Please Love Me

Please Love Me
Part 103


__ADS_3

"Kamu berangkat sekarang juga! Ayah sudah mengurus semua yang akan kamu butuhkan, jam penerbangan dua jam lagi," jawab Mike tanpa merasa bersalah.


"Apa? Ayah aku tidak salah mendengar? Ayah aku bahkan belum cukup istirahat dan Ayah menyuruhku pergi sekarang? Sebenarnya aku ini anak Ayah bukan sih? Kenapa Ayah tega sekali padaku?" Kata Ronald merengek layaknya seorang anak kecil.


"Cepat bersiap! Ayah akan mengantarmu ke bandara!" Mike lalu meninggalkan putranya yang kini justru sibuk menggerutu.


"Jika kamu tidak bergegas dan hanya diam menggerutu kamu akan terlambat Ronald!" Mike menoleh dan berbalik badan, saat hanya mendengar suara gerutuan di belakangnya.


"Bagus jika seperti itu, aku jadi tidak perlu repot-repot untuk pergi," jawab Ronald yang otomatis membuat kesal Ayahnya. 


"Ronald!" Teriak Mike menatap pria yang mirip dengannya. "Jika Ayah terus-terusan menghadapimu yang seperti ini, bisa-bisa nanti Ayah mati muda," tambahnya kesal.


"Mana ada mati muda, yang ada hanya mati tua, jangan lupakan jika umur Ayah kini sudah memasuki lansia."


Mike mencopot sandalnya dan melemparkan pada putranya, untung saja sandal yang dipakai di dalam rumah ringan, jika tidak bisa dipastikan dahi Ronald akan jadi cetakan sandal.


"Berani kamu mengatai Ayahmu!" Geram Mike. "Lebih baik aku keluar sekarang daripada harus bersamamu, cepat bersiaplah! Aku tunggu di ruang tamu," Mike pun kemudian berlalu setelah mengatakan itu.


"Oh tidak semudah itu Tuan, karena aku bisa kabur lewat jendela," ucap Ronald tentunya hanya dalam hati saja, jika secara langsung Ayahnya pasti akan melakukan segala cara untuk menggagalkan rencananya.


"Mike berhenti dan tanpa menoleh lagi berkata, "Jangan harap kau bisa kabur!" Mike seakan bisa membaca rencana yang akan putra lakukan.


"Si*al kenapa Ayah bisa tahu rencanaku," gumam Ronald sambil menatap kepergian Ayahnya.


***


"Kak!" Lily mendekat dan menghampiri Kakaknya yang terbaring di brankar dengan selang infus yang menancap di tangan kanannya.


Dahlia menoleh dan tersenyum menatap kedatangan Adik dan Adik Iparnya.


"Bagaimana keadaan Kakak? Maaf aku baru datang menjenguk Kakak," ucap Lily menggenggam tangan Kakaknya.


"Tidak apa-apa, Kakak baik-baik saja, besok juga sudah diperbolehkan pulang. Kenapa sedih, seharusnya kamu senang, besok kan pengantin baru ini mau pergi honeymoon," Dahlia sengaja menggoda adiknya.


"Kakak!" Wajah Lily langsung merona saat mendengar godaan Kakaknya. 

__ADS_1


Jason kemudian mendekat, "Sayang, aku harus ke kantor sekarang, kamu tidak apa-apa kan jika aku tinggal, nanti kamu hubungi saja jika mau pulang, biar aku jemput."


"Hmm pergilah, aku tidak apa-apa, mm nanti biar aku naik taksi saja," 


"Biar Ale nanti pulang denganku," jawab seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan.


Semua orang menoleh, Lily begitu terkejut melihat sosok pria yang kini berjalan mendekat ke arah ketiganya.


"Ayah!" Gumam Lily dan Jason bersamaan pada pria yang memakai jas putih.


Lily gugup sekaligus khawatir, jika nanti tiba-tiba Ayahnya memaksa pulang, dan berujung menceritakan kejadian kemarin kepada Kakaknya.


Alan terus berjalan menghampiri ranjang pasien.


Lily menarik nafas dan menghembuskannya perlahan saat Alan sudah semakin dekat tinggal hanya dua langkah saja.


"Bagaimana kabarmu Nak, maaf Paman baru sempat menjengukmu, Tadi selesai operasi Paman langsung kemari begitu Ale bilang ingin datang menjengukmu hari ini," ucap Alan dengan suara lembut, dan hal itu membuat Lily merasa lega dan hanya memandangi wajah Ayahnya.


"Tidak apa-apa Paman, seharusnya saya minta maaf karena membuat Paman jadi repot-repot harus kemari."


"Sayang aku pergi dulu," kini giliran Jason pamit pada istrinya dan mengecup kening istrinya sekilas.


"Hati-hati," ucap Lily yang diangguki oleh Jason.


Setelah berpamitan Jason kemudian pergi meninggalkan istrinya di rumah sakit.


