
Beberapa bulan kemudian
Ronald segera meninggalkan rapat, usai mendapatkan kabar jika istrinya pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Sebenarnya tadi pagi Ronald juga enggan untuk berangkat, apalagi saat istrinya bilang jika kepalanya pusing. Tapi karena dia memang diharuskan untuk hadir, membuat Liora memaksanya agar berangkat kerja saja dan dia bilang jika dia akan baik-baik saja. Ronald ragu dengan perkataan istrinya walau diiringi senyuman. Tapi pria itu juga tidak bisa meninggalkan kewajibannya begitu saja. Sebelum berangkat Ronald menghampiri salah satu pelayan yang memang sudah cukup lama bekerja di keluarga mertuanya, meminta untuk menjaga Liora dan mengabari dirinya jika ada apa-apa.
Ronald melajukan mobilnya seperti orang kesetanan, yang ada di pikirannya hanya satu, yaitu cepat-cepat sampai di rumah sakit. Dirinya takut terjadi apa-apa dengan istrinya.
Sampai di rumah sakit, Ronald segera memarkirkan mobil, turun dan bergegas masuk bahkan dengan berlari sambil menarik dasi yang terasa mencekik lehernya. Bahkan jas yang tadi dipakainya pun entah sudah dilempar kemana.
Ronald berhenti menanyakan dimana ruang rawat atas nama Eliora Anderson. Setelah mendapatkan jawaban, Ronald buru-buru mencari ruangan itu.
Dengan nafas terengah-engah dibukanya sebuah pintu ruangan yang sedari tadi di carinya.
"Baby kamu…"
Semua pandangan tertuju ke arah Ronald.
Ada Jasmine yang duduk di kursi roda dengan Stevano yang ada di sampingnya serta Max. William dan Tiffa tidak ada di sana karena mereka kini tengah pergi ke luar negeri.
"Liora baru saja tidur."
Jawab Jasmine yang kini mundur membiarkan Ronald agar berada di samping Liora.
"Selamat, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah." Max memberikan tepukan di bahu Ronald.
Ronald hanya mengangguk lemah sambil menatap sendu istrinya, serta menggenggam tangan wanita yang tengah terlelap. Pria itu mengernyitkan dahi lalu menatap Max.
"El hamil?" Tanya Ronald karena sepertinya pria itu tadi tidak fokus mendengarkan perkataan Max.
"Iya dan kamu harus menjaganya baik-baik. Kata dokter dia kelelahan," kali ini Stevano ikut menimpali.
Mata Ronald berkaca-kaca, dia akan menjadi seorang ayah, Ronald merasa bahagia.
Ketiga kakak iparnya tersenyum, mereka juga ikut bahagia dengan kebahagiaan yang menghampiri keluarga mereka.
"Tentu Kak, aku akan menjaganya, selamat juga atas kelahiran putra kakak" ucap Ronald pada Stevano.
Stevano mengangguk dan menepuk bahu Ronald dan berpamitan untuk membawa istrinya kembali ke ruangannya. Max juga ikut berpamitan tidak ingin lama-lama meninggalkan sang istri di rumah yang tengah hamil tua.
Begitu ketiga kakak iparnya pergi, Ronald duduk di kursi dengan tangan yang masih setia menggenggam tangan istrinya.
"Makasih baby, aku akan menjadi seorang ayah, aku akan memiliki anak," Ronald tertawa bahagia mendengar kabar itu. Satu tangannya yang bebas terulur lalu mengusap lembut perut Liora yang masih rata, bahkan kini Ronald mendekatkan wajahnya dan mencium perut sang istri cukup lama.
Merasakan sentuhan di perutnya, Liora terbangun, matanya terbuka dan pandangan pertama yang dilihatnya, membuat dia tersenyum. Tangannya terangkat mengelus rambut Ronald, membuat pria itu mengangkat kepalanya kembali. Tatapan keduanya bertemu, Ronald bangun dan memeluk sang istri menyalurkan rasa bahagianya.
*
*
__ADS_1
"Sayang, jangan lari-lari Nak, nanti kamu jatuh!" Lily berkali-kali menegur putrinya yang sangat aktif, berlari kesana kemari.
Lily yang merasa lelah kini duduk di bangku kayu di taman depan rumahnya sambil mengawasi putrinya yang sedang mencoba menangkap kupu-kupu.
Deru mesin mobil membuat Lily menoleh dan menatap seseorang yang baru saja turun dari mobil. Pria itu tersenyum, sambil mengangkat paperbag yang dibawanya. Pria itu menutup mobil dan menghampiri wanita yang masih duduk dan tidak beranjak sedikitpun dan pria itu tahu karena wanitanya itu tengah mengawasi putri mereka dan tidak ingin melepaskan pandangannya.
