
Jason yang baru saja keluar dari bandara berlari begitu saja, saat mengaktifkan ponsel dan membuka pesan yang ternyata pesan suara dari kakak iparnya. Jason segera mendengarkan pesan suara itu, dimana di dalam pesan Al mengatakan jika Lily akan melahirkan. Dia terburu-buru keluar mencari taxi yang akan mengantarkannya ke rumah sakit, dimana istrinya berada.
Jason berhasil menyetop taxi, pria itu segera membuka pintu, dan justru menyuruh supir untuk pindah posisi, dan membiarkan dirinya mengambil alih kemudi.
Jason melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, menyalip beberapa kendaraan yang dilewatinya, dalam hati hanya berharap dirinya bisa cepat sampai.
Untung saja jalanannya tidak terlalu padat, hingga Jason tidak perlu membuang-buang waktunya, karena hanya dalam hitungan menit, kini taxi yang Jason kendarai telah terparkir rapi di halaman rumah sakit. Jason segera turun, berlari sepanjang koridor mencari dimana istrinya sekarang. Dari jauh, Jason bisa melihat ayah dan kakak iparnya sedang berada di luar. Jason berlari mendekat, membuat kedua orang yang sedari menunggu Lily menoleh.
"Ayah, Al, bagaimana dengan istriku?" tanya Jason tidak sabar.
"Kamu cepatlah masuk, bayi kalian belum juga keluar."
Jason mengangguk menuruti perintah ayah mertuanya, dibukanya pintu di depannya.
"Saya suaminya," ucap Jason saat melihat dokter dan perawat yang membantu Lily menatapnya.
Dokter mengangguk, Dea menggeser posisinya membiarkan Jason yang menemani Lily. Dan wanita yang tengah berjuang itu tersenyum, segeralah diraihnya tangan Jason dan digenggamnya erat. Tak lama dalam hitungan detik terdengar suara tangis bayi yang menggema di seluruh ruangan.
Oek…oek...oek…
Bayi berjenis perempuan itu akhirnya lahir ke dunia ini. Semua orang mengucap syukur dan akhirnya bisa bernafas lega.
*
*
Lily tersenyum melihat anak keduanya yang kini tertidur di pangkuannya, bahkan wanita itu meneteskan air matanya. Tidak menyangka jika kini dia sudah memiliki dua orang putri yang begitu cantik.
"Kenapa kamu malah menangis?" Jason yang entah dari mana kini duduk di depan istrinya, menyeka air mata yang terus saja turun tanpa henti.
"Aku menangis bukan karena sedih tapi karena aku merasa sangat bahagia."
Jason mengecup kening Lily cukup lama. Dia juga merasa bahagia seperti yang istrinya rasakan. Dipandanginya wajah sang istri dan digenggamnya tangan kanan Lily dengan penuh kelembutan.
"Aku juga bahagia sayang, dan ini semua karena kamu, terima kasih karena sudah menjadi bagian dalam hidupku, memberikan hariku warna, menghadirkan dua putri yang begitu cantik, terima kasih sayang… terima kasih…"
"Hei, kenapa malah jadi kamu yang menangis?" Lily melepaskan genggaman dan menghapus bulir bening yang membasahi pipi Jason.
"Seperti katamu tadi, aku menangis bukan karena bersedih, tapi karena aku merasa sangat bahagia."
"Ehem!"
Deheman seseorang membuat sepasang suami istri itu menoleh.
"Kak Al."
"Apa kakak mengganggu?"
__ADS_1
"Tidak," jawab Lily dan Jason bersamaan.
Al mendekat kemudian mengusap lembut pipi bayi Lily dan Jason, lalu tersenyum apalagi saat tangan mungil itu menggenggam erat jari telunjuknya.
Lily dan Jason saling pandang ikut tersenyum.
"Kakak baru sampai?" Tanya Lily.
Tadi Al berpamitan akan mengantar ayah dan ibunya pulang dulu. Sekalian melihat keadaan Cinta yang tadi dia titipkan pada Bi Nia.
"Hmm iya, tapi katanya ayah nanti kesini lagi, soalnya ibu kan harus jagain Cinta."
"Cinta bagaimana kak?" Lily menyerahkan bayinya yang tidur lelap pada Jason, agar suaminya membaringkan putri mereka di box bayi.
"Cinta tadi nanyain kamu kemana, ya sudah kakak bilang jika adiknya mau keluar, eh Cinta malah nangis minta ikut sama kakak, terus diajak ibu beli es krim baru diam, ya udah selagi Cinta pergi sama ibu, kakak langsung kesini saja."
Lily mengangguk mengerti, jelas saja, putrinya itu mencarinya, karena tadi dirinya pergi, Cinta masih lelap dalam tidurnya.