"Kalian mengobrol dulu saja, Ayah mau visit ke kamar pasien dulu," pamit Alan setelah kepergian Jason, membiarkan Putrinya untuk mengobrol dengan Kakaknya. Alan tidak boleh egois, bagaimanapun gadis yang sekarang dirawat adalah Kakak dari Putrinya dan bisa Alan lihat, jika gadis yang bernama Dahlia tulus menyayangi Ale.


"Iya Ayah," jawab Lily tersenyum, dirinya merasa lega, Lily berfikir jika Ayahnya masih marah, tapi ternyata tidak bahkan sekarang Ayahnya mengizinkan Lily untuk menemani dan mengobrol dengan Kakaknya.


"Ya sudah, Ayah pergi dulu, nanti kalau kamu mau pulang, kamu bisa telepon Ayah," Alan mengelus lembut rambut putrinya kemudian keluar dari ruang rawat Dahlia.


Dahlia senang melihat itu, karena pada akhirnya Lily adiknya, ralat bukan Lily, tapi Aleandra, seorang gadis yang sudah dianggap seperti adik kandungnya sendiri, akhirnya bisa merasakan kasih sayang dari salah orang tuanya, bahkan dia juga mempunya seorang Kakak yang sangat menyayanginya, Dahlia bahagia, melihat Lily bahagia.


"Kenapa Kak Lia melihatku seperti itu?" Tanya Lily begitu menyadari jika Dahlia kini tengah menatapnya.

__ADS_1


"Apakah Kakak tetap bisa menjadi Kakakmu?" Tanya Dahlia dengan pandangan sendu. 


"B*d*h kau lia! Kenapa kau menanyakan itu?" Dahlia dalam hati merutuki dirinya sendiri karena menanyakan pertanyaan yang sudah sangat jelas jawabannya.


"Kak kenapa Kakak menanyakan itu? Sampai kapanpun Kakak tetap Kakakku dan itu tidak akan pernah berubah, dan tidak ada yang berhak merubahnya," Lily menggenggam tangan Kakaknya dan menegaskan tentang hubungan mereka.


Mendengar jawaban adiknya, air mata yang tergenang di pelupuk mata tiba-tiba saja jatuh membasahi kedua pipinya. 


Melihat itu Lily langsung menghapus air mata Dahlia dan menarik sang Kakak ke dalam pelukannya.


"Kak, ini terakhir kali Kakak menanyakan itu, lain kali aku tidak ingin mendengar pertanyaan seperti itu lagi, apa Kakak mengerti?" Lily mengelus punggung Kakaknya.


Dahlia hanya mengangguk menanggapi ucapan adiknya.


Dahlia kemudian melonggarkan pelukan mereka, kemudian menatap Lily tepat di bola matanya. "Hmm bolehkah Kakak tetap memanggilmu Lily?" Tanya Dahlia ragu.  "


"Maaf Kakak hanya sudah terbiasa dengan nama itu, akan sulit untuk Kakak merubahnya," tambah Dahlia cepat sebelum Lily berucap lagi.


"Lily tersenyum dan mengangguk, "Namaku tetap Lily Kak, karena kata Ayah, Ibu memang dulu sering memanggilku dengan nama itu."


Dahlia tahu siapa Ibu yang Lily maksud, mendengar kata Ibu, Dahlia jadi mengingat Ibunya, bagaimana tanggapan Ibunya setelah tahu bahwa Lily bukanlah anak dari Ayahnya? Dahlia harap setelah Ibunya tahu, Ibunya tidak akan membenci Lily lagi, dan Dahlia juga berharap Ibunya akan menyayangi Lily seperti anak kandungnya, karena bagaimanapun Ibunya adalah orang yang membesarkan Lily.


"Kak!"


"Kak!"


"Hah!" Jawab Dahlia spontan begitu menyadari jika Lily memanggilnya.


"Kenapa Kakak melamun? Apa ada yang Kakak pikirkan?" Tanya Lily memandangi wajah Kakaknya.


"Hmm, tidak ada, hanya saja sedari tadi Kakak tidak melihat Ibu, Padahal Ibu bilang akan segera kembali tapi sampai saat ini Ibu belum kembali, Kakak yakin setelah Ibu tahu bahwa kamu bukan anak Ibu, ah maaf maksud Kakak, jika Ibu tahu kamu bukan anak yang seperti Ibu kira selama ini, Ibu pasti tidak akan berbuat buruk lagi padamu," ucap Dahlia dengan pandangan menerawang.


"Aku juga berharap seperti itu Kak, tapi sepertinya Ibu akan tetap membenciku" jawab Lily dalam hati sambil menatap Kakaknya yang sepertinya bahagia jika apa yang diharapkan benar-benar kenyataan.


"Oh ya apa kamu sudah bertemu dengan Ibu?" Tanya Dahlia yang kini mengalihkan pandangan ke arah adiknya.

__ADS_1


Ditanya seperti itu, Lily hanya diam, dia tidak tahu harus menjawab apa.


__ADS_2