Please Love Me

Please Love Me
Part 132


__ADS_3

"Aku sudah katakan sebaiknya kau pergi, kenapa kau justru akan masuk," ucap Al yang sudah berhasil mengeluarkan teman Dahlia hingga sekarang orang itu, sudah berada kembali di depan pintu.


"Maaf Anda siapa ya, sampai melarang saya masuk, hmm ini rumah Lia, dan yang punya sudah mempersilahkan saya masuk, lalu kenapa saya harus pergi," kata Dion menatap Al dengan tidak suka karena pria itu sudah bertindak layaknya yang punya rumah.


"Anda tidak tahu, aku ini.., hmm aku ini..," Al tampak berfikir, tapi tiba-tiba dirinya menerobos tubuh teman Dahlia dan pergi dari tempat itu, dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Dion kenapa kamu berbicara seperti itu? Lihatlah sekarang Kak Al pergi, aku jadi tidak enak sama dia," ucap Dahlia menatap temannya dengan  wajah sendu. 


Jujur saja Dahlia kecewa  saat Al memang tidak menjawab apapun, dalam keadaan terdesak Al bahkan tidak mengatakan apapun.


"Lily beruntung, disaat dulu Jason bilang tidak suka padanya, tapi ketika keadaan terdesak Jason justru mengaku sebagai kekasih Lily," ucap Dahlia dalam hati yang mengingat cerita adiknya.


"Kenapa aku berharap seperti itu? Bagaimana Jason dan Kak Al berbeda, Jason mencintai Lily tapi memang tidak menyadarinya. Sementara Kak Al, bukankah dia bilang memang tidak menyukaiku, lalu kenapa aku berharap dia melakukan hal yang sama seperti yang Jason lakukan. B*d*h  kau Dahlia," Dahlia merutuki dirinya sendiri dalam hatinya.


"Hei kenapa melamun?" Dion menaik turunkan tangannya melihat Dahlia yang justru melamun.


"Kamu tenang saja, aku yakin jika dia menyukaimu, hmm mungkin dia belum menyadari jika dirinya memiliki rasa padamu," ucap Dion yang kemudian berjalan ke arah sofa dan duduk di sana, dan tanpa basa-basi langsung menenggak minuman yang tersedia di atas meja yang Dion yakini itu milik Al.


Dahlia memandangi apa yang Dion lakukan dari saat Dion bilang Al menyukainya.


Dahlia kemudian, berjalan dan duduk di samping Dion terus menatap pria yang merupakan sahabatnya dari kecil, mereka dulu bertetangga, dan tidak tahu kenapa saat lulus SMP, Dion dan keluarganya pindah, dan mereka bertemu lagi di kampus yang sama bahkan mengambil jurusan yang sama. Jadi bukan tidak mungkin jika Dion tidak tahu, bahwa temannya itu menyukai Al yang tak lain adalah senior mereka. Ya,  Dion sebenarnya mengenal Al, siapa yang tidak mengenal Al di kampus mereka, tadi Dion memang sengaja saja pura-pura tidak mengenal Al.


"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Dion yang kini membuka makanan yang tadi dibawanya, dan diberikannya kepada Dahlia.


"Kamu tadi bilang apa?" Tanya Dahlia yang masih menatap Dion sambil menerima makanan pemberian pria itu.


Dion tampak menghela nafasnya, "Aku tahu kamu menyukainya," ucap Dion enteng, setelahnya dia menyuapkan makanan ke dalam makanannya sendiri.


"Apa sekentara itu aku menyukainya?" Dahlia terlihat hanya mengaduk-aduk makanannya.

__ADS_1


"Hmm kelihatan banget, bahkan rasanya di jidat kamu tertempel tulisan bahwa kamu menyukai Alvaro."


Kini gantian Dahlia yang menghela nafas panjang, "Tapi Kak Al tidak menyukaiku," katanya dengan suara yang begitu lirih.


"Kata siapa? Aku yakin dia menyukaimu," ucap Dion yang membuat Dahlia menghentikan kegiatannya dan menatap Dion.


"Darimana kamu tahu, kamu baru melihatnya langsung sekarang," kata Dahlia yang kembali meneruskan kegiatannya mengaduk-aduk makanannya.


