Please Love Me

Please Love Me
Part 104


__ADS_3

"Sudah sampai Tuan," ucap seorang supir pada Tuannya begitu telah tiba di tempat tujuan.


"Hmm, kamu turunkan kopernya!" Perintah pria itu pada supirnya.


"Baik Tuan, oh ya Tuan saya hanya menyampaikan pesan dari Tuan Besar, jika Anda tidak akan bisa kabur, karena ada pengawal yang mengikuti kita sedari tadi, mereka akan terus mengawasi gerak-gerik Tuan," ujar sang supir sebelum turun dan melakukan perintah Tuan Mudanya.


"Si*al," umpat Ronald yang baru tahu tentang itu, ya pria itu adalah Ronald, dia diantar oleh supir ke bandara karena ada yang harus Ayahnya selesaikan dengan Pamannya, yang akan mengalihkan semua pekerjaan saat nanti Pamannya pindah, dan Ronald di suruh datang ke perusahaan barunya terlebih dulu, untuk mengurus urusan yang dibutuhkan di sana.


***


Seorang gadis tengah berkutat dengan peralatan menggambar, hal inilah yang menjadi kegiatannya belakangan ini, menjadi desainer terkenal adalah impiannya, dia sama sekali tidak punya keinginan untuk meneruskan bisnis keluarganya. Dan keluarganya pun tidak memaksanya, dan menghormati apapun keputusan satu-satunya anak perempuan di keluarga mereka.


Di tengah kesibukannya, ponselnya berdering, gadis itu dengan semangat langsung menjawab panggilan itu.


"Halo Bu," ucap gadis itu saat panggilan terhubung.


"Liora, bisakah nanti kamu menjemput Ibu di bandara?" Tanya seorang wanita yang dipanggil Ibu oleh gadis yang bernama Liora.


"Ibu pulang hari ini?" Tanya Liora, karena setahu dia, Ibunya akan pergi selama seminggu, tetapi ini baru 3 hari, tapi Ibunya minta dijemput.


"Ah iya sayang, pihak rumah sakit meminta Ibu untuk segera kembali, katanya ada yang ingin disampaikan secara langsung kepada Ibu," jawab Dea dari seberang telepon.


"Oh ya sayang, kamu belum kembali ke rumah orang tuamu?" Tanya Dea yang mendapat kabar dari sahabatnya Tiffa, sekaligus Ibu kandung Liora bahwa Liora belum mau kembali, dan meminta waktu lagi.


"Apa Ibu mengusirku? Apa Ibu tidak mengizinkan aku lebih lama tinggal di rumah Ibu, asal Ibu tahu, Ibu juga orang tua Liora, walaupun Liora lahir bukan dari rahim Ibu, tapi Ibu adalah Ibu yang membesarkan Liora dengan penuh kasih sayang, Liora pasti akan pulang Bu, tapi tidak untuk sekarang-sekarang ini. Jadi Liora mohon Ibu  mengerti Liora," ucap Liora dengan suara lirih.


"Sayang maafkan Ibu, bukan maksud Ibu untuk mengusirmu, Ibu juga ingin lebih lama tinggal bersamamu, kamu tahu, Ibu tinggal sendiri dan karena ada kamu Ibu jadi tidak kesepian lagi. Tapi sayang bagaimanapun Mami kamu juga pasti ingin berkumpul kembali denganmu, Ibu juga tahu kamu juga  masih butuh waktu untuk berdamai dengan keadaan, tapi jika kamu bersikap seperti itu, takutnya Mami dan Papi akan salah paham dan mengira jika kamu belum memaafkannya," nasihat Dea pada putrinya.


"Iya Bu, Liora tahu maksud Ibu sebenarnya, Liora juga sudah jelaskan ke Mami kok, kalau Liora sudah memaafkan Mami dan Papi, hmmm hal itu  juga tidak sepenuhnya salah Mami dan Papi, jadi Liora juga sudah katakan pada Mami, jika Mami tidak perlu merasa bersalah pada apa yang menimpa Liora, Liora juga sudah minta ke Mami, agar Mami memberikan Liora waktu lagi, dan Liora berjanji akan kembali secepatnya," jawab Liora menceritakan beberapa hal yang dia bahas dengan Maminya, sewaktu Tiffa berkunjung beberapa hari yang lalu.


