Please Love Me

Please Love Me
Bab 166


__ADS_3

"Alan," ucap lirih wanita itu.


"Bibi Dea?" Kata Lily begitu melihat seorang wanita yang dia kenal juga ada di sana.


"Hmm Lily?" tanya Dea memastikan bahwa benar nama gadis itu Lily.


"Iya Bi, Bibi ada disini?" Tanya Lily berbasa-basi, padahal tanpa bertanya semua orang tahu jika Dea ada di sana, di tempat yang sama dengan Lily.


"Ah iya, hmm akhir pekan, Bibi suka berkemah disini, hmm biasanya sih sama Liora tapi dia…" Dea tidak melanjutkan ucapannya merasa tidak enak, takut menyakiti perasaan Lily.


"Ah iya, Liora sedang ikut perjalanan bisnis bersama Suami Lily," kata Lily dengan senyumannya.


"Hmm berarti Bibi sendiri, bagaimana jika Bibi bergabung bersama kita? Hmm tapi Bibi sudah membuat tenda, bagaimana kalau kita yang bergabung sama Bibi, apa boleh?"


"Lily!" Tegur Alan.


"Bolehkan Bi? hmm kasihan anak aku pengen langsung istirahat," ucap Lily mengelus perutnya yang masih rata, tanpa memperdulikan ucapan ayahnya.


"Kamu hamil?" Tanya Dea menatap Lily yang mengusap perutnya sambil tersenyum.


Lily mengangguk mantap. Dea kemudian menatap Alan. Lily pun mengikuti arah pandang wanita di depannya. Lily yang mengerti, menghampiri ayahnya menggoyang-goyangkan tangan Alan seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.


"Ayah boleh ya? Ayah tidak kasihan sama cucu Ayah, lagian Ayah kan juga tadi bilang mau melakukan apa yang aku mau," kata Lily mengingatkan Alan akan perkataannya tadi.


Alan menghela nafas dan hanya bisa pasrah. 


"Baiklah, boleh kita bergabung?" Kata Alan menyetujui permintaan putrinya dan meminta izin pada Dea.


Dea bingung, ingin menolak tapi dia tidak tega melihat Lily. 


"Kalau tidak boleh ya sudah, kamu tunggu disini, biar Ayah buat tenda," kata Alan pada Lily dan hendak pergi meninggalkan kedua wanita itu.


"Ya boleh, kalian boleh bergabung denganku," putus Dea menghentikan langkah Alan.

__ADS_1


Alan berhenti dan menoleh menatap Dea dan Lily, Alan melihat putrinya mengangguk senang, dan tidak ingin membuat putrinya sedih karena dia tidak menuruti keinginannya, Alan pun akhirnya berbalik dan menghampiri kedua wanita itu.


"Hmm Bibi, aku mau istirahat dulu boleh?" Tanya Lily minta izin.


"Hah iya, boleh kok, kamu istirahat saja, kamu pasti lelah," ucap Dea mengijinkan.


"Ya sudah, Ayah, Ale istirahat dulu," sekarang giliran Lily berpamitan pada ayahnya.


Alan mengangguk, dan kini hanya tinggal mereka berdua yang terlihat canggung.


"Hmm jika kamu mau istirahat, istirahat saja, biarkan aku yang membereskan ini," kata Dea menunjuk bahan-bahan makanan yang dibawanya.


"Tidak apa-apa, biar aku bantu, hmm di mobil, aku juga tadi membeli beberapa makanan," kata Alan. "Ya udah aku ambil dulu," tambahnya kemudian berlalu menuju ke mobilnya kembali.


"Oh iya," jawab Dea menatap punggung pria yang masih saja bertahta di dalam hatinya, walaupun pria itu pernah menyakitinya.


Lily yang diam-diam mengintip dari dalam tersenyum, "Semoga saja, Bibi Dea bisa kembali masuk ke dalam hati Ayah, aku ingin Ayah bahagia," ucap Lily dalam hatinya.


Tak lama ada pesan balasan dari sahabatnya itu," Sama-sama, hmm kangen kumpul bareng, tapi sepertinya tidak bisa jika saat-saat ini, kapan-kapan kita kumpul ya, ajak Kak Al juga," begitulah bunyi balasan Jasmine.


