Please Love Me

Please Love Me
Part 129


__ADS_3

"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Al menangkap tubuh Dahlia yang hampir yang terjatuh.


"Ah iya, aku tidak apa-apa, terima kasih," Dahlia segera melepas tubuhnya yang secara tidak sengaja berada di pelukan Kak Al.


Dahlia dan Al sama-sama canggung setelah kejadian yang baru saja terjadi.


"Sebaiknya kita pesan makanan," putus Al setelah cukup tenang setelah mengontrol detak jantungnya yang tadi berdetak cukup kencang.


"Hmm iya, sebaiknya memang seperti itu," kata Dahlia yang masih tampak salah tingkah.


"Aku ke toilet dulu," pamit Dahlia yang ingin segera membasuh wajahnya yang terasa panas.


"Mau ku bantu?" Tawar Al yang tidak tega melihat Dahlia berjalan dengan susah payah.


"Hah? Hmm tidak perlu Kak, aku bisa sendiri," Dahlia dengan segera menolak tawaran Al, sungguh kalau itu terjadi, mau ditaruh dimana muka Dahlia, jujur saja saat ini saja, Dahlia sudah merasa amat malu.


"Kamu sakit?" Tanya Al memandangi Dahlia dan refleks tangan kanannya terulur mengecek kening Dahlia


"Hah? Tidak," Dahlia langsung menjauh dari sentuhan tangan Al, tapi gagal karena Al menahannya.


"Tidak panas," gumam Al yang masih di dengar Dahlia.


"A..aku tidak apa-apa Kak," jawab Dahlia gugup.


"Aku ke toilet dulu," Dahlia dengan perlahan berjalan menuju toilet meninggalkan Al yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dia bilang tidak apa-apa, tapi kenapa wajahnya memerah? Tapi memang tidak panas sih," ucap Al pada dirinya sendiri begitu Dahlia sudah berlalu.


Al pun mengedikkan bahunya kemudian kembali duduk dan mengambil ponsel di saku celananya untuk memesan makanan.


***


"Bagaimana?" Tanya Jason pada seseorang di seberang telepon.


"Nyonya Felicya mengidap kanker stadium akhir, untuk lebih detailnya saya harus menanyakan langsung dengan dokternya Tuan, karena informasi ini tidak banyak yang tahu, bahkan Tuan Alan Horison yang berstatus suaminya pun tidak tahu. Sepertinya Nyonya Felicya sudah membuat kesepakatan dengan dokter itu, untuk menyembunyikan tentang penyakitnya. Dan saat saya hendak menemui dokter Riu, beliau tidak ada di rumahnya, beliau sedang berlibur dengan keluarganya, dan sangat kebetulan mereka berlibur di tempat sekarang berada Tuan," jelas seseorang kepercayaan Jason.

__ADS_1


"Kamu kirim detail tentangnya, biar aku sendiri yang akan menemuinya," Kata Jason kemudian memutuskan panggilan teleponnya.


"Sebentar lagi sayang, aku akan mencari tahu semuanya," setelah mengatakan itu, Jason pun segera berjalan masuk dan menutup pintu yang terhubung dengan balkon, lalu menghampiri istrinya yang tadi sudah tidur lebih dulu.


"Sayang kenapa belum tidur?" Lily mengerjapkan matanya saat melihat suaminya berjalan mendekat ke arahnya.


Jason duduk di samping istrinya yang kini duduk bersandar.


"Maaf mengganggu tidurmu," kata Jason merapikan rambut istrinya yang berantakan.


"Kenapa belum tidur?" Lily kembali bertanya saat merasa pertanyaannya belum mendapatkan jawaban.


"Tadi menelpon dulu," jawab Jason mengecup kening Lily.


"Sekarang ayo tidur lagi!" Jason berbaring lebih dulu, dan menepuk sebelahnya, meminta sang istrinya tidur dengan berbantalkan lengannya. 


Lily pun tersenyum dan dengan senang hati, menuruti permintaan suaminya, Jason memeluk istrinya erat, dan Lily pun membalasnya tak kalah erat, mencari posisi tidur yang nyaman.


"Sayang!" Ucap Lily pelan, dirinya berusaha untuk memejamkan matanya tapi belum bisa, rasa kantuknya hilang begitu saja, saat dirinya sudah terbangun tadi.


Padahal Jason tadi sudah memejamkan matanya, tapi tidak jadi saat mendengar Lily memanggilnya bahkan menggambar pola abstrak di dadanya.


