Please Love Me

Please Love Me
Bab 215


__ADS_3

Liora turun dan berjalan perlahan melangkahkan kakinya masuk. Hingga Liora melihat salah satu mobil yang terasa tidak asing. Liora terus berjalan dan begitu sampai di pintu, Liora mendengar suara beberapa orang, dan Liora pun memutuskan langsung masuk karena pintu rumah memang sudah terbuka lebar.


"Liora kamu sudah pulang?" Bunga bangun dan berjalan menghampiri Liora, menggamit tangan gadis itu untuk ikut bergabung dengan keluarganya.


"Kamu?" Ucap seorang pria paruh baya terkejut saat melihat Liora.


"Paman, Anda?" Liora segera menepuk pelan keningnya, jelas saja Mike ada disana karena jika Ronald adalah sepupu kakak iparnya, Mike pasti adalah saudara orang tua Bunga.


"Paman sudah pernah bertemu Liora?" Tanya Bunga begitu melihat keterkejutan di wajah pamannya.


"Dia wanita baru Ronald," jawab Mike menunjuk Liora.


"Tunggu Paman, Paman sepertinya salah paham," kata Liora mencoba menjelaskan apalagi saat melihat tatapan tajam kakaknya yang sedari tadi hanya diam saja dengan Ken di pangkuannya.


"Salah paham? Kalian bahkan sudah beberapa kali tinggal berdua? Seorang wanita dan pria tinggal di satu tempat yang sama, coba pikirkan apa tanggapan orang lain?"


"Tapi Paman, itu semua tidak seperti apa yang Paman fikirkan, aku dan Ronald…"


Dengan cepat Mike memotong ucapan Liora.


"Oke katakan Paman percaya padamu, tapi Nak, kau tidak tahu seperti apa Ronald, bagaimana jika dia sampai berbuat sesuatu padamu? Bagaimana jika dia…"


"Itu tidak mungkin Paman, berapa kali aku bersama dengan Ronald, dia tidak pernah melakukan hal-hal yang seperti apa yang Paman pikirkan, dia pria baik-baik, aku yakin itu," potong Liora.


"Jika Ronald seperti itu Paman akan merasa lega, tapi bagaimana…"


"Apa Paman sebegitu tidak percayanya sama anak Paman sendiri? Harusnya Paman tidak selalu menilai buruk Ronald, harusnya Paman tahu dan mengenal Ronald lebih baik dari siapapun."

__ADS_1


"Justru itu Nak, Paman katakan padamu seperti itu karena Paman sangat mengenalnya, semenjak ditinggalkan Ibunya, Ronald berubah, dia menganggap semua wanita sama saja seperti ibunya, hingga dia berniat mempermainkan semua wanita. Dan Paman tidak mau kamu juga seperti wanita-wanita itu. Jadi Paman minta, kamu pikirkan baik-baik jika ingin bersama dengan Ronald."


Liora menatap Bunga dan Max, menggelengkan kepala tidak membenarkan apa yang Mike ucapkan.


Bunga hanya menghela nafas, sementara Max seperti sedang berpikir, apa keputusannya kemarin untuk memberi kesempatan pada Ronald benar atau tidak. Sementara bahkan Ayah Ronald sendiri mengatakan tentang putranya seperti itu, hingga membuat Max akhirnya meragukan keputusannya kemarin.


"Ada apa ini?" Tanya Jessy, Ibu Bunga yang baru saja datang membawa nampan berisi minuman.


"Tidak apa-apa Mom, oh ya Mom bisa tolong pindahkan Ken ke boxnya?" Jawab Bunga yang tidak ingin mommy nya tahu apa yang sedang mereka bicarakan, Bunga tidak ingin, Liora terpojok, jika sampai mommynya juga ikut membicarakan tentang Ronald.


"Benar tidak apa-apa? Kenapa yang Mommy lihat situasinya sangat menegangkan?" Jessy menatap penuh selidik mereka satu persatu.


"Tidak apa-apa Mom, sungguh," jawab Bunga dan Jessy pun mengangguk dan mengambil alih Ken dari pangkuan Max.


"Kalau begitu, aku juga pamit ke kamar dulu," kata Liora minta izin untuk meninggalkan tempat.


Mike dan Bunga hanya mengangguk membiarkan dua bersaudara itu berbicara dari hati ke hati.


