
Ronald buru-buru turun dari mobilnya dan menghampiri orang yang hampir saja ditabraknya.
"Maaf," ucap Ronald.
Wanita itu hendak marah tapi urung saat melihat siapa pria yang kini berdiri di hadapannya.
"Ronald? Benarkan kau Ronald? Ronald aku tidak menyangka kita bisa bertemu disini?" Ucap wanita itu senang.
Ronald hanya mengernyitkan dahi bingung, karena dia sama sekali tidak mengenal wanita itu.
"Ronald ini aku Sinta," ucap wanita itu.
"Aku salah satu wanitamu, apa kau tidak mengingatku?"
Ronald menggeleng, dia benar-benar tidak ingat wanita yang pernah masuk ke dalam kamarnya.
"Apa kamu ada urusan?" Tanya Ronald pada wanita itu.
"Hmmm tidak," jawab wanita itu tersenyum.
"Masuklah!" Perintah Ronald pada wanita yang bernama Sinta untuk masuk ke dalam mobilnya.
Setelah itu, Ronald pun menyusul masuk dan membawanya ke suatu tempat.
*
*
"Ibu, ibu tidak apa-apa?" Dahlia dengan cepat menangkap ibunya yang hampir jatuh.
Vega tersenyum," Ibu tidak apa-apa," jawabnya yakin.
__ADS_1
"Tapi Bu, wajah Ibu pucat, sebaiknya Ibu istirahat," kata Dahlia yang kini membantu ibunya untuk duduk di sofa.
Dahlia sangat khawatir dengan keadaan ibunya yang semakin parah, dia harus mengatakannya pada Lily, bagaimanapun Lily harus tahu, dia tidak mau sampai adiknya terlambat tahu keadaan ibunya sebenarnya, ya walaupun ibunya sangat keras melarangnya mengatakan pada Lily, karena takut Lily banyak pikiran dan akhirnya berpengaruh pada kandungannya.
"Lia!"
"Iya Bu,"
"Kamu tolong belikan ibu sesuatu ya," ucap Vega yang kini menatap putrinya yang justru terdiam.
Vega tahu Dahlia sangat mengkhawatirkan keadaannya, tapi daripada dia menghabiskan waktu di rumah sakit karena sakitnya, lebih baik jika Vega menghabiskan waktu dengan anak-anaknya, karena itu lebih berarti dari apapun, pikir wanita itu.
"Ibu ingin membuatkan baju untuk cucu Ibu, kamu belikan apa yang ibu perlukan ya, Ibu dulu tidak menyayanginya, dan ibu ingin menebusnya, memberikan apa yang tidak Lily dapatkan untuk anaknya," beritahu Vega dengan pikiran menerawang jauh, mengingat dulu dia yang tidak pernah memberikan apapun untuk Lily. Lily hanya memakai apa yang sudah Dahlia pakai, dan Vega sangat-sangat menyesali itu.
"Baiklah, tapi ibu janji tidak boleh capek-capek," Dahlia menggenggam tangan Vega.
Vega hanya mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah, Lia pergi sekarang," ucapnya kemudian bersiap pergi untuk membeli apa yang ibunya tadi minta.
Vega terjatuh, untungnya pecahan gelas itu tidak mengenainya.
"Ibu!" Teriak Lily, dia langsung buru-buru menghampiri ibunya.
"Ibu, Ibu tidak apa-apa?" Tanya Lily padahal melihat saja dia sudah tahu bahwa ibunya sedang tidak baik-baik saja.
"Ibu baik-baik saja," jawab Vega tersenyum, meyakinkan bahwa dia memang dalam keadaan baik-baik saja.
Lily membantu Vega bangun, dan melangkah dengan hati-hati.
"Ibu akan membersihkannya."
__ADS_1
"Tidak Ibu, Lily nanti yang akan membersihkannya," cegah Lily.
"Tapi…"
"Ibu, wajah ibu sangat pucat, ayo Lily antar ibu ke dokter," ucap Lily yang khawatir dengan kondisi ibunya.
"Tidak apa-apa, istirahat sebentar ibu pasti membaik, oh ya kamu kesini sama siapa?'' Tanya Vega yang tidak melihat Jason bersama Lily, karena biasanya pria itu akan setia menemani kemanapun istrinya pergi.
"Tadi, Lily sama Jason tapi Jason langsung pergi, katanya ada pertemuan penting," jawab Lily yang kemudian membersihkan pecahan gelas tadi.
