
"Sayang kok kamu seperti itu sama kekasih kamu?" Komentar Tiffa pada ucapan putrinya barusan.
"Ya ampun kok aku bisa lupa," kata Liora dalam hati merutuki dirinya sendiri.
"Hahaha, Maaf Mami, tadi aku hanya bercanda," jawab Liora beralasan.
"Iya Bibi, El memang suka bercanda," kata Ronald membela Liora.
"Oh, maaf ya Nak Ronald, putri Paman memang kadang belum bisa bertingkah dewasa, maklum dia anak perempuan satu-satunya keluarga kami," William menatap Ronald meminta pengertian kepada pria yang berstatus sebagai kekasih putrinya.
"Papi!" Liora memberengut mendengar ucapan Papinya.
"Tidak Kok Paman, El ini gadis yang mandiri, dia juga penyayang dan ceria, dan aku suka sikapnya yang apa adanya," jawab Ronald menatap Liora.
Liora hanya memutar bola matanya malas mendengarnya.
"Sini baby kunci mobilnya, biar aku yang menyetir," Ronald meminta kunci mobil Liora.
"Tidak perlu, biar aku saja," ketus Liora.
"Sayang…" Tiffa kembali menegur putrinya.
"Tidak apa-apa Bibi, El sepertinya masih ngambek, kemarin aku berjanji akan menemaninya, tapi aku terlambat karena aku bangun kesiangan. Makanya tadi aku nyusulin kemari. Untungnya masih sempat bertemu," jawab Ronald melihat Liora, dan dibalas dengan pelototan mata oleh gadis itu.
"Jadi Nak Ronald, bawa mobil sendiri kemari?" Tanya William yang kemudian masuk ke dalam mobil, setelah Ronald membukakan pintu untuknya.
Ronald pun ikut masuk bersamaan dengan Tiffa dan Liora.
"Iya Paman, aku bawa mobil sendiri," jawab Ronald sambil memasang seatbelt.
"Terus mobil kamu bagaimana Nak?" Kali ini Tiffa kembali berbicara.
"Nanti biar aku minta tolong sama temanku, Bibi dan Paman tidak perlu khawatir."
Liora menirukan ucapan Ronald tanpa bersuara, dan Ronald hanya bisa menahan tawanya.
Liora pun melajukan mobilnya ke kediaman Anderson.
__ADS_1
"Oh ya Mi, Ibu katanya kangen sama Mami, kapan Mami ada waktu?"
"Mami juga kangen sama Ibu, nanti biar Mami yang mengabari Dea. Oh ya sayang, bagaimana persiapannya?"
"Sudah hampir selesai sih Ma, kemarin-kemarin juga dibantu sama Jack juga," jawab Liora yang tahu kemana arah pembicaraan Maminya, apalagi jika bukan persiapan untuk menyambut sekaligus merayakan ulang tahun Bunga, Kakak Iparnya.
Ronald hanya menyimak, sekali-kali mengernyitkan dahi sambil menatap Liora penuh tanda tanya, saat membicarakan wanita yang disebut Ibu oleh gadis di sampingnya.
Liora sedari tadi tidak nyaman saat Ronald terus menatapnya, ya, Liora menyadari jika saat ini Ronald terus memperhatikannya, makanya dia sedari tadi terus mengajak ngobrol Mami dan Papinya. Tapi sekarang Mami dan Papinya tertidur, membuatnya tidak tahu harus berbuat apalagi.
Liora jadi menyesal, sudah menarik Ronald dan memperkenalkannya sebagai kekasihnya. "Huh kekasih, mengenalnya saja tidak," gumam Liora pelan, tapi hal itu masih bisa didengar oleh Ronald.
"Jika tidak mengenal, kenapa kau memperkenalkanku sebagai kekasihmu baby," bisik Ronald tepat di telinga Liora membuat tubuhnya merinding tiba-tiba.
