Please Love Me

Please Love Me
Bab 254


__ADS_3

"Bagaimana apa kamu senang?" 


Ronald yang tadi pandangannya tertuju pada langit berbintang, kini menunduk dan melihat wajah gadisnya, yang kini melakukan hal yang sama yaitu menatapnya. Mereka kini tengah berduaan di balkon dekat kamar Liora, sedangkan orang tua mereka masih asyik berbincang.


"Hmm senang, sangat senang, walaupun…"


"Walaupun apa?"


Ronald berdiri di belakang Liora dan mengurung tubuh gadis itu, dengan kedua tangan yang berpegang pada pembatas balkon.


Liora menoleh, hingga membuat kedua wajah mereka dalam jarak yang begitu dekat.


"Walaupun sebenarnya aku masih tidak menyangka akan apa yang terjadi tadi," jawab Liora jujur.


"Bukan hanya kamu baby, karena sebenarnya, aku sendiri pun tidak menyangka, jika akhirnya bisa mendapatkan restu keluargamu. Sepertinya aku harus berterima kasih pada kakakmu, karena dia, akhirnya papi merestui cinta kita."


"Oh ya, tapi kenapa kamu menghilang begitu lama?"


"Ada sesuatu terjadi, hmmm nanti saja aku ceritain pelan-pelan, dan lagi untuk menjelaskan pada Ayah waktu itu sangat sulit, Ayah masih saja tidak percaya, hingga butuh tenaga lebih untuk bisa meyakinkannya."


Liora mengangguk mengerti, kini tangan Ronald melingkari perut Liora. Dan Liora menikmati pelukan hangat pria itu, sambil keduanya melihat gemerlap bintang.


"Maaf Nona, Tuan, Tuan besar meminta Anda turun."


Perkataan pelayan mengejutkan Liora dan Ronald. Keduanya yang asyik menikmati waktu berdua kini harus terpaksa mengakhirinya, karena panggilan William.


Dengan bergandengan tangan keduanya melangkah bersama, hingga sampai di ruang makan, Liora menundukkan kepalanya saat semua mata kini tertuju pada mereka, Ronald menarik tangan Liora agar berjalan mendekat dan keduanya kini duduk bersebelahan.


"Lebih baik kita makan dulu," kata William memulai pembicaraan.


Liora mengangkat wajahnya, dan bisa dia lihat kini kakak keduanya sudah berada di sana bersama istrinya. Ya Max belum lama datang, dia tidak bisa datang saat Mike baru saja tiba karena ada sesuatu penting yang harus dia urus. Dan tidak melihat keberadaan Max tadi, membuat Liora mengira jika kakaknya itu marah dan belum merestui mereka.


Semua orang kini sibuk menikmati makan malam mereka, tidak ada yang bersuara hanya terdengar dentingan sendok dan garpu. Tapi Liora sedari tadi terus menatap Max, memastikan jika kakaknya itu tidak terpaksa hadir di sana, karena permintaan mami dan papinya.


"Kenapa kamu terus menatap kakak seperti itu?" Tanya Max yang sebenarnya sedari tadi tahu jika Liora terus memperhatikannya, dan dirinya sedari tadi berpura-pura tidak tahu dan baru mengatakan setelah makanannya sudah dihabiskan.

__ADS_1


Mendengar suara Max, semua orang yang ada di ruang makan tersebut langsung menatapnya, bergantian dengan menatap Liora.


"Apa Kak Max juga memberi restu untuk hubungan kami?" Tanya Liora yang memang penasaran, karena sebelumnya yang paling menentang hubungan mereka adalah Max.


"Untuk apa Kakak disini jika tidak merestui hubungan kalian," kata Max yang kini meneguk air putih di hadapannya.


Liora merasa lega mendengarnya, dia menoleh saat merasakan ada sebuah tangan menggenggam tangannya di bawah meja, siapa lagi kalau bukan Ronald yang kini tersenyum, seolah mengatakan semua bisa diatasi dengan baik.


Selesai makan malam, kini semua berpindah ke ruang keluarga, duduk santai berbincang, lebih tepatnya membicarakan rencana pernikahan Ronald dan juga Liora. Setelah menentukan tanggalnya, Mike pun berpamitan, tak lama disusul Ronald yang juga ikut pamit, tapi Ronald tidak pergi sendiri, karena kini dia mengajak Liora untuk ikut dengannya, dan meminta izin pada keluarga gadis itu.


