
Ting tong
Ting tong
Terdengar bel berbunyi terus menerus hingga mengusik seorang gadis yang tidur di sofa semalaman.
Liora meregangkan tubuhnya yang terasa pegal karena tidak bisa leluasa bergerak tidurnya.
Semalam sebenarnya Ronald sudah menawarkan agar Liora tidur di kamarnya, tapi Liora justru menolaknya bahkan gadis itu mengancam Ronald jika sampai Ronald kembali memindahkannya secara diam-diam, hingga akhirnya Ronald pun mengalah dan terpaksa menuruti permintaan gadis itu walaupun sebenarnya Ronald tidak tega melihat Liora tidur di sofa.
Ting tong
Ting tong
Suara bel kembali berbunyi, Liora melihat jam di ponselnya, waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi.
"Siapa sih, sepagi ini yang datang?" Ucap Liora kesal.
"Awas saja jika yang datang salah satu wanitanya," gumam Liora yang terpaksa bangun untuk membukakan pintu.
"Siapa Anda?" Tanya Liora begitu melihat seorang pria paruh baya sudah berdiri di depan pintu apartemen Ronald tidak lupa dengan koper besarnya.
"Harusnya aku yang bertanya siapa kamu?" Ketus pria paruh baya itu menatap Liora dari atas sampai bawah.
"Maaf sepertinya Anda salah alamat," kata Liora yang langsung kembali menutup pintu.
"Pagi-pagi sudah ada orang salah alamat saja," gumam Liora, dan disaat dirinya akan melangkah untuk kembali tidur, bel justru kembali berbunyi.
"Kenapa lagi?" Kesal Liora karena tidak hanya sekali, tapi pria paruh baya itu kini memencet bel berkali-kali.
"Siapa El?" Tanya Ronald yang juga terusik dengan suara bel yang terus-terusan berbunyi mengganggu tidurnya.
Pria paruh baya itu langsung menerobos masuk saat Liora lengah..
"Wanita mana lagi yang kau bawa, terlihat baik-baik tapi ternyata…" kata pria paruh baya itu menatap Liora dari atas sampai bawah.
"Apa maksud tatapan Anda itu? dan juga apa yang tadi Anda katakan, "Dengar ya Pak Tua, aku memang gadis baik-baik bukan hanya terlihat baik-baik," jelas Liora yang merasa kesal mendengar ucapan pria paruh baya itu yang menilai dirinya seolah bukan gadis baik-baik.
"Mau apa kesini?" Tanya Ronald.
__ADS_1
"Mau apa? Kau tanyakan kenapa ayahmu kesini," pria paruh baya itu memukul tubuh Ronald, dan dengan cepat pria itu melindungi dirinya dengan menyilangkan kedua tangannya, menghindari pukulan dan pukulan dari sang ayah.
"Stop! Apa yang Anda lakukan? Anda bilang tadi ayahnya, jadi apa Anda tega terus memukulnya?" Liora menghentikan aksi pukul ayah dan anak itu. Ya pria yang baru saja datang tak lain adalah Mike Orlando, ayah Ronald.
"Tunggu tadi dia bilang apa? Ayahnya? Aduh bagaimana ini Liora? Tanya Liora pada dirinya sendiri hanya di dalam hatinya.
Mike pun menghentikan pukulannya dan menatap Liora tajam, "Lebih baik kau pergi dan tidak usah ikut campur," ucap Mike dingin, Mike mengira jika Liora adalah salah satu wanita Ronald.
"Ayah tidak berhak mengusir tamuku," kata Ronald tegas.
"Hmm maaf Paman, sebaiknya Paman duduk, Paman pasti lelah karena habis menempuh perjalanan jauh," ucap Liora selembut mungkin mendorong pelan Mike agar duduk di sofa.
"Ronald, kamu bawa koper ayahmu masuk!" Perintah Liora dan Ronald pun langsung menurutinya.
"Ah paman duduk di sini saja!" Kata Liora meminta Ronald duduk di sofa single.
"Maaf masih berantakan," ujar Liora yang langsung membereskan sofa panjang yang semalam digunakan untuk tidurnya.
