
"Aku juga mencintaimu, maafkan aku yang terlambat menyadari perasaanku, saat itu aku hanya tidak menyangka, apa mungkin cinta yang sudah aku simpan puluhan tahun bisa hilang begitu saja dengan kehadiran orang yang belum lama aku kenal, aku memang merasakan perasaan yang berbeda terhadapmu, tapi aku selalu berusaha menyangkalnya, tapi mana aku tahu, saat aku mendengar kamu bersama pria lain, aku merasa tidak terima dan ingin membuat hubungan kalian hancur, saat melihat kamu bersamanya rasanya ada rasa tidak nyaman yang aku rasakan, bahkan ingin rasanya saat itu aku hajar pria yang bersamamu itu. Tapi sayang aku sangat bersyukur, karena kita akhirnya bisa bersama, walaupun jalan yang kita lalui penuh dengan kesakitan. Aku bahagia bisa memilikimu dan menjadi bagian dalam hidupmu, aku berharap kita akan selalu bersama sampai menua," Jason memeluk Lily erat seakan enggan melepaskan wanita yang begitu dia cintai.
"Lihatlah itu matahari terbenam cantik sekali," ujar Lily melepaskan pelukan dari suaminya.
Jason menatap ke arah pandang istrinya, dan benar matahari terbenam begitu indah di lihat dari tempat mereka sekarang berada.
"Ayo kita balik ke hotel, sudah gelap juga," ajak Jason bangun lebih dulu dan mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya bangun.
Lily menggapai tangan suaminya untuk bangun, dan kemudian keduanya melangkah meninggalkan pantai dengan bergandengan tangan.
Tak lama mereka pun sampai di hotel karena memang jarak pantai dan hotel tidak terlalu jauh. Dan di perjalanan mereka menuju kamar, mereka bertemu dengan Al yang tampak memegang ponsel yang ditempelkan di telinganya sambil berjalan terburu-buru.
"Kakak mau kemana?" Tanya Lily menghentikan langkah Al.
Al menatap Lily dan Jason kemudian menurunkan ponselnya, "Kakak mau pulang sekarang," jawab Al.
"Kenapa tidak bareng saja, Kak Al juga terlihat buru-buru, ada apa? Apa terjadi sesuatu di rumah?" Tanya Lily yang jadi khawatir.
"Semua baik-baik saja, lagian besok kan Kakak harus ke kampus, makanya Kakak pulang sekarang," Al mengacak rambut Lily, dan hanya dibalas dengusan oleh adiknya itu.
"Tapi benar hanya karena itu, tidak terjadi apa-apa sama Ayah kan Kak?"
"Tidak Ale, kalau kamu tidak percaya kamu bisa telepon Ayah deh, ya sudah Kakak pulang dulu," kini Al menatap Jason, "Kamu jaga baik-baik Ale, jika tidak awas saja nanti," ucap Al memperingati, dan kemudian segera berlalu meninggalkan sepasang suami istri itu.
"Tapi kenapa Kak Al kaya yang panik gitu ya," Lily mendongak menatap suaminya, meminta pendapat suaminya tentang kakaknya yang terlihat buru-buru.
"Mungkin karena memang ada urusan mendadak, kamu tidak perlu khawatir ya, dan kalau kamu masih kurang yakin, kamu bisa telepon Ayah nanti, Ayo sekarang kita kembali ke kamar," Al merangkul pinggang istrinya dan berjalan menuju kamar mereka yang sudah tidak terlalu jauh.
"Kamu mandi dulu saja, aku harus menelpon dulu, tidak apa-apa kan?" Kata Jason kepada Lily begitu sudah sampai di dalam kamar mereka.
__ADS_1
"Ya sudah, aku mandi dulu, kamu lanjutkan saja, tapi jangan lama-lama, aku selesai mandi kamu juga harus sudah selesai," kata Lily memberi peringatan.
"Iya sayang, ya sudah sana mandi," Jason mengecup kening istrinya sebelum membiarkan sang istri berlalu meninggalkan dirinya.
Setelah melihat pintu kamar mandi terbuka, Jason segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Saya mau kamu cari tahu sesuatu secepatnya, aku akan kirim detailnya nanti," kata Jason pada seseorang, dan kemudian segera mengakhiri panggilan begitu orang di seberang sana sudah mengiyakan perintahnya.
