
Lily tersenyum sambil terus berjalan ke arah putrinya yang terus meronta dari gendongan Liora.
"Bu! Ibu"
Lily tersenyum lalu meraih Cinta dan mengambil alih ke dalam gendongannya.
"Kenapa kan masih sama Bibi Liora?"
Cinta menggeleng kemudian menyembunyikan wajahnya di leher Lily.
"Cinta beneran nih tidak mau sama Bibi?"
Gadis kecil itu kembali menggeleng dan Liora pura-pura merajuk.
"Ya sudah, nanti Cinta tidak diajak, Bibi akan pergi jalan-jalan sama Kak Alno, Kak Ken, Kak Vier dan juga Kak Vira."
Cinta langsung menatap Liora, "Benelan?"
"Hmmm, tentu saja, karena Cinta tidak mau sama Bibi ya sudah, Bibi tidak akan mengajak Cinta."
"Nta mau cama Bibi," terlihat Cinta kini mengulurkan kedua tangannya meminta Liora untuk menggendongnya.
Liora tentu saja tersenyum senang karena merasa mudah membujuk Cinta. Ronald mengacak rambut Liora saat melihat gadisnya itu tersenyum ke arahnya karena berhasil merayu Cinta agar mau ikut dengannya.
"Oh ya ayo kita masuk, ibu jadi lupa kan mempersilahkan kalian untuk masuk," ucap Dea.
Semuanya mengangguk dan mengikuti Dea masuk. Jason dan Lily saling pandang, kemudian memutuskan melangkah lebih dulu saat melihat putrinya tampak asyik mengobrol dengan Liora sambil jalan, bahkan Lily juga melihat Ronald sudah mulai ikut bergabung menggoda putrinya yang langsung terlihat akrab dengan keduanya.
Lily dan Jason langsung duduk di sofa begitu sampai di dalam, sementara Dea, wanita itu langsung berjalan ke dapur.
"Kalian sudah cocok punya anak," ujar Lily begitu Ronald dan Liora sampai di dalam.
"Hmm doakan saja, semoga nanti setelah menikah kami langsung diberi kepercayaan untuk segera mendapatkannya," jawab Ronald.
"Ini ayo minum dulu!" Kata Dea yang kini datang membawa nampan berisi minuman.
"Ibu tau saja kalau Liora haus," kata gadis itu menyerahkan Cinta pada Jason, karena memang Cinta ingin bersama ayahnya, lalu gadis itu mengambil dua gelas dari nampan memberikan satu untuk Ronald dan satu gelas lainnya langsung dia minum isinya tampaknya gadis itu memang sangat kehausan karena isi di dalam gelas langsung habis tak tersisa.
"Mau lagi?"
"Hah, oh tidak usa Bu, nanti kalau Liora haus, Liora akan ambil sendiri di dapur."
Dea mengangguk mengerti, dan ikut duduk di samping Lily, lalu kelima orang itu berlanjut mengobrol, hingga obrolan mereka terhenti saat mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Ternyata ada tamu," ucap pria itu.
__ADS_1
Lily dengan senyum yang terukir dalam bibirnya serta mata yang berbinar langsung bangun dan berjalan cepat menghampiri pria itu, dan begitu sampai di depannya, Lily langsung memeluknya erat.
"Hei, kenapa menangis?"
Lily menggeleng, dan semakin erat memeluk dan pria itu pun kini membalasnya sambil terus mengecupi puncak kepala Lily.
"Aku merindukan kakak, kenapa kakak lama sekali tidak pulang, apa Ale harus merengek dulu tiap malam agar membuat kak Al pulang," ucap Lily masih menangis di pelukan pria yang ternyata adalah Al.
"Oh ya, kapan Kak Al sampai?" Tambahnya.
"Setengah jam yang lalu, tapi kata Ibu kamu sedang pergi sama Jason, dan saat kakak mau ajak putri kamu main, dia malah sedang tidur, ya sudah kakak keluar jalan-jalan sebentar," jawab Al sambil mengelus rambut Lily, dia juga sebenarnya sangat merindukan adiknya itu.
Lily melepaskan pelukan dan menatap Al, "Kak Al akan terus disini kan? Kak Al tidak akan pergi lagi?"
