
"Felicya mengidap kanker darah stadium akhir, itulah hasil pemeriksaan, awalnya saya sempat heran saat bertemu Alan, karena Alan masih sibuk dengan pekerjaannya disaat istrinya sakit parah. Saya tidak mau ikut campur, tapi saya juga tidak bisa diam saja, saat beberapa kali Felicya datang ke rumah sakit sendirian, saya menyarankan agar Felicya di rawat inap, dia menolak, dia bilang tidak ada yang menjaga anak-anaknya. Sampai akhirnya saya saat itu hendak menghampiri Alan dan menanyakan apa Alan tahu tentang keadaan Felicya sebenarnya, tapi sebelum melakukan itu, ada seseorang yang lebih dulu menarikku. Dia Felicya dan dia memintaku untuk menyembunyikan tentang penyakitnya pada Alan."
Air mata Alan menetes mendengarkan rekaman yang menantunya berikan dimana itu adalah rekaman dokter Riu yang menceritakan tentang istrinya.
Alan menunduk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Kenapa aku tidak tahu apapun tentangnya? Apa saat dia ingin ikut dan memintaku menemaninya karena dia ingin berbagi bebannya? Tapi apa yang aku lakukan? Aku justru tampak tidak peduli dengannya. Aku justru terus menyibukkan diri sendiri, melupakan masa laluku, aku..."Alan terisak, Alan sudah tidak peduli lagi, jika dia menangis di depan menantunya.
"Ayah," Jason tidak tahu harus berbuat apa untuk saat ini.
Al datang menghampiri dia sudah mendengar semuanya. "Jadi maksudmu Ibu.."
"Kemungkinan yang membuat beliau ingin pisah dari Ayah karena penyakitnya, beliau tidak ingin membebani Ayah, beliau tidak ingin Ayah tahu jika beliau sakit."
Al memeluk sang Ayah, dirinya juga merasa sedih karena baru tahu kenyataan ini.
Apakah ini yang dinamakan cinta yang tulus, bersedia mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagiaan orang yang disayanginya.
Jason sudah sedikit lega, setidaknya perlahan Jason sudah sedikit menemukan titik terangnya. Sekarang dirinya tinggal mencari tahu ada hubungan apa antara Ibu mertuanya dengan Ayah Dahlia.
*
*
Lily menggeliat dan meregangkan otot-ototnya. Dirinya menatap sekeliling.
"Ternyata sudah sampai," Lily mengambil ponsel dan menyalakannya, dengan mata menyipit Lily melihat jam yang biasanya terpampang di layar ponselnya.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Lily bangun dan mencari suaminya, Lily menuju ke kamar mandi barangkali suaminya ada disana ternyata sudah tidak ada, Lily melihat koper yang sudah diletakkan di tempat semula, bahkan baju kotor sudah tidak ada.
"Suamiku memang paling pengertian," ucap Lily tersenyum, kemudian dirinya memutuskan untuk keluar dari kamar dan turun mencari suaminya, Lily juga ingin segera bertemu Alan, dia sudah sangat merindukan ayahnya.
Langkahnya terhenti melihat ketiga orang yang disayanginya sedang berkumpul dan entah apa yang mereka bicarakan tapi mereka terlihat serius.
Lalu, kenapa Ayahnya menangis, kakaknya memeluk Ayahnya dan ikut menangis, apa yang sebenarnya terjadi, banyak pertanyaan yang memenuhi pikiran Lily.
Lily menuruni anak tangga dengan berlari. Ketiga pria itu langsung menoleh, "Ale hati-hati sayang," peringat Alan yang langsung berdiri setelah menghapus air matanya dan menghampiri sang putri.
"Ayah!" Teriak Lily yang langsung berhambur ke pelukan Ayahnya.
"Ale sangat merindukan Ayah," Lily terlihat semakin mengeratkan pelukannya.
"Ayah juga sangat merindukan putri cantik Ayah," Alan balas memeluk putrinya erat.
Alan dan Lily melepas pelukan mereka, dan kemudian merentangkan tangannya. Al masuk ke dalam pelukan Ayah dan adiknya. Jason bahagia melihat senyuman wanita yang dicintainya.
