
Liora baru saja keluar dari kamar mandi, pandangannya tertuju pada seseorang yang kini tidur di atas ranjang, Liora tersenyum dan berjalan mendekat ke arahnya. Mengambil ponsel yang ada di tangan Ronald lalu meletakkannya di atas meja nakas. Liora berjongkok memperhatikan wajah suaminya yang tampak tenang dalam tidurnya, tangannya perlahan terulur mengusap lembut wajah Ronald takut jika pria itu akan terbangun.
"Kamu pasti lelah," ucapnya kemudian bangun, menundukkan badan dan mendekat wajahnya, mengecup lama kening Ronald.
Liora kemudian melihat koper suaminya yang masih di tempatnya tadi, dia berjalan kesana dan mulai membereskan isi koper, tentunya dengan sangat pelan tidak ingin mengganggu tidur suaminya.
Selesai membereskan pakaian dan melihat suaminya yang masih lelap, dirinya memutuskan untuk turun, berjalan menuju dapur, dia ingin membuat makan malam untuk suaminya, mencoba berbagai resep yang diajarkan Lily dan kakak iparnya.
"Kapan ya Lily pulang?" Gumam Liora mengingat Lily yang sedang pergi bersama Jason mengunjungi kakaknya Dahlia, tepat bersamaan dengan kepergian suaminya.
"Nanti aku coba hubungi deh." Tambahnya.
Liora membuka kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkannya.
"Nona El, apa ada yang perlu saya bantu? Nona El menginginkan atau butuh sesuatu? Biar saya saja yang akan membuatkannya," tiba-tiba seorang pelayan berlari cepat mengambil sayuran yang Liora pegang.
"Tidak perlu Bi, aku ingin membuat makan malam saja untuk suamiku, Bibi bisa melakukan pekerjaan yang lain," tolak Liora karena dia ingin mempraktekan hasil belajarnya belakangan ini.
"Tapi Nona…"
"Bi,"
"Baiklah, kalau begitu biarkan saya bantu Anda untuk mempersiapkan bahan-bahannya."
"Ya sudah kalau begitu aku buat bumbunya," jawab Liora.
Mereka berdua tampak sibuk, setengah jam berkutat dengan peralatan dapur, akhirnya Liora menyelesaikan masakannya.
"Bi, tolong bereskan sisanya ya!" Kata Liora yang sedang memindahkan hasil masakannya ke meja makan.
"Baik Nona."
"Aku ke atas dulu ya Bi," pamit Liora sebelum meninggalkan dapur.
"Iya Nona," jawab Bibi yang kini membereskan bekas Liora memasak.
Liora melepas celemek yang terpasang di tubuhnya, meletakkan ke tempat semula, lalu berjalan ke arah tangga, menuju kamarnya. Liora tersenyum karena suaminya belum juga terbangun. Liora berjalan dan memasuki kamar mandi, dia memutuskan untuk mandi.
"Akh!"
Begitu keluar, Liora terkejut karena saat membuka pintu, Ronald sudah berdiri di depan pintu.
"Kamu mengejutkanku tahu, kenapa ada disitu?" Tanya Liora berjalan ke meja rias meninggalkan suaminya yang justru kini mengikutinya tanpa merasa bersalah.
"Aku menunggumu, kenapa tidak membangunkanku?"
"Kamu sepertinya kelelahan, makanya aku biarkan kamu istirahat dulu," jawab Liora menatap suaminya dari pantulan cermin di depannya.
Ronald mengambil hair dryer membuka handuk kecil yang membungkus rambut Liora, lalu mulai menyalakannya, membantu mengeringkan rambut istrinya.
__ADS_1
"Biar aku sendiri saja."
"Tidak biar aku saja, kamu duduk saja yang tenang, dan tinggal terima hasilnya, serahkan ini pada suamimu, oke."
"Tapi…"
"Sstt!"
Liora menghela nafas pasrah, membiarkan Ronald melakukannya.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Hmm baik, aku juga mendapatkan kerja sama ini. Ini juga berkat kamu baby, sebenarnya aku merasa bersalah karena meninggalkanmu, bahkan saat kita sebenarnya sedang cuti. Aku janji setelah semuanya berjalan lancar, aku akan meminta paman Mike untuk mengganti cutiku dan kita akan berlibur bersama."
"Baiklah aku tunggu." Jawab Liora tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu, apa semuanya lancar?"
"Hmm, aku juga tadi pagi baru saja bertemu klien."
Ronald mengangguk mengerti.
"Selesai," ucapnya kemudian.