Sementara Liora yang sudah berada di kamar, langsung mengambil ponsel dan kembali mengeceknya, kosong, Ronald sama sekali tidak mengirimkan dirinya pesan, bahkan pesan terakhir yang Liora kirimkan sama sekali tidak ditanggapi pria itu, bahkan nomor pria itu juga sudah tidak aktif lagi, saat dia mencoba untuk menghubunginya.


"Apa yang semua orang katakan benar? Apa kau seburuk itu? Lantas kenapa? Kenapa kau baik padaku? Kenapa jika kau bersamaku, kau tidak seperti yang mereka katakan? Atau kau memang ingin mempermainkanku? Dan sekarang kau sudah tidak menginginkanku hingga akhirnya  kau mengabaikanku?" Berbagai pertanyaan tiba-tiba muncul di benak Liora membuatnya mengacak rambutnya frustasi.


"Liora ini Kakak! Apa Kakak boleh masuk?" kata Max mengetuk pintu kamar Liora.


Tidak kunjung mendapat jawaban dari Liora, Max pun memutuskan untuk membukanya dan untung saja pintu tidak dikunci, hingga Max bisa langsung masuk.


Max melihat Liora sedang duduk di atas ranjang bersandar sambil melipat kedua kakinya.

__ADS_1


Max mendekat dan duduk di samping adiknya itu.


"Apa kamu benar-benar menyukainya?"


Liora menoleh dan menatap Max.


"Aku tidak tahu Kak."


"Liora kamu dengarkan apa yang tadi Paman Mike katakan, beliau bukan bermaksud menjelek-jelekan anaknya sendiri, tapi beliau tidak ingin kamu terluka. Kakak mengatakan seperti juga punya pemikiran yang sama. Kamu tau kamu sudah pernah menyukai seseorang, tapi kamu belum pernah bagaimana menjalin hubungan dengan seseorang, kamu belum tahu bagaimana mengenal mereka sebenarnya, Kakak hanya takut kamu dipermainkan, Kakak takut kamu tidak bahagia nantinya setelah kamu tahu sendiri bagaimana Ronald sesungguhnya. Liora dengarkan Kakak," Max kemudian meraih tangan Liora dan menggenggamnya.


"Kakak tahu perasaan tidak bisa dipaksa, tapi tidak ada salahnya jika kamu mencoba memberikan Jack kesempatan, yang Kakak lihat dia begitu tulus mencintaimu, lebih baik menjalin dengan sesuatu yang pasti daripada menunggu yang tidak ada kepastian sama sekali, karena nantinya kamu hanya akan kecewa."


"Tapi Kak…"


"Sekarang Kakak tanya lagi sama kamu, apa Ronald pernah menyatakan perasaannya padamu?"


Liora terdiam, ya dia tidak bisa berbohong, Ronald tidak pernah sekalipun menyatakan perasaannya dan Liora tahu itu dengan jelas.


Liora menunduk dan menggeleng.


"Lihatkan? Bagaimana jika itu hanya cinta sepihak saja? Bagaimana jika hanya kamu yang merasakan perasaan itu, tapi tidak dengannya."


Lagi-lagi Liora terdiam, mencerna setiap kata demi kata yang kakaknya sampaikan, Liora mencoba  memikirkan semuanya dari awal bertemu dengan Ronald, Liora yang selalu kesal dengannya, hingga tiba-tiba, Liora ingin selalu bersamanya dan saat pria itu pergi, Liora tidak tahu kenapa, dia seperti orang bo*doh yang berlari ke arahnya. Sejak kapan perasaan itu muncul? Liora pun tidak bisa menjawabnya, karena tiba-tiba saja perasaan seperti itu muncul dan terus tumbuh di hatinya. Terus siapa yang harus disalahkan jika Liora mencintai pria seperti  Ronald yang suka mempermainkan wanita? Liora juga tidak mau itu.


Liora mengangkat wajahnya dan menatap sang kakak. "Baiklah Kak, aku akan mencoba melupakannya dan menghapus perasaan ini, tapi aku butuh waktu, karena menghapus perasaan yang sudah tumbuh di dalam hati tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Max menatap adiknya dan tersenyum kemudian menariknya ke dalam pelukan.

__ADS_1


"Tapi apakah bisa? Entahlah"


__ADS_2