Lily tersenyum, tapi sejujurnya dalam hati Lily masih bertanya-tanya apa yang orang-orang disayanginya itu tadi bicarakan, tapi Lily memutuskan memilih diam, dia tidak ingin kembali merusak suasana saat ini, dirinya memilih pura-pura tidak tahu apa yang terjadi tadi, sampai mereka semua sudah siap menceritakannya, Lily akan menunggu walaupun dirinya begitu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena Lily yakin cepat atau lambat salah satu dari ketiganya akan menceritakan hal tadi kepadanya.
"Ayah aku lapar," ujar Lily yang mengakhiri pelukan.
"Oh iya pantas saja, perut Ayah juga sudah bunyi, ini sudah hampir jam setengah 8, ini pasti karena keasyikan mengobrol tadi, kita jadi melupakan sarapan," kata Alan yang baru menyadari sudah waktunya harus sarapan.
Kruyuk
__ADS_1
Kruyuk
Terdengar suara perut Al berbunyi dan semuanya tertawa.
"Tuh uda protes!" ucap Jason berjalan mendekat merangkul pinggang istrinya sambil tersenyum meledek ke arah Kakak Iparnya.
Sementara Al hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dirinya tampak salah tingkah, dan begitu malu, apalagi hal itu terjadi di depan Adik Iparnya.
"Ya sudah ayo makan!" Ajak Alan pada anak-anaknya. Dirinya tampak berjalan lebih dulu, meninggalkan anak-anaknya yang menyusul di belakang.
Mereka berempat pun berjalan ke ruang makan, bersiap untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan sedari tapi tapi baru menyadarinya.
.
.
"Apa benar yang Dion katakan kemarin? Apa Kak Al sungguh menyukaiku? tapi waktu itu Kak Al bilang padaku jika dia tidak pernah sedikitpun berpikir untuk menyukaiku, dan lihat bahkan sampai sekarang Kak Al juga tidak menghubungiku, bukankah itu tanda bahwa Kak Al memang tidak peduli padaku, Apa aku sebaiknya menyerah? Menyerah bahkan sebelum aku berjuang," Dahlia tertawa miris, sungguh ironis kisah cinta yang bahkan dia belum memulainya tapi kini dia ingin menyerah.
"Untuk apa aku berjuang, jika hanya aku sendirian, sementara orang yang aku perjuangkan sudah memberikan peringatan tegas bahwa jalan yang ada di depanku dalam menggapainya tidaklah mudah, dan yang sekarang aku pikirkan, bagaimana aku berjuang jika dia masih memikirkan orang lain, bahkan mungkin orang itu masih memenuhi hatinya. Ah kenapa rasanya sakit," Lily memegang dadanya terasa sesak.
Seperti inikah cinta, tidak pernah mulus, jika kita mencintai orang itu, orang itu tidak mencintai kita, jika orang itu yang mencintai kita justru kita yang tidak mencintainya, apa kita harus memilih di antara mencintai atau dicintai? Tidakkah kita bisa saling mencintai saja, mencintai satu sama lain, kita mencintai dia dan dia pun mencintai kita. Tapi bukankah yang saling mencintai juga bisa saja saling menyakiti?
Dahlia mengusap air matanya yang mengalir deras membasahi wajahnya tanpa bisa dicegah.
"Sudahlah, kenapa aku jadi cengeng seperti ini, lebih baik aku fokus pada kesehatanku, biar aku bisa kembali menjalani rutinitasku, aku harus segera lulus biar bisa membantu Ibu, semangat Dahlia!" Dahlia mengangkat kedua tangannya yang mengepal ke atas dan menurunkannya cepat menandakan ingin melakukan sesuatu dengan semangat.
__ADS_1
"Jadi kangen Lily deh, dia sudah pulang belum ya, hmm apa lebih baik aku menghubunginya saja, kurasa memang lebih baik seperti itu," gumam Dahlia setelah berpikir, hingga kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi adiknya yang dua hari ini tidak ditemuinya.