"Jangan dekat-dekat!" Ucap Liora pelan dengan menekan setiap katanya.
"Yakin?" Ronald malah kembali mendekatkan wajahnya dan tiba-tiba mencium pipi Liora.
Citt
Liora mendadak mengerem mobilnya, saat setelah Ronald mencium pipinya.
"Sayang ada apa?" Tanya Tiffa yang terbangun karena Liora mengerem mobilnya mendadak. Bahkan setelah Tiffa bangun, William pun ikut terbangun dan menanyakan hal yang sama seperti apa yang istrinya katakan.
"Hmm itu…" Liora berpikir dan mencari alasan yang tepat agar Mami dan Papinya tidak tahu apa yang terjadi tadi.
"Tadi kucing lewat, Paman, Bibi" sahut Ronald membantu Liora menjawab pertanyaan orang tuanya.
"Kucing? Ya ampun, tapi kamu tidak apa-apa kan sayang?" Tanya Tiffa khawatir.
"Tidak apa-apa Mi, kucingnya juga selamat," Liora melirik ke arah Ronald, dan pria itu hanya tersenyum menanggapi.
"Baby kamu pasti terkejut, biar aku saja yang menyetir, kamu tenangin diri kamu dulu," ujar Ronald yang langsung mendapat persetujuan dari William dan Tiffa.
"Tapi…"
"Sayang,"
__ADS_1
"Baiklah Mi," pasrah Liora yang kemudian bergantian posisi dengan Ronald.
Liora duduk bersandar dan menatap keluar jendela, saat Ronald yang sudah kembali melajukan mobilnya.
Tak lama, mobil yang Ronald kendarai sudah sampai di gerbang tinggi, dan dengan disambut beberapa pengawal dan pelayan, mobil itu masuk ke pelataran mansion William yang luas.
"Makasih ya Nak Ronald, sudah mengantarkan kami, maaf ya jadi merepotkan," kata William begitu turun dari mobil diikuti dengan Tiffa.
"Ya Nak Ronald, makasih ya," tambah Tiffa.
"Sama-sama Paman, Bibi, dan tidak perlu minta maaf, aku tidak merasa direpotkan," jawab Ronald.
"Oh ya El sepertinya tertidur ya, sayang kamu bangunin putri kita," pinta William pada istrinya.
"Ah iya," Tiffa hendak melangkah tapi ditahan oleh Ronald.
"Paman, Bibi biar aku saja yang gendong Al ke kamarnya, apa boleh?" Tanya Ronald meminta izin pada kedua orang tua itu.
Sebelumnya Ronald bahkan tidak pernah minta izin pada siapapun, jika akan menyentuh seorang wanita.
"Apa tidak akan merepotkan Nak Ronald?" Tanya Tiffa merasa tidak enak.
"Tidak sama sekali Bibi, jadi apakah boleh?" Tanya Ronald lagi, karena dia belum mendapatkan ijin.
"Iya Nak Ronald, tolong ya!" Kali ini William yang berucap meminta tolong pada Ronald.
"Bi! Tolong tunjukan kamar El ya!" William memanggil salah satu pelayan dan memintanya menunjukkan jalan pada Ronald ke kamar Liora.
"Baik Tuan," jawab pelayan lalu menunjukkan jalan pada Ronald menuju kamar Nonanya.
"Mari Tuan," ucap pelayan itu mempersilahkan Ronald yang sudah mengangkat tubuh Liora yang tertidur lelap.
Ronald masuk ke dalam rumah besar itu. Hingga pelayan mempersilahkan Ronald masuk ke dalam sebuah kamar.
"Baringkan saja disini Tuan!" Ucap pelayan itu.
Ronald pun membaringkan tubuh Liora di atas ranjangnya.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba, tubuhnya didorong oleh Liora yang terbangun.
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Liora yang langsung terduduk dan menarik selimut menutupi tubuhnya.