
Vega mendongak menatap Al tak percaya, bagaimana bisa pria itu, mengatakan soal pernikahan semudah dan setenang itu.
Al pun balas menatap Vega, "Tapi tidak untuk sekarang, saya masih mahasiswa dan setidaknya sampai saya lulus setelah mengambil spesialis dan itu masih sangat lama, itupun jika Anda serta putri Anda bersedia menungguku, dan juga jika memang kami berjodoh."
"Kenapa harus selama itu, sedangkan saat bersama Lily kau bahkan siap menikahinya kapan saja," ucap Vega dengan suara yang teramat pelan, tapi sayangnya Al mendengar apa yang Vega ucapkan.
"Itu terserah Anda dan putri Anda, karena saya tidak memaksa," setelah mengatakan itu Al berlalu meninggalkan Vega yang tampak merenung.
Vega berjalan pelan dan duduk di kursi tunggu. Memikirkan setiap apa yang tadi Al ucapkan.
"Bisakah saya berbicara dengan Anda?" Ucap seseorang mengagetkan Vega.
***
"Ibu ada dimana?" Tanya Liora pada seseorang di seberang telepon.
"Oh, baiklah aku akan segera kesana," setelah mengatakan itu Liora langsung memutus sambungan telepon dan berbalik.
Tapi
Bruk
"Ah maaf, maaf saya tidak sengaja," Liora kemudian mengambil ponsel orang yang tadi ditabraknya dan menyerahkan kepada pemiliknya.
Pria tinggi berkulit putih, dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung.
Pria itu melepaskan kaca matanya dan tersenyum kepada Liora.
"Hai kita bertemu lagi," kata pria itu, dan Liora mengernyit serta menelisik siapa pria di hadapannya ini.
"Jangan bilang kau tidak mengingatku Nona," kata pria itu menatap Liora yang masih memegang ponselnya.
"Maaf Tuan sepertinya Anda salah orang, saya benar-benar tidak mengenal Anda, ini ponsel Anda, dan sepertinya tidak rusak, jadi saya tidak perlu ganti rugi, kalau begitu saya permisi dulu," kata Liora meraih tangan pria itu dan meletakkan ponsel yang tadi diambil di telapak tangan sang pria kemudian menabrak kembali pria itu agar menyingkir dari hadapannya, karena pria itu benar-benar menghalangi jalannya.
"Padahal aku mengira kita berjodoh, karena kita sudah bertemu dua kali," ucap pria itu membuat langkah Liora terhenti.
"Jangankan bertemu dua kali, bahkan bertemu ratusan kali pun belum tentu berjodoh," kata Liora tanpa menoleh.
__ADS_1
Pria itu berbalik badan, dan menghampiri Liora.
"Oh benarkah?" Bisik pria itu di telinga Liora.
Liora terkejut kemudian menolehkan kepalanya menatap pria itu dengan tajam.
Tapi pria itu tidak takut sama sekali.
"Apa kamu sedang curhat Nona?" Pria itu kembali berbisik.
"Apa maksudmu?"
"Jangankan bertemu dua kali, bahkan bertemu ratusan kali pun belum tentu berjodoh."
"Bukankah perkataan itu sudah seperti seseorang yang sedang curhat, memang kenapa? Apa kau berpacaran cukup lama tapi dikhianati? Atau kau menjaga jodoh orang?" Tanya pria itu dengan senyum yang terlihat seperti sedang mengejek bahkan menertawakan Liora.
"Jangan sembarangan bicara Anda!" Liora kembali berjalan melewati pria itu.
Tapi dengan cepat pria itu menahan pergelangan tangan Liora.
"Lepas!" Liora berusaha melepaskan tangan pria itu dari tangannya.
"Aku yakin jika gadis ini hanya jual mahal," ucap Ronald dalam hati.
"Lepas atau saya akan berteriak! Sekarang Anda lihatlah sekeliling, mereka sedang menatap kita, jika saya memberi kode kepada mereka, Anda pasti tahu apa yang akan terjadi kan?" Ancam Liora.
