Please Love Me

Please Love Me
Part 70


__ADS_3

"Sudah bangun?" Suara Alan terdengar, membuat Lily begitu terkejut, Alan duduk di sofa membaca koran di lantai atas tidak jauh dengan kamar tidurnya.


Lily diam dan tidak bergerak sama sekali, tidak maju maupun mundur, dirinya kini sudah siap untuk pergi di rumah itu pagi-pagi sekali, tapi sayangnya Alan sudah ada tidak jauh dari kamarnya.


"Kenapa masih berdiam diri di situ? Apa kamu masih marah sama Ayah karena apa yang Ayah katakan semalam?" Tanya Alan yang juga tidak beranjak dari tempatnya.


Dengan perlahan akhirnya Lily menghampiri Alan, bagaimanapun Alan sudah melihat dirinya membawa tas dan bisa dipastikan Alan tahu jika dirinya akan pergi dari rumahnya, dan sebagai bentuk kesopanan Lily kini berjalan ke arah pria paruh baya itu duduk sambil melipat koran yang tadi dibacanya dan diletakkan di atas meja, Lily bermaksud akan berpamitan kepada Alan, dan berterima kasih padanya karena sudah memberikan dia tumpangan.


"Duduklah!" Alan menyuruh Lily untuk duduk kemudian menatap gadis itu, dapat Alan lihat dengan jelas bahwa mata gadis itu bengkak, dan bisa diperkirakan jika dirinya mungkin menangis semalaman, melihat itu Alan menyalahkan dirinya sendiri, seharusnya dibicarakan baik-baik dulu, dan tanyakan keputusan gadis itu, bukan langsung memutuskan karena yang menjalani Lily dan Al, jadi itu semua seharusnya menjadi keputusan berdua, dan Alan hanya bisa memberikan restunya bukan ikut memutuskan sepihak dan bahkan keputusan itu terucap seperti tidak bisa diganggu gugat.


"Maafkan Ayah, Lily," hanya kata itu yang bisa Alan ucapkan untuk saat ini.


Lily mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk bahkan tidak berani menatap mata Alan, dia menoleh ke arah Alan, tidak menyangka jika pria yang mungkin seusia Ayahnya itu, meminta maaf kepadanya bahkan dia mengucapkan itu tanpa rasa canggung sedikitpun, membuat Lily kini merasa bersalah padanya, Alan benar-benar orang baik, itulah yang membuat Lily merasa bersalah.


"Ayah tidak bersalah," akhirnya Lily membuka suaranya.

__ADS_1


"Tidak Lily ayah bersalah, bahkan mungkin sangat-sangat bersalah, Ayah terlalu memaksakan kehendak Ayah padamu seakan kamu benar-benar putri Ayah, dan nyatanya Ayah hanya orang asing untukmu," ucap Alan lirih.


Perasaan Lily serasa dicabik-cabik oleh Pria dewasa yang kini duduk di sampingnya. Harusnya Lily yang merasa Lily bukan siapa-siapa karena dia memang orang asing di keluarga mereka, tapi kini Alan berfikir jika Alan hanyalah orang asing bagi Lily.


"Tidak Ayah, itu tidak benar sama sekali, Ayah bukan orang asing bagi Lily, Ayah memang bukan Ayah kandung Lily, tapi Lily merasakan kasih sayang Ayah yang tulus seakan Lily benar-benar Putri Ayah, jadi tolong Ayah jangan katakan hal itu lagi, Lily sudah menganggap Ayah seperti Ayah Lily sendiri. Lily menyayangi Ayah," Tangis Lily pun pecah saat mengatakan itu.


Melihat gadis itu menangis Alan pun merengkuh Lily dalam pelukannya.


"Semua keputusan Ayah akan kembali serahkan padamu, Ayah melakukan ini untuk kebaikanmu, Ayah takut kamu sakit hati jika ternyata pria itu memilih putri William, Ayah takut jika pria itu bahkan tidak bisa menolak keinginan William, maafkan Ayah, Ayah hanya tidak ingin putri Ayah terluka lagi," Alan mengusap rambutĀ  Lily lembut, bahkan entah sejak kapan Alan ikut meneteskan air mata mendengar tangis pilu gadis yang ada di pelukannya. Hatinya seperti tersayat melihat kesedihan yang Lily rasakan.


