
"Mami sama Papi masuk dulu saja," kata Liora yang kemudian mengambil ponselnya yang sedari tadi terus bergetar.
"Kamu tidak ikut masuk dan melihat kedua keponakanmu?" Tanya William karena putrinya itu malah menyuruhnya masuk dulu.
"Iya nanti saja El masuknya, hmm ada yang menelpon, El mau menjawabnya dulu barangkali penting," Liora menunjukkan ponselnya yang bergetar tanpa memperlihatkan nama si penelpon.
"Ya sudah nanti kamu nyusul ya," ucap Tiffa, kemudian masuk bersama William suaminya.
"Iya," Liora tersenyum kepada kedua orang tuanya. Kemudian dirinya duduk di ruang tunggu.
Tidak langsung menjawab panggilan telepon yang masuk, Liora justru masuk ke menu pesan dan mengetikan sesuatu di layar ponselnya, "Bagaimana? Ibu sudah datang kesana?" Tulis Liora di pesannya yang penasaran bagaimana kelanjutan tentang ibunya yang sengaja dikirimi pesan oleh Lily agar datang ke rumahnya, karena tadi Lily sempat meminta nomor Dea pada Liora setelah menceritakan apa yang tadi di sampaikan oleh ayah Lily.
"Kenapa tidak dibalas-balas sih?" Liora tampak kesal sambil terus menatap ponselnya berharap Lily akan segera membalas pesan yang dikirimkannya.
Malas menunggu lama, Liora pun kemudian bangun dari duduknya hendak masuk ke ruangan kakak Iparnya. Tapi ponselnya kembali bergetar dengan nama yang sama, dan seperti sebelumnya, gadis itu tetap saja membiarkannya hingga akhirnya panggilan pun berakhir dengan sendirinya, dan tiba-tiba tak lama ponselnya kembali bergetar untuk kesekian kalinya membuat Liora akhirnya memutuskan untuk menjawabnya tapi pastinya setelah menjauh dari ruang rawat Jasmine kakak iparnya.
"Halo Kenapa?" Tanya Liora begitu panggilan mereka sudah terhubung.
"Kamu dimana? Kirimkan alamatnya sekarang! Aku akan segera kesana" ucap seseorang di seberang telepon yang langsung memutuskan panggilan begitu sudah menyampaikan maksudnya menelpon.
"Dasar buaya, seenaknya saja! Dari tadi menelponku berkali-kali hanya untuk mengatakan itu, dan giliran aku menerima panggilannya, dia malah langsung mematikannya," gerutu Liora sambil menunjuk-nunjuk ponselnya yang layarnya sudah mati.
"Dia pikir aku akan langsung menuruti perintahnya begitu saja, tidak akan, tunggu saja sampai besok, aku tidak akan mengirimkan lokasi dimana aku sekarang " Liora kemudian menonaktifkan ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celananya kemudian berjalan untuk kembali ke ruangan Kakak iparnya.
Begitu membuka pintu, Liora begitu terkejut melihat pemandangan yang ditangkap oleh kedua matanya, dimana kakak dan kakak iparnya sedang berciuman, hingga Liora dengan spontan menutup pintu dengan keras dan kebetulan dia juga mendengar tangisan kencang keponakannya sesaat setelah itu terjadi.
__ADS_1
"Liora kenapa kamu tidak masuk?" tiba-tiba Liora terkejut saat ada seorang wanita yang tiba-tiba sudah ada di depannya dan bertanya kepadanya yang sedang mengatur detak jantungnya, dengan posisi berdiri dengan bersandar ke pintu.
"Kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Seorang pria yang tak lain adalah Alex lah yang kini gantian bertanya.
"Anu..mmm tidak terjadi apa-apa Ayah Ibu, tadi Liora hanya kaget saja," kata Liora mencoba mencari alasan, karena tidak mungkin jika dia mengatakan, jika dia tadi melihat Stevano dan Jasmine sedang bercumbu. Yang lebih parahnya karena begitu terkejutnya, Liora buru-buru menutup pintu cukup keras yang kebetulan bertepatan dengan keponakannya terbangun dan menangis kencang.