Jason menunggu apa yang akan istrinya katakan selanjutnya, tapi beberapa menit berlalu, Lily belum juga bicara.


"Kenapa? Tanya Jason yang kini sudah membuka kedua matanya lebar.


"Maaf mengganggumu," kata Lily merasa tidak enak.


"Kenapa bilang seperti itu?" Jason sedikit menunduk agar bisa melihat wajah istrinya.


"Pasti karena kehadiranku, banyak pekerjaanmu yang belum selesai."


"Hei, tidak boleh berkata seperti itu sayang, kamu disini itu memang keinginanku, aku sangat merindukanmu, dan lagi aku hanya tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi, makanya aku ingin kamu disini dan menemaniku agar tidak ada lagi wanita yang menggangguku."


"Jadi kamu cuma jadiin aku tamengmu saja nih," kata Lily cemberut.

__ADS_1


Jason terkekeh, "Tameng? Ada-ada saja," katanya geleng-geleng kepala. "Tapi ada benarnya juga sih," tambahnya yang langsung mendapat cubitan pedas dari istrinya. 


"Jahat banget, masa istri sendiri dijadikan tameng, hmm tapi tenang saja, aku juga tidak rela jika pria dinginku diganggu oleh wanita-wanita di luar sana, yang berani mendekat, aku akan langsung hempas dari muka bumi ini," kata Lily yang seakan membasmi parasit yang bisa saja kapan menempel.


Jason tertawa, mendengar istrinya berkata seperti itu, "Memang deh gadis anehku itu yang terbaik," ucapnya gemas dan menciumi seluruh bagian wajah Lily.


"Sekarang ayo tidur! Sudah jam 2 juga, oh ya kita tambah liburannya satu hari lagi ya, ada hal yang harus aku kerjakan besok pagi," kata Jason meminta persetujuan istrinya.


"Baiklah, tapi nanti sehabis itu kita beli oleh-oleh ya."


"Tentu saja, sekarang lebih baik kita tidur," Jason kemudian menarik tubuh Lily agar semakin mendekat ke tubuhnya.


Keduanya pun bersama-sama menuju ke alam mimpi dengan memberikan kehangatan satu sama lain.


Pagi-pagi sekali, Jason terbangun saat mendengar dering di ponselnya. Dia duduk dan mengambil ponselnya, dan Jason dengan segera menjawab panggilan itu, setelah tahu siapa nama orang yang menelponnya. Terdengar orang diseberang telepon yang tak lain adalah orang kepercayaannya memberitahukan semua yang dia ketahui menurut informasi yang didapatkannya.


"Baiklah, kamu sudah pastikan hal itu?" ucap Jason pada orang yang menelponnya di pagi buta seperti ini.


"Aku yang akan menemuinya sendiri," Jason segera mengakhiri panggilan.


Jason menoleh ke sampingnya dimana istrinya masih terlelap.


Jason turun dari ranjang dan sebelum melangkah pergi menuju ke toilet, Jason mengecup kening istrinya lama.


Saat Jason keluar, Lily masih tampak lelap tidurnya, Jason yang tidak tega akhirnya memutuskan untuk pergi membiarkan istrinya beristirahat lebih lama lagi, tidak lupa Jason juga meninggalkan catatan kecil di atas meja, yang di tindih ponsel Lily.


"Sayang, aku pergi dulu ya, aku akan cari tahu apa yang kamu ingin tahu, kamu tunggu saja ya," gumam Jason yang tentunya tidak akan didengar oleh istrinya. 


Dikecupnya singkat pipi Lily, dan Lily hanya terlihat menggeliat saja. Setelah memastikan tidur istrinya yang masih tampak tenang, Jason pun bergegas keluar dari kamarnya.


Sambil berjalan meninggalkan kamarnya, Jason menghubungi orang kepercayaannya, selain dia kepercayaan Stevano, nyatanya Jason juga mempunyai orang kepercayaan sendiri, orang yang juga membantu pekerjaannya selama ini, karena dirinya dulu memang harus selalu ada di samping Tuan Mudanya, jadi orang  itulah yang mengerjakan semua pekerjaan di luar.


Setelah memastikan bahwa orang yang akan ditemuinya berada di tempat yang dikirimkan oleh tangan kanannya, Jason pun dengan segera menuju ke tempat dimana orang itu berada.


 

__ADS_1


__ADS_2