
Liora berjalan memasuki sebuah gedung tinggi, langkah gadis itu kini menuju ke sebuah lift dan langsung masuk ke dalamnya, memencet angka tempat kemana tujuannya dan menunggu hingga akhirnya pintu terbuka dan keluar dari sana. Gadis itu tampak tersenyum saat mendapat sapaan hangat dari karyawan-karyawan disana yang memang mengenal Liora karena sudah beberapa kali kesana, tapi tidak belakangan ini yang memang sangat sibuk, selain menyelesaikan pekerjaannya sebelum dia cuti, gadis itu juga sibuk mempersiapkan pernikahannya, membuat Liora jarang lagi datang ke kantor, karena Ronald yang selalu lebih dulu mendatanginya ke butik.
"Pak Ronald ada?" Tanyanya pada seorang wanita yang ruangannya tepat berada di depan ruangan kekasihnya. Liora mengernyit saat melihat wanita itu.
"Maaf Anda siapa ya? Apa sudah membuat janji dengan beliau, jika belum mohon maaf lebih baik Anda membuat janji terlebih dulu, karena Pak Ronald sangat sibuk saat ini."
"Aku belum membuat janji dengannya, tapi aku ingin bertemu saat ini juga."
"Maaf Nona tidak bisa, Pak Ronald sudah berpesan, jadi mohon pengertiannya."
"Aku tunangannya, jadi tolong biarkan aku masuk."
"Maaf Nona, saya hanya menjalankan tugas, kalau tidak, jika Anda memang tunangannya, Anda bisa menghubunginya dulu.
"Aku tidak bisa menghubungi dulu, aku…"
"Ya sudah, berarti saya minta maaf, saya tidak bisa mengizinkan Anda masuk. Dan sebaiknya Anda pergi dari sini." Ucap wanita itu yang kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Baiklah terima kasih," ucap Liora lalu langsung masuk begitu saja.
"Hei Nona!" Teriak wanita tadi.
Liora buru-buru menutup pintu dan sengaja menguncinya.
"Letakkan di meja saja!" Ucap Ronald yang berdiri di dekat jendela tanpa berbalik ataupun menatap orang yang baru saja masuk ke ruangannya.
Liora melangkahkan kakinya perlahan menghampiri Ronald, lalu memeluk pria itu dari belakang.
"Lepas! Berani-beraninya kamu…"
Ronald terkejut dan segera berbalik ingin melihat siapa wanita yang telah lancang memeluknya.
"Baby kamu ternyata? Kamu mengejutkan saja, ku pikir siapa gitu berani-beraninya memelukku?"
"Hmm iya, habisnya kamu diam saja disini, ya sudah aku samperin saja, kenapa? Apa ada masalah?"
Ronald menggeleng, menautkan tangannya di jari-jari Liora, lalu mengajak gadisnya itu untuk duduk di sofa yang memang ada di ruang kerjanya.
"Kamu kenapa kesini tidak bilang-bilang?" Tanya Ronald begitu keduanya kini sudah duduk di sofa.
"Tadinya mau ngasih kejutan, eh kamunya memang terkejut, tapi malah mengira aku orang lain."
"Maaf tadi aku pikir…"
"Siapa? Apa sebelumnya ada yang tiba-tiba memelukmu seperti itu?" Liora menatap Ronald dengan tatapan menyelidik.
"Ronald!"
"Hmm iya, tapi kamu tidak perlu khawatir karena aku sudah langsung memecatnya."
"Kenapa kamu tidak pernah cerita?"
__ADS_1
"Maaf, karena aku rasa ini bukan masalah besar," Ronald menarik Liora ke dalam pelukannya, Ronald sebenarnya tidak bermaksud untuk menyembunyikannya, dia tidak ingin mengganggu Liora hanya karena hal yang bisa dengan mudah dia atasi.
"Aku takut,"
Ronald mengernyit mendengarkan apa yang Liora katakan, bahkan dapat Ronald rasakan kini pelukan Liora semakin erat.
"Kamu tidak perlu takut, ada aku disini."
Liora melepas pelukan dan menatap Ronald, lalu tangannya terulur menyentuh wajah pria itu.
"Aku takut suatu saat hal itu terjadi lagi, aku takut kamu tergoda dengan wanita lain, aku takut…"
Liora tidak bisa melanjutkan ucapannya, bibirnya kini dibungkam oleh bibir Ronald. Tubuh Liora mematung, gadis itu meremas gaun yang dikenakannya.
Ronald menarik Liora agar duduk di pangkuannya, menekan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciumannya, sementara kedua tangan Liora kini sudah melingkar di leher Ronald.