"Baiklah sayang juga sudah seperti itu, kamu sudah dewasa dan Ibu yakin kamu bisa mempertimbangkan semuanya, dan bisa menilai jika keputusan yang kamu ambil memanglah yang terbaik, Ibu percaya sama  kamu."

__ADS_1


"Terima kasih Bu, Ibu memang yang paling mengerti aku," jawab Liora dengan tersenyum, walaupun bisa dipastikan jika saat ini Dea tidak melihat senyum yang menghiasi sudut bibir Putrinya.


"Sudah dulu ya sayang, jangan lupa nanti jemput Ibu jam 2 siang," ucap Dea yang kemudian memutuskan panggilan setelah diiyakan oleh putrinya.


Liora meletakkan kembali ponselnya di meja begitu layar ponselnya kini berubah menampilkan foto dirinya sewaktu kecil dan seorang anak laki-laki.


Liora menatap sejenak foto yang menjadi wallpaper layar ponselnya beberapa bulan ini dan Liora tidak berniat sedikitpun untuk menggantinya.


"Aku merindukanmu, andai saja saat itu kita masih terus bersama, apa kamu sampai saat ini juga akan tetap menyukaiku," gumam Liora yang mengangkat kembali ponselnya dan fokus memandangi foto itu.


Liora tersenyum miris, dia kembali meletakkan ponselnya dengan posisi tertutup dan kemudian melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda. Liora harus segera menyelesaikannya pekerjaannya agar selesai sebelum nanti pergi menjemput Ibunya.


.


.


"Lily!" 


"Hah kenapa Kak?" 


"Kamu belum menjawab pertanyaan Kakak,"


"Oh itu.." Lily menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mmm, aku belum bertemu Ibu Kak, tadi aku tidak melihat Ibu di luar," jawab Lily berbohong.


Dahlia menelisik wajah adiknya, mencoba menatap mata Lily tapi Lily dengan cepat menghindari kontak mata Kakaknya.


"Oh iya, apa Kakak sudah makan?" Lily mengalihkan pembicaraan, Dahlia tahu itu.


Dahlia menghela nafasnya perlahan, dia tahu jika tadi Lily berbohong. 

__ADS_1


"Sudah, baru saja tadi sebelum kamu kesini."


"Oh ya aku hampir saja lupa, tentu saja sudah, kan ada yang jagain dan perhatiin dari kemarin," kata Lily menggoda Kakaknya.


Lily tidak sadar jika godaannya justru menunjukkan kebohongannya. Lily bilang dia baru datang hari ini, tapi Lily tahu jika Kakaknya Al terus disini dari kemarin.


"Kamu tahu Kak Al kemarin selalu jagain Kakak?" Tanya Dahlia dengan penuh penekanan.


Deg


Lily baru tersedar, dia mengerti maksud pertanyaan Kakaknya.


"Ah itu.." Lily berfikir mencari kata-kata yang tepat untuk dijadikan alasan.


"Ah soal itu, soalnya Kak Al dari kemarin tidak pulang, iya Kak Al tidak pulang ke rumah makanya aku tahu jika sejak kemarin Kak Al pasti yang jagain Kak Lia."


"Kamu tidak bisa bohongin Kakak Lily," batin Dahlia berkata. "Kakak tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Kakak, tapi Kakak tidak tahu itu masalah apa," imbuhnya dalam hati.


"Oh ya, apa Kakak mau makan buah, biar aku kupaskan," Lily menunjuk parcel buah yang tadi dibawanya.


"Boleh, Kakak mau makan..


"Jeruk," ucap Lily dan Dahlia bersamaan dan keduanya pun tertawa.


"Kamu tahu saja apa yang Kakak mau," ucap Dahlia.


"Iya dong, adik siapa dulu," jawab Lily dengan bangganya.


"Kakaklah," jawab Dahlia dan kemudian keduanya pun kembali tertawa.


"Kakak berharap akan terus bisa seperti ini terus bersama kamu Lily, kakak menyayangi kamu," Dahlia langsung memeluk Lily dan Lily pun membalas pelukan Kakaknya.

__ADS_1


Sementara sedari tadi ada dua orang di depan pintu yang menyaksikan dan memperhatikan interaksi keduanya.


__ADS_2