Mike mengernyitkan dahinya bingung, kemudian menatap Liora yang justru kini terlihat sibuk sendiri membawa bantal dan selimut menuju ke kamar Ronald dan meletakkannya ke tempat semula.
"Ronald setelah itu, buatkan minuman untuk ayahmu!" Teriak Liora dari lantai atas.
"Siapa lagi dia?" Mike menanyakan siapa Liora kepada Ronald yang baru saja membawakan minuman untuknya.
"Ronald!" Ucap Mike karena Ronald hanya diam saja tidak menjawab pertanyaannya.
"Sudahlah Ayah tidak perlu ikut campur terlalu dalam tentang kehidupanku," jawab Ronald yang kini ikut duduk di sofa di seberang tempat duduk ayahnya.
"Oh iya maaf Paman belum memperkenalkan diri, hmm kenalkan namaku Eliora," ucap Liora mengulurkan tangannya, tapi Mike hanya menatap uluran tangan Liora, hingga terpaksa, Liora pun menarik kembali uluran tangannya.
"Kalian silahkan mengobrol saja, aku tinggal dulu ke dapur," pamit Liora yang merasa canggung di antara ayah dan anak itu.
Liora kemudian meninggalkan keduanya yang hanya saling diam dan hanya saling menatap tajam.
"Aku memasak saja deh, sepertinya nasi goreng enak," gumamnya kemudian menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng dan tiga telur mata sapi.
Membutuhkan waktu cukup lama, akhirnya nasi goreng ala Liora pun jadi, Liora kemudian memutuskan memanggil ayah dan anak itu untuk sarapan. Sesampainya di tempat dimana Ronald dan ayahnya tadi berada, Liora menemukan keduanya masih saja saling tatap, seolah berbicara hanya lewat tatapan mereka saja.
"Paman, Ronald, hmm ayo sebaiknya kita sarapan dulu," ujar Liora yang melihat jam memang sudah waktunya untuk makan pagi.
__ADS_1
"Apa kamu sering datang kesini? Apa saja yang kau lakukan selama disini?" Tanya Mike layaknya orang yang sedang menginterogasi.
"Ini untuk yang kedua kalinya dan yang aku lakukan? Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Liora dengan polosnya.
"Ronald!" Mike kini giliran menginterogasi putranya.
"Benar apa yang dikatakannya," ucap Ronald yang kemudian meninggalkan ayahnya.
Mike pun mengikuti langkah putranya menuju ruang makan.
"Silahkan Paman!" Liora mempersilahkan pria paruh baya itu, kemudian mengambilkan makanan untuknya dan juga untuk Ronald.
"Kamu yang masak El?" Tanya Ronald menatap Liora yang sedang mengambilkan makanan untuk mereka.
"Hmm iya,, aku tidak tahu bagaimana rasanya, jadi kamu cobain deh," Liora kemudian menyerahkan piring pada Ronald menyuruh pria itu untuk mencobanya.
Tanpa disuruh, Mike pun mencobanya dan
Krak
"Apa ini?" Mike mengambil sesuatu yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
"Cangkang telur?"
Mike kemudian menatap Liora dan Ronald berusaha untuk menahan tawanya agar tidak pecah.
"Kamu menggoreng telur atau cangkangnya?" Tanya Mike menatap Liora tidak percaya, apalagi saat melihat di telurnya banyak sekali cangkang telur yang ikut ke goreng.
"Maaf Paman, biar aku ganti yang ini bagaimana?" Liora kemudian mengambil telur miliknya, dan menyerahkannya pada Mike.
"Sama saja," kemudian Mike pun mencoba nasi goreng buatan Liora dan seketika dia memuntahkannya.
"Ini nasi goreng apa coba? Rasanya manis sekali," komentarnya dan membuat Liora kesal mengambil semua makanan yang tadi disiapkannya kemudian membuang semuanya di tempat sampah.
"Sudahlah aku mau pulang," ucap Liora meninggalkan kedua pria itu.
Mengambil tasnya dan berlalu pergi.
"El tunggu! Biar aku antar!" Teriak Ronald yang melihat Liora sudah menjauh.
__ADS_1
Dan Liora sama sekali tidak menggubris teriakan Ronald. Dia terus saja melangkahkan kakinya, menyetop taxi dan langsung masuk ke dalamnya.