya menyentuh tangannya di bawa meja.
"Tersenyum sayang," kata Lily yang menarik sudut bibir Jason ke atas.
"Seperti ini," ucapnya.
Setelah menghabiskan makan siang bersama, kini mereka berpindah ke ruang tengah untuk mengobrol santai. Duduk di atas karpet sambil memakan puding buatan Lily.
"Ibu makan yang banyak, lihatlah tubuh Ibu semakin kurus saja," kata Lily yang memang sedari tadi memperhatikan tubuh ibunya.
"Baiklah," kata Vega yang kini menerima suapan putrinya.
Lia menatap keduanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan Kakak dan Ibu karena menutupi hal ini dari kamu Lily," ucapnya sambil cepat-cepat menghapus air matanya yang tiba-tiba lolos begitu saja takut Lily akan melihatnya.
Dahlia buru merubah ekspresinya saat Lily kini menatapnya.
"Kenapa Kak Lia diam saja, ayo makan pudingnya sekalian Kakak ceritakan apa saja yang kakak lakukan selama tinggal di luar negeri, tempat mana saja yang sudah kakak dan ibu datangi, aku ingin mendengarnya," kata Lily yang tampak antusias.
"Hmm…bagaimana ya? Ceritakan tidak ya?" Kata Dahlia yang pura-pura berfikir, dia tahu jika adiknya selama ini ingin pergi ke luar negeri.
"Ih Kakak, ayo cepat ceritakan! Terus juga bagaimana pengobatan Ibu disana, Ibu sudah benar-benar sembuh kan?" Lily menatap Dahlia dan Vega tidak sabar, penasaran apa yang sudah kakaknya lakukan disana selain pergi mengobati ibunya.
__ADS_1
Vega dan Dahlia saling pandang kemudian menatap Jason, meminta penjelasan pada pria itu, kenapa Lily tahu jika Vega berobat di sana.
Jason yang mengerti arti tatapan keduanya mengangguk, mengisyaratkan bahwa Lily sudah tahu itu semua.
Dahlia menarik nafas dalam, Lily tahu ibunya berobat tapi sepertinya wanita itu tidak tahu kondisi ibunya sekarang. Dia menggenggam tangan ibunya kemudian tersenyum, menceritakan apa saja yang sudah dirinya lakukan disana, tempat apa saja yang mereka sudah kunjungi dan bahkan Dahlia menunjukkan beberapa fotonya bersama sang ibu. Ya Dahlia dan Vega sudah mempersiapkan itu semua, mereka tahu jika Lily pasti akan menanyakan itu, jadi di tengah pengobatan Vega, keduanya menyempatkan diri untuk keluar dan berfoto untuk ditunjukkan pada Lily suatu saat jika mereka kembali.
"Wah cantiknya," ucap Lily memberi komentar menatap suaminya.
"Sayang, aku juga mau ke tempat seperti ini," Lily pun mendekat ke arah Jason kemudian menunjukkan foto itu pada suaminya.
Jason tersenyum dan merangkul Lily.
"Tentu saja, nanti setelah anak kita lahir, kita akan kesana, kalau perlu kita akan datangi semua tempat yang kamu inginkan."
"Benarkah?" Lily menatap suaminya dengan pandangan berbinar.
"Hmm, makasih sayang," Lily memeluk suaminya lalu mencium seluruh wajah pria itu.
Dan Dahlia langsung menutup matanya, saat Lily kini mendaratkan bibirnya di bibir suaminya.
"Lily!" Ucapnya mencebikkan bibir.
"Hehe, sorry, lupa kalau ada jomblo disini," kata Lily dengan cengiran khas nya.
"Apa yang kau katakan? Sembarangan aja, aku bukan jomblo," kata Dahlia dan buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sepertinya dirinya keceplosan.
"Kak Lia serius?" Tanya Lily yang terkejut mendengar penuturan kakaknya.
"Oh iya Bu, ayo aku akan mengantar ibu ke kamar, Ibu harus istirahat pasti lelah," kata Dahlia mengalihkan pembicaraan.
"Kak Lia belum menjawab pertanyaanku."
"Ayo Bu!"
"Kak Lia!"
Tapi Dahlia tetap saja melanjutkan langkahnya, tidak peduli Lily yang terus memanggilnya.
__ADS_1