
Liora terus menengok ke kanan dan ke kiri, dirinya menarik nafas lega saat sudah tidak melihat Ronald ada disana. Liora kini bisa melangkahkan kakinya dengan santai tidak seperti tadi yang mengendap-endap karena tidak ingin bertemu Ronald.
"Aman!" Gumamnya, saat sejauh ini berjalan ke arah basement.
"Liora memencet tombol di kunci mobilnya, hingga berbunyi. Liora membuka pintu mobil dan masuk, dan betapa terkejutnya Liora saat tiba-tiba ada seseorang yang ikut masuk, Liora yang hendak berteriak tidak bisa karena orang itu dengan cepat menutup mulutnya.
"Ini aku El," ucap seseorang yang ternyata adalah seorang pria yang begitu dikenalnya, siapa lagi jika bukan Ronald pria yang seharian ini coba dia hindari tapi kini justru pria itu malah duduk tenang di sampingnya.
Ronald melepaskan tangannya yang tadi digunakan untuk membungkam bibir Liora begitu melihat gadis itu sudah mulai tenang.
"El maaf, aku tahu, kamu pasti marah, aku bisa jelaskan semuanya El, aku bukan tidak mau menghubungimu, tapi…"
"Cukup Ronald, aku tidak mau mendengarkan apa yang akan kamu katakan, semuanya sudah jelas dan kamu tidak perlu menjelaskan apapun padaku, aku mengerti, aku tahu jika aku mungkin bukan satu-satunya gadis yang dekat denganmu, jadi wajar saja jika kamu sedang bersama yang lain kamu melupakanku, dan lagian kamu bukan siapa-siapaku hingga harus mengatakan alasan kenapa kamu sampai tidak bisa menghubungiku," ucap Liora mengungkapkan apa yang dirasakan hatinya.
Liora menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Lebih baik kamu turun, aku mau pulang," ucap Liora mempersilahkan Ronald untuk turun dari mobilnya.
"El…"
"Sudahlah Ronald, tidak ada yang perlu dibahas lagi, tolong jauhi aku dan bersikaplah selayaknya kita tidak saling mengenal."
"El…"
"Kita hanya bertemu hanya jika tentang membahas pekerjaan, sekarang turunlah!"
"Aku tidak mau sebelum kamu mau memaafkanku," ucap Ronald yang justru memasangkan seatbelt di tubuhnya.
__ADS_1
Liora menatap Ronald dan menghela nafasnya. "Terserah kau saja," kata Liora yang kemudian segera melajukan mobilnya, tak peduli dengan adanya Ronald disana.
Ronald hanya menatap Liora sambil terus tersenyum, walaupun saat ini Liora tidak mau berbicara dengannya, setidaknya Ronald merasa puas karena bisa terus menatap wajah cantik Liora yang semakin menggemaskan saat Liora terlihat fokus mengemudi.
"Berhenti menatapku!" Kata Liora akhirnya, sedari tadi, bukannya Liora tidak menyadari jika Ronald terus saja menatapnya, dia lebih memilih diam dan membiarkan Ronald berbuat sesukanya, yang terpenting pria itu tidak mengganggu dirinya yang sedang menyetir. Tapi terus saja ditatap seperti itu, membuat Liora merasa risih hingga terpaksa berbicara pada pria itu yang justru tertawa mendengar nada ketus Liora.
"Apa yang kau tertawakan? Kau pikir ada yang lucu," kesal Liora saat mendengar tawa Ronald.
"Kamu yang lucu," jawab Ronald yang seketika langsung membuat wajah Liora memerah, tapi Liora dengan cepat menyembunyikan semburat merah pada pipinya dengan sedikit mengalihkan pandangan.
Bukannya berbelok ke kanan, Liora justru terus menjalankan mobilnya lurus. Dan Ronald yang menyadari hal itu, tidak segan untuk menegurnya.
"El, bukankah seharusnya disana tadi kita belok?"
"Hmm" jawab Liora hanya dengan deheman.
"Kamu mau pergi ke tempat lain?" Tanya Ronald barangkali Liora ingin ke tempat lain sebelum kembali, tapi merasa heran kenapa Liora tidak mengatakan apapun padanya.
