
"Sayang dengarkan aku dulu!" Teriak Jason namun sama sekali tidak mendapat sahutan dari istrinya.
Kembali Jason mengusap wajahnya kasar saat kini sang istri masuk ke dalam kamar dan bahkan menguncinya.
"Sayang buka dulu pintunya!" Jason terus mengetuk pintu tapi Lily tidak juga menjawabnya.
"Sayang!"
"Kak!"
Jason menoleh dan menatap Dahlia yang kini berdiri di belakangnya sambil menggendong Aulia yang menangis. Sepertinya putrinya itu terkejut saat mendengar dirinya berteriak tadi.
Jason mengambil alih Aulia dari gendongan Dahlia, lalu meninggalkan kakak dari istrinya itu.
"Kak maaf, aku akan bantu jelaskan ke Lily nanti," kata Dahlia yang mengekori Jason turun.
Jason sama sekali tidak menggubris ucapan gadis itu, pikirannya kacau, entahlah dirinya tidak tahu harus kesal pada siapa, tapi jujur tadi dirinya mengira jika Dahlia adalah Lily. Postur tubuh mereka dari belakang terlihat sama.
Jason semakin mempercepat langkahnya karena merasa jika Dahlia malah terus mengikutinya. Hingga sampai di lantai satu, Jason berhenti dan berbalik membuat Dahlia hampir saja menabrak Jason, jika Jason tidak segera menghindar.
Dahlia menunduk saat mendapat tatapan tajam dari Jason. Biasanya pria itu memang berwajah datar tapi tatapan matanya sekarang, seperti laser yang bisa menghunus ke dadanya, terlihat jika Jason sangat marah.
"Untuk apa kamu mengikuti saya? Tidak cukup dengan membuat istriku marah?"
Dahlia mendongak dan menatap Jason dengan tatapan yang sulit diartikan. Hingga akhirnya gadis itu pun memberanikan menjawab.
"Saya mau kembali bekerja," katanya lalu pergi begitu saja, karena jika tidak dirinya takut terlambat.
Jason menghela nafasnya, kemudian menatap putrinya yang masih sesekali sesenggukan, tangisnya berhenti saat tadi pindah ke gendongannya.
"Maafkan ayah ya sayang, kamu pasti terkejut tadi," Jason mengusap sisa air mata di wajah putrinya.
"Ayah sama ibu bertengkar?"
"Tidak kok,"
"Terus kenapa ayah teriak-teriak?"
"Biar ibu dengar, tadi ibu menutup telinganya seperti ini." Kata Jason menutup telinga putrinya dengan satu tangannya memberi contoh.
"Ayah! Ayah sudah pulang?" Cinta putri pertama Jason itu berlari menghampirinya.
"Iya baru saja, Cinta lagi ngapain?"
"Hmm itu… nunggu ibu, katanya mau ngambil kertas kado, tapi kok ibu lama ya?"
"Kak Cinta mau ngasih kado ke Uli?"
__ADS_1
"Iya."
"Mana kadonya?" Aulia segera meminta turun, saat mendengar jika kakaknya akan memberikan kado.
Jason pun menurunkannya kemudian mengikuti kedua putrinya.
"Wah! Terima kasih kak Cinta, Uli suka," kata Uli senang sambil memeluk hadiah pemberian kakaknya itu.
Cinta tersenyum melihat adiknya itu senang dengan hadiahnya.
"Ayah kenapa tidak bilang?" Teriak Cinta tiba-tiba kepada ayahnya membuat pria itu hanya mengernyit dahi bingung.
Cinta bahkan menarik kembali hadiah pemberiannya.
"Kak Cinta kok diambil lagi? Kak Cinta kan sudah memberikan ini untuk Uli," Aulia merebut kembali pemberian kakaknya tadi.
Dan terjadilah rebut merebut, membuat Jason kewalahan karena salah satu diantara mereka tidak mau saling mengalah.
Kepala Jason berdenyut kala Cinta menariknya sekuat tenaga, tapi Uli justru melepaskannya membuat putrinya itu terjengkang ke belakang dan menangis kencang.
Cinta yang kesal melempar hadiah darinya dan tidak sengaja tepat mendarat di wajah Uli, membuat Uli juga ikut menangis.
"Sayang, diamlah, hei jangan menangis!"
Jason menenangkan Aulia, tapi bukannya berhenti gadis kecil itu, justru semakin kencang menangisnya.
"Kamu yang nakal, iya kan ayah!" Cinta tidak mau kalah.
Jason semakin pusing saja.
