Please Love Me

Please Love Me
Bab 345


__ADS_3

Jason menatap Lily dengan pandangan kecewa, tidak menyangka jika Lily akan sejujur itu, dan entah kenapa Jason tidak suka mendengar kalimat istrinya, mood nya tiba-tiba anjlok. Jason saat ini bahkan akan keluar dari kamarnya.


"Jangan menatapku seperti itu, sini!" Lily menepuk sisi tempat tidur sampingnya, meminta Jason untuk berbaring di sebelahnya.


"Ayo sini!" Lily mencoba duduk, menarik tangan Jason tidak sabar menunggu suaminya itu.


Lily tersenyum, mengelus rahang Jason dengan lembut.


"Iya aku sedang jatuh cinta sama kamu, lebih tepatnya jatuh cinta untuk kesekian kalinya."


Jason mengangkat kepalanya, menatap sang istri yang tersenyum manis. Pria itu dengan segera membawa Lily ke dalam pelukannya.


"Maaf, aku hanya takut kamu menyukai orang lain."


Lily melepas pelukan begitu saja, "Menyukai orang lain? Kenapa kamu berbicara seperti itu?"


"Aku…"


"Ayo jawab! Kamu meragukan cintaku?" Lily menatap suaminya dengan pandangan menyelidik.


"Waktu itu, aku melihat kamu mengobrol dengan seseorang saat kamu berbelanja. Kamu tampak tertawa sama orang itu, dan yang membuatku takut, dia terlihat masih muda."


"Waktu itu?" Lily mencoba mengingat-ingat.


"Dua bulanan lalu."


"Ya ampun sayang, ya kali kamu marah hanya karena aku mengobrol sama anak sma, dia itu masih sma dan dia juga tahu aku sedang hamil, waktu itu perutku juga sudah membesar kan? aku tertawa juga karena dia memang lucu."


"Tapi kamu mengobrol dengannya cukup lama," ucap Jason yang saat itu menjemput istrinya, tapi saat akan turun, dia mengurungkan niatnya saat melihat dari kaca istrinya sedang asyik mengobrol dengan seorang pria. Jason memutuskan menunggu, cukup lama, hingga akhirnya dia yang tidak sabar memilih menelpon istrinya mengatakan jika dirinya sudah ada di depan. Dan yang lebih parahnya lagi, Jason melihat pria itu berjalan beriringan dengan istrinya, menunggu istrinya sampai masuk mobil dan melambaikan tangannya, sampai bilang senang bertemu denganmu, dada Jason rasanya terbakar menyaksikan semua itu, tapi Jason berusaha menahannya, dia tidak mau karena masalah itu, membuat dia dan istrinya ribut, hingga tadi saat melihat istrinya melamun sambil senyum-senyum sendiri, membuat Jason gelisah, dan celetukan Jason tentang orang yang sedang jatuh cinta langsung ditanggapi istrinya, dan ketakutan tak berdasar itu menyusup ke dalam hatinya, Jason kecewa saat istrinya mengakui bahwa dirinya memang tengah jatuh cinta.


"Dia sempat menolongku, dan kebetulan di kasir kami bertemu lagi, aku mengobrol ya, mengobrol saja, tidak ada maksud lain, masa iya kita melihat orang yang menolong kita, kita hanya diam saja, aku hanya bersikap ramah sayang, dia menanggapi obrolanku, dan nyambung, jadi obrolan mengalir begitu saja. Terus setelah aku selesai membayar, bertepatan dengan kamu yang menelponku, dia berinisiatif mengantarku sampai mobil, katanya memastikan ibu hamil selamat sampai tujuan." Lily kemudian menatap suaminya.


"Terus kenapa kamu tidak turun saja? Jika kamu turun kamu bisa bertemu dan langsung menyapanya," ucap Lily.


"Malas,"


"Kamu cemburu? Pantas saja kamu diam saja sepanjang jalan kita pulang."


"Wajar dong suami cemburu saat melihat istrinya mengobrol dengan pria lain sampai tertawa-tertawa."


"Kamu cemburu sama orang yang salah, cemburu kok sama anak sekolahan yang masih bau kencur. Hmm tapi dia memang tampan sih." Lily kemudian menatap ke depan, dengan pandangan menerawang jauh.


"Tuhkan, kamu mengakuinya sendiri."

__ADS_1


"Hehe bercanda." Lily kemudian merubah posisi duduknya menghadap Jason. Di raih tangan suaminya dibawanya ke atas pangkuan.


"Yang perlu kamu tahu, cintaku itu hanya untuk kamu sayang, tidak ada yang lain, dia memang tampan, itu tidak merubah apapun, karena apa…" Lily membawa salah satu tangan suaminya ke dadanya.


