
"Liora nanti ingat apa yang aku katakan, jagain istriku, jangan biarkan dia kelelahan, dan juga jaga Alno," ucap Jason kesekian kalinya dan Liora hanya memutar bola mata malas.
"Sayang sudah ayo jalan, mau berapa kali lagi kamu akan mengatakan itu, lagian aku juga pasti akan menjaga anak kita baik-baik, kamu tenang saja ya," kata Lily karena suaminya tidak segera menjalankan mobilnya.
"Baiklah, kita jalan sekarang," ucap Jason yang akhirnya melajukan mobilnya tentunya dengan perlahan.
"Kamu sudah tidak muntah-muntah lagi kak?" Tanya Liora dan Lily mengernyitkan dahinya dan menoleh ke belakang, melihat ke arah dimana Liora duduk.
"Muntah-muntah?" Tanya Lily.
"Hmm iya," Liora mengangguk semangat.
"Liora!" Tegur Jason.
"Kenapa? Kan memang benar, lagian juga aku cuma bertanya," jawab Liora kesal, dia memilih mengambil ponselnya dan memainkannya.
"Kak, maksudnya apa tadi?" Rupanya Lily masih penasaran dengan pertanyaan Liora tadi.
Liora mengangkat wajahnya menatap Lily, "Maksud yang mana?" Tanya gadis itu yang sudah melupakan pertanyaannya tadi.
"Yang tadi kakak bilang suamiku muntah-muntah," Lily mengingatkan Liora pada apa yang tadi dikatakannya.
"Sayang, sudahlah jangan bahas hal itu lagi," ucap Jason mencela.
"Kamu tanyakan saja kepada suamimu," ucap Liora akhirnya dan mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Ronald.
Tak lama mobil yang Jason kendarai telah sampai di depan kediaman Gottardo.
"BiLy!" Alno yang memang ada di depan bersama kakek dan neneknya langsung berlari melihat Lily dan memeluknya tepatnya memeluk kaki Lily karena itu yang bisa dijangkaunya.
"Hei apa kabar sayang?" Tanya Lily mencubit pipi Alno yang chubby dari terakhir kali dia lihat.
"Baik, Bily kemana saja, kenapa tidak main ke rumah Mama?" Bocah itu mendongak bertanya dengan polosnya kepada Lily yang dipanggilnya Bily yang tak lain adalah singkatan dari Bibi Lily.
"Hmm maaf ya sayang, Bibi sibuk soalnya makanya jarang sekali main," kata Lily berharap anak laki-laki itu mengerti.
"Kok cuma Bibi Lily yang disambut, Bibi El tidak nih?" Liora tiba-tiba muncul di belakang Alno.
"Bibi El!" Teriak Alno senang dan langsung meminta digendong gadis itu.
Hei Jagoanku," Liora mengecupi seluruh wajah Alno membuat Alno kegelian.
"Bibi sudah Bibi."
"Kalian sudah datang?" Alex datang bersama Liana dari dalam.
__ADS_1
"Ibu, Ayah," Liora dan Lily langsung menyapa dan menyalami kedua orang itu bergantian.
"Tuan dan Nyonya mau berangkat bersama? Tapi sepertinya aku harus mengantar mereka dulu ke mansion," ucap Jason yang baru turun dari mobil.
"Ya sudah ayo! Tapi kita pakai mobil sendiri saja, aku ambil dulu," ucap Alex pada Jason dan bergantian menatap Liana.
Liana hanya mengangguk dan mendekat ke arah Lily, sahabat putrinya.
Sementara Jason menghampiri Alno dan memintanya dari gendongan Liora.
"Bagaimana kandunganmu?" Tanya Liana menatap perut Lily.
"Sehat Bu, apa Ibu mau memegangnya?"
"Bolehkah?"
"Tentu saja," Lily mendekat membiarkan Liliana menyentuh perutnya.
Liana pun menyentuh dan mengelus perut Lily dengan lembut.
Alno melihat dan memperhatikan apa yang sedang nenek dan Bilynya lakukan.
"Di dalam perut Bibi apa adik bayi juga?" Tanya bocah itu polos.
"Yeah," teriak Alno girang kemudian menatap pria yang sedang menggendongnya.
"Tapi Paman, kok perut Bily tidak besar seperti perut mama?" Tanyanya penasaran.
