
"Ah iya, aku tadi pusing, tapi sekarang sudah sembuh, iya sudah sembuh," jawab Jason gugup.
"Benarkah?" Lily masih saja menatap Jason dengan tatapan menyelidik.
"Baiklah aku jujur, awalnya aku memang pura-pura, tapi setelah kejadian tadi aku beneran pusing," jawab Jason jujur.
Lily menyilangkan tangannya di depan dada. "Tuh akibatnya membohongiku," ucap Lily kesal ternyata Jason tadi cuma berpura-pura.
"Maaf, aku hanya ingin lebih lama bersamamu, makanya aku terpaksa berbohong," Jason menatap gadis di sampingnya yang saat ini sedang cemberut.
"Jika seperti itu, kamu kan bisa bilang, bukannya malah berbohong," walaupun kesal Lily tetap menjawab perkataan Jason.
"Apa jika aku mengatakan yang sebenarnya kamu mau menuruti dan mengabulkan keinginanku?" Tanya Jason penuh harap.
"Hmm, belum tentu juga sih," jawab Lily membuat Jason mendengus kesal.
"Setidaknya kamu bilang, kau tahu aku sebenarnya tadi ketakutan, bahkan tanganku masih gemetar sampai saat ini, lihatlah jika kamu tidak percaya," Lily menunjukkan tangannya yang sampai saat ini gemetar.
"Maaf," hanya kata itu yang bisa Jason ucapkan.
Lily menghembuskan nafas perlahan, "Sudahlah lupakan, aku anggap impas, setidaknya rasa bersalahku karena merusak mobilmu berkurang, karena secara tidak langsung kau sendiri ikut andil merusakkan mobilmu," jawab Lily yang memang merasa sedikit lega.
"Ya sudah jalan sekarang, aku tidak enak jika pulang terlalu malam," tambah Lily kemudian memejamkan matanya.
Jason pun melajukan mobilnya menuruti apa yang Lily katakan.
"Sejak kapan kau tinggal di rumahnya?" Tanya Jason memecah keheningan yang terjadi selama beberapa menit.
"Kemarin malam, sebenarnya aku juga merasa tidak enak, tapi tidak ada pilihan lain," ucap Lily dengan suara taramat pelan.
__ADS_1
"Jika kamu merasa tidak enak, kamu bisa tinggal di rumahku," ujar Jason memberikan saran.
"Tidak, jika seperti itu sama saja Jason, intinya itu hanya pilihan antara kamu dan Kak Al, aku tidak ingin merepotkan kalian berdua, karena kalian berdua sudah sangat baik padaku, jika aku terus memilih antara menerima bantuan darimu atau Kak Al, semua pasti akan menganggapku hanya memanfaatkan kalian saja, kamu tenang saja aku sudah bekerja dan aku akan menabung kemudian aku akan mencari tempat tinggal sendiri," Lily lalu melihat keluar jendela mobil, membuka kaca jendela, dan membiarkan angin menerpa wajahnya.
Jason melirik ke arah Lily, dan hanya bisa menghembuskan nafas pasrah.
"Tapi kamu seorang gadis dan sekarang kamu tinggal di rumah seorang pria Lily, apa tanggapan orang-orang dan bagaimana jika terjadi sesuatu?"
Lily menoleh dan menatap Jason yang kini kembali fokus pada kemudi.
"Bukannya jika tinggal di rumahmu juga sama saja? Kau juga seorang pria bukan? Kenapa kau mengatakan seolah-olah tidak masalah jika aku memilih tinggal di rumahmu?" Tanya Lily kesal mendengar apa yang Jason katakan, Lily bingung dengan maksud Jason.
"Kamu pikir aku tidak mempertimbangkan semuanya sebelum memutuskan untuk tinggal di rumah Kak Al?" Tambah Lily.
"Bukan itu maksudku Lily, kita tidak pernah tahu maksud seseorang, apa yang ada dipikiran mereka? bagaimana jika pria yang bernama Al itu melakukan sesuatu padamu?" Jason mengusap wajahnya kasar karena Lily tidak juga mengerti maksud perkataannya.