***


Tak terasa waktu cepat berlalu, sebulan sudah setelah keputusan pernikahan saat itu, dan ini semua benar-benar terjadi, Lily bahkan tidak bisa menolak saat melihat ketulusan Alan menerimanya walaupun dengan kondisi keluarga Lily yang bisa dibilang tidak seperti keluarga, hanya Dahlia sang Kakak yang datang ke acara pernikahan itu dan ingin menemani sang adik di hari bahagianya, karena itulah yang Dahlia tahu.


Jason laki-laki itu tidak ada kabar lagi, setelah makan malam yang terjadi di keluarga Anderson, bahkan ketika Lily ke kediaman Jasmine, tidak lebih tepatnya kediaman William mertua sahabatnya itu. Lily tidak pernah lagi melihat Liora, Adik Ipar Jasmine. Dan karena rasa penasarannya Lily pun bertanya pada Jasmine kenapa kediaman itu justru tampak sepi, karena seharusnya akan ramai mengingat akan terjadi pernikahan putri bungsu seorang Willian Anderson.

__ADS_1


"Kenapa sepi sekali? Kemana semua orang rumah Mine, terus bagaimana rencana pernikahan Adik Iparmu itu?" Tanya Lily berusaha setenang mungkin, terlihat berpura-pura baik saja, padahal untuk mengucapkan kata pernikahan saja rasanya tenggorokan Lily seperti tercekat.


"Mereka ada urusan, bagaimana denganmu? Kamu yakin dengan keputusanmu ini? Kamu bisa membatalkannya jika kamu tidak ingin, jangan siksa diri dan hatimu sendiri Lily, Paman Alan juga tidak memaksamu, dia menyerahkan semua keputusannya padamu," Jasmine menggenggam tangan Lily ingin sahabatnya itu memastikan sekali lagi tentang keputusannya, dia tidak ingin sahabatnya akan menyesal nantinya.


"Ya keputusanku sudah aku pikirkan baik-baik, Ayah sangat menyayangiku, dan aku bisa mendapatkan kasih sayang seorang Ayah sesungguhnya Mine, tidak ada yang lebih membahagiakan selain hal itu, itu adalah impianku, memiliki seorang Ayah yang perhatian dan menyayangiku, Kak Al juga memperlakukanku dengan baik, walaupun aku tadinya menolaknya dia bahkan sangat sabar untukku, itulah keluarga yang aku inginkan, aku tahu pernikahan ini terkesan terpaksa, tapi setidaknya jika aku memiliki keluarga yang baik setelah menikah tidak ada salahnya kan? Harusnya aku bersyukur, lihatlah dirimu, bahkan sekarang kamu bahagia dan Suamimu juga sangat mencintaimu, walaupun awalnya kalian juga terpaksa menikah karena perjodohan orang tua kalian, Adik Iparmu juga terlihat bahagia sekarang walaupun awalnya juga seperti itu, dan aku yakin kelak aku juga bahagia seperti kalian, dan seiring berjalannya waktu mungkin cinta itu akan hadir di antara kita dengan sendirinya," kata Lily panjang lebar.


Lily memegang dadanya yang kembali sesak jika sebentar lagi mungkin dirinya akan dimiliki oleh pria bernama Al, walaupun sejujurnya sampai saat ini hanya Jason yang ada dihatinya.


Mendengar Jasmine yang mengatakan jika keluarganya ada urusan, sebenarnya hati Lily begitu tercubit, karena Lily bisa mengerti, tidak perlu dijelaskan panjang lebar, Lily juga paham maksud sahabatnya, jika mungkin urusan yang dimaksud sahabatnya adalah persiapan mereka, pernikahan pria yang dicintainya dan gadis lain, tapi Lily benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, karena mungkin memang seperti itulah takdir cinta mereka. Dan Lily akan mencoba ikhlas menerima apa yang telah Tuhan rencanakan untuknya.


Lily menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, melupakan pertemuan dengan Jasmine seminggu yang lalu yang menyesakkan dada.


"Sepertinya calon pengantin kita terlihat gugup," kata seseorang yang sedang merias dirinya.


Lily hanya menunjukkan senyum terpaksanya, sebenarnya perasaan Lily terasa hambar, dia tidak tahu harus senang atau sedih, dia lakukan pernikahan ini karena dia ingin merasakan kehangatan sebuah keluarga sebenarnya, kehangatan yang tidak pernah dia dapatkan sedari kecil. Dan bersama dengan keluarga Al dia bisa merasakan itu, dia akan melupakan cintanya dan mungkin hanya untuk saat ini, setelah ini dia akan kembali menjadi Lily yang mencintai pria itu, pria yang mampu membuatnya merasakan cinta dan luka secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2