"Ok, atur waktu aja, nanti aku ngomong sama Kak Al," balas Lily.


"Selamat ya, akhirnya kamu akan jadi seorang ibu," Jasmine kembali membalas disertai dengan ikon emoji.


"Makasih, senang bisa menyusul kamu, biar anak kita gde barengan," balas Lily lagi.


Tak lama ponsel Lily berdering. Dia tersenyum saat tahu jika suaminya yang menelpon, dengan segera Lily menjawab panggilan video itu. Wajah suaminy seketika memenuhi layar ponselnya.


"Kamu dimana sayang?" Tanya Jason yang merasa asing melihat sekitar Lily yang terasa asing baginya.


"Hmm aku sedang berkemah, kamu baru pulang kerja?" Jawab Liora yang kemudian bertanya balik pada suaminya. Jason hanya mengangguk lemah.


Jason tampak baru selesai mandi, rambutnya masih sedikit basah dan kini Jason terlihat berbaring di tempat tidur menampakkan wajah tampannya.

__ADS_1


"Berkemah? Dengan siapa?" Tanya Jason.


"Dengan ayah," jawab Lily dan Jason bernafas lega, setidaknya istrinya pergi bersama ayahnya.


"Sayang aku kangen banget sama kamu, pengen elus baby kita dan peluk kamu pas tidur, padahal hanya seminggu dan ini sudah lima hari disini, tapi aku sudah sekangen ini sama kamu," kata Jason setelah cukup lama terdiam kemudian memalingkan wajahnya menjauh dari layar ponsel, merasa malu karena dengan gamblangnya da mengatakan itu semua.


Lily hanya terkikik geli melihat itu, kemudian Lily pun berkata, "Aku juga kangen banget sama kamu," Lily pun mengakui bukan hanya Jason yang kangen padanya, tapi Lily juga begitu sangat merindukan suaminya.


"Baby kita tidak minta aneh-anehkan selama aku tidak ada di rumah? Kamu tidak menyembunyikan dan memendam keinginanmu kan sayang, pokoknya jika kamu ingin sesuatu, kamu harus segera kasih tahu aku, kalau tidak kamu bisa katakan kepada ayah, kakakmu Al atau pelayan yang bekerja di rumah ayah," kata Jason.


"Tenang saja, baby kita tidak minta aneh-aneh kok, mungkin dia tahu ayahnya sedang tidak ada di rumah," jawab Lily.


Tiba-tiba saja Lily menangis membuat Jason langsung panik.


"Sayang kamu kenapa? Apa ada yang sakit? Apa perlu aku telepon Ayah untuk masuk dan memeriksamu," ucap pria itu tampak jelas raut khawatir di wajahnya.


"Tidak, aku tidak apa-apa kok, jika memang aku merasa tidak enak, aku pasti akan panggil ayah.


"Terus kenapa kamu menangis, jika tidak terjadi apa-apa?" Tanya Jason.


"Tidak tahu, hanya ingin menangis saja," jawab Lily yang memang tidak tahu kenapa dirinya ingin menangis.


"Sabar ya sayang, aku akan selesaikan secepatnya pekerjaanku disini agar bisa cepat kembali," kata Jason yang sebenarnya memang ingin melakukan itu, tapi sayangnya kondisinya tidak mendukung, dan Jason tidak bisa mengatakan hal itu pada istrinya, karena dia tidak ingin membuat istrinya khawatir dan banyak pikiran.


"Hmm iya aku tunggu, tapi ingat kamu jangan lupa makan dan jaga kesehatanmu juga," pesan Lily kepada suaminya.


"Siap laksanakan," kata Jason memberi hormat pada Lily.


Keduanya pun tertawa.


"Oh ya sayang, apa bisa kamu ke tempat Kak Liora? Hmm aku mau bicara dengannya," kata Lily yang memang ingin berbicara dengan gadis itu.


"Liora?" Jason kembali mengulang, memastikan jika benar bahwa  Liora lah yang dimaksud istrinya.

__ADS_1


__ADS_2