
"Baiklah aku terpaksa ikut," ucap Liora setelah menimbang ajakan Jack.
Jack tersenyum, walaupun Liora bilang dia terpaksa ikut dengannya, tapi Jack tetap merasa senang, setidaknya dia bisa membuat gadis itu lupa kabar akan Jason, pria yang dicintai gadis itu.
Jack juga tidak menyangka, jika Tuan Mudanya langsung mengijinkannya begitu saja saat dirinya bilang jika dia akan mengambil cuti hari ini, mungkin saja karena Tuan Max tahu jika dirinya ingin mengajak adiknya itu pergi.
"Tunggu sebentar aku ganti baju dulu," setelah mengatakan itu Liora langsung masuk ke dalam rumah tanpa mendengar jawaban Jack terlebih dahulu.
"Dasar gadis tidak sopan," kata Jack yang harusnya berekspresi kesal tapi pria itu justru tersenyum saat mengatakan itu.
Jack menunggu di kursi yang memang disediakan di teras rumah. Dia mengambil ponsel untuk mencari sesuatu disana, dan dengan lincah jari-jarinya mengetik sesuatu kemudian mengamatinya dalam.
"Ayo!" Kata Liora begitu siap.
Jack langsung mengembalikan ponselnya ke layar utama dan memasukkannya kembali ke saku celana.
"Ayo!" Jack berdiri dan berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu agar Liora masuk. Setelah memastikan Liora sudah duduk dengan tenang, Jack berlari ke arah kemudi dan ikut masuk ke dalam mobil dan langsung melajukannya ke tempat yang tadi dia sempat browsing di internet.
.
.
Tok
Tok
Terdengar ketukan pintu untuk kesekian kalinya, dan rasanya pelayan ingin menyerah, dirinya lebih baik di suruh bersih-bersih seluruh rumah ini sendirian, daripada harus membangunkan sepasang pengantin baru yang kerjanya hanya di kamar seharian.
Tok
Tok
Pintu diketuk lagi, pelayan meyakinkan dirinya bahwa sekali lagi pintu itu akan dibuka begitu seterusnya bahkan sampai saat ini belum juga terbuka.
Tapi saat pelayan itu akan pergi akhirnya pintu terbuka.
__ADS_1
"Ada apa Bi?" Tanya Jason pada pelayan yang sedari tadi mengetuk pintu kamarnya terus menerus.
"Maaf Tuan mengganggu, tapi Tuan Alan sudah menunggu untuk makan malam," jawab pelayan itu takut-takut apalagi melihat wajah Jason yang jarang tersenyum itu.
Jason melihat jam di dinding dekat kamarnya, benar waktu sudah menunjukkan jam makan malam dan Jason tidak sadar akan hal itu, karena mereka sempat tertidur setelah lelah melakukan kegiatan baru yang disukainya itu.
"Baiklah, nanti kita akan turun, Lily sedang mandi," kata Jason beralasan.
"Baiklah Tuan, nanti saya sampaikan pada Tuan Alan. Kalau begitu saya permisi dulu," akhirnya pelayan pun pamit undur diri.
"Ya," jawab Jason yang kembali masuk ke dalam kamar setelah melihat pelayan tadi pergi.
Begitu masuk, Jason tidak melihat istrinya di tempat tidur, tapi terdengar suara gemericik air di kamar mandi, dan bisa dirinya pastikan jika saat ini istrinya itu sedang mandi.
Sembari menunggu istrinya Jason memainkan ponsel yang sangat jarang dia gunakan apalagi sewaktu dirinya berada di mansion seorang Stevano Anderson yang berada di tengah hutan, jauh dari keramaian.
Tak lama istrinya keluar dan menghampirinya.
"Jas emm maksudku sayang, kau bisa mandi sekarang aku sudah menyiapkan air hangat untukmu," kata Lily yang masih sedikit canggung mengatakan kata Sayang pada suaminya itu.
Jason tersenyum, akhirnya Lily perlahan memanggil dirinya seperti yang diinginkannya.
Tentu saja melihat itu hati Lily semakin meleleh, pria yang jarang tersenyum itu nyatanya sekarang selalu menampilkan senyum manis padanya.
Jason segera turun dari tempat tidur, kemudian mencium bibir istrinya sekilas.
Jason menghentikan langkahnya yang akan masuk ke kamar mandi saat mendengar suara istrinya.
"Oh ya, aku ke bawah dulu ya, kamu bisa menyusul nanti, kasihan Ayah pasti sudah menunggu kita," ucap Lily menatap Suaminya yang kini berbalik badan dan menatapnya.