Tok
Tok
Suara ketukan pintu memaksa keduanya menghentikan apa yang sedang mereka lakukan. Nafas keduanya naik turun tidak beraturan.
"Maaf," ucap Ronald, padahal dia tidak ingin melakukan itu dulu, tapi seperti ada dorongan dalam tubuhnya yang membuatnya melakukan hal itu.
Ronald mengusap bibir Liora dengan ibu jarinya, menghapus sisa-sisa saliva yang tertinggal disana.
Liora hanya menunduk malu dengan wajah yang memerah, gadis itu tidak berani untuk menatap Ronald saat ini.
Tok
Tok
"Ada apa?" Tanya Ronald datar dan dingin. Melihat seorang wanita yang kini berdiri di hadapannya menunduk ketakutan, di belakang wanita itu juga ada dua security.
"Ma...maaf Pak, tadi ada seorang wanita yang memaksa masuk, saya tidak bisa mencegahnya, makanya saya memanggil security untuk membawanya keluar.
"Tidak perlu, kalian bisa kembali bekerja."
"Tapi pak…"
"Dia calon istriku, berani-beraninya kamu memanggil security untuk mengusirnya."
Mata wanita tadi membulat sempurna. Dirinya benar-benar tidak tahu hal itu, apalagi dia baru seminggu ini bekerja.
"Dia beneran calon istri Pak Ronald?" Gumam wanita itu meremas jari-jarinya ketakutan merasa melakukan kesalahan karena tidak membiarkan Liora masuk.
"Gawat, bagaimana ini? Bagaimana kalau aku sampai dipecat karena masalah ini," Ucap wanita itu dalam hati ketakutan.
Wanita itu berbalik dan meminta kedua security itu pergi lebih dulu. Kemudian kembali berbalik menatap Ronald.
"Ma...maaf Pak, saya tidak tahu."
__ADS_1
Ronald memicingkan matanya, "Apa yang tadi kamu lakukan pada calon istriku?"
"Sa….saya memintanya untuk pergi Pak."
"Kau… berani-beraninya kau…"
"Maafkan saya Pak, saya benar-benar tidak tahu," wanita itu langsung bersimpuh di hadapan Ronald, dia terus minta maaf takut jika dirinya dipecat, padahal dia sangat membutuhkan pekerjaan ini.
"Sudahlah Ronald kamu membuatnya takut, lagian apa yang dia lakukan benar, dia tidak mengenaliku, dan ku lihat sepertinya dia memang baru disini," ucap Liora yang tiba-tiba ada disana, membantu wanita itu bangun.
"Tapi baby dia…baiklah kau bisa kembali bekerja sekarang."
"Terima kasih Pak, Bu, kalau begitu saya permisi dulu."
Liora tersenyum dan mengangguk, sementara Ronald hanya diam saja setelah mengatakan itu, Ronald pun kembali masuk ke dalam ruangannya.
Setelah melihat wanita itu pergi, Liora segera menyusul Ronald, dilihatnya pria itu kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Huft malah dicuekin," ujar Liora cukup keras dan duduk di sofa sambil ekor matanya yang terus melirik ke arah Ronald.
"Apa kamu tidak berniat makan siang?" Tanya Liora melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ronald menghentikan kegiatannya, lalu menatap Liora yang kini duduk bersandar sambil memainkan ponsel.
"Ya sudah kamu pesan saja."
"Aku tidak mau, aku mau makan di suatu tempat."
"Tapi El aku sedang sibuk."
"Ya sudah, kalau begitu aku makan sendiri saja."
"Tunggu! Ya sudah ayo!" Ronald membereskan berkas-berkasnya lalu segera bangkit.
Liora yang melihat tersenyum senang. Kemudian keduanya berjalan bergandengan tangan menuju basement.
"Kamu masih ingat rumah yang waktu itu kita…"
"Ya ingat, kenapa?"
"Kita akan makan disana," ujar Liora yang kini duduk tenang saat Ronald sudah mulai melajukan mobilnya.
Ronald mengernyit tapi tetap menuruti keinginan calon istrinya tersebut.
"Akhirnya sampai," kata Liora yang buru-buru turun.
"Ayo cepat!" Ajaknya menarik tangan Ronald.
Pria itu hanya mengikuti Liora hingga kini mereka sampai ada di depan pintu.
__ADS_1
Liora menyuruh Ronald untuk mengetuknya. Dan begitu pintu terbuka, betapa terkejutnya Ronald saat melihat siapa yang ada di depannya.