Al menatap Jason yang memberi kode untuk tidak menjawab Lily, karena jika sampai Al mengatakan sekarang jika dia akan pergi lagi nanti, Lily pasti akan sedih lagi. Ya, beberapa hari ini, Jason selalu mendengar tangis istrinya yang terus mengatakan sangat merindukan kakaknya dan merengek ingin bertemu dengannya. Awalnya satu dua hari bisa dialihkan, tapi ternyata istrinya tidak pernah berhenti merengek dan bilang jika itu mungkin saja keinginan bayi mereka yang ingin melihat om nya, hingga Jason memutuskan menghubungi Al dan memintanya pulang, awalnya Al bilang tidak bisa, tapi pria itu akhirnya bilang bisa membuat Jason merasa senang, tapi Al bilang dia tidak bisa lama, karena sebentar lagi dia akan menjalani masa-masa sibuk.
"Hmm mana keponakan kakak? Kamu tidak memperkenalkan dulu pada kakak?" Tanya Al mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ah iya, Ale lupa, ayo sini!" Lily langsung menarik tangan Al membawanya mendekat ke arah putrinya yang anteng dalam pangkuan sang ayah.
"Kak Al," sapa Liora.
Al menoleh ke arah Liora dan tersenyum, "Hai, apa kabar? Oh ya, dengar-dengar katanya kamu mau menikah?"
"Ronald," Ronald bangun dan mengulurkan tangan, yang tentunya langsung mendapat balasan dari Al.
"Alvaro, panggil saja Al," ucap Al yang kemudian pandangannya kembali tertuju pada Cinta, keponakannya.
"Cinta, ayo sayang kenalkan ini paman Al," ucap Lily sambil mengelus rambut putrinya.
"Halo Cinta, ayo! Mau ikut sama paman atau tidak?" Kata Al mencoba mengulurkan kedua tangannya.
Cinta tampak mengamati Al lalu akhirnya gadis kecil itu pun mau saat Al mencoba untuk menggendongnya.
"Aduh beratnya!" Ucap Al yang sontak membuat mereka yang ada disana tertawa.
Sementara Cinta cemberut tidak suka saat dibilang berat.
"Kenapa ini bibirnya manyun-manyun seperti ini?" Al mencubit bibir Cinta yang maju beberapa senti.
"Nta da belat!"
"Hah?" Al bingung tidak mengerti apa yang Cinta ucapkan.
"Cinta bilang jika dia tidak berat," kata Jason menerjemahkan perkataan putrinya.
__ADS_1
"Oh tidak berat, baiklah Cinta tidak berat." Ucap Al yang membuat Cinta senang.
"Kita main yuk!" Al kemudian mengajak Cinta pergi dari sana.
*
*
"Siapa pria itu?" Bisik Ronald pada Liora yang tersenyum melihat kedekatan Al dan Lily.
Kedekatan yang membuat Liora kadang merasa iri, karena mereka saling mengungkapkan kasih sayang mereka, berbeda dengan dirinya yang memiliki dua kakak laki-laki, Stevano memang menyayanginya, tapi pria itu jarang sekali mengatakannya bahkan tidak sering memeluk Liora seperti apa yang dilakukan Al pada Lily. Stevano hanya menunjukkan rasa sayangnya diam-diam. Sementara Max, pria itu memang bilang bahwa dia menyayangi Liora, tapi alih-alih memberikan pelukan, mereka justru lebih sering berdebat.
"Baby!" Ronald menyentuh tangan Liora membuat gadis itu terkejut.
"Hah kenapa?"
"Dia siapa?"
"Oh itu, Kak Al, kakaknya Lily," jawab Liora menatap Ronald.
"Kamu menyukainya?"
"Hmm tentu saja, siapa yang tidak…maksudku bukan seperti yang kamu pikirkan, aku menyukainya sebagai sosok seorang kakak, lihatlah mereka, padahal mereka juga belum lama tahu bahwa ternyata mereka kakak adik, tapi mereka sangat akrab," ujar Liora dan perkataannya seperti penuh makna.
Ronald mengernyit tidak tahu apa maksud yang Liora katakan.
"Nanti aku ceritakan," jawabnya dengan berbisik pula.
"Oh iya ayah mana kok gak kelihatan?" Tanya Liora yang baru menyadari tidak adanya Alan di rumah.
"Ayah…"
Baru dibicarakan pria itu kini sudah muncul saja, dari arah depan.
"Sudah pulang?" Dea segera bangun dan mencium punggung tangan suaminya itu.
"Ini ada Liora dan Ronald datang," imbuh wanita itu.
Alan bersama sang istri kemudian melangkah bersama menghampiri Liora dan Ronald kemudian duduk di seberang pasangan itu.
Liora menunduk saat Alan menatapnya.
"Ayah kenapa menatapku seperti itu?"
"Kenapa kalian masih bersama? Mulai besok kalian tidak boleh bertemu lagi!" Ucap Alan yang tentunya membuat keduanya terkejut.
__ADS_1