"Baiklah, aku akan cepat," setelah mengatakan itu Jason langsung buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Lily langsung menuju lemari menyiapkan pakaian yang akan suaminya kenakan sebelum dirinya turun ke bawah ke ruang makan dimana Ayahnya tengah menunggunya.
Alan memandangi kedatangan Putrinya, sudah sekitar sepuluh menit Alan menunggu, dan akhirnya Putrinya itu muncul tapi hanya seorang diri.
__ADS_1
"Kemana Suamimu?" Tanya Alan begitu setelah Putrinya itu menarik kursi dan duduk disana.
"Dia sedang mandi Ayah, nanti sebentar lagi juga turun, maaf sudah membuat Ayah menunggu," Lily menunduk merasa tidak enak pada Ayahnya.
Melihat gelagat Putrinya, Alan sudah tahu apa yang terjadi, "Tidak apa-apa, Ayah tahu kalian sedang sibuk membuatkan Cucu untuk Ayah, jadi Ayah memaafkan kalian," jawab Alan enteng, dia ingin menggoda Putrinya sesekali, apalagi dilihat saat ini Putrinya seperti takut dirinya marah.
Lily mengangkat kepalanya dan menatap sang ayah, wajahnya bahkan kini terlihat memerah mendengar apa yang baru saja Ayahnya katakan.
"Lihatlah sayang, wajahmu memerah!" Ledek Alan lagi.
"Ayah! Jangan meledekku lagi," kata Putrinya itu yang memprotes kala Alan meledeknya.
"Hahaha"
Tawa Alan pecah sudah saat melihat wajah Putrinya yang tampak malu-malu.
Bi Nia yang memperhatikan itu ikut tersenyum, baru kali ini dia melihat majikannya kembali tertawa lepas, seperti tadi. Bi Nia yakin dengan kehadiran Nona Mudanya itu, rumah ini akan lebih berwarna.
"Oh ya Yah, dimana Kak Al? Dari kemarin malam setelah Kak Al mengantar Kak Lia, aku tidak melihat keberadaan Kak Al lagi di rumah?" Tanya Lily penasaran sambil mengedarkan penglihatannya mencari sosok Al.
Alan langsung terdiam, bukan tidak tahu, Alan tahu jelas bagaimana perasaan Putranya saat ini, pasti sangat berat untuknya, gadis yang dicintainya sedari dulu ternyata adik kandungnya dan dia tahu semua itu di hari pernikahannya, hal itu pasti sangat membuat sakit hatinya, tapi mau bagaimana lagi, itulah kenyataannya, rencana Tuhan siapa yang tahu. Dan Alan hanya memberi Putranya waktu untuk menerima semua kenyataan itu, tapi Alan masih bersyukur karena hal itu diketahui sebelum mereka menikah, bagaimana jika sudah? Perasaan Putranya itu akan semakin hancur.
"Ayah kenapa diam saja? Dan kenapa Ayah malah melamun bukannya menjawab pertanyaanku?" Tanya Lily menggenggam tangan Ayahnya.
Begitu merasakan tangannya digenggam, Alan langsung menatap Putrinya yang kini sedang menatapnya menunggu beberapa jawaban atas pertanyaan yang dilontarkannya.
"Ayah, apa Kak Al marah padaku? Kak Al baik-baik saja kan Yah?" Lily menunduk sedih sepertinya dia tahu kenapa Ayahnya tiba-tiba diam saat dirinya menanyakan Kak Al.
"Kamu tidak perlu khawatir, Kak Al baik-baik saja, dia hanya perlu waktu, jadi kamu maklumi saja ya, dan jangan juga terlalu dipikirkan," Alan menenangkan Putrinya walau sebenarnya dirinya sendiri tidak tahu dengan keadaan Putranya itu, karena Al memutuskan untuk tidak pulang setelah kejadian kemarin.
Tak lama Jason pun datang, obrolan keduanya pun langsung terhenti.
"Maaf Paman membuat Anda menunggu," kata Jason merasa tidak enak pada Ayah mertuanya.
"Tidak apa-apa, ya sudah ayo makan, Al sepertinya tidak pulang malam ini," jawab Alan yang seakan tahu Jason akan menanyakan hal itu.
__ADS_1
Lily mengambilkan makanan untuk Ayah dan Suaminya, kemudian dia mengambil untuk dirinya sendiri.
Baru akan mulai makan, ponsel Jason kembali berdering, Jason mengambil ponselnya yang ada di saku celananya dan Lily sempat melihat nama pemanggil di layar ponsel Suaminya itu. Tapi dengan cepat Jason mematikan panggilan itu dan kembali memasukkannya ke dalam saku celananya.