"Hmm itu karena…"
"Karena dedek bayinya juga masih kecil, jadi nanti kalau dedek bayinya sudah besar, perut Bily juga akan makin besar," jawab Lily yang melihat kebingungan wajah suaminya saat mendapat pertanyaan seperti itu dari Alno.
"Oh begitu ya Paman," ucap Alno kembali menatap pamannya setelah tadi menatap Lily yang menjawab pertanyaannya.
"Iya benar, seperti yang Bily katakan."
"Ayo!" Teriak Alex yang membuka kaca jendela mobilnya.
"Ibu pergi dulu," pamit Liana yang kemudian mengelus rambut Liora dan Lily bergantian, setelahnya wanita itu pun dengan segera masuk ke dalam mobilnya.
"Ayo, aku antar kalian ke rumah Tuan Besar dulu," ucap Jason kepada Liora dan istrinya.
Lily dan Liora pun mengangguk kemudian Liora pun membawa Alno masuk ke dalam mobil, Jason membukakan pintu dan membiarkan istrinya masuk.
Mobil kedua orang itu pun kini melaju menuju kediaman William. Menghabiskan waktu beberapa menit, akhirnya kedua mobil itu pun sampai.
__ADS_1
"Apa Mama dan Papa dan dedek bayinya sudah ada di rumah?" Tanya Alno mendongak menatap Bibinya.
"Belum sayang, kita ke rumah dulu, nanti Paman Jason yang akan menjemput Mama dan Papa," jawab Liora.
Bocah itu pun manggut-manggut, entah mengerti atau tidak pada apa yang Liora katakan.
"Mobil Kak Max?" Ucap Liora melihat mobil milik kakaknya.
Jason dan Lily pun ikut melihat ke arah pandang Liora, dan Jason yang mengenali mobil itu pun membenarkan.
Keempat orang itu pun turun, tapi tidak dengan Liana dan Alex, mereka memilih menunggu Jason di dalam mobilnya.
"Aku pergi dulu ya," ucap Jason dan mengecup kening istrinya sebelum pergi. "Ingat apa yang aku katakan tadi sebelum berangkat!" Tambahnya lagi, dan setelah itu Jason pun masuk kembali ke mobilnya.
Alno dan Lily melambaikan tangan mereka saat mobil Jason dan Alex meninggalkan tempat.
"Ayo masuk," tangan kiri Liora menggandeng Alno, sedangkan tangan kanannya menggamit lengan Lily mengajak kedua orang itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Kak Max sejak kapan datang?" Benar saja sesampainya di dalam, Max sudah berada disana.
"Baru saja, kamu tidak ikut ke rumah sakit?" Tanya Max menatap adiknya.
"Tidak, Tadi Ibu Liana dan Ayah Alex sama Kak Jason sudah kesana, Mami sama Papi sudah kesana?" Kini giliran Liora yang bertanya pada kakak keduanya itu.
"Sudah, tadi Kakak mengantar kesana dulu sebelum kesini. Hai jagoan, tidak mau lihat adek Ken, tuh adek Ken sama Bibi Flo sedang di dalam," kini Max mendekat ke arah ponakannya.
"Dedek Ken juga disini?"
"Iya ayo kita samperin," ucap Max mengangkat tubuh Alno dan membawanya masuk ke dalam.
"Ah iya katanya kita akan menyiapkan kejutan, ayo kita persiapkan sekarang," Liora mengajak Lily untuk mempersiapkan penyambutan kedatangan Jasmine dan kedua anaknya.
*
*
*
"Ini semua gara-gara Ayah," untuk kesekian kalinya Ronald terus menyalahkan ayahnya.
Mike hanya memutar bola matanya malas, karena terus saja disalahkan oleh putranya itu.
"Lihatlah dia bahkan tidak mau menjawab teleponku, lebih tepatnya menonaktifkan ponselnya dan aku chat juga balasnya cuma bilang dia tidak ada di rumah, bagaimana kalau dia tidak mau menemuiku lagi?" Kata Ronald yang sedari tadi mondar-mandir dan mengecek ponselnya berharap gadis yang sedari tadi menjadi perdebatan ayah dan anak itu, akan menghubunginya.
"Padahal ayah sendiri yang bilang agar aku serius menjalani dengan satu orang, tapi lihat sekarang ayah sendiri yang justru membuatnya kabur," ucap Ronald kemudian, meninggalkan ayahnya yang kini tengah mencerna ucapan sang putra.
__ADS_1