"El!"
Liora buru-buru menepikan mobilnya dengan mengeremnya mendadak.
"Kamu bisa diam tidak sih? Kau tahu, gara-gara kau yang terus berisik sepanjang jalan, membuatku tidak fokus dan konsentrasi ku juga buyar begitu saja," kesal Liora menatap tajam Ronald.
"Maaf."
"Sekarang bisa diam tidak?"
__ADS_1
Ronald dengan cepat mengangguk.
"Awas saja, jika sampai nanti, masih tidak bisa diam, aku akan menurunkanmu di tengah jalan," ancam Liora kemudian gadis itu segera melajukan mobilnya kembali.
Ronald kali ini hanya diam sambil terus memperhatikan Liora, dia akan diam sampai dia tahu, kemana Liora kini akan membawanya.
Tak lama akhirnya Liora sudah sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar maupun kecil, tapi terlihat begitu nyaman dan tenang, apalagi banyak pepohonan yang ada di halaman rumah itu yang cukup luas.
Liora menghentikan mobilnya dan segera turun. Kemudian berjalan ke sebuah Ayunan yang menggantung di antara dua pohon besar, meninggalkan Ronald yang kini menatap penuh kebingungan.
"El ini…"
"Rumahku, hmm lebih tepatnya hadiah dari Ibu," kata Liora mendorong tubuhnya yang duduk di ayunan ke belakang dan kemudian maju.
Ronald yang melihat itu, berdiri di belakang Liora dan mendorong ayunan pelan.
"Ibu?"
"Hmm, pertama kali kami datang ke kota ini, inilah rumah yang kami tempati. Hingga akhirnya kami harus pindah ke tempat yang lebih dekat dengan tempat kerja Ibu. Padahal aku sangat menyukai rumah ini, terlebih suasananya, tenang itulah yang aku suka, aku suka merenung sendiri disini, dan menuangkan semuanya ke dalam lukisan, atau mungkin tulisan. Aku sedih sebenarnya, tapi aku tidak mau egois dan menghalangi masa depan Ibu, yang selama ini tanpa sadar aku sudah melakukan hal itu. Karena fokus membesarkan dan merawatku, Ibu sampai melupakan kebahagian dirinya sendiri. Aku tidak tahu kapan Ibu membeli rumah ini, tapi sebelum Ibu pergi berbulan madu, dia memberikan rumah ini, kau tahu aku begitu bahagia, aku beruntung mendapatkan kasih sayang dari banyak orang, semua memberikan apa yang aku inginkan, dan sekali saja aku juga ingin memberikan apa diinginkan keluargaku," Liora pun menoleh ke belakang dan menatap Ronald.
"Jadi Ronald, aku tidak mau membuat orang-orang kecewa karena aku terus melawan mereka hanya karena ingin dekat denganmu, awalnya aku ingin memberikan kesempatan, entah itu kesempatan untukku sendiri atau mungkin untukmu, tapi kamu menyia-nyiakan kesempatan itu, kamu pergi dan menghilang tiba-tiba, hingga membuat aku meragukan apakah benar keputusanku memberikanmu kesempatan, semakin aku mencari jawaban atas semua itu, aku semakin tidak menemukannya. Kau tahu kenapa? Karena aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanmu terhadapku?"
"El aku…"
"Jadi tolong, mulai sekarang, jauhi aku dan jangan coba menemuiku lagi, karena kepercayaan yang diberikan keluargaku padamu mungkin sudah hilang saat kau tidak memberiku kepastian padaku. Harusnya jika kau pergi, kau katakan saja padaku untuk menunggumu, aku pasti menunggumu, tapi ini… kau bahkan tidak mengatakan apapun, hingga harapanku padamu juga ikut pupus dengan kesempatan yang telah aku berikan sebelumnya.
"El?"
__ADS_1
"Pergilah, tidak ada yang perlu kita bahas lagi, semua yang sudah berlalu biarlah berlalu. Lupakan semua yang sudah pernah kita lewati bersama, dan anggap saja kita baru mengenal," kata Liora yang kemudian berlalu dan masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Ronald yang hanya bisa menatapnya yang semakin menjauh.