"Ayo masuk!" Ajak Liliana, ibu dari Kakak iparnya Jasmine.
"I..iya Bu, lebih baik Ayah dan Ibu masuk lebih dulu, nanti Liora akan menyusul secepatnya."
"Baiklah, kami duluan," jawab Alexander kemudian merangkul pundak istrinya mengajak masuk.
Liora hanya mengangguk dan setelah pasangan suami istri itu masuk, Liora pun duduk di kursi tunggu.
"Mami dan papi kemana lagi? Kenapa tadi tidak ada?" Gumam Liora yang dengan terpaksa mengambil ponsel dan mengaktifkanya kembali, untuk menghubungi mami papinya, Liora kembali mengabaikan ponselnya saat ada panggilan masuk, dan segera menelpon maminya saat panggilan itu berakhir.
"Loh, El kamu masih di luar?" Tanya William saat melihat putrinya duduk di kursi tunggu sambil memainkan ponselnya.
"Ah iya, nunggu Mami sama Papi," Liora kemudian bangun dan menghampiri kedua orang tuanya.
"Apa kata dokter?" Tanyanya sambil bergelayut di lengan papinya.
"Nanti saja di dalam, ayo lebih baik kita masuk," ucap Tiffa menjawab pertanyaan putrinya.
"Mami," bibir Liora mengerucut mendengar jawaban maminya.
__ADS_1
"Jelek tau begitu," ucap William dan Liora semakin cemberut saja.
Kemudian ketiga orang itu pun masuk ke dalam ruang perawatan Jasmine. Dan begitu membuka pintu, keempat orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh menatap Liora dan orang tuanya.
"Hai Kak!" Sapa Liora seakan tidak terjadi apa-apa.
Stevano menatap Liora tajam. Membuat Liora bersembunyi di belakang tubuh papinya. Dan dilihatnya maminya menghampiri kakak iparnya dan berbisik sesuatu dan kemudian ibunya menggendong salah satu keponakannya.
"Kalian lebih baik makan dulu, Ibu tadi membelikan makanan untuk kalian," ucap Tiffa pada semua orang. "Kamu juga sayang, harus banyak makan, biar Asi nya lancar," tambah Tiffa berucap pada Jasmine.
"Terima kasih Bu," kata Jasmine tersenyum.
"Oh ya tadi, Ibu dan Papi menemui dokter dan kata dokter kalian besok pagi sudah boleh pulang, kondisi baby kalian juga tidak ada masalah, karena mereka lahir dengan berat badan standar pada umumnya," kata William yang sedari tadi hanya diam saja.
Dan Liora manggut-manggut mendengar penjelasan papinya.
"Oh jadi itu yang dikatakan dokter kenapa tidak dikatakan dari tadi saja," gumam Liora.
Tiba-tiba, Liora mendengar kakaknya Stevano memanggil dan menatap satu persatu orang, hingga membuatnya ikut menatap kakaknya apalagi kakaknya itu bilang jika ingin menyampaikan sesuatu.
"Untuk nama anak-anak, kami sudah memutuskan jika zavier akan mengikuti marga Gottardo, biar Zhafira yang bermarga Anderson," ucap kakaknya hingga membuat
Liliana dan Alex, Ibu dan Ayah kakak iparnya langsung tersenyum senang mendengar apa yang barusan disampaikan kakaknya.
Liora mengernyitkan dahi saat kemudian dia melihat jika kedua orang yang dipanggilnya ayah dan ibu itu menatap ke arah Mami dan papinya yang terdiam.
__ADS_1
"Kenapa aku jadi ikut deg-deg an gini," ucapnya dalam hati menunggu jawaban mami dan papinya.
Tapi tak lama Liora dan semua orang tampak lega saat mami dan papinya juga setuju atas keputusan kakaknya.Tiffa yang menyadari itu, langsung mengangguk setuju. Setelah itu akhirnya Liora dan mereka asyik mengobrol obrolan apa saja hingga tak terasa hari akan menjelang malam, hingga dirinya sama sekali tidak memperdulikan ponselnya dimana ada seseorang yang terus menghubunginya menanyakan keberadaan dirinya.