Please Love Me

Please Love Me
Bab 229


__ADS_3

Jason terus saja memandang takjub hasil usg janin yang ada di perut sang istri, bahkan pria itu sampai tidak menjalankan mobilnya padahal mereka sudah di dalam mobil sepuluh menit lamanya.


Dan Lily yang melihat itu tersenyum, tapi kemudian mengernyit heran saat suaminya justru mengambil ponsel dengan satu tangannya sedang tangan lain masih setia memegang hasil usg itu.


Senyum Lily semakin lebar saat mendengar pembicaraan suaminya di telepon, bukan Lily menguping tapi dia memang mendengar karena saat ini mereka ada di tempat yang sama.


"Kamu serius tidak berangkat bekerja hari ini sayang?" Tanya Lily dengan pandangan berbinar begitu suaminya sudah mengakhiri teleponnya. wanita itu tadi mendengar suaminya menelpon Stevano mengatakan bahwa dirinya tidak ke kantor hari ini.


Tentu saja hal itu membuat Lily senang karena berarti suaminya akan menemani seharian, bukan egois tapi Lily belakangan ini memang ingin selalu berada di dekat suaminya. 


Jason yang mendengar Lily bertanya, langsung menoleh, tersenyum dan mengangguk, mengiyakan bahwa apa yang istrinya dengar memang benar, dia memutuskan untuk izin hari ini, melihat anaknya, rasanya semakin tidak tega saja jika meninggalkan Lily hanya bersama pelayan. Ya Jason menyuruh satu pelayan untuk datang ke rumah lama Lily membantu sang istri membersihkan rumah itu, untuk menyambut kedatangan ibu dan kakaknya.


"Makasih sayang!" Lily langsung merangkul lengan suaminya senang.


Jason pun tak mau kalah dia kini berkali-kali mengecup puncak kepala Lily, merasa bersyukur akan semua yang kini di dapatkan.


"Ayah akan melakukan apapun untuk putri kita," ucap Jason yang kini tangannya menyingkap sedikit baju Lily hingga tangannya menyentuh langsung perut sang istri.


Lily tersenyum mengambil hasil usg dari tangan suaminya dan mengamatinya dalam-dalam.


"Kita jalan sekarang!" Kata Jason dan Lily langsung melepaskan rangkulannya  dan membenarkan posisi duduknya.


Jason pun segera menancapkan gas, dan meninggal pelataran rumah sakit, keduanya saling berbincang, apa saja, bahkan kini keduanya tengah saling berlomba mencari nama untuk anak mereka. Keasyikan berbincang, hingga perjalanan tidak terasa, kini mereka sudah sampai di gang kecil, dimana tempat ibu yang membesarkan Lily tinggal.


Jason segera turun disusul istrinya. Kemudian keduanya pun berjalan bersama, menuju rumah Lily yang memang tidak jauh dari sana.


Lily terkejut saat mendapati seorang wanita ada di depan rumahnya.


"Selamat siang Tuan, Nona," sapa orang itu membuat Jason mendengus tidak suka.

__ADS_1


"Panggil dia Nyonya, dia istriku dan bukan Nona!" Kata Jason dengan nada datarnya.


Lily menyenggol suaminya karena membuat wanita itu hanya menunduk tidak berani mengangkat wajahnya.


"Maaf saya tidak tahu, saya kira Nona ini, hmm maksud saya Nyonya ini adik Anda bukan istri Anda."


Mendengar jawaban pelayan, Jason semakin kesal saja.


"Mana kuncinya," kata Jason kemudian meminta kunci rumah pada sang istri, Jason segera membukanya dan masuk meninggalkan kedua wanita itu, yang entah membicarakan apa diluar.


*


*


"El!" Panggilan William membuat Liora yang tadi berjalan mengendap-endap berhenti.


"Kemarilah!" Perintah sang papi dan Liora pun hanya pasrah menuruti perintah ayahnya.


Liora menurut, gadis itu duduk di seberang papinya duduk, menunggu beberapa menit, tapi meraka hanya saling diam, hingga kemudian dia pun menatap papinya yang tidak juga bicara. Liora meremas jari-jarinya sendiri, gelisah menunggu sebenarnya apa yang ingin ayahnya katakan.


"Kenapa Pi?" Tanya Liora yang sudah tidak sabar lagi menanti pria itu berbicara.


William menghela nafas dan menatap putrinya.


"Benar apa yang Max katakan?"


