Please Love Me

Please Love Me
Bab 341


__ADS_3

Lily menggelengkan kepalanya melihat putri sulungnya yang dengan cepat turun begitu mobil berhenti. Gadis kecil itu berlari cepat sekali, karena sebentar saja, gadis kecil itu sudah menghilang di balik tembok.


"Anak kita itu sayang, giliran dengar Ian datang aja, antusiasnya…" Lily mengutarakan pikirannya kepada sang suami yang kini sudah berdiri di sampingnya menggendong Uli yang sepertinya tengah menahan kantuk.


"Kayak siapa coba, dulu kamu waktu melihatku juga begitu, main sosor aja, pakai anggap aku khayalanmu segala lagi, kamu tahu, betapa shocknya aku waktu itu, bagaimana ada seorang gadis aneh seperti itu, baru saja melihat sudah main sosor aja, padahal yang kenal lama juga gak bakal lakuin hal seabsurd itu."


Lily mengerucutkan bibirnya, suaminya selalu saja mengingatkannya akan tingkah konyol nya dulu.


Cup


Secepat kilat, Jason mendaratkan bibirnya di bibir sang istri yang tentunya membuat senyum Lily semakin merekah.


"Ayo masuk!" Jason dengan satu tangannya yang bebas menggandeng sang istri agar masuk bersama.


"Aku bawa Aulia dulu ke kamarnya," pamit Jason begitu sudah ada di dekat tangga.


"Hmm iya, aku akan temui anak-anak, nanti kamu menyusul ke sana saja."


Jason mengangguk lalu menaiki anak tangga meninggalkan Lily yang kini kemudian melangkah ke tempat dimana Cinta dan Ian berada, menurut info dari ibunya Ian berada di gazebo belakang, sedang melihat peliharaan Cinta yang cukup banyak.


"Kalian disini rupanya," ucap Lily begitu melihat dua anak kecil itu yang kini sudah duduk di gazebo, putrinya tampak asyik memakan coklat, yang Lily yakin, jika coklat itu pemberian dari Ian.


"Tante," Ian langsung berdiri dan menyambut Lily, meraih tangan Lily dan mengecup punggung tangannya.


Lily tersenyum melihat sikap Ian yang sangat sopan, walaupun masih kecil, Ian sangat tahu bagaimana caranya bersikap, dan Lily sangat menyukai kepribadian Ian.


"Ayo duduk lagi," Lily merangkul Ian untuk duduk kembali.


"Adek Cinta bentar lagi keluar ya tante?"


Lily tersenyum saat Ian menatap ke arah perutnya.


"Iya sayang."


Ian mengangguk-angguk mengerti.


"Oh iya, ini Ian bawain Cinta coklat?"


Anak laki-laki itu tersenyum manis.


"Iya tante, papa baru pulang terus bawa oleh-oleh banyak, terus Ian ingat Cinta suka coklat, makanya Ian minta antar pak sopir kesini."


"Wah makasih ya sayang, kamu baik banget sampai ingat kesukaan anak tante."


Ian hanya tersenyum malu-malu.

__ADS_1


"Aku cari kemana-mana ternyata kalian ada disini."


Ketiga orang yang asyik mengobrol kompak menoleh dan melihat Jason yang kini melangkah mendekat.


Jason kemudian bergabung dan duduk di sebelah Ian, karena tidak mungkin duduk di samping istrinya yang kini duduk diapit kedua anak itu.


"Om mau coklat?" Tawar Ian saat melihat Jason yang tengah menatap coklat yang cukup banyak.


"Boleh." Jason hendak mengambil coklat itu tapi dengan cepat Cinta menjauhkannya.


Jason menatap putrinya tak percaya.


"Ini punya Cinta."


"Sayang tuh, Cinta nya masa, ayah minta satu saja tidak boleh," Jason mengadu pada sang istri. Lily hanya menggelengkan kepalanya, tidak menyangka suaminya akan bertingkah seperti itu di depan anak-anak.


"Ayah tukang ngadu, nyebelin."


Ian menahan tawanya melihat perdebatan yang menurutnya lucu, apalagi melihat Jason yang berbicara seperti Cinta jika merajuk dan mengadu padanya tentang keseharian gadis kecilnya itu di sekolah.


"Bukannya seperti kamu, yang tukang ngadu," kata Ian mencolek hidung Cinta.


