Please Love Me

Please Love Me
Bab 183


__ADS_3

"Maaf Tuan Stevano atas keterlambatan saya," pria itu menunduk memberi hormat kepada  Stevano kemudian kepada Liora.


"Duduklah!" 


"Tapi Kak…"


"Diam Liora!"


Liora menatap tajam pria yang kini sudah duduk tepat di hadapannya.


"Ini berkas kerjasama nya Tuan," ucap Ronald kemudian menyerahkan berkas yang sedari tadi di pegangnya. Ya pria yang menjadi pemegang perusahaan sementara adalah Ronald keponakan Tuan Gomes sendiri.


Stevano pun menerima dan membacanya, "Baiklah, semoga kerjasama kita lancar," Stevano menjabat tangan Ronald dan Ronald pun balas menjabat tangan Stevano.


Dan saat Ronald mengulurkan tangannya pada Liora, Liora justru hanya menatapnya, tidak mau membalas uluran tangan Ronald.


"Baiklah Tuan, Nona kalau begitu saya permisi dulu, terima kasih atas kerjasamanya." Setelah mengatakan itu, Ronald pun segera meninggalkan tempat.


"Apa-apaan dia? Setelah kemarin sengaja mengerjai aku, kemudian malamnya datang ke rumah, dia sekarang justru bersikap seperti itu? Lihatlah Kak, bukankah dia keterlaluan?" Kata Liora yang kemudian menoleh ke arah kakaknya yang tadi duduk di sampingnya.


"Kak…"


"Kemana Kak Vano? Jadi dari tadi aku bicara sama siapa? Aku bicara sendiri, pantas saja…" Liora tersenyum kepada semua orang yang kini menatapnya.


"Kak Vano, ini semua gara-gara kamu!" Teriak Liora dalam hati mengepalkan tangannya dan segera pergi dari tempat itu.


"Hachi!"


Sementara itu, di mobil Stevano terus saja bersin, "Sepertinya ada yang sedang mengumpatku," gumamnya kemudian menyuruh supirnya untuk menjalankan mobilnya menuju ke perusahaan milik papinya.


Liora berjalan menuju ke basement, dimana tadi sang kakak memarkirkan mobilnya.


"Dimana mobil Kak Vano? Kenapa tidak ada? Bukankah tadi ada disini?" Ucap Liora yang kebingungan karena mobil kakaknya sudah tidak ada di tempat.


"Jangan bilang kalau Kak Vano meninggalkanku," kata Liora yang langsung berjongkok, hari ini benar-benar menguras kesabarannya dan rasanya Liora ingin sekali menangis. Tapi diurungkannya, saat dia justru mendengar ribut-ribut yang Liora kira adalah pertengkaran sepasang kekasih.


"Tunggu! Kenapa aku seperti mengenal suaranya?" Gumamnya kemudian berdiri dan mencari-cari dari mana asal pertengkaran itu.


*


*


*

__ADS_1


"Lepas! Aku sama sekali tidak mengenal Anda!" Ronald segera menepis tangan seorang wanita paruh baya yang ternyata dari tadi menunggunya.


"Nak! Ini Mom, tolong Nak, Mom hanya ingin bicara."


"Lepas!" Ronald menghempas tangan wanita yang momnya dengan kasar hingga wanita itu terjatuh.


"Apa yang kau lakukan?" Liora refleks langsung mendorong pria yang sudah berbuat kasar pada seorang wanita yang bisa dikatakan lebih tua dari pria itu.


"Bu ayo bangun Bu!" Kata Liora membantu wanita itu untuk bangun. Liora kemudian menoleh untuk melihat bagaimana rupa pria kasar itu.


"Kau!" Kata Liora yang lagi-lagi dibuat terkejut oleh satu pria yang sama, siapa lagi jika bukan Ronald.


"Tidak perlu ikut campur!" Ucap Ronald datar.


"Apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh berbuat seperti ini kepada seorang wanita!" 


"Oh ya, bagaimana kalau dia pantas mendapatkan itu? Sudahlah, kau tidak akan mengerti," Ronald kemudian berlalu.


"Nak!"


"Maaf Bu, biar aku yang mengejarnya," kata Liora melepaskan tangannya dari wanita yang ditolongnya kemudian berlari menyusul Ronald.


Liora segera masuk ke dalam mobil ketika Ronald juga masuk ke dalamnya.


"Aku tidak mau," jawab Liora menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Ronald memandang Liora sekilas, "Baiklah jika itu maumu!" Ucapnya kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Ronald apa yang kau lakukan?" Teriak Liora yang sudah berpegangan erat.


"Ronald cepat hentikan! Ronald ku mohon, aku takut!" Tubuh Liora bergetar, bahkan keringat dingin sudah membasahi hampir seluruh wajahnya.


"Ronald ku mohon hentikan!" Teriak Liora yang bahkan sudah menangis.


