Please Love Me

Please Love Me
Bab 186


__ADS_3

"Apa kerjaanmu hanya melamun El? Kau bahkan tidak melihat aku berhenti di depanmu?" Tanya Ronald yang kini sudah berbalik dan menatap Liora.


"Aku tidak melamun, kamu saja yang berhenti tapi tidak bilang-bilang, tidak tahu apa, dahiku sakit," ujar Liora mengusap-usap dahinya.


"Sini biar aku periksa," Ronald kemudian melihat dahi Liora.


Deg


Jantung Liora kembali berdegup dengan kencang saat merasakan sentuhan pria itu.


"Sepertinya perlu dibawa ke rumah sakit, takutnya nanti gegar otak," ucap Ronald terdengar serius, Liora juga mendengarkan ucapan pria itu sungguh-sungguh.


Ronald kemudian tertawa, "Biasa saja mukanya tidak usah serius seperti itu!" Katanya meraup wajah Liora.


"Ronald!" Teriak Cyara yang merasa di bohongi kemudian mencubit perut Ronald hingga pria itu mengadu kesakitan bahkan sampai minta ampun karena merasakan pedasnya cubitan gadis yang menurutnya berbeda dari wanita-wanitanya.


"Makanya, jangan usil," kata Liora kemudian melepaskan cubitannya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Ronald yang merapikan pakaiannya.


Ronald menggelengkan kepalanya dan tersenyum kemudian segera berlari menyusul gadis itu yang sudah hilang masuk ke lift.


"Kenapa? Tidak bisa masuk?" Ronald tersenyum mengejek saat melihat Liora hanya bersandar pada pintu mobilnya.


"Sudah tahu nanya, cepat buka!" Ketus Liora, sudah lebih dulu keluar tapi justru tidak bisa masuk ke dalam mobil karena masih dikunci,  apalagi melihat pria itu yang seperti sedang mengejek dirinya.


"Bicara yang lembut dong baby, nanti baru aku bukakan," ucap Ronald.


Tapi Liora tetap Liora bukannya melaksanakan permintaan Ronald, gadis itu justru berjalan menjauh dari mobil Ronald menuju pintu lift.


Senyum Ronald langsung pudar, Ronald buru-buru mengejar Liora dan menahan tangan gadis itu.


"Ayo naik, aku sudah buka," ucap Ronald.


Liora tersenyum, sepertinya rencana berhasil.


"Aku tadi hanya bercanda saja, kenapa kamu jadi beneran marah?" Ucap Ronald kepada Liora yang masih berdiri membelakanginya.


"El!" Ronald segera membalikkan tubuh Liora agar menghadapnya, dan dengan cepat Liora mengubah ekspresinya dengan kembali menekuk wajahnya.


"Baiklah, kalau kamu memaksa," kata Liora kemudian kembali berjalan menuju mobil Ronald dan segera masuk.


"Padahal aku tidak memaksanya," gumam Ronald lalu mengedikan bahunya dan segera masuk kemudian mulai menjalankan mobilnya.


Liora terus menatap Ronald yang terlihat serius menyetir.


"Kenapa apa kamu sudah jatuh cinta padaku? Aku tahu aku tampan, jika kamu ingin terus menatapku, tatap saja, aku tidak keberatan," Ronald menoleh dan tersenyum pada Liora.

__ADS_1


"Siapa juga yang jatuh cinta padamu," Liora segera mengalihkan pandangannya keluar jendela.


"Ada apa? Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?" Tanya Ronald mulai serius.


"Semalam…"


"Aku tidak melakukan apapun, kalau kamu ingin tahu itu, kamu pasti lebih tahu."


"Kenapa?"


Ronald langsung menepikan mobilnya, kemudian menggeser duduknya menghadap Liora.


"A...apa yang mau kau lakukan?" Tubuh Liora menegang, takut jika Ronald akan berbuat sesuatu padanya.


Ronald terdiam cukup lama, tatapan mereka bertemu, "Apa seburuk itu aku di matamu? Aku tidak masalah dengan penilaian orang lain, tapi apa kamu juga seperti mereka?" Ucap Ronald sendu semakin mendekat ke arah Liora yang refleks memejamkan mata.


Klik


Liora langsung membuka matanya, wajah keduanya begitu dekat, Liora bahkan bisa merasakan hembusan nafas Ronald di wajahnya.


"Kamu belum memasang seatbelt," ucap Ronald kemudian kembali pada posisi duduknya seperti semula dan mulai melajukan mobilnya kembali.


