Please Love Me

Please Love Me
Part 54


__ADS_3

Tubuh Lily langsung menegang saat mendengar suara yang diyakini adalah suara dari Ayah Al.


Lily memutar tubuhnya perlahan, apalagi saat dirinya mendengar suara langkah kaki semakin mendekat.


"Selamat pagi Paman," sapa Lily dengan kepala menunduk.


"Pagi, duduklah dan makan sarapanmu," jawab Ayah Al membalas sapaan Lily.


"Tapi Paman, maaf saya harus berangkat kerja sekarang, saya…


"Duduklah," kata Alan menyuruh Lily untuk duduk kembali sambil memperhatikan gadis yang disukai putranya itu yang kini masih saja menundukkan wajahnya.


Lily melihat lagi jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Bagaimana ini nanti aku ketinggalan angkutan umum," kata Lily gusar, dan itu hanya bisa diucapkan dalam hati.


Alan bukan tidak tahu kegelisahan gadis yang saat ini sudah kembali duduk di tempatnya tadi.


"Baiklah Paman," kata Lily pasrah dan mulai makan nasi goreng yang sudah terhidang di atas meja.


Mereka berdua makan dengan tenang, sekali-kali Alan melirik ke arah gadis yang duduk di hadapannya dengan wajah yang terus menunduk tanpa berani menatapnya.


Lily buru-buru menghabiskan makanannya agar dirinya bisa segera berangkat bekerja, dia tidak mau membuat sahabatnya kecewa karena dia terlambat di hari pertamanya masuk kerja, apalagi sahabatnya itu yang mencarikan pekerjaan ini.


Setelah selesai minum air putih, Lily langsung bangun. "Paman maaf saya berangkat sekarang, terima kasih makanannya," kata Lily yang langsung saja mengambil tasnya dan hendak pergi meninggalkan ruang makan itu.


"Tunggu!" Satu kata dari Alan, berhasil menghentikan langkah Lily yang sudah cukup jauh darinya.


"Aku yakin, aku pasti akan terlambat," batin Lily berkata ketika langkahnya terhenti dan berbalik mendekat kembali ke arah dimana Ayah Al berada.


"Tunggu sebentar," kata Alan kemudian dirinya meninggalkan Lily dan masuk ke dalam ke kamarnya.

__ADS_1


Lily mengangkat kepalanya, melihat lelaki paruh baya itu masuk ke dalam kamar.


Begitu pintu kamar terbuka, Lily langsung kembali menundukkan wajahnya.


"Ayo!" Ajak Ayah Al, yang kemudian langsung berlalu begitu saja meninggalkannya membuat Lily mengernyitkan dahi bingung menatap kepergian pria paruh baya itu.


"Kenapa masih berdiri disitu? Bukannya kamu tadi bilang takut terlambat," kata Alan yang melihat Lily tidak bergerak dari tempatnya.


"Mmm maksudnya paman?" Tanya Lily memberanikan diri menatap wajah pria paruh baya yang jaraknya sudah jauh dari posisinya berdiri.


Alan sempat terdiam, saat tatapannya bertemu dengan gadis yang disukai putranya itu. Lily segera memutus tatapan keduanya. 


"Ayo Paman akan mengantarmu," kata Alan setelah terdiam beberapa saat.


"Tapi Paman.."


"Apa kamu benar-benar mau terlambat di hari pertamamu bekerja?" Alan segera memotong ucapan Lily.


Alan berjalan lebih dulu mendahului Lily setelah berpamitan pada pelayan, bahwa dirinya akan keluar mengantar Lily.


Lily pun mengikuti Ayah Al di belakangnya, dirinya benar-benar gugup, "Kenapa harus bertemu sekarang?" Itulah yang terus Lily ucapkan dalam hatinya saat ini.



"Kau tahu Kak, aku tadi berhasil menyeret Kak Max untuk menemani Kak Bunga memeriksakan anak mereka," Liora terdengar saat antusias menceritakan hal itu pada Jason.


"Hmm baguslah," respon Jason menanggapi cerita Liora.


"Semoga setelah ini Kak Max bisa menyadari kesalahannya ya Kak," kata Liora lagi.

__ADS_1


"Ya semoga saja," kata Jason yang sedari tadi terus melihat ponselnya.


"Kak, kau mendengarkanku tidak dari tadi, kenapa kau tampak sibuk sendiri dengan ponselmu," kesal Liora karena Jason hanya merespon ucapannya dengan kalimat singkat saja.