"Kak Ian," rengek Cinta karena justru mendapatkan ledekan dari Ian.


"Benarkan, kalau kamu kesal sama teman kamu, pasti kamu ngadu sama kakak."


"Benarkah? Ibu baru tahu loh dari kak Ian."


"Kak Ian sih, ibu jadi tahu kan," protes Cinta dengan bibir manyun. Gadis itu meraup semua coklat pemberian Ian dan membawanya masuk, meninggalkan Ian dan juga ayah dan ibunya.


"Kok malah ngambek, nanti bagaimana kalau kak Ian nya pulang, karena kamu ninggalin gitu saja," ucap Lily sedikit berteriak.


Tapi Cinta tetap melanjutkan langkahnya. 


"Dasar anak itu."


Pandangan Lily tertuju pada Ian yang menatap ponselnya yang bergetar.


"Angkat saja, mungkin penting," kata Jason yang melihat kekalutan dari wajah anak itu.


Jason menatap Ian yang menatapnya, mengangguk, memberi izin pada Ian.


Ian menggeser ikon berwarna hijau, menempelkan ponselnya di telinga, mendengarkan apa yang akan dikatakan orang di seberang telepon.


"Iya pak," setelah menjawab panggilan pun berakhir.

__ADS_1


"Kenapa?" Lily kini bertanya, walau sebenarnya dia bisa menebak percakapan Ian dengan orang di seberang telepon tadi.


"Ian sepertinya harus pulang sekarang om, tante, pak sopir mau jemput Ian," anak laki-laki itu menatap Lily dan Jason bergantian.


"Ya sudah tidak apa-apa, besok-besok kan bisa main lagi."


Ian mengangguk setuju, kemudian menatap Lily, sepertinya hendak mengatakan sesuatu tapi ada keraguan dalam matanya.


"Kenapa sayang?"


"Tapi Cinta…"


"Kita temui Cinta dulu, sekalian Ian pamit," jawab Lily yang mengerti kekhawatiran Ian.


Ian mengangguk, mengikuti langkah Lily, Jason kemudian berpamitan pada istrinya untuk menemui ayah mertuanya, mereka lalu berpisah Lily ke arah ruang keluarga yang yakin kalau putrinya di sana, sedang Jason keluar karena ayahnya tadi ada di depan.


"Cinta, ini kak Ian sayang mau pamit," kata Lily pada putrinya.


Cinta menoleh, menatap Ian.


"Kok cepat sekali, kan kita baru bertemu kak, apa karena tadi kak Ian nunggu Cinta kelamaan ya?"


"Hmm tidak kok, kakak memang harus pulang mama kak Ian nyariin soalnya."


"Hmm ya uda, tapi kak Ian nanti kesini lagi kan?"


"Iya, ya uda kakak pulang dulu," Ian mengacak rambut Cinta, mencium punggung tangan Lily sebelum akhirnya Lily dan Cinta mengantarkan Ian ke depan, sopir rupanya sudah menunggunya sejak sepuluh menit yang lalu.


*


*


"Kenapa manyun seperti itu?"


Jason hari ini yang menjemput Cinta ke sekolahnya, dia tidak mau istrinya kelelahan. 


Tapi pandangan yang pertama Jason lihat, putrinya berdiri di depan kelas, dengan kedua tangan memegang tali tas yang digendongnya, kakinya bergantian menendang-nendang udara, tak lupa dengan pipinya yang menggembung, lucu.


"Ayah," Cinta langsung memeluk sang ayah.


"Kenapa?"


Cinta menggeleng menarik ayahnya untuk segera masuk ke dalam mobil.


Jason hanya menurut, seperti ada sesuatu yang terjadi pada putrinya, tampaknya yang Jason lihat putrinya tampak kesal, kecewa juga sedih, dan Jason harus pelan-pelan bertanya.

__ADS_1


Begitu sampai di mobil, Jason membantu putrinya naik, dia berlari ke sisi kemudi, dan begitu masuk dia justru melihat Cinta menangis.


"Sayang kenapa?" Tanya Jason panik karena tidak biasanya putrinya seperti itu, bahkan saat kemarin ibunya melarangnya berlatih, Cinta hanya merajuk tidak sampai menangis seperti saat ini.


__ADS_2