"Maksud Papi?" Liora pura-pura tidak tahu, tapi dalam hatinya yakin jika maksud pertanyaan papinya pasti tentang Ronald.


"Kamu dan Ronald benar tidak menjalin hubungan? Selama ini kamu membohongi Papi, bahkan kamu juga tidak bilang jika Ronald suka bermain bahkan berganti-ganti wanita?" Tanya William menatap Liora dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


"Soal itu…"


"Katakan saja! Kakak sudah menceritakan semuanya ke papi," kata seseorang yang baru saja datang dan langsung menimbrung pembicaraan Liora dan papinya.


Liora dan William menoleh dan melihat Max yang berjalan menghampiri mereka kemudian duduk di samping William.


"Kak kau…" ucap Liora tertahan, menatap Max kesal.


"Pi kalau soal El berbohong, oke El mengakui itu, El terpaksa waktu itu, dan iya El memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Ronald."


"Kenapa kamu membohongi Papi? Apa karena Papi pernah membuatmu kecewa waktu itu, kamu masih marah sama Papi?"


"Bukan seperti itu Pi, hanya saja waktu itu…"


"Karena ada Jason di sana, iya kan?" Bukan William atau Max yang mengatakan tapi Stevano yang baru saja menuruni anak tangga dengan menggendong Alno.


"Kak kau…" kini Liora menatap kakak pertamanya tidak percaya.


Liora menatap ketiga pria yang disayanginya satu persatu, rasanya Liora seperti di keroyok saat ini, dimana dirinya hanya seorang diri dan dicecar pertanyaan oleh ketiga pria itu.


"Apa? Jadi kamu belum bisa melupakan pria berwajah datar itu? Jangan bilang jika kamu bekerja di kantor Kak Vano karena ingin dekat dengannya?" Tatap Max menyelidik ke arah adik perempuan satu-satunya itu.


"Itu dulu, tapi tidak sekarang Kak, dan jangan menuduhku seperti itu!" Liora bangkit dari duduknya dia benar-benar sakit hati saat mendapat tuduhan seperti itu dari kakaknya.


"Iya aku akui, waktu itu awalnya aku mengakui jika Ronald kekasihku, karena memang aku ingin Kak Jason tahu jika aku sudah melupakannya, tidak lebih dari itu. Memang aku salah karena waktu itu tidak langsung menjelaskan pada papi dan mami, karena aku pikir, papi juga tahu hal itu, bukankah selama ini papi menyuruh orang diam-diam mengawasiku? Dan masalah Ronald, aku yakin dia sudah berubah, sekarang dia tidak pernah lagi berhubungan dengan wanita manapun, dan setiap orang punya masa lalunya sendiri kan, tapi tidak ada salahnya jika orang itu mau berubah, tapi kenapa Kak Max selalu mengungkit keburukkannya, tidak pernah sekalipun Kak Max membicarakan hal baik tentangnya. Memangnya Kak Max begitu mengenalnya hingga Kak Max tahu semua tentang dia. Kak Max terus saja berkata seperti itu, seolah Kak Max tidak pernah berbuat salah? Seperti Kak Bunga yang mau memberikan kesempatan untuk Kak Max berubah, aku juga sama, aku ingin memberikan kesempatan agar Ronald berubah. Dan aku perjelas aku bekerja di perusahaan milik Kak Vano karena aku menyukai desain dan aku ingin belajar, apa itu salah? Aku sama sekali tidak ada niatan seperti apa yang Kak Max tadi katakan. Dan Kak Max tidak perlu khawatir, karena tentang Jason aku sudah benar-benar melupakan perasaanku padanya," setelah berkata panjang lebar Liora berjalan melangkah meninggalkan ketiga pria itu.


Tapi saat di dekat tangga, langkahnya berhenti, tanpa menoleh Liora kembali berkata.


"Aku dan Kak Max tidak ada bedanya, kita sama Kak, Kak Max juga masih mencintai Kak Olive kan walaupun Kakak tahu waktu itu Kak Olive sudah menikah dengan Kak Vano. Tapi bedanya, aku mundur karena tidak ingin menyakiti Lily dan berakhir Kak Jason membenciku. Tapi Kak Max…bahkan pernah berkata pada Kak Olive  untuk meninggalkan Kak Vano, tanpa tahu jika dibalik permintaan Kakak waktu itu bisa saja menyakiti banyak orang."

__ADS_1


Setelah itu Liora pun kini menaiki tangga tidak peduli dengan teriakan Max yang terus memanggil-manggil namanya.


__ADS_2