"Jangan pulang malam-malam, jam sepuluh harus sudah kembali, dan ingat Liora harus kembali dalam keadaan utuh," pesan Max tanpa menatap Ronald.


"Ya kali Kak tidak utuh, memangnya Ronald akan memakanku apa," kesal Liora mendengar pesan dari kakaknya.


"Ya untuk jaga-jaga saja, takutnya dia nanti akan aw…." Teriak Max kesakitan saat tiba-tiba mendapat cubitan dari istrinya.


"Sakit honey, kenapa kamu malah mencubitku," Max kini menatap sang istri yang menatapnya tajam.


"Jangan bicara aneh-aneh deh," ucap Bunga tidak suka, dia bukan tidak tahu apa yang suaminya maksud.


"Sst diam!" Perintah Bunga dan Max pun hanya bisa menurut.


"Kamu tenang saja, aku akan membawa Liora pulang tepat waktu," kata Ronald yang kini menggandeng Liora keluar.


*


*


Sesuai rencana mereka kemarin, Kini Jason dan Lily tengah bersiap setelah keadaan Cinta sudah benar-benar sembuh.


Lily saat ini sedang memasukkan bajunya dan juga baju Jason ke dalam koper, sementara suaminya itu sedang bersama Cinta di ruang keluarga bersama ayah dan ibunya.


Lily menoleh saat terdengar suara pintu yang terbuka. Dirinya langsung bangun begitu melihat suaminya yang kini masuk dengan Cinta di dalam gendongannya.


"Sudah tidur?" Tanya Lily tanpa mengeluarkan suara.

__ADS_1


Jason mengangguk dan melangkah menidurkan Cinta di ranjang mereka. Semenjak Cinta sembuh dari sakitnya, gadis kecil itu kini tidur bersama dengan ibu dan ayahnya, Lily tidak tega membiarkan putrinya sendiri lagi, dia khawatir jika Cinta tiba-tiba sakit dan dirinya terlambat menyadarinya.


"Sudah selesai?" Tanya Jason melihat koper yang masih dalam posisi terbuka.


"Hmm sebentar lagi, kamu kalau mau istirahat, istirahat saja, biar aku selesaikan ini dulu," kata Lily.


"Aku akan membantumu, biar cepat selesai, lalu setelah itu kita bisa tidur bersama."


"Baiklah ayo!" Kata Lily tersenyum dan kini keduanya membereskan baju-baju yang akan mereka bawa bersama.


"Akhirnya selesai," ucap keduanya bersamaan, sambil meregangkan tubuhnya yang terasa pegal.


Jason bangun lebih dulu, kemudian mengulurkan tangannya membantu sang istri untuk bangun.


"Ayo tidur," ucapnya kemudian.


"Ayo!" Lily menyambut uluran tangan suaminya kemudian mereka berjalan ke arah ranjang. 


Lily dengan segera merebahkan dirinya, rasanya dia rindu kasur empuknya, setelah seharian ini melakukan banyak aktivitas.


"Kenapa kamu tidur disini?" Tanya Lily yang melihat suaminya justru tidur di sampingnya.


"Aku ingin tidur sambil memelukmu," jawab Jason enteng.


"Tapi sayang…"


"Ayolah please, aku tidak bisa tidur jika tidak memelukmu," kata Jason dengan wajahnya memelas.


"Baiklah, tapi kamu hanya bisa memelukku, karena aku tidak bisa memelukmu, tapi aku akan memeluk Cinta."


"Tidak masalah," jawab Jason.


Mendengar itu, Lily pun tidur dengan posisi membelakangi suaminya, dan Jason menyelipkan satu tangannya untuk bantalan sang istri dan tangan satunya dengan segera melingkarkan tangannya di perut sang istri memeluknya erat.


"Malam ini kamu bisa lolos sayang, tapi aku tidak membiarkanmu nanti di saat kita hanya berdua," bisik Jason tepat di telinga Lily membuat wanita itu merinding mendengarkannya. Apalagi Jason sengaja menciumi ceruk leher Lily hingga kegelian, tidak tinggal diam, tangan Jason kini sudah menaikkan baju yang dipakai istrinya.

__ADS_1


"Sayang!" Lily mencoba menahan tangan suaminya, tapi Jason kini justru mengunci tangan Lily yang berusaha menahannya.


__ADS_2