"Wah! Jadi kau mengancamku Nona, apa kau pikir aku akan takut, bukan hanya aku, Anda pun tidak akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika Anda nanti berteriak," jawab pria itu tak kenal takut.
"Dasar gila!" Ketus Liora.
"Dan itu karenamu Nona!"
Liora merasa geram dengan pria yang sok kenal dan sok dekat padanya ini, rasanya Liora ingin memukul wajahnya yang tampan.
"Tuan tolong saya Tuan, pria ini akan menculik saya," ucap Liora pada pria paruh baya yang kebetulan lewat di sana.
Pria paruh baya itu langsung menatap pria yang masih memegang tangan Liora.
__ADS_1
Awalnya pria itu terkejut, karena Liora tidak main-main dengan ancamannya, tapi untungnya Liora hanya mengatakan itu pada seseorang saja, dan pria itu bisa menyelesaikannya.
Pria itu mendekat dan berbisik pada pria paruh baya yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Hingga tiba-tiba terdengar suara yang mengalihkan perhatian mereka semua.
"Eliora!" Panggil seorang wanita yang menghampiri Liora dengan terburu-buru, takut terjadi masalah dengan putrinya itu.
"Ibu!" Liora melihat Dea sedang berjalan ke arahnya.
Mendengar gadis itu menyebut nama Ibu, pria itu langsung mengikuti arah pandang gadis yang tadi di panggil Eliora.
"Oh jadi namanya Eliora," batin pria itu berbicara.
"Ada apa ini?" Tanya Dea begitu sudah di dekat mereka semua.
"Loh Nak Ronald!" Pekik Dea terkejut melihat Ronald ada disana, dan matanya memicing melihat tangan Ronald yang menggandeng tangan Liora.
Ya tangan yang tadi hanya memegang pergelangan tangan Liora entah sejak kapan berubah menjadi menggenggam tangan gadis itu.
"Ah Ibu kami sudah menunggu dari tadi, lihatlah Bu, istriku sampai ngambek seperti ini, dan ingin pulang duluan," Ronald sengaja ucapannya dan kemudian mencium punggung tangan Dea.
"Ini.." kata pria paruh baya tadi menunjuk ke arah Dea.
"Oh, perkenalkan Pak, beliau ini Ibu mertuaku, Ibu dari istriku yang cantik ini, iya kan sayang El?" Ronald mengalihkan pandangannya ke arah Liora.
Liora mendelik mendengar apa yang tadi pria bernama Ronald itu katakan.
"Jadi Bapak ini tidak perlu khawatir, seperti yang sudah tadi saya katakan, istri saya tadi sedang ngambek makanya saya dibilang penculik," ucap Ronald tanpa melihat raut wajah Liora yang kesal dan Dea yang bingung.
"Oh, baiklah kalau begitu saya permisi, lain kali istrinya diperhatikan lagi, biar tidak ngambek-ngambek seperti itu, dan seperti itu baru benar, gandeng terus istrinya jangan sampai nanti kabur," ujar pria paruh baya itu memandangi tangan Ronald dan Liora, sebelum akhirnya pergi.
Liora yang melihat arah pandang pria paruh baya itu, mengikuti dan dengan cepat menghempaskan tangan Ronald yang dengan seenaknya menggenggam tangannya.
Plak
Liora menepuk punggung Ronald cukup kencang, "Apa yang tadi Anda katakan? istri? Istri dari Hongkong? kenal saja tidak, jangan suka bicara sembarangan jadi orang, dan lagi jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, main pegang-pegang, tanpa izin pula" omel Liora pada pria itu.
"Tapi kamu suka kan El?" Ronald menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Darimana Anda tahu namaku? Apa jangan-jangan Anda seorang penguntit?" Liora langsung memundurkan langkahnya waspada menatap Ronald dengan tatapan penuh curiga.
"Stop! Ada yang bisa jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?" Ronald dan Liora menoleh secara bersamaan ke seseorang yang baru saja berbicara.