"Itu tidak akan terjadi Lily, aku mencintaimu dengan tulu dan aku tidak akan mungkin melakukan sesuatu padamu apalagi sampai merusakmu," Jason semakin kesal karena yang Jason tangkap dari perkataan Lily seakan gadis itu tidak percaya padanya.
Lily menghela nafas kasar. "Bukan aku tidak percaya padamu Jason, tapi seperti yang tadi kamu bilang, kita tidak pernah mengerti apa yang ada di hati dan pikiran orang lain, aku tahu kamu mencintaiku dengan tulus tapi itu tidak menjamin jika kamu tidak akan melakukan sesuatu terhadapku, bagaimana jika suatu saat kamu atau aku khilaf? Apalagi kita hanya berdua di rumah itu, kita tidak akan pernah tahu bukan apa yang terjadi kedepannya. Tapi jika tinggal di rumah Kak Al, disana ada banyak orang, ada beberapa pelayan, dan ada juga Ayah Kak Al, jadi itu yang membuatku tidak merasa khawatir," Lily kembali melihat keluar jendela setelah tadi menatap Jason cukup lama.
Jason diam, kini dia sedang mencerna semua ucapan Lily, dia membenarkan apa yang dipikirkan gadis itu.
"Baiklah jaga dirimu baik-baik," hanya itu yang bisa Jason katakan.
"Hmm tentu," jawab Lily singkat.
Kini keduanya saling diam hingga tidak lama mereka pun sampai di kediaman Alvaro, sesuai dengan petunjuk arah yang Lily berikan.
"Terima kasih," setelah mengatakan itu, Lily pun segera membuka pintu mobil, tapi Jason menahan tangan Lily.
__ADS_1
"Ada apa?"
Tatapan keduanya bertemu, hingga tiba-tiba
Cup
Sesuatu yang kenyal mendarat di bibir gadis cantik itu, ya Jason baru saja mencium Lily.
Lily terpaku, mendapat ciuman tiba-tiba dari Jason. Dan Lily kembali tersadar saat tiba-tiba kaca jendela mobil itu diketuk dari luar.
"Terima kasih," ucap Lily lagi kemudian membuka pintu dan turun dari mobil Jason.
Jantung Lily berdebar kencang saat mendapati jika yang mengetuk pintu mobil itu adalah Ayah Al, dan Lily bertanya-tanya dalam hatinya, takut jika Ayah Al melihat kejadian tadi, dimana Jason dengan tiba-tiba menciumnya, Lily mencoba memberanikan diri menatap pria yang mungkin seumuran dengan Ayahnya itu, "Ayah, maaf aku pulang terlambat tadi aku…"
"Saya yang bertanggung jawab atas keterlambatan Lily dokter Alan," terdengar suara yang sangat Lily kenali memotong ucapannya.
Lily dan Alan pun langsung menoleh ke arah seorang pria yang baru saja turun dari dalam mobil, Lily kira Jason akan langsung menjalankan mobilnya, tapi ternyata laki-laki itu justru sekarang ikut turun bersamanya.
"Kita bicarakan di dalam," Alan berkata dengan datar dan ekspresi wajah yang tidak dapat ditebak. Alan berjalan lebih dulu, meninggalkan Jason dan Lily yang kini saling pandang seakan berbicara lewat tatapan mereka.
"Kenapa kalian masih disana? Cepat masuk!" Perintah Alan saat melihat Lily dan Jason justru masih diam di tempatnya tadi.
Keduanya pun kini hanya pasrah mengekor di belakang Alan, saat mendengar Alan meminta mereka masuk.
Jason terlihat santai dengan situasi ini membuat Lily kesal bukan main, padahal saat ini Lily rasanya tidak bisa bernafas mengingat akan menghadapi situasi yang bahkan dia tidak tahu akan jadi apa akhirnya.
"Ayah apa Lily sudah pulang?" Tanya Al yang melihat Ayahnya masuk ke dalam rumah, tadi Alan bersama Al sedang makan malam, mendengar ada suara mobil masuk ke halaman, Alan pun langsung bangun dan keluar untuk mengecek siapa yang datang ke rumahnya. Hingga saat di depan, Alan melihat mobil itu berhenti tapi orang yang ada di dalam tidak juga keluar, membuat Alan memutuskan untuk menghampirinya dan mengetuk kaca jendela mobil tersebut.
__ADS_1