Please Love Me

Please Love Me
Bab 197


__ADS_3

"Ini semua gara-gara Ayah! Lihatlah dia pergi jadinya. Tidak bisakah Ayah diam saja dan makan saja masakan itu tanpa banyak komentar. Dia memasak seperti itu, masih lumayan, karena setidaknya dia mau belajar dan mengerti bagaimana caranya menyambut tamu, tapi sekarang dia jadi pergi karena Ayah yang banyak protes," kesal Ronald begitu kembali masuk yang langsung menatap tajam tersangka utama yang membuat Liora pergi.


"Wah hebat sekali dia sampai bisa membuatmu membelanya mati-matian begini, apa dia sudah memberimu sesuatu berharga?"


"Cukup Ayah, jangan pernah samakan dia dengan wanita-wanita itu, karena dia tidak seperti mereka. Dan apa tadi, banyak cangkanglah, manislah! Tapi ternyata habis juga," ucap Ronald menyindir saat melihat piring di depan ayahnya sudah kosong, pria paruh baya, itu sudah menghabiskan makanan yang tadi dimasak Liora.


"Ya mau bagaimana lagi, Ayah lapar jadi ya terpaksa, Ayah habiskan saja," ucap Mike memberi alasan.


"Awas saja jika dia nanti sampai marah lagi sama aku," ucap Ronald pada ayahnya.


"Tidak tahu apa, demi bisa bersamanya bahkan aku harus kesakitan dulu," gumam Ronald yang masih bisa didengar Mike.


Setelah melampiaskan apa yang membuatnya marah, kini Ronald pun memilih kembali ke kamarnya.


Sementara itu, Liora terus saja diam sepanjang perjalanan, entah apa yang dipikirkannya saat ini, tapi tiba-tiba menghela nafasnya panjang.


"Maaf Nona, kita…"


"Sudahlah Pak jalan saja, aku sedang berpikir," ucap Liora memotong ucapan sang supir untuk kedua kalinya.


"Baiklah," jawab sang supir.


"Apa seburuk itu masakanku," gumamnya tiba-tiba.


"Tapi kan memang aku tidak memasak, kenapa aku heran jika masakanku seburuk itu, lagian kenapa pula aku merepotkan itu semua?" Gumamnya lagi.


Setelah itu, Liora kembali terdiam lagi, "Tapi bukannya seharusnya berterima kasih karena aku sudah menyiapkan makanan untuk menyambutnya, bukankah setidaknya sedikit saja menghargai usahaku yang susah payah membuatkan sesuatu untuknya?" Gumamnya kemudian.


"Hmmm Nona sebenarnya kita…"


"Pak bisa tidak jangan membuatku semakin pusing, bapak fokus saja menyetir, biarkan aku berpikir dengan tenang," lagi-lagi Liora memotong ucapan supir itu sebelum menyelesaikan perkataannya.


"Baiklah," supir itu pun hanya bisa pasrah.


"Lihat saja, aku pasti akan buktikan pada ayah si buaya, agar dia tidak menghina masakanku lagi," ucapnya yang kini sudah bertekad bulat.

__ADS_1


Liora kemudian memilih menatap keluar jendela.


"Tunggu kenapa kita masih disini Pak?" Tanya Liora yang bertanya pada sang supir karena saat ini dirinya masih berada di sekitaran tempat pria buaya itu tinggal.


"Maaf Nona, habisnya saya bingung, saat saya bertanya kita mau kemana, Nona malah menyuruh saya terus saja jalan, bagaimana saya jalan jika tidak tahu alamat yang dituju, jadi ya saya terpaksa puterin jalanan sekitaran sini," ucap sang supir menjelaskan.


Liora menepuk keningnya pelan, "Tapi kan bapak harusnya bertanya kepada saya alamat yang saya tuju, bukannya menurut begitu saja."


"Aduh Nona ini gimana? Dari tadi aku mau bertanya tapi Nona selalu memotong ucapan saya, bilang kalau mau berpikir, asal Nona tahu, bukan hanya Nona yang berpikir, saya juga berpikir, kira-kira kemana saya harus mengantar Nona, tapi percuma juga saya berpikir, menebak saja saya tidak bisa," ucap supir yang dengan jelas menahan kekesalannya.