"Naluri seorang pria mungkin," jawab Dion mengambil minuman Dahlia karena minuman Al tadi sudah dihabiskannya, membuat Dahlia mendengus kesal akan tingkah pria yang duduk di sampingnya itu.


"Untung sahabat, jika tidak aku pasti mengusirnya segera" batin Dahlia melirik Dion kesal.


"Jangan mengataiku dalam hati" komentar Dion yang seolah-olah mengerti bahwa kini Dahlia sedang mengatainya.


"Sok tahu," gerutu Dahlia yang semakin merasa kesal saja pada sahabat satu-satunya yang dimilikinya. Karena yang lainnya Dahlia tidak bisa mengatakannya teman, karena mereka akan mendekat jika membahas soal tugas saja, jika tidak mereka selalu berpura-pura tidak mengenalnya.


Dion menghentikan acara makannya, karena memang makanannya sudah habis, setelahnya dia memandangi Dahlia.


"Tidak mungkin Yon, karena dia itu menyukai Lily," ucap Dahlia sendu.


"Lily? Lily adikmu?" Teriak Dion.


"Biasa saja, tidak perlu teriak-teriak seperti itu, ini rumah bukan hutan," ketus Dahlia sambil menutup telinganya mendengar teriakan Dion.


"Hehe, sory, sory, aku tadi hanya terkejut saja," kata Dion nyengir dan menunjukkan deretan giginya.


"Dia menyukai Lily, bagaimana bisa?" Tanya Dion yang masih belum percaya pada apa yang didengarnya.


"Ya bisa saja, mereka kan laki-laki dan perempuan," jawab Dahlia asal.

__ADS_1


"Maksudku mereka kan tidak kenal Dahliaku sayang."


"Jangan memanggilku sayang," protes Dahlia.


"Iya, iya deh, aku panggil sayang aja protes, tapi giliran Alvaro aja yang panggil sayang, pasti deh tuh muka sudah mirip seperti tomat busuk."


Refleks saja Dahlia langsung melempar sendok yang dipegangnya untung saja Dion sigap menangkap sendok itu, jika tidak, pasti tuh rasanya tidak begitu sakit karena yang Dahlia lempar hanya sendok plastik.


"Aku serius nih, bagaimana bisa Alvaro menyukai Lily?" 


"Ya bisa saja, seperti kamu yang dulu menyukainya," jawab Dahlia yang memang tahu jika Lily adalah cinta pertama sahabatnya itu, hmm bisa dibilang cinta monyet karena itu terjadi disaat mereka masih sekolah SMP.


"Hmm itu kan dulu, masih anak-anak," jawab Dion menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ternyata Dahlia terlalu peka, bahwa Dia dulu menyukai Lily.


Kini Dahlia duduk menghadap Dion dan memandangi pria itu serius.


"Tapi jujur, bagaimana perasaanmu sekarang pada Lily, apa kamu masih menyukainya? Kenapa selama kuliah kita bersama kamu tidak pernah menanyakannya lagi? Kamu bahkan baru belakangan ini datang ke rumahku?"


"Hmm itu..," Dion tampak bingung harus menjawab apa.


"Tapi aku sarankan lebih baik jangan, kamu harus menghapus perasaan sukamu itu pada Lily, karena Lily sudah menikah, kamu bisa-bisa dicincang habis oleh suaminya," potong Dahlia yang membuat mata Dion kini membelalak tidak percaya.


"Apa tadi kamu bilang apa? Lily sudah menikah? Dengan siapa? Dan kenapa bisa?" Rentetan pertanyaan kini terlontar dari bibir pria itu.


"Bagaimana bisa? Kenapa bisa?" Selalu seperti itu pertanyaanmu seperti tidak ada yang lain saja."


"Kamu jawab saja deh pertanyaanku," kesal Dion karena sedari tadi Dahlia tidak langsung menjawab pertanyaannya.


"Ya bisa saja, karena memang mereka ditakdirkan bersama," tentu saja jawaban Dahlia itu, tidak membuat Dion puas, justru membuat pria itu jadi penasaran luar biasa, karena sepertinya banyak hal yang terjadi yang tidak diketahuinya selama dirinya pergi selama tiga tahun ini, dan begitu kembali dua tahun ini, dirinya memilih untuk menghindar dari apapun tentang Lily.

__ADS_1


 


__ADS_2