"Oh ya, kakakmu belum kesini?"
Bukannya menjawab, Lily justru menepuk keningnya.
"Aku lupa belum memberi kabar pada Kak Lia, untung Kak Al mengingatkan." Lily kemudian mencari sesuatu.
"Kamu nyari apa sayang?" Tanya Jason yang sudah kembali ke tempatnya.
Al mengernyit dan menatap adiknya, "Bukankah ponsel kamu di rumah, kamu menjatuhkannya."
"Oh iya," jawab Lily kemudian menatap Jason.
"Ponsel kamu mana sayang?"
Jason merogoh kantong celananya mengambil ponsel miliknya memberikan kepada sang istri.
Lily men scroll layar ponsel milik Jason mencari nomor kakaknya. Lalu dengan segera mendial nomor Lia yang akhirnya dia temukan.
"Halo kak…"
Belum juga menyelesaikan ucapannya, Lily menatap kakaknya yang tiba-tiba merebut ponsel dan langsung menempelkannya di telinga dan berjalan menjauh.
Lily menghela nafasnya, membiarkan Al yang memberitahu Dahlia.
Lily menepuk pinggiran ranjang, meminta suaminya duduk disana. Tangannya terulur menyentuh dagu Jason yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Kenapa? Semakin tampan bukan suami kamu ini?"
"Kata siapa? Bukan tampan, kelihatan tua iya," jawab Lily memalingkan wajah, malu menatap mata suaminya.
__ADS_1
Jason tersenyum, menarik dagu Lily dan mencium bibir istrinya. Bibir yang sudah menjadi candu dan ia rindukan selama beberapa hari ini.
"Ehem! Apa kalian sengaja mau pamer kemesraan di depanku," tegur Al yang sudah ada di dalam ruangan.
Jason mendengus kesal merasa terganggu, sementara Lily menunduk, wajahnya memerah, merasa malu karena kepergok kakaknya, dan untung hanya kakaknya, bagaimana jika ayah dan ibunya atau yang lebih parahnya dokter atau perawat, Lily pasti rasanya akan menenggelamkan dirinya di dasar laut saja.
"Ini!" Al menyerahkan ponsel pada pemiliknya, berjalan ke arah sofa dan duduk disana.
"Bagaimana kak? Kak Lia akan kesini?"
"Hmm," jawab Al lesu.
Lily mengernyit padahal tadi Lily melihat kakaknya itu tampak semangat saat merebut ponsel darinya. Lily dan Jason saling pandang saat Al justru membaringkan tubuhnya di sofa dengan tangan dilipat di atas dahinya.
Lily melirik Al, memberi kode pada suaminya, seolah sedang menanyakan ada apa dengan kakaknya itu.
Jason hanya mengedikan kedua bahunya, tanda bahwa dia juga tidak tahu kenapa Al tiba-tiba seperti itu.
Jason berpindah duduk di kursi, lalu menggenggam tangan istrinya, mengecup berkali-kali.
"Sayang!"
"Hmm."
"Aku kangen sama Cinta, boleh tidak jika Cinta diajak kesini saja, biar nanti sekalian sama ibu dan ayah kesini."
Jason menatap istrinya, tidak tega juga jika tidak mengizinkan.
"Tidak Ale, ini rumah sakit, tubuh Cinta yang masih kecil sangat rentan, imunnya masih lemah."
Lily dan Jason melihat ke arah Al dimana pria itu membuka mata dan merubah posisi menghadap ke arah pasangan suami istri itu.
"Tapi kak…"
"Ayah sudah bertanya pada dokter, besok kamu sudah boleh pulang, sehari saja kamu tahan, nanti kamu bisa sepuasnya main sama Cinta lagi."
Lily menatap suaminya meminta pembelaan tapi Lily harus kecewa karena suaminya itu justru pura-pura sibuk dengan ponsel.
"Sayang!"
"Apa yang kakak kamu katakan benar sayang, ini demi kebaikan Cinta."
Mendengar jawaban suaminya, Lily pun terasa lesu. Wanita itu kemudian membaringkan tubuhnya.
Tak lama, pintu terbuka, semua pandangan ketiga orang itu tertuju ke arah pintu, dan bisa mereka lihat Dahlia tidak datang sendiri, melainkan bersama kekasihnya. Dan kini Lily akhirnya mengerti kenapa kakaknya tiba-tiba hilang semangat.
"Hai," ucap Dahlia membawa sesuatu di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya terlihat bertautan dengan tangan Devan.
__ADS_1
"Sudah di dalam kali, tidak perlu gandengan kaya mau nyebrang aja," celetuk Al membuat pandangan semua orang tertuju padanya yang justru pura-pura cuek.