"Hei tidak boleh seperti itu, kak Cinta, adik tidak sengaja, dan adik kak Cinta juga tidak sengaja, berhenti menangis dan saling minta maaf. Kak Cinta, ayo minta maaf sama adik, adik juga minta maaf sama kak Cinta, tidak baik loh ribut seperti ini!" Nasihat Jason sambil membantu Cinta bangun.
Lalu merengkuh keduanya, membujuknya agar saling meminta maaf.
"Tidak mau," jawab keduanya dan kembali menangis.
"Sayang ayolah! Jangan menangis, ayah pusing Nak," ucap Jason yang rasanya juga ingin menangis, kini dia tahu alasan istrinya kenapa tidak bisa meninggalkan Cinta dan Aulia. Jason saja sampai kewalahan dibuatnya, apalagi jika itu mertuanya.
"Kenapa ini?"
Jason tersenyum saat melihat istrinya tiba-tiba sudah ada di hadapannya dan mengelus rambut kedua putri mereka.
Cinta menceritakan apa yang terjadi, Aulia pun melakukan hal yang sama, versinya tidak mau kalah.
"Sekarang jawab pertanyaan ibu, Aulia sengaja melepas bonekanya saat kak Cinta menariknya?"
Aulia menggeleng, "Tangan Uli tadi licin."
__ADS_1
"Kak Cinta menariknya kuat ya?"
Cinta pun mengangguk.
"Berarti adek tidak sengaja, lagian tenang Kak Cinta sama adik kan lebih besar adik, kak Cinta tidak perlu menariknya kuat-kuat, jadinya kak Cinta sendiri kan yang jatuh."
Cinta hanya menunduk sambil meremas ujung bajunya, Lily tersenyum dan mengecup puncak kepala putrinya itu.
"Lalu tadi Kak Cinta melempar boneka itu dan mengenai adek?"
Cinta mengangguk, "Tapi kak Cinta tidak sengaja, Kak Cinta hanya asal melempar Bu."
"Beneran?"
Cinta mengangguk mantap, Lily juga yakin jika keduanya sama-sama tidak sengaja, walaupun mereka terbilang sering ribut, tapi mereka saling sayang dan tidak mungkin sampai sengaja melukai satu sama lain.
"Tapi walaupun kakak dan adik tidak sengaja, kakak terluka, adik juga terluka, jadi apa yang harus kakak dan adik lakukan?"
"Minta maaf," ucap keduanya bersamaan.
Takjub, begitulah Jason memandang istrinya saat ini, dirinya bahkan tidak bisa menenangkan kedua putrinya tadi, tapi istrinya? Jason tersenyum dan mengecup puncak kepala kedua putrinya setelah keduanya saling meminta maaf. Dan kemudian kecupan itu berpindah di bibir istrinya, saat melihat kedua putrinya kini saling berpelukan.
Lily mendorong dada Jason, membuat Jason kecewa, istrinya pasti masih marah dengannya.
"Sayang aku bisa jelaskan," ucap Jason lirih, tapi masih bisa didengar oleh Lily.
"Oh ya, kenapa Kak Cinta sudah memberikan bonekanya kepada adik? Kan belum dibungkus?" Tanya Lily kepada putrinya, mengalihkan.
"Kak Cinta lupa bu, makanya tadi Kak Cinta meminta kembali dari adek, mau dibungkus dulu, tapi adek malah merebutnya lagi dari kak Cinta."
"Maaf kak adek tidak tahu, ya sudah ibu bantu kak Cinta bungkus kado, adik pura-pura tidak tahu deh kado kak Cinta apa," putus putri kedua Lily itu.
"Memangnya bisa bu seperti itu?" Tanya Cinta kepada ibunya.
"Hmm bisa kok, kan adek bilang tadi mau pura-pura tidak tahu."
"Ya sudah, ayo ibu bantu Cinta! Mana kertas kadonya?"
Lily kemudian menunjuk kertas kado yang tadi dia letakkan di sebelahnya.
"Ya sudah, ayo adek bantu ayah! Kita pasang balon biar tambah cantik nanti," kata Jason mengajak Aulia pergi dari sana.
"Ada balon ayah?"
"Ada dong," jawab Jason tersenyum lalu mengangkat tubuh Aulia yang kini sudah mengulurkan kedua tangannya minta digendong.
Jason berlalu pergi, tapi sebelumnya pria itu, melirik sang istri yang tampak fokus membantu Cinta membungkus kado, sama sekali tidak mau melihatnya, membuat Jason begitu sedih.
__ADS_1