Ronald langsung menepikan mobilnya dan dibuat panik saat melihat gadis di sampingnya sudah bercucuran penuh air mata.


"Kau kenapa? Kenapa menangis seperti itu, ucap Ronald melepas seatbelt dan merubah posisi duduknya menghadap Liora.


Liora memukul-mukul dada Ronald, "Kau tahu aku takut sekali, bagaimana kalau terjadi apa-apa denganku? Aku juga bahkan belum menikah," gadis itu terus melampiaskannya pada Ronald.


Ronald menautkan kedua alisnya, menangkap tangan Liora yang sedari tadi terus memukulnya.


"Apa maksudmu?" Tanya Ronald yang tidak terlalu mengerti pada apa yang Liora katakan, kenapa gadis itu tiba-tiba membahas soal pernikahan.

__ADS_1


Liora menatap Ronald tajam, "Apa perlu aku jelaskan? Kau tadi membawa mobil dengan kecepatan tinggi seperti itu, aku belum menikah dan bagaimana jika tadi kita mengalami kecela…"


Ucapan Liora terputus saat tiba-tiba benda kenyal membungkam mulutnya.


Tubuh Liora menegang, bahkan Liora meremas celana yang dipakai dengan kedua tangannya, matanya membelalak. Benar-benar terkejut dan tidak menyangka, Ronald akan melakukan itu padanya.


"Jangan pernah berkata seperti itu lagi, kamu tenang saja kamu pasti akan mengalami dan tahu bagaimana rasanya menikah," ucap Ronald kemudian melajukan mobilnya.


Sementara itu, Liora terdiam sambil memegang dadanya yang masih berdebar sangat kencang. 


*


*


*


Jason tersenyum melihat istrinya yang kini tertidur pulas di sampingnya, seharian ini mereka sudah menghabiskan waktu berjalan-jalan ke berbagai tempat dan Jason begitu senang karena melihat senyuman yang terukir di bibir sang istri di sepanjang jalan-jalan mereka, hal sederhana tapi bisa membuat keduanya bahagia.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, karena ini permintaan ibu dan kakakmu sendiri," ucap Jason dalam hati sambil mengelus lembut rambut istrinya yang kini sudah mulai memanjang.


Jason teringat saat dirinya mengantarkan Tuan dan Nyonya besarnya untuk ke rumah sakit, dan saat itu tanpa sengaja Jason melihat Dahlia keluar dari rumah sakit, tapi bukan itu yang menjadi fokus Jason, Dahlia keluar dalam keadaan menangis. Jason turun dan mengikuti kemana gadis yang bisa dianggap kakak iparnya itu pergi. 


Di taman rumah sakit, disitulah Jason menemukan Kakak Iparnya. Jason mendekat dan duduk di sampingnya mengulurkan tisu.


Dahlia menoleh dan tampak jelas jika dirinya begitu terkejut melihat Jason ada disana.


"Kenapa Tuan bisa ada di sini?" Tanya Dahlia pada akhirnya.


"Panggil Jason saja! Ada apa?" Tanya Jason dengan wajah datarnya.


"Tidak terjadi apa-apa," jawab Dahlia berusaha untuk tersenyum.


"Katakan atau aku akan mencari tahunya sendiri," ucap Jason lagi.


Dahlia menatap Jason cukup lama dan akhirnya dia menceritakan semuanya pada Jason, tentang penyakit ibunya yang kembali kambuh dan harus terus menjalani pengobatan.


"Jason tolong jangan katakan hal ini kepada Lily, aku mohon! Lily sekarang sedang hamil, aku dan ibu tidak mau jika sampai terjadi apa-apa dengan Lily dan kandungannya," pinta Dahlia memohon kepada Jason agar merahasiakan hal itu pada Lily.


"Bawa aku temui Ibumu! Dan setelah itu kita temui doktermu!" Kata Jason yang langsung berdiri dan Dahlia pun melakukan hal yang sama, dia kemudian berjalan lebih dulu untuk menunjukkan arah di ruangan mana ibunya dirawat.


Setelah masuk ke dalam ruang rawat Vega, Vega pun melakukan hal yang sama, wanita itu memohon kepada Jason untuk tidak memberitahu hal itu pada Lily, dan Jason pun akhirnya hanya bisa mengiyakan saja. 


Begitu menemui dokter, Jason pun memutuskan untuk Vega melakukan pengobatan di luar negeri, Jason mengurus semuanya, dan Dahlia pun bersedia menemani ibunya.

__ADS_1


Jason kemudian tersadar dari lamunannya, dan kembali menatap sang istri, "Maafkan aku sayang, aku hanya berharap pengobatan disana lancar, semoga Ibu dan kakakmu kembali dengan keadaan ibumu yang sudah baik-baik saja," ucap Jason kemudian mengecup kening istrinya penuh kelembutan.


__ADS_2