Diam-diam, Lily mengamati ibunya, Lily yakin jika ada yang disembunyikan kakak dan ibunya, mengingat kepulangan mereka, ibunya semakin kurus dan tampak jelas tidak sehat, ya walaupun baik kakak maupun ibunya mengatakan baik-baik saja tapi Lily tidak yakin itu. Ingatkan Lily untuk mencari tahu soal itu nanti.
Lily dan Jason yang awalnya ingin tinggal disitu tidak jadi, ayahnya tidak mengizinkannya, bukan Alan egois tapi dia merasa waktu bersama putrinya tidak pernah cukup, selama ini mereka hidup terpisah, dan Alan tidak menginginkan hal seperti itu terjadi lagi. Dan Alan pikir waktu Vega sudah cukup untuk Lily. Lily yang tidak bisa menolak keinginan ayahnya pun hanya bisa menyetujui, karena saat Vega tahu hal itu pun, wanita itu tampak setuju dengan perkataan Alan, dan Vega bilang yang penting mereka bisa terus bertemu, Lily bisa datang kapanpun ke rumah lamanya. Dan Alan pun, mengizinkan Vega menemui Lily kapanpun.
Setelah membersihkan pecahan gelas tadi, dan mengembalikan peralatan ke tempat semula, Lily pun berjalan menghampiri Vega dan kembali duduk di samping wanita yang sudah membesarkannya itu. Diraihlah tangan Vega dan dia genggam erat. Mata Lily menatap ibunya tepat di manik matanya.
"Ibu, bagaimana jika Ibu ikut tinggal di rumah ayah, Kak Lia juga minggu depan akan pergi lagi, Lily tidak tenang jika meninggalkan Ibu sendiri disini," kata Lily membujuk ibunya.
Sebelum datang ke rumah ibunya itu, Lily sudah lebih dulu membicarakan hal ini pada ayah dan Ibu Dea, kakak serta suaminya tentang ibunya yang ingin dia ajak untuk tinggal bersama.
Dan Alan juga Dea setuju dengan permintaan putri mereka, dan kini Lily mencoba membujuk Vega, kurang yakin jika wanita itu akan langsung menyetujuinya. Dahlia juga awalnya tidak akan pergi lagi, tapi Vega membujuknya bahwa kesempatan baik tidak datang dua kali dan Dahlia tidak boleh menyia-nyiakan itu. Akhirnya Dahlia pun pasrah dan hanya menuruti ucapan ibunya itu.
"Sayang, Ibu tidak bisa, Ibu tidak enak, lagian Ibu juga tidak mau merepotkan kamu dan keluargamu, dan lagi yang perlu kamu tahu ibu bisa sendiri disini, kan kamu juga mengunjungi ibu setiap hari, jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.
"Tapi Bu, kondisi Ibu…"
"Ibu janji Ibu akan jaga diri Ibu baik-baik, lagian Ibu ingin melihat cucu Ibu, jadi kamu percaya sama Ibu bahwa ibu akan baik-baik saja hingga saat itu, Ibu janji, jadi kamu jangan khawatir, yang harus kamu lakukan hanya menjaga cucu Ibu, mengerti?"
Lily mengangguk dan langsung memeluk Vega, kali ini durinya memang gagal membujuk sang Ibu agar tinggal bersamanya, tapi Lily tidak akan menyerah semudah itu, dia akan kembali membujuk ibunya lagi dan lagi, hingga nanti ibunya akan menyetujuinya. Jikapun tidak setuju, Lily akan memaksa ibunya, karena dia khawatir dan tidak bisa membiarkan ibunya yang sedang dalam kondisi tidak sehat harus tinggal sendiri.
Ponsel Lily berdering, Dahlia menghubunginya. Lily pun langsung menjawab panggilan itu. Begitu terhubung, Dahlia langsung memperingatkan Lily agar ibunya tidak tahu bahwa Dahlia lah yang menghubunginya, dan Lily pun mengangguk mengerti, karena merasa yakin jika ada yang ingin kakaknya katakan tanpa sepengetahuan ibu mereka.
__ADS_1
Dan benar saja, dalam telepon, Dahlia mengatakan bahwa ada yang ingin dia beritahu dan mengajak Lily untuk bertemu, setelah mengatakan itu, kakaknya sudah lebih dulu memutuskan panggilan mereka.
Lily kemudian menatap Vega yang kini juga menatapnya dengan kernyitan di dahinya, tatapannya seolah mengisyaratkan bertanya siapa orang yang baru saja menghubunginya.