"Mendengarkan, kalau tidak, mana mungkin aku menjawab apa yang kau katakan," kalimat yang cukup panjang tapi bukan jawaban seperti itu yang Liora ingin dengar.


"Kau mau membeli apalagi? Jika sudah tidak ada, bisakah kita pulang sekarang atau kau mau aku mengantarmu ke rumah sakit lagi?" Tanya Jason setelah kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Kenapa kau ingin sekali mengakhiri kebersamaan ini Kak? Apa aku sama sekali tidak penting atau bahkan mungkin sama sekali tidak ada di hatimu," kata Liora yang hanya bisa di katakan dalam hati saja.


"Mmm baiklah, antarkan aku pulang saja, lagian ada Bi Arum yang menjaga Mami," kata Liora pada akhirnya dengan raut wajah kecewanya, karena rencananya untuk bisa seharian ini bersama Jason, tidak sesuai dengan harapannya.


Mereka pun akhirnya menuju ke basement tempat mobil Jason di parkirkan, Jason segera masuk ke kursi kemudi begitu sampai di mobilnya, diikuti dengan Liora yang masuk di kursi sebelahnya.


Begitu melihat Liora sudah memasang sabuk pengamannya dengan benar, Jason segera melajukan mobilnya meninggalkan pusat perbelanjaan di mana dia menemani gadis, adik dari Tuannya.


Jason melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar segera sampai di kediaman William Anderson, karena ada hal yang jauh lebih penting yang harus dia lakukan daripada harus menghabiskan waktu dengan Liora yang hanya membuang-buang waktunya saja, Jason tidak ingin melewatkan hari pertama gadisnya datang ke kantor.


Di dalam mobil hanya terjadi keheningan diantara mereka berdua, sama sekali tidak ada yang bicara, baik Jason maupun Liora sendiri, hingga tak lama mobil itu pun sampai di pelataran kediaman utama Anderson.


Liora turun, dan berlalu begitu saja, dirinya masih kesal, karena Jason benar-benar mengabaikannya. Sementara Jason tidak ingin ambil pusing dengan sikap Liora, dia langsung meninggalkan halaman kediaman Anderson, setelah melihat Liora turun dan masuk ke dalam rumah.


Liora diam-diam mengintip dari jendela, melihat Jason yang langsung kembali mengemudikan mobilnya setelah dirinya turun, bahkan Jason tidak berniat membantunya membawa barang belanjaan, atau setidaknya Jason menghampirinya dan minta maaf serta pamit jika ingin pergi, tapi nyatanya Jason tidak melakukan itu hingga membuat Liora semakin sedih.


"Aku benar-benar tidak penting untukmu Kak," gumam Liora kemudiaan benar-benar masuk menuju kamarnya, untuk menenangkan hati dan pikirannya barang sejenak saja. Hatinya benar-benar sakit, atas sikap Jason kepadanya.


"Kenapa kamu berubah Kak, kau bukanlah Kak Jason yang dulu, kau bukanlah Kak Jason yang kemarin-kemarin kita pertama bertemu lagi, kau benar-benar berubah Kak, sikapmu semakin dingin dan cuek terhadapku, apa semua ini karena gadis itu? Apa kau berubah karena dia?" Tangis Liora begitu masuk ke dalam kamarnya, berdiri bersandar pada pintu dan tubuhnya meluruh begitu saja, dia menenggelamkan wajahnya di antara lipatan kedua lututnya. Meratapi nasib cintanya yang tidak sesuai dengan harapannya.


**

__ADS_1


Sementara Jason terus membelah jalanan Ibu Kota yang cukup padat ingin segera sampai ke tempat tujuan berharap bisa melihat gadis pujaannya walaupun hanya dari jarak jauh, Jason tidak masalah yang terpenting adalah dia bisa bertemu dengan gadis itu, untuk mengobati rasa rindunya yang ditahan dari kemarin.


Hingga tak lama Jason memasuki area kantor dan matanya menyipit ketika melihat gadis yang ingin ditemuinya turun dari sebuah mobil mewah yang Jason tidak tahu itu mobil siapa, yang Jason tahu, mobil itu bukan mobil dari pria yang bernama Al. Jason mengepalkan kedua tangannya yang masih ada di setir mobil saat melihat hal itu. Pandangannya terus mengikuti arah gadis itu yang kini masuk ke dalam gedung tinggi yang menjadi tempat kerjanya selama ini.


__ADS_2