"Aku bukan seorang pria yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, oh ya perlu kau tahu tubuhku rasanya sakit semua, karena tidur di sofa yang kecil itu, jadi aku mau kamu bertanggung jawab," Ronald melirik Liora yang masih terdiam sibuk dengan pikirannya.


"Baiklah, aku akan bertanggung jawab, sepulang kerja nanti kita bertemu, nanti aku kirim alamatnya," ucap Liora begitu sadar dari lamunannya.


"Jam 5."


"Baiklah, kamu tunggu saja!"


Setelah mengatakan itu, Ronald pun fokus mengemudi, sementara Liora menatap Ronald dengan beberapa pertanyaan yang tidak bisa dia tanyakan semuanya, karena Liora merasa dirinya tidak berhak untuk mencari tahu lebih jauh kehidupan pria itu.


"Kamu sebenarnya, orang yang seperti apa? Semakin aku dekat denganmu tapi kenapa aku merasa semakin tidak mengenalmu."


*


*


*


"Sayang apa yang kamu lihat?" Tanya Jason yang melihat istrinya melihat dari jendela besar di ruangannya.


"Sini deh!" Lily meminta suaminya untuk segera menghampirinya.


Jason pun meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menuruti apa yang istrinya minta.

__ADS_1


"Kenapa?" 


"Lihat itu!" Lily menunjuk apa yang dilihatnya.


"Apa pria itu kekasih Kak Liora?"


"Hmm kenapa?"


"Pantas saja Kak Liora langsung move on dari kamu, orang kekasihnya begitu tampan," ucap Lily tanpa sadar, hingga membuat Jason memberengut.


"Sayang bagaimana menurutmu? Mereka terlihat cocok bukan?" Tambah Lily tanpa menoleh sedikitpun ke arah Jason.


"Sayang, kenapa diam saja?" Lily kini menoleh menatap suaminya yang bersedekap dada dengan wajah yang ditekuk.


"Kenapa kamu cemberut gitu?"


"Tidak apa-apa," ketus Jason.


"Kalau tidak apa-apa kenapa kamu berbicara ketus seperti itu," ucap Lily yang belum menyadari kesalahannya, Lily pun kembali melihat ke bawah dimana Liora dan Ronald berjalan berdampingan masuk ke dalam gedung tempat suaminya bekerja.


"Tuh sayang, lihatlah para gadis yang melihat kekasih Kak Liora sampai bengong seperti itu, Kak Liora beruntung sekali punya kekasih yang tampan sepertinya.


"Ya dan kamu tidak beruntung karena memilikiku, terus saja puji pria itu sampai kamu puas," Jason berjalan dan kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Sayang tidak kok, aku beruntung memilikimu, bagiku kamu lebih tampan daripada kekasih Kak Liora itu, beneran deh, aku tidak bohong," Lily segera menyusul suaminya yang kesal mendengar ucapannya tadi.


"Sayang jangan ngambek dong, maaf aku tidak bermaksud, kan aku bilangnya Kak Liora yang cocok dengannya bukan aku," kata Lily membujuk suaminya, yang baru menyadari kekesalan Jason.


Jason hanya diam saja sama sekali tidak menanggapi ucapan istrinya.


"Sayang, kamu marah? Ayo dong, aku tadi hanya asal bicara," Lily tampaknya masih terus berusaha agar suaminya tidak merasa kesal lagi.


"Sayang." Lily berdiri di hadapan suaminya tapi Jason kini malah memutar kursinya hingga tidak berhadapan dengan sang istri.


"Hei aku tadi cuma bercanda saja, jangan marah dong, ayo hadap kesini!"


"Tidak mau, sudahlah kamu duduk saja di sofa."


"Aku tidak mau, aku maunya duduk di pangkuanmu, bagaimana dong?"


Jason langsung memutar kursi hingga menghadap ke arah istrinya berdiri, menghela nafas panjang kemudian menarik Lily hingga berakhir duduk di pangkuannya.


"Lain kali jangan puji pria lain di hadapanku, aku tidak suka," ucap Jason menyelipkan rambut Lily ke belakang telinganya.


"Iya deh janji," jawab Lily kemudian mencari memeluk suaminya dan mencari posisi yang nyaman, sementara Jason mengecup berkali-kali puncak kepala istrinya.

__ADS_1


"Ya ampun apa yang sedang kalian lakukan?" Teriak seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan Jason.


__ADS_2