"Capek?" Tanya Jason yang kini duduk di samping sang istri setelah mencium kening dan bibir Lily.
"Sayang, ada Cinta tahu, nanti dia lihat," tegur Lily sambil melirik ke arah putrinya yang kini sedang memetik bunga.
"Dia tidak akan lihat." Jawab Jason merangkul pinggang sang istri.
"Pesanan aku?" Pandangan Lily tertuju pada paperbag yang tadi suaminya bawa.
"Iya."
"Mana?"
"Cium dulu!"
"Sayang, dibilang ada Cinta juga." Lily menepuk paha suaminya itu.
Bukannya marah, Jason justru tertawa, senang menggoda sang istri.
"Kalau kamu tidak mau cium ya sudah," Jason kini merubah pandangan, dari yang sedari tadi menatap istrinya kini menatap putrinya yang kini sibuk menyelipkan bunga di telinganya.
"Ayah!" Teriak Cinta yang kini berlari menghampiri Jason, melupakan bunga yang susah payah dia selipkan di telinga yang kini terjatuh karena berlari.
Jason melebarkan kedua tangan bersiap menangkap putrinya.
Hap
Jason langsung mengangkat Cinta dan mendudukan dipangkuannya. Diciumnya seluruh wajah putri kecilnya.
"Wangi banget putri ayah."
"Hmm Cinta sudah mandi sama ibu. Ayah kapan pulang? Cinta tidak dengal suala mobil ayah."
"Cintanya terlalu fokus menangkap kupu-kupu, sampai mengabaikan ayah," kata Jason dengan wajah yang dibuat cemberut.
"Jelek ayah!" Cinta menarik sudut bibir ayahnya ke atas dengan jari-jari mungilnya.
Lily tertawa mendengar ucapan putrinya.
"Jelek ayah, jadi harus banyak senyum," Lily mengikuti ucapan putrinya.
Kali ini Jason benar-benar menekuk wajahnya kedua orang yang dicintainya sangat kompak.
__ADS_1
"Hahaha!"
Cinta dan Lily tertawa bersama melihat wajah kesal Jason.
"Sudah sana ayah mandi bau acem!" Lily menutup hidungnya pura-pura.
"Masa sih?" Jason mencium badannya sendiri.
"Tidak bau acem kok masih wangi, coba Cinta cium!" Jason mengangkat tangan dan mendekatkan ke putrinya.
Dengan cepat Cinta menutup hidung dan menjauhkan wajahnya.
"Tidak mau ayah! Ayah jolok!"
Pria itu hanya terkekeh mendengar teriakan serta gerakan putrinya yang terus menghindar.
"Sudah ayo masuk, biar ayah mandi dulu." Kata Lily yang kini sudah bangkit dari duduknya, sambil memegangi pinggang.
Jason melihat sang istri dengan perut buncitnya. Bangun dengan Cinta dalam gendongannya, tangan satunya yang bebas merangkul lengan sang istri mengajaknya berjalan beriringan.
"Kamu sudah makan?" Tanya Lily pada suaminya.
"Belum."
"Kenapa tidak makan? Bagaimana kalau kamu sakit? Jika kamu siang tidak bisa pulang, kamu bisa makan dulu, tidak usah menunggu sampai sore."
"Aku mau kita makan bersama sayang. Denganmu dan anak kita."
"Tapi kamu bisa makan, nanti bisa makan lagi jika sampai di rumah."
"Sudah aku tidak apa-apa, lagian aku juga tadi makan camilan yang kamu selalu buatkan dan bawakan untukku, dan aku tidak pulang siang juga tidak sering kan? Ini karena hanya Tuan Stevano yang tidak datang saja."
"Oh ya, aku ingin menjenguk Jasmine."
"Besok ya, sekalian menjenguk Liora."
"Kak Liora? Kak Liora kenapa? Sakit?" Lily spontan menghentikan langkah menghadap ke arah suaminya.
"Aku belum dapat kabar lagi dari Tuan Stevano, tapi tadi yang aku dengar Liora pingsan dan dilarikan ke rumah sakit."
"Aku harus menghubungi Kak Liora sekarang!" Kata Lily berjalan lebih dulu meninggalkan Jason.
"Sayang pelan-pelan!" Teriak Jason dan Lily yang mendengar segera menuruti perintah suaminya, kini wanita itu berjalan dengan perlahan, selain karena kehamilannya juga sekaligus memberi contoh pada putrinya.
"Lihat itu Ibu, langsung menurut saat ayah bilang untuk pelan-pelan, Cinta juga harus begitu ya sayang!" Ucap Jason putrinya yang langsung mendapat anggukan dari Cinta.
Jason tersenyum, mengecup puncak kepala putrinya, lalu segera berjalan menyusul sang istri ke dalam rumah.
__ADS_1