Jason menuju ke tempat tidur dan duduk di atasnya bersandar. Dia tampak sibuk dengan laptopnya, sampai tidak sadar istrinya sudah selesai mandi dan kini berjalan menuju ke arahnya.
"Tuh kan begitu! ucapan aku tidak di dengerin, padahal tadi sudah aku peringati, jika kamu harus sudah selesai, tapi aku sudah kelar kamu masih sibuk saja," gerutu Lily yang kini duduk di samping suaminya.
"Iya, iya, ini aku save dulu," setelah mengatakan itu, tak lama Jason sudah menutup laptopnya dan meletakkannya di atas meja samping tempat tidur.
"Aku mandi dulu ya, habis ini kita keluar beli makan apapun yang kamu inginkan," kata Jason mengecup bibir Lily sebelum akhirnya dirinya beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lily tersenyum menatap pintu kamar mandi yang kini telah tertutup rapat.
"Kak Al? Bagaimana Kak Al bisa ada disini?" Tanya Dahlia yang terkejut saat membuka pintu dan ada Al yang sudah berada di depannya.
"Naik mobil," jawab Al cuek sambil menatap gadis di depannya yang terlihat biasa-biasa saja, padahal Al sudah bela-belain pulang secepatnya, bahkan menggantikan supirnya untuk membawa mobil agar bisa secepatnya sampai.
"Hah? Maksudnya?" Dahlia tampak bingung dengan jawaban Al barusan.
"Hah?" Al menirukan respon yang diberikan Dahlia.
"Lagi-lagi hah, bisa tidak responnya tidak usah pakai hah," ketus Al yang tampak sangat kesal.
"Mm maaf itu hanya jawaban spontan saja, aku tahu Kak Al naik mobil, maksudnya kenapa Kak Al bisa sudah ada disini? Bukankah Kak Al kemarin malam mengantarkan Lily pergi ke tempat suaminya? Kenapa sekarang Kak Al sudah ada disini?" Tanya Dahlia yang merasa heran.
__ADS_1
"Pikir saja sendiri," ketus Al yang kemudian langsung menerobos masuk.
"Dapur dimana? aku haus," ujar Al menatap sekeliling.
Dahlia berbalik mengikuti Al, melangkah dengan sedikit kesusahan, karena masih menggunakan tongkatnya, "Di sebelah sana!" Dahlia menunjuk ke arah kanan dimana letak dapur berada.
"Tunggu Kak biar aku ambilkan, Kak Al duduk saja, bagaimanapun kan Kak Al tamu," Dahlia merasa tidak enak karena Al akan mengambil minuman sendiri.
Al memandangi Dahlia dari atas sampai bawah, "Dengan kondisimu yang seperti itu?" Al menggelengkan kepala.
"Tidak, lebih baik kamu duduk saja! Aku bisa mengambilnya sendiri," tambahnya dan kini berbalik badan meneruskan niatnya yang akan pergi ke dapur.
"Tapi Kak.."
"Diam dan duduklah dengan tenang!" Perintah Al tanpa menoleh dan segera meninggalkan Dahlia yang hanya bisa pasrah.
"Ya sudah," gumam Dahlia yang kemudian duduk memainkan ponselnya, sambil menunggu Al kembali.
"Di rumah tidak ada makanan?" Tanya Al yang tidak melihat ada satupun makanan di dapur. Dirinya kemudian duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat Dahlia.
"Hmm tidak ada, Ibu pergi pagi-pagi sekali dan sampai sekarang belum kembali," Dahlia langsung menutup mulutnya yang kelepasan bicara.
"Apa maksudmu? Ibumu meninggalkanmu sendiri dalam keadaan seperti ini?" Tanya Al yang tidak menyangka.
"Ibu bukan seperti yang kau pikirkan, Ibu hanya..."
"Sudahlah itu tidak penting lagi, lagian juga semua sudah terjadi, jadi kamu belum makan?" Tanya Al menatap Dahlia dengan pandangan menyelidik.
Dahlia menggeleng, "Belum," ucapnya pelan.
__ADS_1
"Tunggu disini! Bahan-bahannya ada kan? Biar aku yang masak," ucap Al bangun dari duduknya.
"Biar aku saja Kak," Dahlia juga ikut bangkit dari tempat duduknya, dan karena terburu-buru, tongkatnya yang belum dalam posisi benar membuat tubuh Dahlia limbung, Dahlia memejamkan matanya bersiap bahwa mungkin saja, tubuhnya bisa jatuh di atas lantai yang keras.