Liora kini duduk menghadap ke arah Ronald.
Ronald menggeleng karena dia memang tidak tahu.
"Kamu pasti terkejut, karena aku juga tadi benar-benar sangat tidak menyangka."
"Memang siapa? Apa kita mengenalnya?"
"Jack. Dia akan menikah."
"Jack? Jack yang menyukaimu? Jack asisten kakakmu?"
"Hmm, benar."
"Jack akan menikah, tiba-tiba?"
"Iya kamu tidak menyangka kan?"
Ronald mengangguk, "Iya aku tidak menyangka, kok bisa? Maksudku kenapa tiba-tiba? Mereka tidak…"
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya bukan karena hal itu, hmm apapun yang membuat mereka menikah, lebih baik kita doakan saja yang terbaik untuk mereka, mungkin saja Alana memang jodoh Jack, aku berharap dengan kehadiran Alana, Jack bisa menghapus perasaannya kepadaku."
"Ya tentu saja, kita harus doakan, semoga mereka hidup bahagia."
"Aku lapar, ayo kita turun! Aku sudah memasak makanan kesukaan kamu loh, kamu harus cobain." Liora bangun dari duduknya, menarik tangan Ronald keluar dari kamar.
__ADS_1
"Kamu yang masak?"
"Hmm, makanya kamu harus jadi orang pertama yang mencoba masakanku."
"Tapi serius kamu bisa?"
Liora berhenti dan menatap tajam suaminya. "Tentu saja, jangan meremehkan istrimu ini oke," ucapnya kemudian melanjutkan langkahnya kembali.
"Baiklah." Pasrah Ronald dalam hati dia masih kurang yakin dengan masakan istrinya. Bahkan Ronald tidak pernah melihat istrinya belajar memasak, Ronald juga tidak memaksanya.
Mereka sudah sampai di ruang makan. Liora menarik kursi dan meminta Ronald untuk duduk disana.
"Kamu duduk disini!" Pinta Liora dan Ronald hanya bisa menurut walaupun sebenarnya dalam hati mengatakan jika posisi mereka seperti terbalik, harusnya Ronald yang menarik kursi untuk istrinya duduk, tapi kini justru Liora yang melakukannya.
Setelah memastikan suaminya duduk, Liora menarik kursi di samping Ronald dan duduk disana. Liora dengan semangat mengambil makanan untuk suaminya, kemudian mengambil juga untuk dirinya sendiri.
"Ayo makan!" Liora mempersilahkan suaminya sambil terus menatapnya, menunggu Ronald untuk mencoba masakannya lebih dulu.
Ronald menatap makanan di depannya. Mengambil sendok dan mulai memasukkan makanan kedalam mulutnya. Ronald terdiam, kemudian mengunyah dan menyendok lagi, kembali memakannya. Ronald terlihat sangat menikmati makanannya.
Liora yang sedari memperhatikan ekspresi Ronald kini tersenyum, merasa jika Ronald menyukai makanan buatannya.
"Bagaimana makanannya? Enak tidak?"
"Hmm ini enaak sekali baby, masakanmu sungguh enak," kata Ronald sambil mengunyah.
Liora senang mendengar ucapan suaminya barusan, itu tandanya jika usahanya berhasil, belajarnya selama ini tidaklah sia-sia, walau awal-awal Liora mencoba gagal, hingga hampir saja membuat semangatnya hilang.
"Ayo baby kamu juga harus makan! Kenapa malah dilihat aja!" Tegur Ronald karena istrinya tidak juga makan.
"Iya, ini mau makan kok." Liora kini mulai memakan masakannya. Keduanya kinu makan dengan lahap.
"Kenyang." Ronald mengusap perutnya merasa begah karena kekenyangan.
"Aku juga," Liora duduk bersandar menatap meja, semua makanan tadi kini telah tandas dihabiskan mereka berdua.
"Kamu belajar memasak lagi?" Tanya Ronald yang membuat Liora menatapnya.
"Hmm selama kamu pergi, aku belajar lagi sama Kak Olive. Dan aku senang karena hasilnya cukup memuaskan, kamu menyukainya, aku harus terus belajar agar mahir."
"Dan aku akan mendukung semua yang kamu lakukan selama itu hal yang baik."
Liora mengangguk dan tersenyum, gadis itu kemudian bangkit dan mengulurkan tangannya.
"Kamu mau jalan-jalan dulu sekalian berolahraga?"
Ronald menatap sang istri, kemudian membalas uluran tangannya.
"Tentu saja."
__ADS_1