"Karena disini, di setiap debarannya hanya ada namamu, debaran jantung ini begitu kencang hanya saat aku bersamamu."


"Gombal," Jason menarik tangannya mengalihkan wajah yang kini senyum-senyum sendiri mendengar ucapan sang istri.


"Tidak apa-apa, gombal sama suami sendiri, sah-sah saja."


"Sudah ah, aku mau mandi," Lily segera bangkit dari duduknya.


"Bareng aja, biar cepat."


"Ayo!" Tantang Lily, membuat Jason bersemangat segera menyusul sang istri, dan keduanya bersama melangkah menuju kamar mandi.


*


*


Lily tersenyum, melihat putrinya yang kini tengah membuka kado, ditemani oleh Aulia.


Boneka dengan ukuran besar, kini dipeluknya, boneka yang didapat dari Ian. Sore tadi, sopir anak itu datang dan memberikan kado itu pada Cinta. Pria paruh baya itu bilang, jika Ian tidak bisa datang karena sedang pergi bersama ibunya. Cinta tidak bertanya apapun, rupanya sebelumnya Cinta memang sudah tahu, Ian sudah berpamitan padanya.


"Iya nanti kita beli," sahut Jason.


"Kak Cinta, Uli boleh pinjam?"


"Tidak boleh, ini punya kakak."


"Ayah, ibu, kak Cinta nya tidak mau meminjamkannya, ayo kita beli sekarang!" Aulia berjalan mendekati orang tuanya, mengadu bahkan menarik tangan Jason agar mereka pergi sekarang juga membeli apa yang diinginkannya.


"Kak Cinta, biar adek pinjam dulu!" 


"Tidak boleh bu, ini pemberian kak Ian."


"Ibu…" rengek Aulia hampir menangis.


"Toko nya sudah tutup sayang, ini sudah malam, besok lagi ya."


"Ibu bohong, Uli mau sekarang!"


"Ibu tidak bohong sayang, toko nya memang sudah tutup, besok lagi buka nya."

__ADS_1


"Tapi Uli mau sekarang!" 


Uli menghentak-hentakkan kakinya, dia berjalan cepat ke arah kakaknya, menarik boneka yang ada di pelukan Cinta. Jika kakaknya tidak mau meminjamkannya, Uli akan memintanya dengan paksa.


"Lepas Uli ini punya kakak!" 


Terjadilah rebut berebut antara kedua anak Lily itu, membuat ibu yang sebentar lagi punya tiga anak itu, memijat pelipisnya yang berdenyut.


Jason bangun dan menengahi keduanya, memeluk Uli yang kini menangis karena kalah tenaga dari kakaknya.


"Uli mau boneka itu sekarang yah!"


"Besok ya, sudah tutup sayang!"


"Tidak mau," Uli memberontak dalam pelukan ayahnya, dia mau sekarang juga, tidak mau menunggu besok.


Jason menghela nafas panjang, kemudian mengangkat tubuh Uli.


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang!" Jason mengajak putrinya keluar setelah berpamitan lebih dulu pada Lily.


Lily mengangguk, wanita itu kini berjalan mendekati Cinta.


"Kenapa adik tidak boleh meminjamnya? Kan cuma sebentar saja sayang."


"Boneka ini kan dikasih kak Ian bu."


Lily menatap putrinya, memang Cinta punya hak untuk meminjamkannya atau tidak.


"Ya sudah, bereskan ya! Habis itu tidur."


"Iya."


Cinta membereskan kado-kadonya juga kertas-kertas pembungkusnya, Lily hanya diam mengawasi setiap gerak-gerik putri sulungnya itu.


Setelah selesai, Lily mengajak Cinta untuk tidur, karena jam sudah menunjuk hampir pukul sepuluh.


"Ibu tidak marah kan sama Cinta karena Cinta tidak meminjamkannya pada Uli, biasanya Cinta akan meminjamkan semua milik Cinta untuk adik, tapi maaf bu, Cinta tidak bisa yang satu ini. Ini pemberian kak Ian," lirih Cinta.


Lily menatap wajah putrinya, mereka sekarang sedang berbaring bersisian di tempat tidur Cinta.


"Ibu tidak marah, hanya saja lain kali jangan berebut seperti itu ya, ibu tidak mau kalian bertengkar, Cinta harus memberi pengertian baik-baik sama Uli."


Benar apa yang dikatakan Cinta, selama ini, Cinta meminjamkan semua miliknya pada Uli, dan kali ini dia tidak melakukannya karena mungkin barang pemberian itu berharga untuknya, dan Lily tidak bisa menyalahkan Cinta.

__ADS_1


__ADS_2