"Ya sudah sekarang, kita ke alamat…" Liora pun mengatakan dimana tempat tinggalnya.


Dan supir itu pun, akhirnya menuruti ucapan Liora dan langsung menancapkan gas, menuju ke alamat yang disebutkan gadis itu.


"Aha...aku tahu aku harus kemana," ucap Liora hingga membuat supir pun terkejut.


"Pak kita putar balik! Kita menuju ke alamat ini saja," kata Liora kemudian dan sang supir harus benar-benar bersabar demi mendapatkan uang, apalagi saat mendengar ucapan Liora barusan.


"Padahal lima menit lagi sampai," gumam supir taksi yang kemudian memutar balik arah menuju ke alamat yang baru saja Liora sebutkan.


Beberapa menit kemudian, tak lama taksi pun berhenti di depan sebuah rumah.


"Sudah sampai Nona," ucap supir itu yang kini sudah menghentikan mobilnya.


"Baiklah, terima kasih," ucap Liora yang langsung turun dan pergi begitu saja.


Sang supir pun ikut turun mengejar Liora.


"Tunggu Nona!" Teriak supir itu hingga menghentikan langkah Liora.


"Ada apa lagi pak?" Tanya Liora yang merasa heran karena supir itu malah turun dan mengejarnya.


"Maaf Nona, Anda belum bayar, Anda tidak bermaksud kabur kan?" Tanya pria itu menatap Liora penuh selidik.


"Hei Anda jangan sembarangan bicara," kata Liora tidak terima mendapat tuduhan seperti itu.

__ADS_1


"Tapi buktinya Anda langsung pergi."


"Aku hanya lupa," jawab Liora cepat.


"Ya sudah mana uangnya untuk membayar," kata sang sopir yang nampaknya semakin kesal saja.


"Sebentar kenapa Pak, sabar!" Liora pun dengan segera membuka tasnya dan tidak menemukan dompetnya ada disana, dan Liora hanya bisa menepuk keningnya saat mengingat jika dirinya tadi berganti tas dan lupa memindahkan dompetnya.


"Kenapa?" Tanya supir sudah waspada.


Liora tersenyum kikuk, dan hal itu semakin membuat sang supir menatap gadis itu penuh curiga.


"Maaf Nona, tidak boleh berhutang," ucap tiba-tiba pria paruh baya itu, saat menyadari gelagat Liora.


"Tapi saya benar-benar lupa Pak tidak membawa dompet," ujar Liora menatap sang supir.


"Ayo Nona, sebaiknya Anda ikut dengan saya!" Pria itu menarik tangan Liora agar ikut dengannya.


"Tunggu! Kita mau kemana?"


"Kita harus ke kantor polisi," jawab sang supir hingga Liora berusaha sekuat tenaga agar tetap di posisinya.


"Pak kita bisa bicarakan baik-baik, lepaskan dulu tangan saya!"


"Tidak bisa, nanti Nona kabur," ucap sang supir waspada takut kalau-kalau Liora akan kabur lagi.


"Aku tidak akan kabur, biarkan aku masuk dulu dan ambil uangnya," ucap Liora menepis tangan pria itu.


"Baiklah, awas saja jika Anda kabur!" Ancam sopir itu.


"Tidak akan, Anda tenang saja," ucap Liora yang kini berjalan masuk dan memencet bel rumah itu berkali-kali.


Liora menoleh ke belakang, dimana sang supir terus saja memantaunya. Liora mencoba mengambil ponselnya yang ternyata sudah mati, kemudian dirinya kembali memencet bel rumah itu, dan untungnya tidak lama seorang pria pun keluar dan terkejut melihat siapa yang datang pagi-pagi begini.


"Liora apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jason merasa heran karena pagi-pagi gadis itu sudah berada di depan rumahnya. 

__ADS_1


Bukannya menjawab pertanyaan Jason, Liora justru menarik pria itu untuk menemui sang supir yang sedari tadi menunggu dirinya untuk membayar.


__ADS_2